NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Hanya tersisa dua puluh meter lagi sebelum ujung koridor tercapai.

Dari tempat Ren berpijak, pendar kebiruan dari gerbang batu yang mengarah ke Lantai 15 sudah terlihat jelas di balik lengkungan marmer putih yang retak. Hawa dingin dari Lantai 14 perlahan berganti dengan bau karat logam dan panas yang memancar dari celah gerbang di ujung sana.

Tepat saat Ren bersiap mengayunkan langkah ke ubin kristal berikutnya, seberkas kilatan cahaya ungu kehitaman melesat dari arah gerbang masuk di belakang mereka dengan kecepatan tinggi.

Itu adalah proyektil sihir pengacau mana yang ditembakkan secara tersembunyi oleh Penyihir Gunter atas perintah Julius von Ravensburg. Jarum sihir hitam itu menghunjam tepat di pusat ubin kristal pemancar resonansi utama di tengah koridor.

Struktur mana yang mengendalikan ritme ayunan bilah tak kasat mata di seluruh aula seketika mengalami lonjakan energi tak terkendali. Keseimbangan harmonik antara cermin obsidian dan denyut bola perunggu di langit-langit hancur berantakan.

Dalam rentang waktu sekejap mata, seluruh bilah spasial di dalam aula meledak serentak dalam amukan badai pemotong dimensi yang liar.

Ribuan sayatan tak kasat mata menyapu seluruh koridor dari kedua sisi.

Vargas yang berusaha mengangkat tamengnya terbelah bersama tameng bajanya yang teriris rapi. Shizuka dan Riku lenyap dalam kepulan darah, sementara tubuh Ren tercabik-cabik menjadi serpihan sebelum ujung jarinya sempat menyentuh gerbang keluar.

Dunia berputar kembali dengan dengungan menyengat di pangkal lehernya.

Ren tersentak mundur, berdiri tegak di atas ubin kristal pada jarak tiga puluh meter dari pintu keluar.

Sisa rasa sakit dari tubuh yang terpotong berdenyut liar di dalam kepalanya, membuat napasnya tercekat sesaat. Tanpa membuang waktu, matanya langsung melirik ke sudut pantulan cermin obsidian di dinding sebelah kiri.

Melalui pantulan cermin yang bergerak lambat itu, ia melihat siluet Penyihir Gunter di dekat gerbang masuk sedang mengangkat tongkat sihir kelabunya, mulai mengalirkan energi sihir ungu kehitaman untuk melepaskan proyektil pengacau tersebut.

Julius benar-benar berniat menghabisi seluruh saksi di lorong ini. Dalam hitungan delapan tarikan napas, jarum sihir itu akan menghantam ubin resonansi dan meledakkan seluruh koridor.

Amukan badai bilah spasial menyapu seluruh aula tanpa menyisakan satu sudut aman pun. Menghindar atau bertahan di atas ubin kristal adalah kemustahilan.

Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menyeberangi sisa tiga puluh meter koridor maut ini sebelum proyektil sihir Gunter menghantam ubin resonansi.

"Paman Vargas! Lepaskan pelat pelindung paha dan ransum beratmu sekarang juga!" perintah Ren dengan nada tajam tanpa menoleh.

Vargas tersentak, namun mendengar ketegasan suara Ren, sang veteran langsung bertindak cepat. Tangannya membuka gesper pengait pelindung pahanya dan menjatuhkan kantong ransum berat ke lantai kristal, menyisakan hanya tameng baja berlapis kitin dan kapak pendek di sabuknya.

"Riku, naik ke punggungku sekarang! Kunci peganganmu di leherku!" seru Ren sambil merendahkan tubuhnya.

Bocah pemanah itu bergerak sigap. Ia melompat ke punggung Ren, mengunci kedua lengannya di leher Ren dan melingkarkan kakinya rapat di pinggang pemuda itu.

