NovelToon NovelToon
DUA AYAH UNTUK JAMES

DUA AYAH UNTUK JAMES

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Janda
Popularitas:90.9k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Nurlaeli

Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN ?

SINTA POV

Pagi-pagi aku sudah dibuat heran oleh pak Doni yang menjemputku, dia bilang katanya sekalian berangkat bersama bukan tidak mau menolak. Tetapi lumayan bukan mendapat tumpangan gratis, mengingat aku harus lebih hemat sekarang.

"Apa kamu sudah sarapan Sinta?"

"Ah belum Pak," entah mengapa sekarang rasanya aku merasa kikuk ketika bersama pak Doni.

"Kalau begitu kita sarapan dulu didepan," telunjuknya mengarah pada restoran yang lumayan besar, aku hanya mengangguk sebagai jawaban kalaupun aku menolak pasti pak Doni akan tetap memintaku untuk menurut.

BRAK BRAK

Kami berdua turun dari mobil dan melangkah masuk, seperti biasa pak Doni selalu mengambil posisi dipojok restoran. Aku hanya mengekorinya dari belakang, pelayan datang dengan membawa menu makanan. Pilihanku jatuh kepada nasi goreng babat, satu gelas susu coklat hangat mungkin akan membuat hari-hariku lebih semangat nanti. pak Doni memesan sup iga dan kopi hitam, aku terdiam menunggu datangnya pesanan kami, sedangkan pak Doni sibuk memainkan ponselnya. Tidak berselang lama dia berdiri meninggalkanku sendiri, pak Doni keluar dari restoran dan sedang berbicara dengan seseorang lewat telfon. Pelayan tadi sudah datang membawa pesanan kami berdua, aku yang hanya diajak oleh pak Doni sengaja menunggu pak Doni untuk makan bersama. Seperti tidak etis saja jika dia belum kembali dan aku sudah mendahului makan.

 

Nasi goreng didepanku seperti sudah dingin dan pak Doni masih juga belum kembali, sementara jam sudah hampir waktunya masuk kantor. Setelah ku tolehkan lagi wajah ini kearahnya dia sedang berjalan kearahku.

"Maaf Sinta aku ada sedikit masalah, sekarang selesaikan sarapan kamu setelah itu kamu pergi kekantor!"

"Lalu Pak Doni tidak masuk hari ini?"

"Iya aku harus segera pulang sekarang," pak Doni keluar dari restoran ini dengan tergesa-gesa, aku memakan nasi goreng yang sudah dingin. Merasa takut mubazir pada sup iga pesanan pak Doni aku meminta pelayan untuk membungkusnya dan memberikannya nanti untuk Siti makan malam.

Acara sarapan sudah selesai, aku segera berangkat kekantor dengan ojek karena tadi pak Doni yang menjemputku. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di kantor karena jalanan yang lancar, aku membayar ongkos ojek itu lalu masuk kedalam. Seperti biasa tatapan membunuh dari para karyawan selalu aku temui ketika tubuhku masuk kedalamnya, tapi biarlah aku tidak meladeni hal itu.

 

tuuut tuuuut

"Hallo Pak Doni maaf saya mengganggu waktunya."

"Ada apa?"

"Hari ini Pak Dika dari perusahaan Hartono akan mengadakam pertemuan lagi, apakah jadwalnya akan diganti besok saja Pak?"

"Tidak perlu Sinta kamu saja yang datang mewakili."

"Tetapi Pak."

"Aku yakin kamu sudah cukup mengerti karena memang kamu sudah biasa berkecimpungan di bisnis ini."

"Baik Pak."

"Aku percayakan hari ini kepadamu Sinta."

"Saya akan berusaha sebisa saya Pak."

"Ya."

*kli**k*

***

Bram tidak memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai di Bandung, Dika yang ingin ia temui ternyata sudah berada dikantornya. Dengan sikap ramahnya Bram memasuki perusahaan milik ayahnya itu, banyak dari mereka yang bertanya-tanya siapa gerangan laki-laki yang tengah berjalan menuju keruangan boss mereka.

tok tok tok

"Masuk!"

