NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kunci Impian dan Langkah Menuju Restu

Mei tenggelam dalam pelukan Chen, bahunya berguncang hebat karena isak tangis haru yang tak terbendung. Baginya, lamaran sederhana namun tegas dari Chen adalah jawaban atas doa-doa panjangnya di tengah kerasnya kehidupan kota.

Setelah isak tangisnya mereda, Chen melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap Mei yang matanya masih berkaca-kaca, lalu merogoh saku jasnya yang dalam. Dengan gerakan tenang, ia mengeluarkan sebuah kunci fisik besar dengan gantungan emblem emas bertuliskan nama sebuah kawasan perumahan paling elite di kota.

"Mei, lihat ini," ucap Chen lembut.

Mei menatap kunci itu dengan dahi mengernyit. "Kunci apa ini, Chen? Kenapa kelihatannya... mahal sekali?"

"Ini kunci rumah kita," jawab Chen dengan senyum tipis. "Rumah mewah di pusat kota. Aku membelinya untuk hadiah pernikahan kita nanti. Setelah kita menikah, kita tidak akan lagi tinggal di kosan sempit ini. Kita akan tinggal di sana."

Mei terperangah. Mulutnya sedikit terbuka, matanya melebar seolah ingin memastikan ia tidak sedang bermimpi. "R-rumah mewah? Chen, bagaimana bisa? Kita... kita hanya hidup sederhana selama ini. Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli rumah semahal ini?"

Chen hanya mengusap lembut rambut Mei, tidak ingin menjelaskan tentang intrik tambang, batu giok, atau kejatuhan Keluarga Wang saat ini. Ia hanya ingin Mei tahu bahwa mulai sekarang, ia tidak akan pernah membiarkan wanitanya hidup susah lagi. "Itu cerita panjang, Mei. Yang perlu kamu tahu, aku melakukannya dengan cara yang halal dan untuk masa depan kita berdua."

Perjalanan Meminta Restu

Beberapa hari setelah pengumuman pernikahan yang menggemparkan hati Mei, Chen memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat. Ia tidak ingin menunda. Dengan ditemani restu Mei yang sudah membulatkan tekad, Chen bersiap melakukan perjalanan jauh menuju desa halaman Mei di pelosok daerah.

Hari itu, sebuah mobil SUV mewah beriringan dengan mobil keamanan pribadi yang disiapkan Liu—meskipun Chen sudah meminta untuk tidak terlalu mencolok—meninggalkan hiruk pikuk kota. Chen mengenakan pakaian rapi, sebuah kemeja batik modern yang sopan, dipadu dengan celana kain yang bersih. Ia membawa berbagai macam buah tangan, mulai dari perlengkapan kesehatan untuk ibu Mei, hingga kebutuhan pokok kualitas terbaik.

Sepanjang perjalanan, Mei terus menggenggam tangan Chen, menunjukkan betapa gugup sekaligus bahagianya dia.

"Jangan khawatir, Mei," ucap Chen menenangkan. "Aku akan meyakinkan ibumu bahwa aku adalah pria yang tepat untuk menjagamu seumur hidupku."

Sesampainya di desa, pemandangan rumah-rumah kayu sederhana dan hamparan ladang hijau menyambut mereka. Mobil mewah Chen menarik perhatian hampir seluruh warga desa. Saat mereka sampai di depan gubuk sederhana yang bersih, seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi tampak berdiri menunggu di depan pintu. Itu adalah ibu Mei.

Chen turun dari mobil, melangkah dengan tegap dan penuh rasa hormat. Ia melepaskan kacamata hitamnya, lalu melangkah maju mendekati ibu Mei. Dengan sikap yang sangat sopan, Chen membungkukkan tubuhnya—gestur hormat yang sangat dalam.

"Selamat sore, Bu," ucap Chen dengan suara yang mantap dan tulus. "Saya Chen. Saya datang jauh-jauh dari kota bukan hanya untuk berkunjung, tapi saya datang dengan maksud baik untuk meminta izin dan restu Ibu agar saya bisa meminang Mei sebagai istri saya."

Ibu Mei tertegun melihat pria di depannya. Meskipun Chen terlihat sangat sukses dengan mobil mewahnya, yang dilihat ibu Mei bukanlah kekayaan itu, melainkan binar mata Chen yang begitu jujur dan penuh kasih sayang kepada putrinya.

1
Markario Putra
ok siap bang
👍😁
indrawanto djiwanto
konflik kurang banyak min. kalopun lanjut, ceritanya terus jangan berubah jadi kultivator plus nanti lawan alien atau mkahluk dunia ata dst.
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!