Warning: Kisah sedih.
"Tuan, saya mohon pinjamkan saya uang sebesar 500 juta. saya berjanji akan melakukan apapun yang tuan inginkan," mohon Lona pada atasannya.
"Benarkah, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan?" tanya tuan Devan dengan tatapan nakalnya.
"Ia tuan saya berjanji," jawab Lona memantapkan hatinya untuk yakin.
"Bagaimana kalau aku memintamu menjadi BUDAKKU," ujar tuan Devan tersenyum sinis.
Mendengar kata itu, Lona menaikkan pandangnya, menatap tuan Devan dengan mata berkaca-kaca.
"Sa-saya......,
Selama menjadi Budak tuan Devan, Lona terus tersiksa. Dituduh melakukan segala hal yang tidak ia lakukan.
Hingga akhirnya, kesucian Lona direnggut oleh tuan Devan. Apakah Lona akan pergi! atau akan terus bertahan! Demi rasa cintanya kepada tuan Devan, juga pengorbanannya demi keluarga yang dicintainya.
Mau tau kelanjutannya, Buruan ikuti kisahnya💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
🔥🔥🔥
Disebuah ruangan yang begitu gelap. Hanya kamar kecil yang berdebu tabal, kayu-kayu berserakan dimana-mana. Dinding-dindingnya terbuat dari kayu yang telah rapuh, atapnya pun hanya seng yang sudah berlubang besar.
Disebuah kursi yang berada ditengah-tengah kamar itu. Tampak seorang gadis terikat kaki dan tangannya, mulutnya dibekap oleh lakban. Tampak gadis itu mulai mengerjakan matanya, lama ia tak bisa melihat karena memang dia tak bisa membuka matanya saat terbangun.
Tak menyerah ia terus mengerjakan matanya agar bisa terbuka. Tak sia-sia, kini matanya sudah terbuka, walau penglihatan nya masih agak kabur.
Gadis yang terikat disebuah kursi itu, tak lain dan tak bukan adalah Lona. Lona berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya agar ikatan itu terlepas. Tapi sia-sia, karena hal itu hanya akan membuatnya semakin lelah.
Braaaakk....(suara botol minuman keras, yang berserakan setelah dilempar kelantai)
"Haaaiss...bisa diam tidak! Ribut sekali kau ini," Teriak seseorang yang suaranya Lona kenal.
Pria bertubuh kekar menyeramkan itu bangun dari tidurnya. Dengan wajah penuh amarah ia mendekati Lona, Lona memelototkan matanya tak percaya.
Lona sangat mengenal, sesosok pria yang berada dihadapannya saat ini. Tubuh Lona seketika melemas, sendi-sendinya terasa lemah tak berdaya, oksigen seakan terenggut dari ruangan itu.
Tanpa sadar setitik air maat, lolos ketika Lona mengedipkan matanya. Tak percaya! Lona begitu tak percaya kala menatap pria misterius yang menculiknya itu.
Lona sangat ingin berkata. Untuk menanyakan alasan mengapa pria itu menculiknya. Tapi tak bisa ia lakukan, karena saat ini mulutnya masih dibekap oleh lakban.
Pria misterius itu, tersenyum licik menatap Lona. Lalu mengeluarkan ponselnya, mengetik sebuah nomor, dan membuat panggillan di nomor itu.
"Hallo, tuan Devan. Apa tuan mencari Budak tuan, tenang saja tuan. Dia aman bersamaku. Aku tidak menginginkan apa-apa. Hanya uang saja, tapi tidak banyak. Saya tau tuan membutuhkannya untuk membalas dendam pada tuan Hitoru. Kau tau, tuan Devan! Kita punya musuh yang sama. Bagaimana kalau aku membantumu dan kau juga membantuku. Aku tidak bermaksud menculik Budakmu. Tapi, hanya dengan cara ini aku bisa berkomunikasi denganmu. Sepertinya kau sangat takut kehilangan Budakmu ini. Tuan tenang saja, dia aman bersamaku." Ucap pria misterius itu pada tuan Devan diseberang sana.
"Tuan mau bekerja sama denganku. Tentu saja aku akan melakukan apapun yang tuan inginkan. Asalkan ada plusnya, menghilangkan nyawa manusia sekalipun aku sangup," kembali pria misterius itu berucap pada ponselnya membuat Lona gemetar ketakutan mendengar obralan mereka.
"Datanglah kegudang xxx tuan, jangan lupa bawa juga uang reword kerja sama kita ya, tuan," ujar pria misterius itu, lalu menutup panggilan itu.
🔥🔥🔥
"Jangan lama-lama, Aron," ujar tuan Devan, tuan Devan meminta Arin untuk menemaninya karena takut terjadi apa-apa nantinya.
Tak menunggu lama, sekretaris Aron pun datang. Dan keduannya mulai memecah jalan raya, menuju ke sebuah gudang yang masih berada di kota.
Sekitar 30 menit perjalanan. Kini, tuan Devan dan juga sekretaris Aron telah berada didepan sebuah gudang kono yang rapuh.
Sunyi, sepi, dan angker. Ditambah suara jangkrik yang bising, semakin membuat keadaan semakin tegang. Itulah gambaran akan keadaan gudang atau gubuk itu. Tanpa ragu, kedua pria tampan itu memasuki gubuk itu.
Sekretaris Aron membuka pintu itu perlahan, dan tampaklah seorang pria paruh baya yang menyambut kedatangan mereka berdua.
🍂🍂🍂
Like komen hadiah dan vote 🙏
Rate bintang 5 juga ya 🙏
Maafkan typonya 🙏
Selamat membaca dan semoga suka 💖
Lope readersss 😘
🔥🍂
congratss🎉🎊🎉🎊
cuss lanjut novel berikutnya..
sehat2 terus kak..
tetap semangat untuk berkarya.. 😘🥰😍🤩