Bram membuka pintu itu dan langsung disambut senyum merekah dari Dika, keduanya berjabat tangan dan saling duduk disofa yang ada diruangan itu.

"Bagaimana kabarmu Bram?"

"Aku baik."

"Ini kali pertamanya kamu datang kekantor ini mau berkeliling sebentar?"

"Ah nanti saja."

tok tok tok

"Masuk!" Bram dan Dika sama-sama menatap kearah sumber suara, rupanya datang seorang sekretaris disana. Perempuan dengan kulit hitam manis itu setengah membungkuk untuk sekedar memberi penghormatan kepada dua pria dihadapannya.

"Ada apa?" Dika bertanya kepada sekretarisnya.

"Saya mengingatkan lagi bahwa nanti jam sepuluh Bapak ada jadwal meeting bersama perusaan dari Pak Doni."

"Dimana?"

"Mereka yang akan berkunjung kesini Pak."

"Baiklah, silahkan kembali lagi keruanganmu."

"Baik Pak."

Perempuan itu pergi meninggalkan Bram dan Dika, disusul Dika yang berjalan menuju meja kerjanya. Laki-laki itu menyambi mengerjakan sesuatu, sedangkan Bram menatap kearah luar jendela gedung tinggi kantor tersebut.

"Mana mobil yang mau kamu tawarkan Bram?"

Bram mengalihkan pandangannya, dia mengeluarkan ponsel miliknya lalu berjalan menuju ketempat dika berada. Ponsel itu dia berikan kepada Dika, Pria yang tadi tengah menggarap pekerjaannya itu beralih menggeser layar ponsel Bram.

"Apa tidak ada yang lebih jelek dari ini?" Bram terkekeh menanggapi, pria itu mengambil kembali ponsel miliknya menyimpan dalam saku celana yang dia kenakan.

"Maaf bung itu sudah yang paling jelek."

"Baiklah nanti aku tanyakan kepada istriku."

Bram menanggapi dengan anggukan.

"Sudah hampir jam sepuluh aku mau kamu ikut dalam pertemuan nanti."

"Pertemuan?"

"Iya, aku akan merasa senang jika kamu mau sesekali melihat bagaimana perusahaan ini beroperasi."

"Aku kesini hanya mau menawarimu mobil lagipula aku sedang berlibur sekarang."

"Baiklah aku tahu kamu memang boss disini."

Keduanya tertawa dan baru berhenti ketika ketukan pintu diluar menginterupsi keduanya.

"Sepertinya aku sudah harus pergi, Bram kamu berkeliling lah!"

"Lain kali saja aku ada urusan lain."

"Kalau begitu selama kamu di Bandung jangan sungkan untuk mampir kerumah."

"Pasti."

Baik Bram maupun Dika sama-sama keluar dengan tujuan berbeda, Bram terus berjalan menuju keluar kantor itu. Mobilnya terparkir diluar dan segera dia hampiri, tujuannya adalah mencari Sinta dia akan menghabiskan waktu yang lama di Bandung. Pantang pulang sebelum bertemu dengan pujaan hati.

Setelah menutup mobil dia mulai melajukan kendaraan itu, bersamaan dengan Sinta yang keluar dari taxi dan berjalan masuk kedalam kantor yang barusaja Bram datangi, sayang sekali pria itu terlalu fokus kejalan sehingga matanya tidak melihat sosok janda muda itu. Dia terus melaju ditengah panasnya terik matahari, merafalkan beribu doa dan harapan akan usahanya kali ini.

***

"Selamat pagi Bu Sinta," Sinta membalas uluran tangan pria itu dengan senyum ceria.

"Selamat pagi juga Pak Dika."

"Silahkan duduk!" Sinta mengambil tempat didepan Dika, wanita itu mengambil nafas sejenak mencoba menetralkan kegugupannya.

"Saya mewakili Pak Doni yang tidak bisa hadir hari ini, beliau ada urusan keluarga."

