NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

foto yang menjadi saksi

Nayla menatap Dimas dengan wajah pucat.

“Media?” ulangnya pelan, seolah kata itu terlalu besar untuk masuk ke dalam kenyataan hidupnya.

Dimas mengangguk. Wajahnya tetap berusaha tenang, tetapi ada ketegangan jelas di rahangnya.

“Beberapa orang menunggu di depan lobi utama,” katanya. “Mereka membawa kamera dan mengajukan pertanyaan tentang foto Ibu bersama Pak Raka.”

Nayla merasa dadanya sesak.

Hanya satu foto.

Satu foto dirinya memakai jas Raka dan berjalan di bawah payung.

Namun di tangan orang yang ingin merusak, satu foto itu bisa berubah menjadi cerita apa saja.

“Siapa yang menyebarkannya?” tanya Nayla.

“Belum diketahui pasti.” Dimas menekan tombol lift untuk kembali naik. “Namun foto itu sudah muncul di beberapa akun gosip lokal dan grup internal perusahaan.”

Nayla memejamkan mata.

Siska.

Ia tidak punya bukti langsung, tetapi semua ancaman, perhatian berlebihan, dan cara perempuan itu memandangnya tadi membuat Nayla yakin.

Siska ingin membuat Nayla terlihat seperti perempuan yang merebut atasan suaminya.

Siska ingin mengalihkan perhatian dari perselingkuhannya dengan Arga.

Siska ingin menghancurkan Raka karena pria itu mulai memeriksa proyek Puri Sagara.

“Kita mau ke mana?” tanya Nayla ketika pintu lift tertutup.

“Ke lantai atas. Pak Raka meminta Ibu menunggu di ruang rapat kecil sampai situasinya lebih aman.”

“Aku tidak mau bersembunyi,” ucap Nayla refleks.

Dimas menoleh kepadanya.

“Saya mengerti, Bu. Tapi orang-orang di bawah tidak datang untuk mencari kebenaran. Mereka datang untuk mengambil gambar dan membangun berita. Saya hanya ingin Ibu tidak dipaksa menghadapi mereka tanpa persiapan.”

Nayla terdiam.

Ia tahu Dimas benar.

Media atau akun gosip tidak akan peduli bahwa dirinya sedang terluka. Mereka hanya akan melihat istri seorang karyawan datang ke kantor direktur, lalu menghubungkannya dengan foto di bawah payung.

Nayla tidak ingin menjadi tontonan.

Lift berhenti di lantai tiga puluh.

Dimas membawa Nayla melalui lorong yang lebih sepi. Beberapa pegawai tampak berdiri di dekat pantry. Begitu melihat Nayla, mereka langsung menunduk atau berpura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.

Namun Nayla sempat menangkap bisikan kecil.

“Itu istrinya Arga.”

“Benar dia, ya?”

“Katanya dari dulu sudah dekat sama Pak Raka.”

Nayla menghentikan langkah.

Kata-kata itu tidak diucapkan keras. Tetapi cukup jelas untuk didengar.

Dimas menoleh. “Bu Nayla?”

Nayla menarik napas panjang dan kembali berjalan.

Ia ingin menoleh dan membantah. Ia ingin menjelaskan bahwa semuanya tidak seperti yang mereka pikirkan. Namun Bu Laras benar: ia tidak wajib menjelaskan hidupnya kepada orang-orang yang memang ingin menghakiminya.

Mereka tiba di ruang rapat kecil.

Dimas membuka pintu.

“Silakan menunggu di sini.”

Nayla masuk.

Ruangan itu kosong, kecuali meja panjang, beberapa kursi, dan layar presentasi besar di dinding. Jendela kaca memperlihatkan sebagian kota. Dari lantai setinggi itu, mobil-mobil di jalan terlihat seperti titik-titik kecil.

Nayla duduk di salah satu kursi.

Tangannya dingin.

Ponselnya mulai bergetar tanpa henti.

Notifikasi masuk dari berbagai nomor.

Ada pesan dari teman lama.

Ada panggilan dari nomor tidak dikenal.

Ada pesan dari salah satu tetangga apartemen.

Nayla tidak membuka semuanya. Ia hanya melihat satu pesan dari Arga yang muncul paling atas.

**Arga:** Kamu benar-benar mempermalukan aku.

Pesan kedua menyusul.

**Arga:** Jadi selama ini kamu memang dekat sama Raka?

Nayla menatap layar dengan mata panas.

Bukan itu yang ia harapkan dari Arga.

Bukan pertanyaan apakah ia baik-baik saja.

Bukan kemarahan pada orang yang menyebarkan foto tanpa izin.

Bukan rasa khawatir karena Nayla kini menjadi sasaran publik.

Yang Arga pikirkan hanya dirinya sendiri.

Nayla menutup layar ponsel.

Pintu ruang rapat terbuka.

Raka masuk.

