NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Niat Balas Dendam

Pikiran buruk tentang empat pengawalnya yang hilang dan tak kembali, seketika muncul di kepalanya. Besar dugaan keempat pengawalnya itu sudah mati di tangan pemuda tersebut, pikirnya.

Raden Sanjaya terus mengikuti Wira dan Sinta dari jauh. Dan betapa terkejutnya dia ketika sepasang kekasih itu masuk ke dalam rumah Lesmana.

"Kenapa mereka masuk ke dalam rumah Tuan Lesmana? Ada hubungan apa mereka?"

Benak Raden Sanjaya terus dibuat bertanya-tanya. Pikiran buruk tentang kematian empat pengawalnya kini sudah menghilang sepenuhnya.

"Pantas saja keduanya tidak ditemukan. Ternyata mereka bersembunyi di rumah Tuan Lesmana. Berarti empat pengawalku itu tidak kembali karena takut aku bunuh," gumamnya dalam hati.

Raden Sanjaya sedikit menyesal telah memberi ancaman kepada empat pengawalnya tersebut. Padahal saat itu dia tidak akan benar-benar membunuh mereka andai gagal menjalankan tugas yang diberikannya.

Bagaimanapun juga, kesetiaan yang ditunjukkan empat pengawalnya itu kepadanya, sudah tidak dia ragukan lagi. Dan kesetiaan itulah yang menjadi alasan untuk tidak membunuh mereka berempat jika gagal.

"Apa kalian ada yang tahu rumah Gandara?" tanya Raden Sanjaya kepada prajuritnya.

"Hamba tahu, Raden. Rumahnya dua hari perjalanan dari kotaraja," jawab seorang prajurit.

"Baiklah. Besok pagi kau berangkat ke rumah Gandara. Jika dia berada di rumah, berikan suratku kepadanya."

"Baik, Raden."

"Dan kau, aku memberi tugas khusus padamu. Cari tahu tentang dua orang yang tadi masuk ke rumah Tuan Lesmana. Carilah informasi ada hubungan apa keduanya dengan Tuan Lesmana!" perintah Raden Sanjaya kepada prajurit satunya.

"Baik, Raden."

Raden Sanjaya dan kedua prajurit yang bersamanya kemudian berjalan menuju panggung arena turnamen.

"Minggir!" bentak seorang prajurit kepada para penonton yang berjubel menghalangi langkah mereka.

Kerumunan penonton itu langsung membelah dan memberi jalan, ketika tahu Raden Sanjaya datang. Sikap prajurit tersebut ditambah dengan kesombongan Raden Sanjaya, membuat mereka menjadi antipati terhadap calon kuat juara turnamen itu.

Raden Sanjaya berjalan dengan pongah hingga sampai di kursi peserta. Pandangannya tajam mengarah kepada Lesmana yang duduk di samping Patih Anggadharma. Selama pertanyaan di pikirannya belum terjawab, dia tidak akan merasa puas.

Waktu bergulir dengan begitu cepat hingga sore hari pun tiba. Pertandingan babak pertama turnamen itupun tuntas sudah. Para peserta yang lolos ke babak 32 besar pun sudah dinyatakan lengkap oleh pembawa acara.

Malam harinya, sesuai dengan permintaan Lesmana, Wira beranjak dari kamarnya menuju ruang pribadi Lesmana.

"Masuklah! Pintunya tidak dikunci," ucap Lesmana, setelah tahu Wira sudah berada di depan pintu ruang pribadinya.

Pemuda itu memasuki ruangan pribadi Lesmana dan kemudian duduk di depannya. "Ada masalah apa sehingga Tuan ingin berbicara denganku secara pribadi?" tanya Wira.

"Begini, Wira. Kita langsung ke pokoknya saja. Ada isu beberapa kerajaan kecil mau melepaskan diri dari kerajaan Sanggawana. Dan saat ini Yang Mulia sudah memberi perintah kepada teliksandi untuk mencari bukti-buktinya. Meskipun belum tentu kebenaran dari isu tersebut, ada kemungkinan isu itu akan menjadi nyata dari kejadian kemarin," ucap Lesmana. Dia kemudian menuang air ke dalam dua gelas yang ada di atas meja.

"Kemarin ada kejadian apa, Tuan?"

"Kemarin di pertandingan Raden Sanjaya melawan Pangeran Sudaraksa dari kerajaan Ngelawan, Raden Sanjaya membuat kesalahan yang begitu besar. Dia sudah membuat Pangeran Sudaraksa lumpuh oleh serangannya. Yang aku takutkan, Kerajaan Ngelawan adalah salah satu dari beberapa kerajaan kecil yang isunya ingin memisahkan diri dari kerajaan Sanggawana."

