Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat dan kejadian, berarti othor adalah cenayang yang hebat yang bisa menerawang. eyaaa ... canda kaleee.
Blurb:
"Eh ... asal loe tahu saja, mau ngambek mau nggak, gue tetep tampan kok!" kilah Rey.
"Kan kalau loe ngambek, loe nggak tampan Rey! Jadi jangan ngambek ya, biar tampan!" rayu Jihan lagi seraya mengerjapkan kedua matanya.
"Idih!! Loe bilang gue tampan juga nggak ikhlas buat apa?" timpal Rey.
"Ihh ... loe kok ngeselin sih! Kan gue udah nglakuin apa yang loe mau. Masa iya gara-gara gue salah sebut loe marah dan ga bantu gue, jahat loe!" rengek Jihan dengan mimik sedih dan kesal.
Rey yang di angkat adik oleh Julia sang mama dari Jihan, tidak pernah akur sedikitpun dengan gadis itu, bukan tak akur benci hanya tak akur karena belum saling mengerti.
Setting tempat bukan di indo ya, trus agama juga ga othor cantumin, takute nanti bertentangan dengan norma/ajaran yang ada, anggap aja ini cerita fiktif yang ada di dunia novel halu dan ga mungkin ada di dunia nyata.
Pict from Google, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Tisa lagi-lagi menemui Arya. Di kampus itu selain Rey hanya Arya yang ia kenal.
"Ada apa lagi, Sa?" tanya Arya.
Mereka bertemu di sebuah Cafe seperti biasa, Tisa biasa bertemu Arya untuk membicarakan masalah Rey.
"Aku merasa Rey dan Jihan benar-benar ada sesuatu, Ar!" ucap Tisa.
"Sesuatu bagaimana?" tanya Arya tidak mengerti.
Tisa terlihat bingung harus dari mana mulai bercerita. Arya sendiri selalu setia mendengarkan keluh kesah Tisa. Pemuda itu merasa senang ketika Tisa mau bercerita atau sekedar mengobrol dengannya, Arya selalu menyempatkan diri jika Tisa mengajaknya bertemu.
*
*
*
*
*
*
Jihan melompat-lompat di atas ranjang karena senang akhirnya Julia mengizinkan ikut camping setelah Rey ikut. Tapi kemudian Jihan terduduk di ranjang mengingat tiga permintaan yang akan di minta oleh Rey.
"Kira-kira apa yang akan di minta sama si rusa hutan, ya? Kalau dia minta macam-macam lihat saja gue bakal kasih pelajaran," gumam Jihan dengan mengepalkan tangannya dan menunjukan di depan wajahnya.
Rey berada di dapur mengambil minum, hingga Julia juga disana menatap pemuda yang sedang menenggak minum langsung dari botol.
"Kamu yakin Rey ikut acara itu karena kamu ingin dan bukan karena Jihan?" tanya Julia yang tahu persis bagaimana sifat adiknya.
Rey mengelap sisa air di mulutnya dengan punggung tangan, kemudian ia duduk di kursi di susul oleh Julia.
"Kenapa Kakak tidak percaya?" tanya Rey balik menatap Julia.
"Ya, aku tahu kamu suka camping. Tapi dua hari lalu kamu bilang tidak mau ikut, lalu sekarang kamu mau ikut. Aku pikir kamu berubah pikiran karena Jihan merengek padamu," papar Julia.
Rey tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Nggak ada yang bisa merubah keiinginan ku kecuali diriku sendiri, jadi Kakak tidak usah berpikir yang aneh-aneh," dusta Rey.
"Baiklah," ucap Julia mengusap kepala pemuda itu.
*
*
*
*
*
*
Jihan ke kampus seperti biasa, begitu melihat Jason yang juga baru sampai. Jihan langsung setengah berlari menyusul Jason di mobil pemuda itu.
"Pagi!" sapa Jihan dengan wajah semanis mungkin.
"Pagi," sahut Jason menatap wajah kekasihnya yang terlihat berbeda.
"Tampaknya ada yang senang hari ini," kata Jason menebak ekspresi Jihan yang begitu riang.
Jihan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih. Kemudian Jihan merangkul lengan Jason mengajaknya berbincang sembari berjalan.
"Akhirnya Mama ngizinin gue ikut. Hah ... ini sangat membahagiakan," ungkap Jihan seraya bergelayut manja di lengan Jason.
Tentu saja kabar itu membuat Jason ikut senang juga, menikmati pemandangan di pegunungan bersama sang kekasih untuk pertama kali adalah hal yang bagus.
"Baguslah, gue ikut senang. Nanti gue daftarin ya ke panitia," timpal Jason.
Rey yang sedang berjalan sendiri dari parkiran motor pun berpapasan dengan Jason dan Jihan. pemuda itu bisa melihat ekspesi kebahagiaan di wajah gadis yang sering ia jahili itu.
"Jas!" sapa Rey.
"Hei ... Rey!" sapa balik Jason.
"Oh ya ... gue jadi ikut, ntar minta tolong daftarin ya!" pinta Rey, ia membenarkan tali tas ranselnya yang ia cangklong di sebelah lengannya.
