Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Mamah Mertua
Medisya membuka matanya tepat ketika Alvian masuk ke dalam kamar. Ia mengerjap pelan merasakan matanya terasa sakit. Jelas sekali itu efek dari menangis semalam.
Netranya memandang penampilan Alvian yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna silver yang melekat di tubuh kekarnya itu. Astaga! Medisya lupa kalau hari ini Alvian mulai bekerja.
"Mas Alvian udah siap?" Tanyanya sembari bangkit. "Tunggu bentar ya, aku siapin sarapan dulu."
Alvian yang melihat Medisya terburu-buru lantas mencekal tangan istrinya itu. "Tidak usah. Aku akan sarapan di kantor saja," ucapnya mengingat sekarang sudah pukul setengah delapan.
"Tapi--"
"Aku kemari untuk berpamitan." Alvian merangkum wajah Medisya dengan kedua tangannya. "Aku berangkat, ya? Kamu jaga diri baik-baik di rumah. Jaga anakku juga," lanjutnya memberikan usapan kecil di perut Medisya.
Sudut bibir Alvian tertarik ketika Medisya mengangguk cepat. "Aku minta maaf untuk yang semalam. Tapi kamu harus tau bahwa sikapku memang seperti itu. Aku tidak bisa memaksa untuk menyembunyikan emosiku lagi. Karena sekarang kamu istriku, jadi aku harap kamu bisa memahamiku."
"Mas Alvian tau 'kan aku sedang mencobanya?"
Medisya menatap netra tajam Alvian. Siapa sangka dalam hitamnya bola mata itu terdapat tatapan hangat yang jarang sekali Medisya lihat.
Meski ia masih belum percaya dengan pernikahan ini, Medisya tetap ingin berusaha berubah. Medisya merasa bersalah karena merasa paling terpuruk padahal Alvianlah yang lebih banyak menanggung beban pernikahan ini.
Seharusnya Medisya merasa bersyukur dan terhormat karena Alvian, yang tidak lain adalah pewaris utama Sagara Company, mau menikahinya. Padahal sudah jelas kedudukan mereka berbeda jauh.
Alvian mengangguk singkat dan tersenyum. "Aku berangkat, ya?"
Tangannya terjulur, menyuruh Medisya untuk menciumnya. Dan perempuan itu melakukan apa perintahnya.
"Hati-hati ya, mas," pesan Medisya pelan. Ia mengantar suaminya itu hingga pintu apartemen.
Setelah Alvian benar-benar pergi, Medisya mendudukan tubuhnya di sofa panjang ruang tv. Matanya terpejam merutuki kesalahannya selama ini. Tangannya bergerak mengelus perutnya yang belum berubah sedikitpun. Ia menatapnya lalu berpikir. Apa jika Alvian tidak menodainya, hidup Medisya akan lebih baik dari ini?
Pernah sekali, Medisya menyalahkan takdir yang membuatnya merasa hina. Namun ia rasa itu hal yang salah. Bohong sekali jika Medisya mengatakan tidak ingin tanggung jawab dari Alvian. Dulu Medisya memang pernah berniat untuk meminta Alvian agar menikahinya. Namun melihat rumah tangga temannya yang hancur karena pernikahan yang bukan keinginannya membuat Medisya merasa khawatir. Mau bagaimanapun ia adalah orang yang memegang prinsip menikah satu kali seumur hidup.
Tapi mengingat kedatangan Alvian saat dirinya akan diusir dari rumah membuat Medisya merasa senang sekaligus takut. Ia senang Alvian datang, menahan Haris untuk tidak mengusirnya, bahkan menerima pukulan keras dari ayahnya itu. Tapi ia juga takut ketika Alvian bilang akan menikahinya.
Medisya takut Alvian membuat pernikahan ini hanya di atas kertas. Namun sampai sekarang ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa Alvian hanya bermain-main.
Justru semakin hari pria itu semakin lembut meskipun kadang sering membentak Medisya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Saat mimpi buruk mendatangi Medisya lagi. Membuatnya kembali ketakutan dan bangun dari tidurnya. Namun siapa sangka Alvian justru di sampingnya. Menatap Medisya dengan senyum kecil di bibirnya sembari mengulurkan air putih.
"Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah."
Kalimat singkat itu mampu membuat jiwa Medisya kembali tenang. Bahkan dengan mudah ia kembali terlelap.
Medisya tersentak dari lamunannya saat bel pintu apartemen berbunyi. Ia mengernyit heran sembari melangkah untuk membukakan pintu dengan cardlock yang Alvian tinggalkan di bawah vas bunga di nakas dekat pintu.
"Mamah," panggil Medisya terkejut melihat Melinda datang dan menatapnya khawatir.