Lesmana meminum air dalam gelas sebelum melanjutkan bicaranya, "Bisa saja dengan lumpuhnya Pangeran Sudaraksa itu dijadikan alasan oleh Raja Jayaraksa, untuk melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan kita."

"Lalu apa inti dari pembicaraan ini, Tuan?"

"Begini, Wira... saat ini, calon terkuat pemenang turnamen menurut khalayak umum adalah Raden Sanjaya. Jika dia menjadi Senopati, bisa jadi tangan besi akan digunakannya untuk menghancurkan Kerajaan Ngelawan. Kesombongan dan keangkuhan Raden Sanjaya akan membuat kerajaan ini selalu berperang dan berperang."

Wira menggaruk kepalanya pelan. Dia masih belum bisa menangkap inti dari pembicaraan yang mereka berdua lakukan.

"Menurutku, sebaiknya kita melakukan pendekatan yang baik kepada mereka, dan itu tidak bisa dilakukan jika Raden Sanjaya menjadi Senopati. Dan intinya adalah, aku memintamu dengan sepenuh hati, kau harus memenangkan turnamen ini! Kau harus menjadi Senopati agung berikutnya. Aku yakin kau punya kemampuan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Raja Jayaraksa jika kau yang menjadi Senopati agung." sambung Lesmana.

"Kenapa harus aku, Tuan? Bukankah banyak pejabat istana yang lebih punya kapasitas untuk melakukannya!"

"Kau belum tahu situasi yang terjadi di dalam istana saat ini. Menurut informasi yang kudapat, saat ini pejabat istana terbelah menjadi dua bagian. Ada yang tetap setia kepada Yang Mulia Raja Dharmawangsa, dan sebagian lagi mendukung adik beliau, Pangeran Arya Seta."

"Tapi bukankah kemarin Tuan bilang jika Yang Mulia tidak memiliki siapa-siapa lagi setelah Gusti Ratu meninggal?" tanya Wira. Dia bingung dengan cerita yang disampaikan oleh Lesmana.

"Jadi begini, Wira... Pangeran Arya Seta bukan adik kandung Raja Dharmawangsa. Pangeran Arya Seta diangkat sebagai adik oleh Yang Mulia Raja Dharmawangsa, setelah menyelamatkan Yang Mulia dari rencana pembunuhan ketika berburu di sebuah hutan," jawab Lesmana. Dia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan begitu berat, seolah ada beban yang begitu besar di pundaknya.

"Sebenarnya Pangeran Arya Seta tidak mempunyai keinginan untuk menjadi raja, tapi ada tokoh penting istana yang selalu mempengaruhinya untuk merebut tahta dari Yang Mulia." tambahnya.

Wira akhirnya bisa mengerti arah pembicaraan Lesmana. Baru kali ini dia tahu jika permasalahan di istana begitu rumit. "Siapa tokoh yang mempengaruhi Pangeran Arya Seta untuk merebut tahta Yang Mulia?"

Lesmana menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah, sampai saat ini teliksandiku masih mencari siapa orangnya. Tolong rahasiakan informasi ini dari siapapun dan jangan sampai tersebar."

"Baik, Tuan."

"Aku juga punya satu lagi permintaan darimu jika kau berhasil menjadi Senopati agung, Wira. Aku harap kau akan mendukung Yang Mulia jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." pungkas Lesmana.

"Kudeta?" tebak pemuda tersebut.

Lesmana mengangguk, "Kau memang cerdas. Aku yakin kerajaan Sanggawana ini akan semakin maju jika kau menjadi Senopati."

"Tenang saja, Tuan. Aku berjanji akan memenangkan turnamen dan juga menjaga Yang Mulia sampai titik darah penghabisan."

"Aku pegang janjimu. Sekarang beristirahatlah! Besok kau akan bertanding lagi di babak 32 besar."

Wira mengangguk memberi hormat. Dia kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Keesokan harinya, Wira mendapat jadwal pertandingan babak 32 besar di sesi pertama. Setelah namanya disebut pembawa acara, pemuda itu berjalan dengan begitu tenangnya hingga sampai di atas panggung.

Tanpa disadarinya, 5 orang anggota perguruan Singa Merah yang kemarin dihajarnya, ternyata juga berada di tempat itu bersama sekitar 30 orang lainnya. Mereka tampaknya hadir untuk mendukung saudara seperguruannya yang juga berhasil sampai di babak 32 besar.

Begitu kelima orang itu mengetahui Wira di atas panggung, salah seorang dari mereka berseru kepada teman-temannya, "Itu pemuda yang kemarin sudah menghina perguruan kita!"

1
Allian Author
alurnya bagus dan mengalir
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!