novel ini sedang direvisi.
Menceritakan kisah Nana yang tumbuh di tengah keluarga yang berantakan.
Membuatnya hidup tanpa aturan, menjadi gadis yang liar mencari kebahagian.
Namun, suatu hari Nana harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki Ibu tiri. Siapa sangka Nana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu, kini mendapatkannya dari wanita simpanan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAH PART SATU.
"Om, Katanya nggak pulang?"
"Kamu lebih senang om tidak pulang?"
"Bukan begitu, tapi Mara berfikir kapan om akan memperkenalkan Mara pada orang tua om."
"Sabar ya, pasti nanti om kenalin sebelum resepsi pernikahan kita."
"Jangan cuma janji om, Mara lebih suka pembuktian dari pada hanya ucapan," jawab Amara seraya menuang mie kedalam mangkuk yang sudah disediakan.
"Baiklah, tunggu om mengurus semua om hanya mau kamu bersabar dan tetap percaya sama om."
Amara tidak menjawab ucapan Brian yang masih terus menempel memeluknya dari belakang, "Om bisa lepas? Mara mau duduk dan ini Mara bawa mangkuk panas bahaya loh."
"Duduk tinggal duduk aja, mau duduk dimana?" ucap Brian dengan meminta mangkuk mie tersebut lalu membawanya kemeja makan dan Amara mengekori Brian seketika mata Amara terbelalak melihat ada noda lipstik dipunggung Brian.
Amara sangat sakit melihat itu dan meminta kembali mangkuk mie itu namun Brian sudah meletakkannya di meja, Brian meminta Amara duduk dipangkuannya namun Amara menolak.
"Bagaimana om bisa meminta Mara duduk dipangkuan om setelah Mara melihat ada noda lipstik di baju om," gerutu Amara dalam hati.
Amara duduk di kursi sebelah Brian, Amara melahap dengan cepat mie buatannya, Amara berkeringat karena mie tersebut sangat pedas dan panas sehingga Amara menitikkan air matanya, begitulah pikir Brian.
Amara bergetar tak mampu menahan rasa sakit didalam hatinya dan mie yang berada ditenggorokannya seperti tak mau ditelannya, seperti tercekat dan kelu. kemudian Brian melihat Amara yang bergetar lalu pergi masuk kedalam kamarnya meninggalkan Brian di meja makan sendirian.
Brian mengejar Amara namun Amara mendorong Brian agar Brian tak mengikuti Amara, "Sayang kamu kenapa,?" tanya Brian.
"Om masih tanya kenapa,?" tanya Amara dengan nada yang tinggi.
"Om lihat ini sudah jam berapa,? Apakah om mencium wangi parfum yang berbeda? Dan ini...ini noda lipstik dari siapa om?" tanya Amara menunjuk punggung Brian.
Deg, Brian baru menyadari semua yang diucapkan Amara dan Brian mematung tak mampu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari Amara, "Kenapa om, apa om nggak bisa jawab hikz hikz, apa ada yang ingin om jelaskan?" tanya Amara dengan mata yang menatap tajam wajah Brian.
"Tolong jangan marah dulu ini mungkin noda lipstik dari karyawan om di kantor."
"Jujur saja om, apakah Mara adalah simpanan om? kenapa Mara merasa jadi simpanan om itu karena perubahan dari sikap om, Mara merasa om nggak jujur sama Mara."
"Nggak jujur dari mana,? Apa kamu pernah bertanya tentang om? Apa kamu pernah bertanya kehidupan om di jakarta selama tidak pulang ke villa?" Brian yang sedang merasa lelah dan stres karena Melinda akhirnya terpancing dan meladeni amarah dari Amara.
Amara berjongkok di pintu kamarnya dengan tangan yang memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya disana, Amara membenarkan ucapan Brian karena Amara yang tak pernah bertanya tentang Brian lalu Brian harus jujur yang seperti apa.
Brian menyesal telah mengatakan itu pada Amara dan sekarang Amara sudah menangis sesenggukan sampai tak mampu lagi untuk berbicara.
"Dengar Mara, om menyayangimu maka dari itu om pulang kerumah kita,"
Deg, Amara semakin sakit mendengar ucapan Brian yang mengatakan memilih pulang kerumah kita, "Memangnya ada berapa rumah om?" tanya Amara dalam hati.
Amara ingin menanyakannya tetapi Amara menahannya Amara takut akan kecewa setelah mendengar jawaban Brian.