"Begitu ya baiklah Kalau begitu bisa kita mulai sekarang?"

"Bisa Pak."

 

Satu jam berlalu dan pertemuan itu berjalan dengan lancar, Sinta berkali-kali mengucap syukur ketika dia bisa mengimbangi pembicaraan Dika. Perempuan itu segera berlalu dan kembali bekerja dikantornya, dilihat ternyata jam sudah menunjuk ke angka dua belas. Artinya sudah tanggung jam istirahat, dia memesan ojek untuk sekedar mampir kesebuah tempat makan menghabiskan satu jamnya untuk memanjakan perut langsingnya. Pilihannya jatuh pada warung soto, sudah lama lidahnya tidak merasakan kuah segar dari makanan itu. Kaki mungilnya turun dari motor dan menggiring tubuh sintal itu masuk kedalam, tempat sederhana itu sangat sesak. Banyak sekali pengunjung disana, matanya mencari-cari tempat duduk yang masih kosong. Semua meja sudah penuh, tetapi netranya menatap satu tempat yang hanya ditempati satu orang. Dia seorang pria, meski ragu akhirnya Sinta tetap menghampiri tempat itu. Mau bagaimana lagi perutnya sudah lapar dan dia juga sudah terlanjur memesan satu mangkuk soto sapi, orang itu membelakangi sinta, dengan langkah pelan dia sudah sampai juga dibelakang pria itu.

"Maaf Mas apa saya boleh duduk didepan anda? sudah tidak ada lagi tempat, semuanya penuh," pria itu berdiri dan menolehkan wajahnya, betapa terkejutnya Sinta mendapati siapa yang berada didepannya sekarang. Perempuan itu membalikkan tubuhnya, belum juga aksi kaburnya berhasil lengannya sudah dicekal seseorang.

"L-lepas!"

"Kamu pasti lapar cepat duduk pesananmu sudah datang!" satu pelayan menaruh pesanan Sinta dimeja itu.

Sang pria menarik lengan Sinta dengan sekali sentakan dan mendudukkan Sinta dihadapannya.

"Makanlah!" Sinta tidak menggubris soto dan perutnya yang memberontak minta diberi asupan itu, perempuan itu terus menatap tajam laki-laki yang mati-matian dia hindari, sedangkan laki-laki itu sedari tadi terus tersenyum tidak jelas. Karena Sinta yang masih tidak bergerak laki-laki itu mengambil satu sendok soto dan menyodorkan ke mulut Sinta, sang empu tidak memberikan akses sedikitpun untuk mulutnya melahap makanan yang dipegang Bram. Ya laki-laki itu adalah Bram yang kebetulan sedang melipir di warung itu.

"Baik kalau kamu tidak mau aku suapi makanlah!" tangan besar bram menggeser mangkuk itu agar tepat berada didepan sinta.

"Aku sudah kenyang," Sinta berdiri hendak pergi dan hal itu yang lagi-lagi dihentikan oleh Bram.

"Jangan bercanda dan cepat makan!" Bram meninggikan suaranya bukan karena marah, tetapi lebih terdengar seperti perintah mutlak.

Tangan mungil itu mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya, semua pergerakan Sinta tidak pernah lepas dari tatapan lembut Bram. Tidak disangka sesuatu yang telah dia nanti akhirnya datang dengan sendiri juga, dengan hal yang tidak disengaja pula. Rasanya seperti dia akan terbang ke angkasa karena saking bahagianya, Bram bersiul-siul didalam warung itu, sebagian dari pengunjung yang duduk tidak jauh dari mereka sejenak menoleh ke arah Bram yang terlihat sangat aneh. Bram sendiri tidak peduli dan matanya terus menatap Sinta, perempuan itu sendiri menundukkan kepalanya agar matanya tidak bertemu dengan mata pria itu, sejujurnya dilubuk hati Sinta yang paling dalam. Dia sangat bahagia, bisa bertemu kembali dengan pria yang ada dihadapannya. Rasanya seperti mimpi, acara menghindari Bram gagal sempurna. Seperti sudah lari sangat jauh tetapi ternyata akhirnya bertemu diseberang jalan.

