Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Andra mengunjungi apartemen istri keduanya, hati yang kesal harus ditenangkan dan dia adalah Sarah
"Mas"
Melihat suaminya yang datang, Sarah mendekat lalu memeluknya
"Ada apa? Kamu keliatan kesel" Sarah mengajak suaminya untuk duduk dan Andra menurut
"Aku lagi berantem sama Aini, lama-lama dia nyebelin juga"
Sarah meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, ia mencoba membuat suasana hati Andra kembali membaik
"Lagian buat apa sih kamu pikirin Aini, aku ada di sini mas"
"Iya, aku memang butuh kamu" Anda memejamkan matanya sambil menikmati aroma tubuh Sarah
"Kenapa gak kamu cerein aja sih mas?" Sarah sebenarnya bingung, harusnya Andra ceraikan saja istrinya itu
"Aku lagi gak mau bahas tentang perceraian" Sarah mengerti, keduanya memilih untuk melepas rasa lelah ini didalam kamar
Andra tidak pulang sejak semalam, Aini tidak ingin berpikir buruk namun kecurigaan itu jelas saja ada
"Apa mas Andra beneran selingkuh?" Tengah bergelut dengan rasa curiga, suara tangisan putri nya terdengar
Aini mendekat, meraih putri kecil nya itu lalu menggendongnya "Ada apa sayang? Kasih bosen yaa" Bayi kecil itu masih menangis "Kita jalan-jalan yaa!"
Daripada pusing, Aini memutuskan untuk mengajak putri kecilnya berkeliling taman di sore hari. Lagipula suaminya mungkin tidak akan kembali kerumah dan Aini malas memikirkannya
Aini mendorong stroller putrinya berkeliling, taman ini dekat dengan perumahan hingga Aini bisa kesini dengan berjalan kaki
Sepertinya Kasih senang berjalan-jalan seperti ini, terbukti dari bayi kecil itu yang berhenti menangis
Aini melihat sekelilingnya, ia melihat ada beberapa wanita yang juga menikmati suasana sore di taman ini
Melihat para wanita itu yang terlihat cantik, usianya mungkin masih muda, tapi Aini sadar jika saat menjadi ibu, dirinya jauh lebih mengutamakan kebutuhan keluarga dibanding kebutuhan pribadi
Aini menghela napasnya, memaksa senyum terbit diwajahnya lalu kembali mendorong stroller putrinya
Saat hendak menyebrang jalan, Aini berteriak saat sebuah mobil hampir saja menabraknya, beruntung pengendara itu cepat mengerem hingga Aini dan putrinya baik-baik saja
Pintu terbuka, seorang pengendara keluar dan menghampiri Aini. Aroma maskulin mendominasi saat pria itu berdiri tepat dihadapannya
"Kamu gak apa-apa?" Aini mengangkat wajahnya, dihadapannya seorang pria berwajah tampan tengah berdiri dengan raut wajah khawatir
"Saya gak apa-apa mas, salah saya juga karena nyebrang sembarangan" Aini merasa bersalah karena sudah membuat orang lain hampir celaka
Pria itu terlihat merogoh sakunya, mengeluarkan dompet lalu meraih beberapa lembar dari sana
"Ini, ambillah! Sebagai bentuk permintaan maaf saya" Ujar pria tampan itu pada Aini
"Tidak perlu mas, saya juga gak apa-apa" Aini menatap lekat pria tinggi itu "Itu kening mas nya luka"
Pria itu menyentuh keningnya, memang ada noda merah disana, sepertinya terbentur setir karena memang tadi ia mengemudi dengan kecepatan tinggi
"Oh ini, ini hanya luka kecil" Pria itu tersenyum dan saat itulah Aini melihat cekungan di pipinya
"Walaupun luka kecil, tetap saja harus diobati" Aini tersenyum "Ayo biar saya obati dulu"
Aini menarik tangan si pria lalu keduanya duduk di bahu jalan, membiarkan Kasih tetap di stroller nya
Aini mengambil plaster berwarna merah muda dari dalam tas yang ia bawa, lalu menempelkannya pada kening pria itu
Aini tampak begitu serius, hingga ia tidak sadar bahwa posisinya terlalu dekat membuat si pria menatapnya dengan intens