Brian mengikuti Amara yang berjongkok dan berusaha membujuk Amara untuk bangun, Brian menyentuh bahu Amara namun Amara memilih mengabaikan Brian.
Amara berlari masuk kedalam kamar Tara dan menguncinya. Amara naik ke ranjang dan membelakangi Tara dengan punggung yang bergetar karena menangis.
Tara ingin bertanya tetapi apa yang akan Tara tanyakan karena Tara telah mendengar semua, Tara menatap Amara dan kemudian memeluk Amara dari belakang, Lalu Amara membalikkan badannya menghadap Tara dan Amara melihat Tara yang sedang menatapnya.
Tangis Amara semakin pecah dan Tara memeluknya, keduanya menangis bersama. Walaupun Tara baru mengenal Amara tetapi Tara dapat mengerti perasaan dan kesedihan Amara.
Tara mengusap punggung Amara dan mengatakan kalau Amara harus mendengarkan penjelasan Brian.
Amara menggelengkan kepalanya menolak untuk mengikuti ucapan Tara, Amara teringat akan pernikahannya dengan Brian yang karena digerebek pak rt.
"Sungguh memalukan," gerutu Amara dalam hati.
Brian terus memanggil Amara meminta Amara untuk membuka kuncinya dan Tara meminta Amara untuk menyelasaikan masalah bukan lari dari masalah.
Amara melepaskan pelukannya dan kembali membelakangi Tara, Amara merasa jengkel pada Tara yang meminta Amara menemui Brian.
Sementara itu Brian menyender di pintu meratapi nasibnya, "Kenapa aku jadi bodoh gini. Kenapa aku bicara seperti itu ya tuhan," lirih Brian kemudian mengusap wajahnya kasar.
_______________
Melinda duduk di sofa kamarnya sedang membalas pesan dari Selvi lalu tersenyum merasa bahagia karena kemenangan sudah didepan matanya.
"Kita tunggu saja besok." gumam Melinda.
Melinda yakin kalau Brian dan Amara sedang bertengkar hebat saat ini di apartemennya.
"Ck," decak Melinda.
"Malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak, haaahhh," lirih Melinda.
______________
Tara membuka pintu dan terkejut melihat Brian yang tertidur di lantai, Tara berjalan perlajan melewati Brian dan mulai membantu sofi membuat sarapan untuk Amara dan Brian.
Brian membuka matanya merasakan ada yang membuka pintu kamar dan berjalan kedapur mencari Amara.
Postur tubuh mungil dan rambut yang sama panjang membuat Brian mengira Tara adalah Amara karena Tara menggunakan baju milik Amara.
Brian hampir memeluk Tara yang sedang membuatkan susu coklat untuk Amara.
"Aaaaahh," Tara terkejut saat berbalik badan sudah berdiri Brian dibelakangnya dengan tangan yang siap memeluknya.
"Kamu siapa?" tanya Brian yang sama-sama terkejut.
"Saya Tara teman Amara," sahut Tara kemudian melanjutkan langkahnya menuju meja makan dan meletakkan susu hangat Amara dan kopi hitam Brian.
Brian memilih duduk di kursi meja makan dan mulai menyeruput kopinya.
Tara masuk kedalam kamar ingin membangunkan Amara yang ternyata Amara sudah bangun dan sudah selesai mandi.
"Ra sarapan yu, jangan telat pemotretannya."
"Hah, lo yakin nggak papa?"
"Nggak papa, gue butuh kerjaan buat hidup gue." jawab Tara.
Kemudian Brian, Amara dan Tara makan di meja makan tanpa ada yang mengeluarkan suara selain suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
Mata Brian terus menatap Amara yang sama sekali tak mau menatapnya.
Setelah sarapan Brian meminta semua orang untuk keluar terlebih dulu kecuali Amara, Brian ingin bicara empat mata dengan Amara.
Amara duduk di sofa ruang keluarga bersedekap dada dengan bibir yang mengerucut, matanya sembab karena menangis semalaman.
Brian berjongkok dihadapan Amara dan berusaha meraih tangan Amara tetapi Amara berlari masuk kedalam kamar dan menelusupkan wajahnya di bantal.
Bersambung.
soalnya ini kenapa tiba2 si nana meninggal? trus melinda sakit? sama amara berhubungan sma brian? dan brian tiba2 udah cerai sma melinda?
ini apa gue yang ngelengkah2 bacanya apa gimna sii😭
tapi perasaan gue liat ulang kagak salah bacanya🥲