"Kamu sudah bekerja?"

"Ya," Sinta merutuki sendiri bibirnya yang langsung menjawab pertanyaan laki-laki itu, padahal dia sudah merencanakan bahwa dia tidak akan menganggap Bram ada, Sinta menatap laki-laki yang sedang Mengerutkan keningnya.

"Dimana?" kali ini Sinta yakin berhasil mengabaikan pertanyaan Bram, perempuan itu mengambil selembar tisu untuk mengelap bibir ranumnya, rupanya Sinta telah menyelesaikan makan siangnya.

"Terimakasih atas mejanya," Sinta sudah berhasil berdiri dan menuju kasir, dengan sigap Bram melangkah cepat untuk membayar tagihan makan mereka. Sinta berhenti ketika Bram mendahului langkahnya mengerti akan maksut pria itu akhirnya dia berbalik dan melangkah keluar, Bram terus mengikuti Sinta dari belakang . Perempuan itu berdiri di pinggir jalan seperti menghadang angkot, Bram menghampiri janda itu dan mengangkat tubuh Sinta dipundaknya. Perempuan itu terus memberontak, Bram sama sekali tidak menggubris penolakan Sinta dan tatapan orang-orang yang menyaksikan mereka. Dia menjatuhkan Sinta kedalam mobil, tubuh gagahnya memutari mobil dan masuk kedalam kursi pengemudi. Sinta mencoba keluar dari sana tetapi Bram telah mengunci pintu mobil itu.

"Bram jangan bercanda aku akan kembali bekerja!"

"Aku akan mengantarmu tunjukkan jalannya!" Bram menghidupkan mobilnya memutar stir itu, Sinta dengan setengah kesal namun berbunga itu menunjukkan alamat tempat kerjanya. Didalam perjalanan Bram terus saja menggoda Sinta, sudah lama juga Sinta tidak merasakan panas dan merah alami di pipi mulusnya. Rasanya Sinta tidak bisa menyembunyikan lagi senyumnya, Bram terkekeh melihat reaksi Sinta yang masih sama seperti dulu. Perempuan itu meski sekarang lebih banyak diam namun Bram yakin bahwa sebenarnya Sinta memang memiliki perasaan untuknya, misi pencarian itu selesai Bram tidak akan menyiakan kesempatan berharga. Dia akan terus membuntuti perempuan itu kemanapun dia pergi, Sinta turun dari mobil tanpa mengucapkan apapun meski bisa Bram lihat dari dalam mobil ketika perempuan itu menolehkan wajahnya kebelakang dan tersenyum, laki-laki itu tetap diam dan tidak beranjak dari mobilnya, dia akan terus menunggu Sinta sampai perempuan itu keluar lagi. Sampai kapanpun lamanya dia tetap akan menunggu, takut ketika dia beranjak dari sana barang sedetik saja akan kehilangan perempuan itu lagi.

 

"Bagaimana bisa bram ada disini? kenapa juga aku bisa bertemu dengannya, sekarang harus bagaimana aku?" Sinta berucap dalam batinnya, dia bingung harus bagaimana sekarang. Bram sudah mengetahui keberadaannya, laki-laki itu pasti tidak akan membiarkannya kabur lagi. Kemanapun dia beranjak pasti akan diekori oleh Bram, Sinta menoleh kebawah melihat tempat parkir, mobil Bram masih setia ditempatnya dari tadi. Sekarang Sinta tidak bisa memikirkan cara apapun, mungkin salah satu caranya hanyalah membiarkan Bram mengetahui persembunyian dia selama ini. Mau bagaimana lagi Bram pasti sangat bersusah payah mencari dirinya, sebenarnya Sinta juga menjadi semakin nyaman ketika Bram disisinya. Meskipun Sinta berusaha terus menepis perasaan itu, semakin dirinya menolak dia akan semakin tersiksa sendiri.

drtt drtt

Bram send one message

16.30

Jangan coba-coba kabur, aku butuh mendengar penjelasan yang panjang dari bibirmu.

