Maya adalah seorang wanita biasa yang dijodohkan dengan pilihan orang tuanya. Dia berkali-kali menolak karena sudah memiliki kekasih.
Sedangkan lelaki pilihan orang tuanya, bernama Prawira. Dia seorang abdi negara yang baru saja dipindah tugaskan di Jakarta.
Pernikahan mereka berlangsung seminggu setelah tragedi itu. Maya terpaksa menjalani semua ini. Masa lalu yang datang kembali, membuat dirinya terguncang.
Bisakah Maya melewati semua ini, akankah dia mendapatkan cinta dihidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deviss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAGAL RESTU
Mobil sedan berwarna putih berhenti tepat di depan rumah Maya. Tidak lama kemudian, sang kemudi keluar dengan gestur bak seorang pelayan membukakan pintu untuk majikannya. "Silahkan, Nyonya," ucap Juha.
"Hadeeh, hari ini gue jadi obat nyamuk mulu," sindir Shanti saat keluar dari mobilnya.
Maya tertawa kecil menghampiri, memeluk Shanti, sedangkan Juha hanya tersenyum menyatukan kedua telapak tangan. Dia menatap Juha. Tidak menyangka, lelaki yang tanpa sengaja bertemu di kedai sekarang menjadi kekasihnya.
Mereka masuk ke rumah dengan menenteng beberapa barang belanjaan. Maya langsung melesat ke dapur untuk membuatkan minum. Entah, apa yang Shanti dan Juha bicarakan hingga tawa mereka terdengar sampai ke telinganya. Setelah siap dia kembali ke ruang tamu. "Ngimongin orang dosa loh," sindir Maya sembari menaruh minumannya.
Shanti dan Juha tertawa. "Mbak Shanti bilang, kalau kamu orangnya cerewet, Dek." Maya membulatkan matanya menatap Shanti. "Tapi hati kamu baik, kaya malaikat," ujar Juha mendapat senyuman dari Maya.
"Perasaan, tadi gue gak ngomong begitu deh. Cerewet kaya nenek lampir malah iya," bantah Shanti.
"Sialan lu, ini sih udah termasuk fitnah namanya." Maya memukul pelan sahabatnya itu.
"Dek, saya ke bataliyon dulu, nanti habis isya ke sini lagi," ujar Juha menatap Maya yang mengangguk, lalu berpaling ke arah Shanti. "Mbak Shanti, titip bidadari saya, ya." Maya dan Shanti tertawa kecil.
"Gue anter dulu ya, Shan," ucap Maya.
Maya berjalan mengekori Juha sampai depan motor yang terparkir di halaman rumah. Memperhatikan kekasihnya yang sedang mengenakan atribut berkendara dengan dalam. Merasa beruntung dicintai abdi negara yang seperti ini, hingga tak sadar bibirnya menarik ke atas.
"Kenapa? senyum-senyum begitu?"
"Huh?" Maya tersadar, lalu menggeleng.
Setelah siap, Juha menyuruh Maya untuk berdiri lebih dekat. Tanpa banyak tanya, dia pun menuruti. Dahinya mengkerut, ketika tidak ada pembicaraan, hanya elusan yang terasa di jari-jarinya. Dia menelan ludah sedikit kasar, lalu memejam kuat saat wajah kekasihnya itu semakin dekat.
Maya membuka mata, ketika Juha mengecup dahinya. "Ngarepin apa, Dek?"
"Au, ah." Maya mendorongnya pelan, tetapi sukses membuat Juha melangkah mundur.
Seperginya Juha, Maya dan Shanti berpindah tempat ke kamar untuk berbagi cerita hingga tidak terasa jam menunjukan pukul lima sore. Dia meminta ijin pada sahabatnya itu untuk membersihkan diri.
Ponsel Maya berdering sedari tadi membuat Shanti menoleh berkali-kali ke atas nakas, lalu melihat lagi siapa yang menghubungi. Dengan cepat dia turun dari ranjang menghampiri sahabatnya yang sedang mandi.
"MAY, ADA TELEPON DARI BUNDA." Shanti berteriak.
"APA?"
