Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Mertua dari Neraka
Di dalam Rolls-Royce yang dingin dan senyap, tas kain murah di pangkuan Keira tampak seperti benda yang tersesat.
Kartu hitam keemasan itu ada di dalamnya, berdampingan dengan dompet kecil berisi lima puluh ribu rupiah. Dua dunia yang terlalu jauh dipaksa tinggal dalam satu tas yang talinya hampir putus.
Pak Lim duduk di kursi depan. Dari kaca spion, ia beberapa kali melihat Keira, tetapi tidak mendesak.
"Nona ingin langsung ke rumah Pak Kevin?" tanyanya akhirnya.
Keira menatap jalanan Surabaya yang bergerak di balik kaca gelap. Gedung kantor, kafe mahal, toko perhiasan, dan perempuan-perempuan bergaun rapi lewat seperti potongan hidup yang dulu hanya ia lihat dari jauh.
"Belum," jawabnya. "Aku harus mengambil barangku dulu."
"Di Rumah Besar Sutanto?"
"Iya."
Pak Lim terdiam sesaat. "Saya bisa mengirim orang."
Keira menggeleng. "Tidak. Ada beberapa barang yang harus aku ambil sendiri."
Bukan karena barang-barang itu mahal. Justru hampir semuanya murah. Beberapa pakaian pasar, buku catatan lama, foto Almarhum Kong Kong Sutanto, dan satu kotak kecil berisi surat-surat yang ia simpan diam-diam.
Namun setelah tiga tahun menjadi bayangan di rumah itu, Keira ingin keluar dengan kakinya sendiri.
Mobil melambat di kawasan komersial Surabaya Barat. Keira meminta turun sebentar di depan sebuah minimarket premium, berniat membeli plester untuk pergelangan tangannya yang masih merah. Ia menolak ketika pengawal hendak ikut terlalu dekat.
"Tunggu di mobil," katanya.
Baru tiga langkah dari pintu minimarket, suara yang sangat ia kenal memecah udara.
"Keira?"
Nada itu bukan panggilan. Itu tuduhan.
Keira menoleh.
Bu Fenny berdiri di depan restoran kecil yang biasa dipakai para ibu arisan. Di belakangnya ada lima perempuan seusianya, mengenakan tas bermerek dan perhiasan mencolok. Di meja teras, gelas es kopi dan piring kue masih tersusun rapi.
Tatapan Bu Fenny turun ke blus pasar Keira, lalu ke tas kain di tangannya.
Senyumnya langsung miring.
"Pantas saja dari pagi rumah berantakan," ucap Bu Fenny cukup keras agar teman-temannya mendengar. "Ternyata menantuku yang bau miskin ini keluyuran di jam kerja."
Beberapa ibu arisan saling pandang. Ada yang pura-pura menyesap minuman, tetapi telinga mereka jelas mengarah ke sana.
Keira berhenti sepenuhnya.
Dulu, di depan orang lain, ia selalu menunduk.
Hari ini ia mengangkat kepala.
"Jam kerja?" tanya Keira. "Sejak kapan aku pegawai rumah tangga Bu Fenny?"
Wajah Bu Fenny berubah. "Jaga mulutmu."
"Aku hanya bertanya."
"Kau tinggal di rumahku, makan dari uang anakku, memakai nama keluarga Sutanto. Kalau bukan bekerja, apa gunanya kau di sana?" Bu Fenny tertawa pendek. "Istri? Jangan membuatku malu. Istri macam apa yang tidak bisa menjaga suami sampai perempuan lama pulang saja langsung panik?"
Nama Anya tidak disebut, tetapi semua orang paham arah pembicaraan itu.
Salah satu teman arisan Bu Fenny mendekat dengan senyum penasaran. "Ini menantu yang dari panti itu, Fen?"
"Iya," jawab Bu Fenny cepat. "Dulu almarhum mertua kami terlalu baik. Anak panti diangkat, dinikahkan dengan Rayhan. Lihat hasilnya sekarang. Dikasih rumah malah melawan."
Keira memandang perempuan-perempuan itu satu per satu. Wajah mereka tidak kejam sepenuhnya. Sebagian hanya lapar gosip. Namun selama tiga tahun, gosip seperti itulah yang membuat Bu Fenny makin berani menginjaknya.
"Bu Fenny," kata Keira pelan, "kalau Ibu ingin bicara soal kebaikan keluarga Sutanto, kita bicara lengkap."
Bu Fenny menyipit. "Apa maksudmu?"
"Kita bicara tentang gelang berlian yang Ibu sembunyikan sendiri, lalu menuduh aku mencurinya di depan tamu arisan."
Senyum Bu Fenny membeku.
Perempuan itu menoleh cepat. "Gelang yang hilang tahun lalu itu?"
"Tidak hilang," lanjut Keira. "Ada di laci meja rias Bu Fenny. Aku menemukannya dua hari kemudian, tapi Ibu melarangku bicara karena katanya harga diri keluarga lebih penting daripada harga diriku."
"Keira!" bentak Bu Fenny.
Keira tidak berhenti.
"Kita juga bisa bicara tentang saham kecil peninggalan Almarhum Kong Kong Sutanto atas namaku yang Ibu tahan dengan alasan aku tidak mengerti bisnis. Atau tentang malam hujan ketika Ibu menyuruhku berdiri di halaman karena sup untuk Rayhan kurang panas."