"Serius loe ikut? Wah bakal ramai nih!" kata Jason yang senang mendengar kabar Rey ikut.
Rey hanya tersenyum menganggukan kepala. Jihan menatap Rey dengan tatapan berbeda, sebenarnya malam di saat Rey berbincang dengan Julia gadis itu mendengarnya, tapi ia tidak menampakan diri dan hanya berdiri di balik pintu. Jihan tidak percaya kalau Rey bakal berbohong untuk menutupi keinginannya.
Dari kejauhan ada sepasang mata yng menatap pada Jihan dengan rasa tidak senang, terlebih ketika gadis itu tersenyum manis seakan menggoda pada Rey, mengepalkan tangannya di samping ia merasa benar-benar geram dengan Jihan.
***
Rey duduk di kantin dengan Tisa dan Arya, hari ini mereka tidak ada kelas jadi mereka bisa santai dan duduk bersama menunggu kelas berikutnya.
"Ar, loe ikut camping, 'kan?" tanya Rey setelah menyedot minuman yang ada di depannya.
"Kenapa?" tanya Arya balik, Arya sendiri masih sibuk dengan benda pipih di tangannya.
"Gue jadi ikut, kalau loe nggak ikut nggak rame," ungkap Rey.
Tisa yang duduk di sebelah Rey hanya mendengarkan, ia tengah sibuk mengupas jeruk untuk kedua pemuda itu.
"Sa, loe ikut juga yuk! Biar rame," ajak Arya tiba-tiba.
Tisa yang tidak terlalu mendengarkan pun terkejut ketika Arya bertanya, ia menatap Arya dengan rasa bingung.
"Apa? Ikut apa?" tanya Tisa yang tidak fokus.
Tisa menaruh jeruk yang sudah ia kupas di piring Rey juga piring Arya, kedua pemuda itu menikmati jeruk yang tinggal santap saja.
"Loe ikut camping sekalian ya," ajak Arya lagi.
Tisa tidak langsung menjawab, ia menatap Arya kemudian beralih menatap Rey.
"Kalau Rey minta ikut, aku ikut," jawab Tisa.
Rey tersenyum menanggapi ucapan Tisa, mengusap ujung kepala gadis itu Rey akhirnya mengajak Tisa untuk ikut juga.
"Tapi aku nggak pernah ikut acara di alam bebas," ungkap Tisa degan ekspresi wajah bingung.
Tisa sebenarnya selama ini tinggal di luar negeri, sebagai putri semata wayang seorang pengusaha kaya tentu saja membuatnya begitu di perhatikan oleh orangtuanya. Karena itu Tisa tidak pernah ikut acara seperti camping, naik gunung atau hal yang menyangkut tentang alam bebas.
"Kan ada kami," timpal Arya.
Tisa merasa lega bisa bersama Rey juga Arya, kedua pemuda itu adalah teman pertamanya di kampus itu. Terlebih sekarang ia merasa spesial ketika Rey mengajaknya berpacaran.
*
*
*
*
*
Melihat Jihan yang tengah bersantai di kursi gantung dengan earphone di telingnya serta sebuah novel ditangannya, tentu saja membuat jiwa jahil Rey keluar.
Berdiri di depan Jihan dengan bersidekap, Rey mulai menagih tiga permintaan yang di janjikan oleh Jihan.
Seetdahh Rey! Loe kira Jihan Jin! pakai acara nagih tiga permintaan.
Sssttt ... diam loe Thor! ini kesempatan.
Kesempatan apa loe? Eh loe jangan macam-macam, ya!
Pikiran loe kemana, Thor? Diem, anteng! Entar gue belikan kue balok banyak.
Idihhh ... nyogok! Rasua di larang, Rey!
Ini Novel Thor, kalau loe ga masukin penegak hukum, nggak perlu takut Rasua.
Seetdah, napa loe sekarang lebih pintar dari gue, Rey? Nggak terima gue.
Thor! Thor! Inget tuh Readers pada nglihatin.
Kurang Jeruk loe Rey!😒😒😒
Balik ke alur ....
"Je!" panggil Rey.
Jihan yang mendengar serat melihat bayangan Rey pun mendongak menatap pemuda yang tampak mengenakan jaket sedang bersidekap di depannya.
"Napa loe? Cuaca panas pakai jaket, sakit loe!" cibir Jihan.
"Gue mau nagih," tandas Rey.
"Nagih apa pula," Jihan yang lupa atau sengaja melupa.
Rey membungkukan badannya condong ke wajah Jihan, menatap gadis itu hingga membuat Jihan salah tingkah.
*
*
*
*
*
*
...Bantu Like dong😓😓😓 serius othor pengen di like ma koment. pengen ngrasain dapat like berjibun kek apa. Nih terakhir Othor crejii up, jangan lupa like koment di tiap bab....
..._...
..._...
..._...
...Baca Novel Author yang lain juga ya .... nggak baca nggak pa pa seh, asal mampir di like ma koment Author udah seneng 😘😘😘...
...Thank u...