"BUNDA TELEPON."
"BIARIN AJA, BENTAR GUE LAGI SELESAI."
Shanti kembali ke kamar dengan ponsel yang masih terus berdering. Tidak lama kemudian Maya datang. "Tuh! dari tadi gak berhenti." Shanti menunjuk ke arah nakas.
Maya mengambil ponselnya. "Iya, Bun." Perlahan tubuhnya merosot dan duduk terjatuh.
"May!" Shanti ikut berjongkok di depan Maya. "Ada apa, May?"
Lama Maya menanggapi, sampai tubuhnya diguncang oleh Shanti. "Shan ... orang tua gue ...." Shanti membiarkan sahabatnya itu menyelesaikan ucapannya. "Mereka ... mereka kecelakaan, Shan."
"Inalillahi, di mana? terus sekarang, bagaimana keadaannya? Rumah sakitnya di mana?" cecar Shanti.
Maya shock, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memberikan ponselnya yang berdenting. Tahu betul pasti pesan dari bunda yang isinya alamat rumah sakit. Dia menatap tangannya dengan pandangan kosong.
Setelah melihat isi pesan. Shanti segera merapikan ponsel dan dompet Maya ke dalam tas, lalu bergegas pergi dengan membopong sahabatnya itu ke dalam mobil.
🌷🌷🌷
Turun dari mobil Maya berlari masuk rumah sakit, bertanya pada suster yang berjaga. Dia melesat ke UGD ketika suster itu memberitahu arahnya. Berjalan dengan tergesa-gesa, mencari keberadaan Bunda. Shanti pun masih setia mengikuti di belakangnya "Bunda," sapa Maya.
Bunda menoleh langsung memeluk Maya yang hendak bertanya keadaan orang tua padanya. Dia terus mengusap punggung calon menantunya itu sembari menahan tangisan yang sejak tadi dikeluarkannya.
"Bagaimana bisa, Bun?" lirih Maya.
"Bunda juga tidak tahu percis kronologinya. Kata polisi, mobil yang ditumpangi orang tua kamu menghindari pengendara motor. Oleng, menabrak mobil box dari arah berlawanan."
"Lalu kondisinya, Bun?"
Saat Bunda ingin menjawab, beberapa suster keluar dari ruangan. "Pihak keluarga silahkan," kata salah satu susternya.
Maya bingung ketika Bunda mencegahnya untuk masuk ke ruangan itu. "Kamu anak bunda, Nak." Ucapan Bunda membuatnya semakin bingung.
Mereka menoleh saat Rangga datang. Pandangan Maya turun ke arah tangan lelaki itu. Terlihat sebuah map dokumen dengan logo rumah sakit. Dia mengerutkan dahi, menyingkirkan tangan Bunda, lalu berjalan cepat masuk ke ruangan.
Langkahnya tersendat, melihat dua gorden tertutup. Dia belum siap dengan musibah ini. Perlahan membuka tirai pertama. Namun, bukan orang tuanya. Dia kembali berjalan menuju berikutnya tatapi di sana pun juga bukan. Dengan cepat bertanya pada dokter yang kebetulan melewatinya.
"Dokter, mau tanya korban kecelakaan tadi sore di mana ya? saya anaknya."
"Mereka semua sudah di pindah." Maya sedikit lega karena orang tuanya sudah tidak lagi keritis. "Ke ruang mayat." Tubuh Maya kaku, lidahnya kelu, tidak lama kemudian pandangan kabur.
🌷🌷🌷
Bendera kuning terikat di pagar rumah Maya. Para pelayat dan tetangga ramai datang. Lantunan surat yasin terdengar hingga ke jalan. Maya duduk di pojokan tembok di dampingi Bunda, rasanya sesak melihat kedua orang tua terbujur kaku terselimut kain.
"Minum teh anget dulu, May," ucap Rangga. Semua keluarga Bunda turut hadir dan membantu Maya, termasuk Prawira yang baru tiba lima belas menit lalu.
"Dek." Maya mendongak menatap Juha berdiri di pintu.
Bersambung ....
nggak di dua in.
reader di prank ..