Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Di Balik Kaca Mobil
Udara Karanganyar di waktu dini hari terasa menusuk hingga ke tulang. Namun, keheningan yang menyelimuti hunian guru itu terasa begitu damai bagi Raka. Pukul 04.00 pagi, saat dunia masih terlelap dalam pelukan fajar yang belum menyingsing, mata Raka terbuka perlahan.
Ia tidak langsung beranjak. Untuk beberapa saat, ia membiarkan matanya terbias dengan kegelapan ruangan, memandangi sosok Naomy yang tidur dengan sangat pulas di atas ranjang. Gadis itu tampak jauh lebih tenang dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu di kantor.
Raka tersenyum tipis. Tangannya terangkat, ingin menyentuh rambut Naomy, namun ia menahan diri. Ia tidak ingin mengusik istirahat gadis yang sudah kelelahan itu.
Sebuah pemikiran melintas di benaknya—realitas yang harus ia jaga. Jika ia tetap di sini sampai pagi dan terlihat oleh guru-guru lain atau warga sekitar, reputasi Naomy bisa dipertaruhkan. Rumor adalah hal yang paling ingin ia hindari setelah apa yang sudah mereka lalui. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjaga Naomy, bukan justru mendatangkan masalah baru baginya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, hampir tanpa suara, Raka bangkit dari kasur lipat di lantai. Ia merapikan bantal dan selimutnya seolah tak pernah ada yang tidur di sana. Ia mengenakan kembali kemejanya yang semalam ia lepas, lalu melangkah menuju pintu dengan gerakan seringan kucing.
Sebelum membuka pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah Naomy, memberikan tatapan penuh janji. Tunggu aku, Naomy. Hari ini, aku akan membereskan semuanya.
Cklek.
Pintu hunian itu terbuka dan tertutup kembali dengan bunyi yang nyaris tak terdengar. Raka melangkah cepat keluar, menembus kabut tipis yang mulai turun menyelimuti kompleks sekolah. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir agak jauh di bawah pohon besar.
Begitu masuk ke dalam mobil, hawa dingin seketika menyambutnya. Raka mengunci pintu, lalu menyandarkan kepalanya di jok kemudi. Ia tidak menyalakan mesin agar tidak menimbulkan kebisingan yang bisa mencurigakan.
Di dalam kegelapan mobil yang sunyi, Raka memejamkan mata. Ia memang belum benar-benar puas tidur, namun pikirannya justru jauh lebih terjaga. Hari ini, ia harus menghadapi "medan perang" sesungguhnya di ibu kota. Ia harus menemui orang tuanya, menemui Valerie, dan memutus rantai perjodohan yang selama ini mencekiknya.
Dengan napas yang teratur, Raka berusaha memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak sembari menunggu matahari terbit—tanda dimulainya babak baru dalam hidupnya yang akan ia perjuangkan demi Naomy.
Sinar matahari pagi yang lembut perlahan menerobos masuk melalui celah gorden, menghangatkan ruangan bernuansa kayu itu. Tepat pukul 06.00 pagi, Naomy membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi.
Hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke arah lantai, tempat kasur lipat dibentangkan semalam.
Kosong.
Kasur lipat itu sudah rapi, bantal dan selimutnya pun sudah terlipat dengan presisi di sudut ruangan. Jantung Naomy sempat berdesir agak panik, mengira bahwa pertemuannya dengan Raka semalam hanyalah mimpi belaka atau pria itu telah pergi meninggalkannya lagi.
Dengan tergesa-gesa, Naomy bangkit dari ranjang dan berjalan menuju jendela depan. Ia menyibak sedikit kain gordennya dan mengintip ke luar, ke arah bawah pohon pinus besar tempat mobil hitam Raka terparkir semalam.
Mobil itu masih ada di sana.
Dari balik jendela, Naomy bisa melihat siluet tubuh tegap Raka yang sedang menyandarkan kepalanya di jok kemudi dengan mata terpejam. Pria itu tampaknya masih melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong dini hari tadi.
Melihat pemandangan itu, seulas senyum tulus mengembang di bibir Naomy. Rasa hangat menjalar di dadanya. Ia tahu betul alasan Raka pindah ke mobil sepagi itu: pria itu sedang melindunginya dari potensi gosip di antara rekan-rekan sesama guru. Raka yang sekarang benar-benar memikirkan posisinya dan menghargai ruang hidupnya di desa ini.
"Dasar keras kepala," gumam Naomy pelan, namun nadanya sarat akan rasa sayang.
Naomy mengurungkan niatnya untuk langsung keluar menemui Raka. Ia melirik jam di dinding; masih ada waktu sebelum para guru lain mulai berlalu-lalang di sekitar kompleks hunian. Naomy akhirnya menyambar handuknya yang tergantung di balik pintu dan melangkah masuk ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap terlebih dahulu agar tampak segar saat menyambut kekasihnya yang telah berjuang sejauh ini untuknya.