Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ayah Dari Anak Itu?
Mendengar pengakuan dari Naura langsung, orang orang terdiam sehingga berlaku beberapa saat.
Sunyi...
Akan tetapi, setelah itu Nada tersenyum sinis. "Aku baru tahu, kalau ternyata wanita yang sok alim tertutup hijab, baju syar'i, dan cadar hanya wanita gampangan yang melahirkan tanpa sosok suami," tuturnya memang sengaja agar membuat Safira mertua mereka semakin membenci Naura.
Nada juga perlahan berjalan mendekati Naura, "Akhirnya sekarang, kau mau jujur juga kalau dia ini memang anak harammu," Sengaja berniat ingin menyentuh rambut Kiki.
Tak!
Akan tetapi, Naura segera menepis kasar tangan wanita itu sebelum sempat menyentuh kepala putrinya.
"Apapun yang ingin kau katakan silakan, tapi jangan sentuh putriku!" tuturnya, menatap Nada memberi peringatan keras pada wanita itu.
Melihat tingkah Naura, Nada justru mendengus kesal kemudian melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Ternyata kamu masih bisa sombong ya! Benar-benar tidak tahu malu!"
"Ini urusanku, bukan urusanmu. Aku tidak pernah mencampuri urusanmu jadi jangan mencampuri urusanku juga!" Naura memperingati Nada.
Safira yang melihat perdebatan mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya kepada Kakek Rama.
"Tolong Pak Rama, jelaskan apa memang Pak Rama sengaja menjodohkan cucu Pak Rama ini dengan putra saya sebelumnya, dengan kondisinya yang seperti ini? Apa Pak Rama benar-benar tidak tahu kalau cucu Pak Rama ini sudah melahirkan? Atau mungkin Pak Rama melakukan semua ini karena harta?" tanya wanita paruh baya itu melemparkan pertanyaan beruntun.
Perubahan sikap Safira itu bukan tanpa alasan. Ternyata, tanpa ada yang mengetahui beberapa hari ini Nada memang sengaja terus meracuni pikiran Safira agar Safira mau membenci Naura.
Entah mengapa, Nada sangat tidak menyukai Naura sehingga sengaja membuat mertuanya membenci madunya itu.
Mendengar pertanyaan beruntun dari besannya, Kakek Rama hanya bisa menunduk sembari menggeleng putus asa.
"Seandainya saya tahu soal ini, saya juga tidak akan mungkin menjodohkan cucu saya dengan putra Anda," tuturnya bukan berusaha membela diri, akan tetapi memang dia benar-benar tidak tahu.
Melihat kakeknya di pojokan, Naura langsung angkat bicara.
"Jangan salahkan Kakek! Kakek murni tidak tahu apa-apa. Karena apa yang terjadi ini, memang cuma saya yang tahu. Dan juga tolong, Anda tidak bisa menanggapi kalau Kakek menjodohkan saya dengan putra Anda sebelumnya karena niat harta. Kakek tidak pernah berniat seperti itu. Soal saya yang menerima perjodohan, itu karena saya cuma tidak ingin melihat Kakek sedih kalau saya menolak. Cuma itu alasan yang saya punya, jika anda ingin menanggapinya berbeda itu terpulang kepada pribadi Anda sendiri!" Tutur Naura menjelaskan.
Naura tidak mau kalau sampai Safira memfitnah kakeknya seperti yang barusan wanita paruh baya baya itu katakan.
Safira menatap Naura, kalau dulu dia sengaja memilih wanita itu untuk menikah dengan putranya, semua karena dia pikir wanita tersebut adalah wanita baik-baik yang bisa menjaga kehormatannya.
Akan tetapi, dia benar-benar tidak pernah menyangka dibalik penampilannya yang tertutup Naura tidaklah sebersih yang terlihat di matanya.
"Kalau kau mengatakan menerima perjodohan bukan karena harta, terus apalagi? Apa kamu pikir dengan kau mengatakan demikian saya bisa percaya begitu saja setelah apa yang saya lihat hari ini?" Safira tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kemarahannya merasa telah dibohongi.
Anggara yang melihat Safira terpojok, dia merasa tidak tega akhirnya dia buka bersuara.
"Ma, kita tidak tahu apa yang terjadi. Dan kita juga tidak bisa langsung memvonis kalau memang Naura dengan keluarganya membohongi kita karena harta. Kita tidak bisa langsung menghakimi, mungkin Naura punya alasannya," tutur Anggara.
"Kau masih berusaha untuk membela istri adikmu ini? apa kau buta Anggara?" seru Safira sepertinya dia marah pada putranya itu.
"Ma, bukan ingin membela tapi kita juga harus mendengar dari sebelah pihak,"
Safira tidak menjawab lagi putranya, akan tetapi dia menatap anak sulungnya itu.
Kemudian Anggara menoleh pada Naura yang masih tetap di sampingnya.
"Aku tidak tahu apa masalahmu sebelumnya, begitupun anggota keluarga yang lainnya. Tapi mungkin kau bisa menjelaskannya pelan-pelan supaya kita tidak salah paham,"
Tapi, wanita itu justru menggeleng. "Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan di sini. Kalaupun mau salah paham, itu tidak masalah!" tuturnya .
"Cih! terlalu sombong!" Nada kesal melihat sikap Naura
Namun, Naura hanya diam.
"Aku tidak menyangka, Naura. Kalau ternyata ini aslimu!" tutur Safira kecewa.
"Terserah Anda kalau ingin menilai saya seperti itu, maka itulah saya!" tutur Naura, tidak mau dianggap baik.
"Lantas, siapa ayah dari anakmu itu?"
DEG!
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls