Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Anna Hampir Ketahuan
Bukannya ucapan terimakasih yang dilontarakan oleh Arya kepada istri sahnya Nisa, malah delikan tajam dan dengusan sebal yang dia berikan.
"Kamu kenapa harus repot-repot sih nganterin berkas penting ini ke sini," omel Arya. "Kalau Gani tiba-tiba lapar pengen nyusu gimana?" murka lelaki itu. "Aku nggak mau ya kalau anak aku minum susu formula. Mereka harus minum asi ekslusif dari ibunya biar badan mereka sehat nggak gampang sakit."
"Gani udah kenyang kok, Mas," tenang Nisa. "Sebelum aku pergi nganterin berkas penting ini, aku udah tetein dia sampai kenyang."
"Lain kali kamu nggak usah berinisiatif buat nganterin berkas penting aku ke kantor lagi. Biar aku aja yang ambil sendiri ke rumah."
"Baik, Mas." manut Nisa.
"Ya sudah, sana kamu pulang!" usir Arya.
"Aku capek banget, Mas. Pengen istirahat dulu ya di ruang kantor kamu," ucap Nisa yang langsung merangsek masuk ke dalam ruang kantor Arya.
"Nggak usah istirahat-istirahat segala lah, Nis! Sana kamu pulang! Aku takut Gani anak kita nangis nyariin kamu."
"Gani itu bangunnya satu jam-an lagi, Mas. Lagian aku juga cuma mau istirahat sebentar aja di ruang kantor kamu. Nggak bakalan nyampe sejam juga. Palingan nanti sebelum Gani bangun, aku udah sampai ke rumah."
"Udah sih, nurut aja apa kata suami kamu, Nis! Nggak usah banyak membantah atau banyak alesan."
Kening Nisa mengerut saat mendengar perkataan suaminya dan wanita itu mulai berakting seperti orang yang mencurigai sesuatu.
"Kok kamu kelihatan kayak orang yang lagi selingkuh, Mas," picing Nisa.
"Ngawur kamu," panik Arya. "Jangan suka fitnah."
"Soalnya gelagat kamu itu kayak orang lagi selingkuh lho, Mas."
"Jangan ngomong macam-macam kamu, Nis. Makin lama kamu itu makin kurang ajar. Mentang-mentang udah hidup enak dan jadi istri aku selama dua puluh tahun jadi kamu udah mulai berani ngomong macem-macem ya," sengak Arya dengan pandangan mata yang merendahkan.
"Asal kamu tahu ya, kalau bukan karena mendiang ibu aku yang maksa aku nikah sama kamu, kamu nggak bakalan jadi Nyonya Arya yang dihormati oleh banyak orang. Harusnya kamu banyak-banyak bersyukur dan sadar diri, wanita jelek dan miskin sepertimu bisa menjadi istri dari seorang Arya yang kaya raya dan juga berwajah tampan seperti sekarang."
Deg ....
Hati Nisa berdarah kembali setelah mendengar pengakuan Arya suaminya yang ternyata selama ini bukan hanya menganggapnya seperti barang, tapi juga memandang rendah dirinya yang telah mengabdi selama dua puluh tahun lamanya melayaninya dengan sepenuh hati dan juga banyak pengorbanan, salah satunya adalah melepaskan dan memutuskan tali kasihnya dengan Angga, laki-laki sederhana yang baik hati dan sangat mencintai Nisa dengan setulus hatinya.
Nisa mengepalkan kedua tangannya demi menahan amarah yang akan segera meledak. Amarah yang bergemuruh dalam dadanya pun mereda.
"Kamu harus tenang, Nisa!" ucapnya dalam hati. "Kamu harus seperti para tokoh wanita kumenangis kayak di novel-novel yang menghadapi perselingkuhan suaminya dengan gaya yang elegan."
Raut wajah Nisa pun dia netralkan kembali.
"Kok ada bau bau aneh ya," dengus Nisa yang mulai berjalan menuju ke lemari kecil di bawah rak pajangan di ruang kantor suaminya.
"Kamu mau ngapain, Nis?" panik Arya yang langsung mencegah langkah Nisa yang sebentar lagi akan membuka lemari kecil itu.
"Aku pengen buka lemari kecil itu, Mas," jawab Nisa. "Aku mencium bau parfum perempuan dari sana."
"Nggak ada bau parfum perempuan di sini, Nis." elak Arya.