"Sial, kenapa jantungku berdebar seperti ini" Ujar pria tampan itu dalam hatinya saat wajah Aini begitu dekat
"Sudah" Aini tersenyum dan itu terlihat manis "Mas"
Panggilan itu membuat si pria tampan tersentak, bisa-bisanya ia terpesona pada wanita yang baru pertama kali bertemu
"Terima kasih"
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu yaa mas!" Aini bangkit berdiri lalu mendorong stroller Kasih menjauh dari jalan
Sementara pria yang menabraknya masih membeku, tangannya terangkat menyentuh kening yang terpasang plaster berwarna merah muda dengan gambar hati
"Sadar Yudha! Dia istri orang" Pria itu tersenyum sambil menatap punggung wanita yang baru saja menggetarkan hati nya itu bergerak menjauh
***
Aini kembali kerumah setelah menghabiskan waktu di taman, setidaknya pikirannya sedikit lebih baik
Begitu tiba, ia lebih dulu memandikan putrinya lalu menidurkannya karena bayi kecil itu sepertinya kelelahan
Aini melangkah menuju dapur, walaupun suaminya belum tentu pulang, ia akan tetap memasak
Tengah sibuk dengan pekerjaan dapur, terdengar suara pintu yang diketuk. Aini melangkah menuju pintu depan karena jika itu suaminya pasti tidak akan mengetuk
"Faris" Aini tersenyum saat melihat adik iparnya yang datang "Ayo masuk, Ris!"
Pemuda tampan itu masuk, lalu Aini menutup pintu
"Kakak lagi masak, kakak tinggal dulu yaa!"
"Ini aku beli makanan kesukaan kak Aini" Faris memperlihatkan kantung plastik bawaannya
"Waah kebetulan, kalau gitu kakak gak perlu lanjutin lagi masaknya" Aini tersenyum lalu Faris menyerahkan kantung itu pada sang kakak
"Kasih dimana kak?"
"Udah tidur, kayaknya kecapean karena baru aja dari taman" Jawab Aini "Ayo kita makan bareng, Ris!"
"Boleh deh, kebetulan aku juga baru pulang kerja" Faris membuka jaket jeans nya lalu melangkah bersama Aini menuju dapur
"Kamu masih part time, Ris?" Tanya Aini sambil menyiapkan makanan yang Faris bawa diatas meja
"Iya kak, lumayan lah buat biaya kuliah" Jawab Faris lalu menerima piring dari sang kakak "Makasih kak"
Keduanya makan sambil sesekali bercanda, mendengar suara tawa, Andra yang baru saja tiba segera menuju sumber suara
"Mas" Sapa Aini saat melihat suaminya berdiri tak jauh dari meja makan "Aku pikir kamu gak pulang"
"Kamu ngarep mas gak pulang?" Tanya Andra sambil melangkah mendekat ke arah meja makan
"Kamu bicara apa sih mas?" Aini menggeleng karena ia tengah malas untuk bertengkar terlebih disini ada Faris
"Ayo makan mas! Faris beliin makanan" Aini mengambil piring untuk suaminya, sementara Andra sendiri telah duduk
Ia menatap sang adik yang tengah menikmati makanannya tanpa menoleh padanya
"Kamu banyak uang Ris? Makanannya banyak banget" Andra sedikit ketus
"Aku baru gajian, inget kalau ini makanan favoritnya kak Aini makanya aku beliin" Jawab pemuda itu tanpa beban
"Kamu mikirin banget istri Abang?" Andra tidak berharap jika adiknya ini lupa jika Aini adalah kakak iparnya
"Emang salah?"
"Menurut Abang kamu sebaiknya fokus aja kuliah! Gak perlu segala kerja kayak gini" Ujar Andra pada sang adik sementara Aini hanya menjadi menyimak, lebih baik ia fokus saja pada makanan didepannya
"Ini gak ganggu waktu kuliah kok, bang. Lagian ini juga buat bantu-bantu Abang" Ujar Faris
"Udahlah mas! Selagi itu gak mengganggu kuliah Faris Aku rasa gak apa-apa"
Andra tidak lagi menjawab, ia sesekali menatap tajam Faris yang sepertinya menikmati makan malam bersama ini
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.