NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kruyuk.

Suara perut berbunyi memecah keheningan pagi di dalam gubuk kayu keluarga Arga.

Matahari sudah bersinar cukup tinggi menyinari ruangan tengah melalui celah jendela bambu.

Arga masih tertidur pulas di lantai beralaskan tikar pandan saking lelahnya berlari semalaman.

Sementara itu, Mira sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur dengan wajah yang sangat cerah.

Natasya terbangun sambil mengucek kedua matanya yang masih terasa lengket dan mengantuk.

"Ibu sedang masak apa di dapur pagi-pagi begini?"

Natasya berjalan menghampiri ibunya sambil menguap lebar.

"Ibu sedang merebus sisa singkong terakhir yang kita punya di rak piring, sayang."

Mira tersenyum manis dan langsung memeluk putri kecilnya itu.

"Ibu benar-benar merasa sangat sehat hari ini, bahkan badan Ibu terasa lebih kuat dari sebelum sakit."

"Itu pasti karena embun ajaib dari Tuan Salamander semalam, Ibu."

Natasya membalas pelukan ibunya dengan perasaan lega luar biasa.

"Iya, kamu dan Ayah sudah menyelamatkan nyawa Ibu dari kematian."

Sreng.

Sreng.

Suara air mendidih terdengar dari dalam panci tanah liat yang sudah retak.

"Ayo bangunkan ayahmu sekarang, kita harus segera sarapan."

Mira mematikan api tungku dan memindahkan singkong rebus itu ke atas piring batu.

"Siap, Ibu."

Natasya berlari kecil ke ruang tengah dan menggoyang-goyangkan bahu ayahnya.

"Ayah, ayo bangun, Ibu sudah selesai masak sarapan untuk kita."

Arga membuka matanya perlahan dan langsung tersenyum melihat wajah ceria putrinya.

"Ayah masih mengantuk sekali, Natasya."

Pria kekar itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dan pegal.

"Tapi perut Ayah pasti sudah lapar kan karena semalaman lari dikejar burung elang."

Natasya tertawa pelan menggoda ayahnya.

"Tentu saja Ayah lapar, ayo kita makan."

Arga bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.

Mereka bertiga duduk melingkar menyantap sarapan singkong rebus yang sangat sedikit itu.

Meskipun rasanya hambar, suasana sarapan itu terasa sangat membahagiakan bagi mereka bertiga.

"Persediaan makanan kita sudah benar-benar habis pagi ini, Mas Arga."

Mira berkata pelan sambil menatap piring yang sudah kosong tanpa sisa.

"Air di tempayan kita juga sisa sedikit, sumur di belakang rumah sudah hampir mengering total."

Arga menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya dalam-dalam mendengarnya.

"Nanti siang Ayah akan coba keliling ke ladang dan hutan sekitar desa untuk mencari umbi liar atau sisa sayuran."

"Keadaan desa kita semakin parah, tadi pagi Ibu dengar tetangga sebelah menangis karena anaknya kelaparan."

Mira menambahkan informasi yang membuat suasana di dapur kembali menjadi muram.

Natasya mendengarkan percakapan kedua orang tuanya dengan saksama dalam diam.

Gadis kecil itu menyadari bahwa menyembuhkan ibunya barulah awal dari penyelesaian masalah.

Bencana kelaparan yang melanda seluruh desa masih menjadi ancaman kematian yang sangat nyata.

"Aku akan keluar sebentar untuk main di depan rumah ya, Ibu, Ayah."

Natasya berpamitan setelah menghabiskan sisa air minumnya dari gelas bambu.

"Jangan main terlalu jauh ya, Natasya, cuaca hari ini sangat panas menyengat."

Mira memperingatkan putrinya sambil mulai membereskan piring kotor.

"Aku tidak akan pergi jauh kok, Ibu."

Natasya langsung berlari keluar dari halaman rumahnya dengan lincah.

Namun tentu saja gadis kecil itu tidak bermain di halaman seperti janjinya tadi.

Kaki kecilnya kembali berlari menuju batas Hutan Larangan tempat pohon mangga besar berada.

Cuaca siang itu memang sangat terik, membuat tanah di sepanjang jalan terlihat retak-retak kekurangan air.

Sesampainya di bawah pohon mangga pelindungnya, Natasya langsung berteriak memanggil para sahabatnya.

"Gaga, Tuan Tupai, kalian ada di mana?"

Natasya memanggil dengan suara yang sengaja dipelankan agar tidak terdengar warga lain.

Krasak.

Semak-semak lebat di batas hutan bergerak dan muncullah serigala berbulu abu-abu gelap dari sana.

"Kamu datang lebih cepat dari biasanya hari ini, Natasya."

Gaga menguap lebar memperlihatkan deretan taringnya yang tajam di bawah sinar matahari.

"Bagaimana keadaan ibumu, apakah air minum kotor dari danau itu benar-benar berhasil menyembuhkannya?"

"Ibuku sudah sembuh total dan sangat sehat sekarang, Gaga."

Natasya langsung memeluk leher tebal serigala itu dengan senyum girang.

"Bahkan ibuku bilang badannya terasa jauh lebih kuat dari biasanya."

"Syukurlah kalau begitu, kerja kerasku melindungimu semalaman tidak berakhir sia-sia."

Gaga mendengus pelan sambil mengibaskan ekornya menyapu debu tanah.

Ciap.

Ciap.

Terdengar suara kicauan burung dari dahan pohon mangga tepat di atas kepala mereka.

Itu adalah burung kecil bersayap patah yang dulu pernah diselamatkan Natasya saat masih berusia tiga tahun.

"Halo, burung kecil, kamu sedang apa di atas sana?"

Natasya mendongak dan melambaikan tangan mungilnya.

"Aku sedang berteduh karena udara di luar hutan rasanya sangat panas menyengat."

Burung itu berkicau dengan bahasa yang langsung dipahami sepenuhnya oleh Natasya.

"Tuan Tupai sedang pergi ke hutan sebelah sejak pagi untuk mencari sisa kacang yang belum membusuk."

"Kebetulan sekali kalian berdua ada di sini, aku sangat butuh bantuan kalian sekarang."

Natasya duduk bersila di atas rumput kering dan menatap kedua temannya itu dengan serius.

"Bantuan apa lagi yang kau butuhkan sekarang, anak manusia?"

Gaga ikut duduk di hadapan Natasya dengan tatapan mata kuning yang menyelidik tajam.

"Jangan bilang kau ingin kembali ke Danau Beracun itu lagi untuk meminta sesuatu pada monster jelek tersebut."

"Tentu saja tidak, Gaga, aku tidak mau kembali ke tempat menyeramkan itu lagi."

Natasya tertawa pelan membayangkan salamander raksasa yang sangat galak di malam hari itu.

"Aku butuh bantuan kalian untuk mencari sumber makanan dan air bersih untuk warga desaku."

1
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!