"Kamu tidak apa-apa, nak? Mamah khawatir karena kemarin Pak Surya bilang kalian pulang ke rumah kamu. Mamah habis dari sana, tapi kamu justru di sini! Alvian tidak menyakiti kamu, kan?"
Medisya tersenyum canggung dan mempersilahkan Melinda untuk masuk. "Maaf ya udah buat mamah khawatir. Aku nggak bisa tidur di tempat asing. Jadi Mas Alvian bawa aku pulang," lirih Medisya pelan.
Ia merasa tidak enak karena pergi tanpa pamit dari kediaman Hermawan malam kemarin. Melinda yang mendengar penuturan menantunya tersenyum maklum.
"Mamah dengar Alvian sakit," ucapnya mengingat perkataan besannya tadi.
"Iya, tapi udah sembuh kok, mah. Udah berangkat kerja juga."
Dapat Medisya dengar hembusan nafas lega dari Melinda. "Maaf, Medisya belum bisa menjaga mas Alvian."
"Nggak masalah selagi kamu masih mau mencobanya. Perlu kamu tau kalau Alvian sudah menyayangi satu orang, dia akan memprioritaskan orang itu. Maka jika Alvian sudah menyayangi kamu, jangan menyia-nyiakan kesempatan, Medisya. Jaga dia, hormati dia, dan turuti perintahnya selagi itu baik untuk kamu. Karena bagaimanapun keadaannya, dia adalah suami kamu."
Medisya memandang Melinda. Berharap mertuanya itu mengerti bahwa Medisya masih ragu untuk melakukan itu. Dan sepertinya Melinda tau akan perasaannya.
"Jangan ragu untuk melakukannya. Alvian tidak seburuk yang kamu kira, Sya."
Melinda terkekeh melihat ekspresi tegang Medisya. "Udah ah, masih pagi kok malah galau-galauan. Ini mamah bawa ayam kecap sama bikin risol mayo. Kamu pasti belum sarapan, kan?"
Gelengan kepala Medisya berhasil menarik senyum di bibir Melinda. Tidak bisa di sangkal bahwa menantunya itu terlihat sangat cantik meskipun masih mengenakan piyama tidurnya. Pantas saja Alvian mampu luluh.
Setelah Medisya menyelesaikan sarapannya, Melinda mengatakan akan mengajaknya ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Jadi Medisya memutuskan untuk mandi lalu mengenakan dress biru dongker dengan flat shoes berwarna krem. Ia hanya memoleskan sedikit make up agar wajahnya tidak terlihat pucat.
"Ayo, mah," seru Medisya semangat sembari menenteng tas kecil yang memiliki warna senada dengan flat shoes-nya.
Melinda membawanya ke sebuah mall pusat yang setau Medisya merupakan aset properti perusahaan suaminya. Mereka langsung menuju supermarket yang berada di ground floor. Medisya menarik troli belanja dan mengikuti langkah Melinda.
"Alvian itu suka banget sama makanan pedas. Jadi biasanya mamah buatin rica-rica ayam, ayam mercon, udang pedas manis, dan banyak lagi deh," jelas Melinda sembari memilih bahan-bahan makanan.
"Masakanku nggak seenak buatan mamah atau bunda. Kemarin aku buatin sup untuk Mas Alvian tapi keasinan, mah," adu Medisya.
"Memang takaran tangan setiap orang tidak sama, Sya. Jadi jangan mengandalkan takaran masakan orang lain. Kamu cukup percaya sama hati kamu sendiri. Kalau kamu masak dengan perasaan, pasti hasilnya akan enak. Belajar juga menjadi kunci utamanya sih."
Melinda memilih beberapa ikan segar dan telur. "Kamu juga harus perhatikan makanan kamu. Bayi kamu juga perlu nutrisi yang cukup," ucapnya mengingatkan Medisya.
Mendengar bayinya disebut membuat Medisya menatap Melinda cepat. "Mah, aku mau tanya sesuatu boleh?"
"Boleh dong, mau tanya apa?"
"Emm, mamah nggak malu punya menantu seperti aku?"
Melinda tertawa kecil mendengarnya. Ia mengusap lengan Medisya pelan. "Kenapa harus malu? Kamu cantik, pintar, berbakat juga. Mamah lihat loh iklan hotel baru Alvian. Kamu perfect banget di sana."
"Tapi aku cuma anak yang ayah angkat dari panti asuhan. Identitasku tidak jelas," ungkap Medisya.
"Dengar, Medisya. Mamah ataupun keluarga yang lain tidak mempermasalahkan status kamu. Jadi berhenti memikirkan hal seperti itu. Nggak baik buat cucu mamah di sini," jelas Melinda sembari mengusap perut Medisya.
Medisya tersenyum bahagia mendengarnya. Benar kata Alvian, ia terlalu overthinking dengan hal-hal yang tidak penting.
###