Sinta terkekeh membaca pesan mengancam itu, seolah Bram tahu apa yang sedari tadi dia pikirkan. Benar-benar pria yang jenius dan pastinya menyebalkan juga, Sinta menatap kembali mobil itu sebelum menghampiri lagi meja kerjanya.

"Janda ini seperti sedang kasmaran ya, dari tadi ku perhatikan dia tersenyum terus."

Semua perhatian disana tertuju kepada Sinta, wanita yang sedari awal selalu menghina Sinta itu kembali membuat masalah. Janda muda itu terus melanjutkan pekerjaanya yang setengah jam lagi harus sudah dia selesaikan.

"Sekarang dia juga pura-pura tuli ya."

"Maaf ya Mbak, saya sedang sibuk sebaiknya urus saja pekerjaan Mbak dan tidak perlu membuat masalah disini," Sinta menjawab hinaan sengit itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya sama sekali, wanita yang sedang berdiri didepan Sinta mengepalkan kedua tangan kurus itu. kesal mendengar penuturan Sinta yang membuat teman se rekannya membenarkan omongan janda itu.

1
Dhina ♑
Seorang ibu yang lucnut
Tidak punya harga diri rupanya
Dhina ♑
Harus lanjut
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Dhina ♑
maaf thor baru kembali, ini ceritanya lanjut ga? ayo share ke gc, tidak apa-aps
Sajiwo
Hallo teman-teman.
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
Evi Sofia
kenapa belum up..
apa dibiarkan menggantung..
Sajiwo: 🙏🙏🙏🙏..
total 1 replies
Lala tsu
Thor lapor like ku Uda mendarat tanpa terpeleset.

up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
Sania Ahnaf
Lanjut thor jngan lama lama
*-*-Sincerely💕 of APRIL
lanjut
semangat terus jangan sampai DOWN
neng siska
lanjut
Sajiwo: siap kaka❤
total 1 replies
IrmaYanti
ksh kebahagiaan bt Sinta dong,.kasian masa menderita trs
Dilla Fadilla
thorr ...bikin sinta sukses n bahagia...
Evi Sofia
lanjut..penasaran..
Sajiwo: pantengin terus ya🤗❤
total 1 replies
Woro Sri
Klo ga lanjut kaya makan gda minum donk thor, tetap semangat lanjuuuuuuuuutttt
Sajiwo: terimakasih ya kak❤❤❤🙏🙏
total 1 replies
Dilla Fadilla
lanjutlh thorr...nanggung udah kesemsem ama jln ceritanya ...
Sajiwo: alhamdulillah🙏 terimakasih ya.❤❤❤💛💛
total 1 replies
*-*-Sincerely💕 of APRIL
semangat woke! Selesai sampai ni novel tamat.Memang kadang siders tu kagak peka.Mereka kadang tu sangat pelit bwat kasih komen pa lagi like padahal hal itu yang membuat authornya semangat update.

Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.

Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!

Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
*-*-Sincerely💕 of APRIL: sama-sama 😁😁
total 2 replies
IrmaYanti
jgn putus asa STP karya ada yg suka ada yg gak yg penting niat kt menghibur dan memberi karya yg terbaik,...syukur2 respon pembaca sllu baik kan ga mudah bt nulis crt novel KY gini,..semangat terus lanjut kan syng klo cm smpe sini aja
Sajiwo: Terimakasih kak🙏🙏❤❤.. dan jangan lupa share ya
total 1 replies
Dilla Fadilla
kapan ...karma tiara ama kelvin thorrr...😡😡😡
Sajiwo: ditunggu ya🤗❤
total 1 replies
Julita Jokohael
natasya ikutan makan micin dr tiara.
Sajiwo
Jngan lupa share cerita ini ke teman-teman kalian ya🤗🤗🤗🙏🙏
Lala tsu
like parkir Thor.
main main ke karyaku ya mkasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!