"Kak Shizuka, pegang tali belakang tameng Paman Vargas dan jangan lepaskan!"

"Dimengerti, Ren!" sahut Shizuka dengan rahang mengatup rapat.

Ren mengangkat tangan kirinya, memeriksa katup pelepas uap pada pelindung pergelangan tangannya. Tangan kanannya merogoh saku zirah dadanya, menarik keluar liontin sayap merpati perak pemberian Lady Elise.

Ren mengalirkan sisa energinya ke dalam batu permata di tengah liontin tersebut.

Batu permata itu berpendar terang, lalu pecah dengan dengungan lembut, melepaskan gelombang cahaya perak murni yang membungkus tubuh mereka berempat dalam kubah pelindung bercahaya teduh.

Di kejauhan gerbang masuk, Penyihir Gunter melepaskan tembakan panah sihir hitamnya yang melesat membelah udara.

"Pegang erat-erat!" teriak Ren.

Ren menarik tuas pelepas katup uap bertekanan tinggi di pergelangan tangannya.

Tekanan uap panas yang terkumpul dari inti mekanik meledak keluar dari saluran pembuangan logam, menciptakan dorongan kinetik luar biasa yang menyentak tubuh Ren ke depan.

Dengan kecepatan penuh, Ren meluncur di atas ubin kristal sambil menarik lengan zirah Vargas yang membawa Shizuka di sisinya. Tubuh mereka melesat melompati ubin demi ubin dengan kecepatan tinggi.

Tepat saat mereka melompati ubin terakhir, panah sihir Gunter menghantam ubin resonansi di tengah aula.

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh ruangan.

Struktur ruang di dalam koridor runtuh seketika. Ribuan bilah distorsi tak kasat mata meledak liar, mencabik-cabik udara dan menghancurkan ratusan ubin kristal menjadi serpihan debu di belakang tumit mereka.

Beberapa sayatan bilah spasial liar sempat menyambar punggung mereka dari belakang, namun berkat kubah perak dari relik pelindung Lady Elise, serangan itu terbiaskan ke arah dinding cermin obsidian, menimbulkan percikan cahaya menyilaukan.

Ren, Riku, Vargas, dan Shizuka meluncur melintasi ambang batas gerbang obsidian Lantai 15, berguling bersama di atas lantai batu merah yang kasar tepat saat pintu gerbang perunggu di belakang mereka tertutup rapat dengan dentuman menggelegar.

Karena pintu keluar di sisi Lantai 15 telah terkunci rapat, gelombang kejut energi spasial yang terperangkap di dalam koridor memantul kembali, menyembur lurus ke arah gerbang masuk tempat pasukan bangsawan berdiri.

Di luar gerbang Lantai 14, badai pecahan kristal dan gelombang tekanan ruang meledak keluar dari pintu perunggu, menghantam garis depan ksatria pengawal Ravensburg.

Tongkat sihir Penyihir Gunter hancur berkeping-keping di tangannya sendiri akibat serangan balik energi, membakar jubahnya dan melempar tubuh sang penyihir hingga menghantam pasir gurun. Kuda perang berzirah perak yang ditunggangi Julius meringkik panik lalu terhempas ke tanah, memaksa sang komandan muda melompat turun dengan terhuyung, jubah sutra birunya kotor oleh debu gurun dan wajahnya memucat pasi.

"Keparat!" raung Julius dengan mata menyala murka saat melihat gerbang menuju Lantai 15 telah terkunci rapat dari dalam. "Bagaimana mungkin tikus-tikus jelata itu lolos dari badai pemotong ruang?!"

Di seberang barisan yang kacau, Lady Elise yang berdiri di depan pasukannya menatap pintu gerbang Lantai 15 yang tertutup dengan kilatan mata perak penuh ketegasan.

Pendar perak dari relik keluarganya yang sempat menyala di kejauhan membuktikan satu hal: Ren tidak hanya mematahkan jebakan maut yang dipasang Julius, melainkan juga membalikkan serangan licik itu menjadi pukulan telak yang mempermalukan barisan ksatria bangsawan di hadapan seluruh batalion.