Pria itu masih mengenakan kemeja hitam, tetapi kini wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya. Dasi yang ia pakai pagi tadi sudah dilepas. Lengan bajunya tergulung sampai siku.

Begitu melihat Nayla, langkahnya melambat.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Raka.

Nayla ingin menjawab iya.

Namun hari itu terlalu berat untuk terus berpura-pura.

“Tidak,” jawabnya jujur.

Raka mengangguk pelan. Ia tidak duduk terlalu dekat. Ia memilih kursi di seberang Nayla, menjaga jarak seperti biasa.

“Foto itu sudah beredar,” kata Nayla. “Orang-orang di luar menganggap saya selingkuh dengan Bapak.”

“Saya tahu.”

“Dan saya bisa menebak siapa yang menyebarkannya.”

“Siska.”

Nayla mengangkat wajah.

“Bapak juga pikir begitu?”

“Kami sedang mengumpulkan bukti.” Raka menatap Nayla dengan serius. “Namun apa pun hasilnya nanti, saya ingin kamu tahu satu hal: kamu tidak melakukan kesalahan dengan menerima bantuan saat kamu sedang tidak aman.”

Nayla menggeleng pelan.

“Tapi kalau bukan karena saya, Bapak tidak akan terseret.”

Raka langsung menatapnya.

“Jangan berkata seperti itu.”

“Ini kenyataannya.”

“Bukan.” Nada Raka tegas, meski tidak meninggi. “Orang yang menyebarkan foto dan membangun cerita palsu adalah pihak yang salah. Bukan kamu. Bukan saya.”

Nayla terdiam.

Kata-kata itu sederhana, tetapi sangat berbeda dari yang ia dengar dari Arga.

Arga menyalahkannya atas segala hal.

Raka justru memisahkan dirinya dari kesalahan orang lain.

“Perusahaan akan mengeluarkan pernyataan internal,” lanjut Raka. “Bahwa foto tersebut diambil di luar konteks dan tidak mencerminkan hubungan pribadi yang tidak pantas.”

Nayla langsung menggeleng.

“Jangan.”

Raka mengernyit. “Kenapa?”

“Kalau perusahaan mengeluarkan pernyataan, orang-orang justru akan semakin mencari tahu. Mereka akan semakin yakin ada sesuatu.”

“Kalau kita diam, rumor juga bisa berkembang.”

“Saya tidak mau menjadi alasan perusahaan harus membuat pengumuman.” Nayla menunduk. “Saya tidak mau Bapak kehilangan kepercayaan karyawan karena saya.”

Raka menarik napas panjang.

“Kamu bukan alasan masalah ini muncul.”

“Tapi nama saya ada di dalamnya.”

“Karena seseorang memasukkan nama kamu dengan sengaja.”

Nayla tidak bisa membantah.

Ponsel Raka bergetar. Ia melihat layar sebentar, lalu menatap Nayla lagi.

“Tim komunikasi perusahaan sedang menangani beberapa unggahan. Mereka akan meminta penghapusan karena foto itu digunakan tanpa izin dan disertai informasi yang tidak benar.”

“Bisa dihapus?”

“Tidak semuanya. Sekali sesuatu beredar di internet, kita tidak bisa menjamin benar-benar hilang.” Raka berkata jujur. “Tapi kita bisa membatasi penyebarannya dan mengumpulkan bukti siapa yang memulai.”

Nayla mengangguk pelan.

Setidaknya Raka tidak memberi harapan palsu.

Pintu kembali terbuka.

Dimas masuk dengan wajah serius.

“Pak, ada masalah lain.”

Raka berdiri. “Apa?”

“Pak Arga ada di lobi belakang. Dia memaksa masuk dan ingin bertemu Bu Nayla.”

Nayla membeku.

“Dia datang ke sini?” tanyanya.

Dimas mengangguk.

“Petugas keamanan menahannya, tetapi dia terus mengatakan Ibu adalah istrinya dan berhak bertemu.”

Raka menatap Nayla. “Kamu mau bertemu dia?”

Nayla menggeleng cepat.

“Tidak.”

“Baik.” Raka menoleh kepada Dimas. “Pastikan dia tidak masuk ke lantai ini. Jika dia membuat keributan, panggil pihak keamanan tambahan.”

Dimas mengangguk.

“Pak Arga juga membawa seseorang,” tambahnya.

Raka mengerutkan kening. “Siapa?”

“Bu Siska.”

Nayla merasa darahnya surut dari wajah.

Arga datang bersama Siska?

Setelah semua yang ia katakan tentang sudah memutuskan hubungan?

Nayla menatap Raka, lalu Dimas.

“Jadi dia berbohong lagi,” bisiknya.

Raka tidak menjawab. Namun tatapannya cukup untuk menunjukkan bahwa ia juga melihat kebohongan itu.

Ponsel Nayla bergetar lagi.

Pesan dari Arga masuk.

**Arga:** Keluar. Aku mau kamu jelaskan semuanya di depan Raka.

Pesan kedua datang sebelum Nayla sempat bernapas.