Udara di teras restoran seperti berhenti.
Seorang pelayan yang membawa nampan ikut membeku. Dua perempuan arisan menurunkan pandangan. Teman arisan yang tadi bertanya perlahan meletakkan gelasnya.
Bu Fenny maju satu langkah, wajahnya merah. "Kau memfitnah mertuamu sendiri di depan orang?"
"Aku menyebut fakta," jawab Keira. "Kalau Ibu merasa malu, mungkin bukan karena aku berbicara, tapi karena Ibu ingat pernah melakukannya."
"Perempuan tidak tahu diri!"
Tangan Bu Fenny terangkat.
Sebelum tamparan itu turun, Keira menangkap pergelangan tangannya.
Gerakannya cepat, tenang, dan membuat semua orang terkejut. Bu Fenny membelalak, seolah baru sadar menantu yang selama ini diam ternyata punya tenaga.
"Jangan sentuh aku lagi," kata Keira.
Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat Bu Fenny kehilangan kata.
Dari belakang, seorang pengawal Liem yang sejak tadi menjaga jarak langsung mendekat. Jas hitamnya membuat teman-teman arisan Bu Fenny makin pucat.
"Nona?" tanyanya rendah.
Keira melepas tangan Bu Fenny. "Tidak perlu."
Bu Fenny menatap pengawal itu, lalu ke Rolls-Royce yang menunggu di seberang jalan. Untuk pertama kalinya, matanya dipenuhi kebingungan.
"Mobil siapa itu?"
Keira tersenyum tipis. "Bukan urusan Ibu."
Ia masuk ke minimarket, membeli plester, lalu kembali ke mobil tanpa menoleh. Di belakangnya, suara bisik-bisik arisan pecah seperti kaca retak.
Satu jam kemudian, Keira tiba di Rumah Besar Sutanto.
Ia sengaja meminta Pak Lim dan para pengawal menunggu di luar gerbang. Jika ia masuk dengan rombongan Liem, Bu Fenny akan sibuk menebak, Rayhan akan curiga, dan ia belum ingin kartu itu terbuka.
Ia hanya butuh mengambil barang, lalu pergi.
Rumah itu terasa berbeda ketika ia masuk sebagai orang yang sudah memutuskan pergi. Lantai yang biasanya ia pel sampai mengilap tampak asing. Vas bunga yang setiap pagi ia ganti airnya berdiri dingin di sudut ruang tamu.
Di sofa, sebuah tas perempuan berwarna putih tergeletak.
Tas Anya.
Jari Keira berhenti di tali tasnya.
Suara langkah halus terdengar dari arah dapur. Anya muncul dengan gaun lembut warna krem, rambutnya tergerai rapi, dan di tangannya ada kunci rumah.
"Keira," sapa Anya dengan senyum manis. "Kau pulang juga."
Pulang.
Kata itu terdengar kotor di mulut Anya.
"Aku mengambil barangku," jawab Keira.
Anya mengangkat kunci di jarinya. "Rayhan memberiku ini. Katanya aku boleh datang kapan saja. Bu Fenny juga sudah meminta pelayan menyiapkan kamar tamu untukku."
Keira menatap kunci itu, lalu wajah Anya.
"Selamat," katanya datar. "Kau akhirnya mendapat rumah yang kau incar."
Senyum Anya menipis, tetapi hanya sedetik. Ia melangkah mendekat dengan wajah sedih yang sangat terlatih.
"Jangan salah paham. Aku tidak pernah ingin merebut apa pun darimu."
"Pesan WhatsApp-mu semalam berkata sebaliknya."
Mata Anya berkilat.
Namun ketika ia bicara, suaranya tetap lembut. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Kau memang pengganti, Keira. Rayhan menikahimu karena Almarhum Kong Kong Sutanto memaksa. Kalau bukan karena itu, bahkan bayanganmu tidak akan masuk ke hidupnya."
Keira diam.
Anya makin dekat, cukup dekat sampai aroma parfumnya menusuk hidung.
"Kau sudah mengajukan cerai, kan?" bisiknya. "Bagus. Setidaknya kau tahu diri."
Keira melewati Anya menuju tangga. "Minggir."
Anya menangkap lengannya. "Jangan bersikap seolah kau yang meninggalkan Rayhan. Semua orang tahu kau dibuang."
Keira menoleh. "Lepaskan."
"Atau apa?"
Keira menarik tangannya dari genggaman Anya. Gerakan itu tidak keras. Namun Anya tiba-tiba membelalakkan mata, tubuhnya oleng, lalu menjatuhkan diri ke lantai dekat meja kaca.
Brak.
Vas kecil jatuh dan pecah.
Anya meringis, air mata langsung muncul seolah sudah menunggu giliran.
"Keira..." suaranya bergetar. "Kenapa kau mendorongku?"
Pintu utama terbuka pada saat yang terlalu tepat.
Rayhan masuk dengan langkah cepat. Matanya langsung menangkap Anya yang terduduk di lantai, pecahan vas di sekelilingnya, dan Keira yang berdiri di tangga.
Wajahnya mengeras.
"Keira!" Suaranya memenuhi ruang tamu. "Kau apakan Anya?!"