Di dalam ruangan luas di balik gerbang Lantai 15.

Ren bangkit berdiri perlahan dari lantai batu andesit merah yang kasar, membantu Riku turun dari punggungnya. Bau karat besi tua dan hawa panas yang menyengat langsung menyambut indra penciuman mereka.

Ruangan itu membentang amat luas, menyerupai sebuah koloseum kuno yang dibangun dari susunan balok batu merah darah setinggi puluhan meter. Di sekeliling dinding bertingkat, puluhan obor dengan lidah api hitam menyala membakar udara, menciptakan bayangan panjang di atas lantai arena.

Di tengah-tengah arena bundar tersebut, berdiri sebuah tugu batu monolit hitam yang menjulang tinggi. Pada permukaan monolit itu, terukir aksara kuno bercahaya merah membara yang menerangkan hukum mutlak dari lantai tersebut:

Koloseum Penempaan Darah. Pintu gerbang terkunci bagi jiwa-jiwa yang melangkah masuk. Akses menuju lantai berikutnya hanya akan terbuka melalui salah satu dari dua takdir: Pengorbanan lima puluh jiwa manusia di atas Altar Darah Abadi, atau kematian Sang Penguasa Berkulit Abadi.

Vargas melangkah mendekati monolit itu, membaca tulisan kuno yang terpahat di sana dengan mata membelalak tegang.

"Lima puluh jiwa manusia... atau membunuh penguasa lantai ini?" bisik pria tua itu dengan suara parau. "Julius sengaja menggiring ratusan prajurit jelata ke tempat ini untuk disembelih di atas altar demi membuka jalurnya sendiri."

Shizuka menutup mulutnya dengan tangan gemetar, sementara Riku mengepalkan tinjunya dengan gigi gemeletuk menahan amarah di dalam dada.

"Bocah-bocah bangsawan itu..." desis Vargas, rahang sang veteran mengeras rapat. "Bagi mereka, nyawa prajurit bayaran hanyalah angka statistik untuk memperindah silsilah keluarga mereka."

Ren melangkah maju, meletakkan telapak tangannya pada permukaan batu monolit yang hangat oleh aliran energi kuno. Permukaan batu hitam itu terasa berdenyut samar, seolah-olah seluruh lantai koloseum ini adalah entitas purba yang menunggu siraman darah segar.

Matanya yang dingin menatap ke arah gerbang perunggu di seberang aula yang segera akan ditembus oleh pasukan utama Batalion Ketujuh.

"Kita tidak punya banyak waktu sebelum Julius dan para ksatrianya membongkar gerbang lantai ini," ucap Ren seraya memeriksa botol ramuan dan mengencangkan tali belatinya. "Mereka akan datang membawa dalih mandat komando untuk memaksa prajurit jelata menaiki altar itu."

"Lalu apa rencana kita, Ren?" tanya Vargas, tatapannya beralih menatap pemuda di sampingnya dengan kepercayaan penuh. "Kita tidak mungkin melawan seluruh divisi ksatria Ravensburg secara frontal."

"Kita tidak perlu bertarung frontal," sahut Ren dingin, seulas senyum tipis terbit di sudut bibirnya. "Biarkan Julius memainkan sandiwara kekuasaannya hingga ke puncak. Begitu monster penguasa lantai ini bangkit, kita akan membalikkan seluruh arena menjadi perangkap bagi mereka yang mengkhianati rekannya sendiri."

Ren menoleh ke arah Vargas, Shizuka, dan Riku, menatap ketiga rekannya yang telah berdiri bersamanya melewati berbagai kepungan maut.

"Panggung penentuan ada di depan mata," lanjut Ren dengan nada tenang. "Dan kali ini, kita bukan pihak yang akan menjadi korban di atas altar."

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!