Cerita ini berlatar belakang seribu tujuh ratus tahun setelah pertarungan dewa, batu-batu sakral kini tersebar ke berbagai penjuru dunia, setiap kaum yang memilikinya memanfaatkan batu tersebut untuk kepentingan kaum mereka, Zeel Greenlight seorang pemuda dari kota benteng Clever kehilangan kedua orang tuanya saat peristiwa malam darah, inilah awal dari perjalanannya untuk mencari siapa dan kenapa pembunuhan itu terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefrie Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5 : Hutan Tidur II
Terpandang oleh ketiga anak itu sosok Zeel dengan mata hijau menyala.
“Ke ... ke sini,” kata salah satu anak laki-laki itu gemetar.
Selepas itu Zeel menghampiri tubuh Clare yang tak sadarkan diri kemudian menyentuh pergelangan nadi Clare.
Zeel merasakan nadi Clare yang masih berdenyut lalu ia mengangkat tubuh Clare yang tidak sadarkan diri.
kemudian Zeel mengikuti langkah ketiga anak-anak itu dari belakang.
Hingga anak-anak tersebut menunutun Zeel ke sebuah desa kecil.
“rumah kalian ada di mana?” tanya Zeel.
Ketiga anak-anak itu diam sambil saling menatap.
Mereka saling menatap seolah-olah sedang memutuskan sesuatu.
Kemudian ketiga anak itu membawa Zeel ke sebuah halaman rumah kayu sederhana.
Keadaan halaman rumah itu tidak begitu terawat, sebagian tanaman tampak mati.
Salah satu anak laki-laki mendorong pintu rumah kayu itu.
Kreeek ...
Pintu terbuka.
Zeel menoleh ke arah pintu rumah tersebut, ia merasakan ada sesuatu yang janggal pada pintu rumah itu.
Keadaan pintu rumah tersebut tampak sedikit rusak, seperti dibuka paksa dari luar.
Selepas itu Zeel bersama anak-anak itu masuk ke dalam rumah kayu sederhana itu.
Ruang tamu rumah tersebut nampak tidak terurus, debu banyak di mana-mana.
Zeel menatap sekitar, ia melihat sebuah kursi panjang.
Lalu Zeel membaringkan tubuh Clare ke kursi panjang.
Kemudian ketiga anak itu melepaskan penutup wajah aneh yang terpasang di wajah mereka.
Lalu mereka meletakkan penutup wajah aneh itu di pada permukaan sebuah meja.
Meja itu berada tidak jauh dari kursi panjang tempat Clare terbaring tak sadarkan diri.
“Air,” kata Zeel sembari menatap Clare.
Lalu pandangan kedua anak laki-laki itu tertuju pada anak perempuan seolah-olah sedang mengintruksikan sesuatu.
Kemudian anak perempuan itu pergi entah kemana.
Tak lama kemudian anak perempuan itu kembali dengan segelas air di tangannya, kemudian anak itu memberikan gelas itu pada Zeel.
Selepas itu Zeel menuangkan air pada gelas itu ke mulut Clare yang sedang tak sadarkan diri.
Gluk,gluk,gluk ....
Tubuh Clare menerima air itu.
Lalu suasana menjadi canggung.
Anak-anak itu nampak masih takut dengan Zeel.
Mereka tidak berani menentang intruksi Zeel.
Uhuk, uhuk ....
Tiba-tiba terdengar suara batuk dari arah Clare.
“Clare, kamu tidak apa-apa?” tanya Zeel dengan wajah khawatir.
“aku sudah tidak apa-apa … hanya saja kepalaku sedikit pusing” kata Clare sembari di selingi
batuk.
Zeel berkata “untuk sementara kamu berbaring saja.”
“Kalau tidak salah … kita sedang di perjalanan,” kata Clare sembari berusaha mengingat sesuatu.
Lalu Clare menoleh ke sekitarnya terlihat oleh Clare sosok dua anak laki-laki serta seorang anak
perempuan.
Wajah ketiga anak-anak itu sangat mirip di mata Clare, hanya saja rambut anak yang perempuan lebih panjang.
“Zeel … mereka siapa?” ucap Clare.
Zeel berkata, “minta maaflah pada Clare.”
“Maafkan kami,” ucap ketiga anak anak itu dengan serentak.
Clare nampak kebingungan setelah mendengar permintaan maaf yang ditujukan padanya.
Clare bangkit dari tidurnya kemudian duduk di kursi, lalu Zeel duduk di samping Clare.
Sementara ketiga anak-anak itu berdiri di hadapan mereka sembari menundukan
kepala.
Lalu Zeel menceritakan apa yang terjadi kepada Clare.
“Mereka?” kata Clare dengan ekspresi kaget.
Zeel berkata, “aku tidak berbohong.”
“kenapa?” tanya Clare menghadap anak-anak itu.
Salah satu anak laki-laki menjawab, “karena, mereka semua menghilang.”
“mereka?” tanya Clare.
Salah satu anak laki-laki menjawab, “ibu … ayah … semuanya.”