**Arga:** Kalau kamu tidak keluar, aku akan buat semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Nayla menatap pesan itu.

Selama ini, ia selalu takut menghadapi Arga ketika pria itu marah.

Namun hari ini, sesuatu dalam dirinya berubah.

Mungkin karena ia sudah terlalu sering dipermalukan.

Mungkin karena ia lelah terus diminta menanggung rasa bersalah atas kesalahan yang bukan miliknya.

Atau mungkin karena untuk pertama kali, ia tahu bahwa ia tidak sendiri.

Nayla berdiri.

“Aku mau bertemu dia,” katanya.

Raka menatapnya tajam. “Nayla, kamu tidak harus.”

“Aku tahu.” Nayla menarik napas panjang. “Tapi aku tidak mau terus bersembunyi. Kalau Arga ingin bicara, saya akan bicara. Tapi bukan dengan caranya.”

Raka mendekat satu langkah, masih menjaga jarak.

“Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita berhenti kapan saja.”

Nayla mengangguk.

“Baik.”

***

Lobi belakang PT Arunika Properti tidak seramai lobi utama, tetapi suasananya tegang.

Dua petugas keamanan berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Arga berdiri di dekat meja resepsionis dengan wajah merah karena marah. Siska berada beberapa langkah di belakangnya, mengenakan blazer krem dan ekspresi yang dibuat seolah prihatin.

Ketika Nayla keluar dari lift bersama Raka dan Dimas, Arga langsung menoleh.

Tatapannya jatuh pada Nayla.

Lalu berpindah kepada Raka.

Wajahnya semakin gelap.

“Bagus,” kata Arga dengan suara keras. “Kalian memang bersama.”

“Turunkan suara kamu,” ujar Raka tenang.

Arga tertawa pendek. “Bapak takut orang dengar?”

Nayla melangkah maju sebelum Raka sempat menjawab.

“Aku datang karena kamu memaksa,” katanya kepada Arga. “Jadi bicara sekarang. Apa yang ingin kamu tanyakan?”

Arga menatapnya tidak percaya.

“Kamu masih tanya?” Ia menunjuk Raka. “Kamu pergi sama dia tengah malam. Kamu datang ke kantor dia. Kamu bahkan sekarang berdiri di samping dia seperti—”

“Seperti apa?” potong Nayla.

Arga terdiam sesaat.

Nayla melanjutkan, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan.

“Pak Raka menolong aku saat kamu mengaku selingkuh. Beliau mengantar aku pulang karena aku takut kembali ke apartemen. Beliau membantu aku mendapatkan informasi agar aku tahu cara melindungi diri dari ancaman.”

“Kamu percaya begitu saja?”

“Aku percaya pada tindakan yang aku lihat.” Nayla menatapnya lurus. “Dan tindakan kamu selama ini adalah berbohong.”

Siska yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju.

“Jangan pura-pura suci, Nayla,” katanya. “Kamu sendiri menikmati perhatian Pak Raka.”

Raka langsung menoleh kepadanya. Tatapannya dingin.

“Cukup, Siska.”

Namun Nayla mengangkat tangan kecil, memberi isyarat bahwa ia ingin menjawab sendiri.

“Ya,” kata Nayla kepada Siska. “Saya menghargai ketika seseorang memperlakukan saya dengan hormat. Itu bukan dosa.”

Wajah Siska berubah.

“Tapi saya tidak akan memakai perhatian siapa pun untuk merusak rumah tangga orang lain,” lanjut Nayla. “Berbeda dengan kamu.”

Arga mengepalkan tangan.

“Jangan bicara seperti kamu korban satu-satunya,” katanya. “Kamu juga mempermalukan aku.”

Nayla menghela napas.

“Foto itu tidak membuktikan apa-apa. Tapi chat kamu dengan Siska, foto kamu memegang tangannya, dan kebohongan kamu selama berbulan-bulan membuktikan semuanya.”

Arga tidak bisa menjawab.

Siska menatap Nayla dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.

Tiba-tiba, ponsel Siska bergetar.

Perempuan itu melihat layar sebentar.

Wajahnya langsung berubah pucat.

Raka memperhatikan reaksi itu.

“Sesuatu terjadi?” tanyanya dingin.

Siska cepat-cepat memasukkan ponsel ke dalam tas.

“Tidak ada.”

Namun beberapa detik kemudian, Dimas menerima telepon. Ia menjauh sedikit, mendengarkan dengan wajah serius, lalu kembali kepada Raka.

“Pak,” katanya pelan, “tim audit menemukan rekaman kamera di area parkir. Ada bukti Bu Siska bertemu Bayu pada malam ketika dokumen proyek dipindahkan.”

Wajah Siska semakin pucat.

Nayla menatapnya.

Untuk pertama kalinya, perempuan itu tidak lagi terlihat tenang.

Dan Nayla tahu, permainan Siska mulai retak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!