Lalu Clare menatap Zeel dengan tatapan penasaran.
Tanpa berkata-kata Zeel pergi meninggalkan rumah itu.
Zeel menghampiri rumah lain yang ada di sekitarnya.
Seluruh rumah kosong dengan keadaan pintu terbuka.
Zeel tidak menemukan bercak darah sedikitpun di rumah-rumah yang berada di desa kecil itu, ia mengelilingi desa namun tidak menjumpai orang lain.
Hampir seluruh rumah di desa kecil itu Zeel hampiri, setelah itu Zeel kembali ke tempat Clare berada.
“Tidak ada … penduduk desa,” kata Zeel.
“tidak ada?” ucap Clare dengan ekspresi kaget.
Clare mengarahkan pandangannya pada anak-anak itu lalu berkata, “sejak kapan?”
“Enam hari yang lalu,” ucap salah satu anak laki-laki dengan wajah sedih.
Zeel bertanya, “kalian tahu mereka kemana?”
“Tidak,” ucap salah satu anak laki-laki.
Mendengar akan hal itu rasa kasihan muncul dari hati Clare.
Terlihat oleh Zeel wajah Clare yang nampak
sedih.
Namun wajah sedih Clare tak bertahan lama, entah apa yang terjadi Clare menjadi tersenyum.
“Kenapa kalian mencuri buah kami?” tanya Clare dengan senyuman.
“Makanan di dapur sudah habis,” kata anak perempuan itu.
Clare berkata, “jadi begitu.”
“Kalau begitu, jika kalian memberi tahu nama kalian satu persatu … aku akan memaafkan kalian,” kata Clare dengan senyuman kecil di wajahnya.
“Namaku Leon,” ucap salahsatu anak laki-laki itu.
Lalu anak laki-laki lainnya berkata, “namaku Luis.”
“Jadi … nama nona cantik?” tanya Clare sembari menatap anak perempuan.
“Nama … namaku Emily,” ucap anak perempuan itu dengan nada gugup.
Clare sembari tersenyum kecil berkata, “kalian aku maafkan … nama kakak Clare.”
Lalu Emily tiba-tiba berlari ke arah Clare kemudian memeluk Clare dengan erat.
Clare mengelus rambut Emily dengan lembut, Zeel bertanya-tanya kenapa perilaku Clare berubah.
Clare biasanya yang tidak ingin berinteraksi dengan orang asing justru berinteraksi dengan anak yang mencuri makanannya.
Sementara itu di sisi lain Clare merasa kasihan pada anak-anak itu, melihat keadaan anak-anak itu mengingatkan Clare akan luka lamanya.
“Ini rumah siapa?” tanya Clare.
Leon menjawab, “ini rumah keluarga kami.”
Suasana hening untuk beberapa saat.
“Kalian ada gerobak?” tanya Zeel.
“Zeel … setidaknya perkenalkan namamu pada mereka,” kata Clare.
“Maaf ... namaku Zeel,” balas Zeel.
Leon menjawab, “kalau tidak salah … ayah memilki gerobak di gudang.”
Selepas itu Zeel dan kedua anak itu pergi ke Gudang yang ada di belakang rumah.
Terlihat oleh Zeel sebuah gudang kecil sederhana yang terbuat dari kayu.
Lalu Zeel mengikuti langkah kedua anak itu yang sudah lebih dahulu masuk.
Nampak di hadapan Zeel sebuah gerobak kayu dengan empat roda.
Selepas itu Zeel memegang kedua pegangan
gerobak dengan kedua tangan lalu menarik gerobak itu keluar gudang.
“Leon dan Luis ... ikuti aku,” kata Zeel.
Lalu Zeel pergi menjauhi desa sementara kedua anak itu mengikuti langkah Zeel dari belakang.
Mereka nampak menjaga jarak dari Zeel, mereka menuju hutan misterius tempat sebelumnya Clare jatuh tak sadarkan diri.
“Apa kita akan masuk ke hutan ini kak?” tanya Leon.
“Iya,” kata Zeel sembari menatap Leon.
Leon berkata, “kakak Zeel tunggu sebentar di sini, kami akan segera kembali.”
“Baiklah,” kata Zeel.
Lalu kedua anak itu pergi meninggalkan Zeel, mereka menuju desa meninggalkan Zeel dan gerobak milik ayah mereka.
Beberapa saat kemudian kedua anak itu kembali dengan mengenakan sesuatu di wajah mereka.
“Apa yang kalian kenakan di wajah kalian?” tanya Zeel penasaran.
Luis menjawab, “Hutan ini akan membuat siapapun tertidur … jadi kami perlu pelindung ini.”
Zeel menutup mata untuk beberapa saat kemudian membuka matanya.
Kini mata Zeel dipenuhi warna hijau bercahaya.
Zeel berkata, “kalian aneh ya.”
“Tidak … tidak … kakak Zeel lebih aneh,” ucap Leon.
..."Pasti berat bagi anak-anak ini."...
...-Clare-...
kak jangan lupa mampir do novel ku NEGRI JIRAN.
mohon dukungannya