NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pernyataan Kafka yang dilontarkan dengan nada rendah namun penuh penegasan halus itu seolah menyerap habis sisa oksigen di teras rumah bercat putih tersebut.

Wajah Pak Haris yang semula merah padam karena amarah, kini berubah pias selama sepersekian detik sebelum rahangnya kembali mengeras. Urat-urat di pelipis pria paruh baya itu bermunculan. Ia belum pernah ditantang seperti ini oleh pria mana pun, apalagi oleh pria yang usianya jauh lebih muda darinya.

"Kamu mengancam saya di rumah saya sendiri, anak muda?" geram Pak Haris, melangkah maju seolah siap menerkam Kafka secara fisik.

Namun Kafka sama sekali tidak bergeming. Ia bahkan tidak berkedip. Pria itu berdiri kokoh bagaikan benteng beton, menutupi Naya yang masih gemetar di belakang punggungnya.

"Saya tidak mengancam, Pak," jawab Kafka tenang, nada suaranya mengalun seperti air yang mengalir di atas batu. "Saya hanya menyampaikan fakta. Jika Bapak bersedia meluangkan waktu sepuluh menit saja untuk duduk dan melihat apa yang saya bawa, Bapak akan mengerti."

"Bapak, sudah, Pak. Malu dilihat tetangga kalau ribut-ribut di depan pagar begini," Bu Tari, yang sejak tadi berdiri cemas, akhirnya memberanikan diri menarik lengan suaminya. Wanita berwajah keibuan itu menatap Naya dengan tatapan iba, lalu beralih menatap Kafka. "Silakan masuk dulu, Mas. Naya, ayo masuk, Nduk. Kita bicarakan baik-baik di dalam."

Pak Haris mendengus kasar. Ia melepaskan tangan istrinya dan berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar dan berat. Bu Tari mengikutinya dari belakang, menyisakan Naya dan Kafka di teras.

Naya menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Kakinya benar-benar lemas. Jika Kafka tidak segera meraih tangannya dan menautkan jemari mereka, Naya yakin ia sudah merosot ke lantai.

"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Kafka pelan, memberikan remasan menenangkan di tangan Naya. "Ayo."

Ruang tamu keluarga Naya didominasi oleh perabotan kayu jati berukir khas Jepara. Suara detak jam kukuk tua yang menempel di dinding menjadi satu-satunya sumber suara yang memecah keheningan yang luar biasa mencekam. Pak Haris duduk di kursi tunggal dengan dada membusung, sementara Naya dan Kafka duduk berdampingan di sofa panjang di seberangnya. Bu Tari datang dari dapur membawa nampan berisi empat cangkir teh melati yang mengepulkan asap wangi, meletakkannya di atas meja dengan hati-hati sebelum ikut duduk di sebelah suaminya.

"Jadi, apa yang mau kamu buktikan?" Pak Haris membuka percakapan tanpa basa-basi, matanya menatap tajam ke arah tautan tangan Kafka dan Naya yang sengaja disembunyikan di balik tas Naya. "Tante Rina menelepon saya sambil menangis histeris. Dia bilang Naya kabur dari apartemen yang sudah disiapkan Reno, memblokir semua kontak, dan sekarang tinggal serumah dengan laki-laki simpanan. Dan kamu datang ke sini, dengan pakaian mahal dan mobil sewaan, berharap saya akan percaya padamu daripada keluarga yang sudah tiga tahun saya kenal baik?"

Naya memejamkan mata, hatinya teriris mendengar tuduhan itu dari mulut ayah kandungnya sendiri. Ia membuka mulut, berniat membela diri, namun Kafka mengeratkan genggamannya, memberikan isyarat agar Naya membiarkannya yang mengambil alih.

Dengan sebelah tangan yang bebas, Kafka merogoh ke dalam saku bagian dalam kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah diska lepas (flash drive) berwarna perak dan sebuah amplop cokelat berisi beberapa lembar foto berukuran besar yang telah dicetak dengan kualitas tinggi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kafka meletakkan benda-benda itu di atas meja kayu jati, lalu menggesernya tepat ke hadapan Pak Haris.

"Itu adalah tangkapan layar rekaman CCTV dari koridor apartemen Reno tiga malam yang lalu, tepat di malam hari jadi hubungan Naya dan Reno," ucap Kafka memecah keheningan. Nadanya berubah formal, layaknya sedang mempresentasikan laporan kepada dewan direksi. "Di foto pertama, Bapak bisa melihat Reno masuk ke dalam apartemennya pada pukul delapan malam dengan seorang wanita yang jelas bukan putri Bapak. Mereka saling merangkul."

Pak Haris menautkan alisnya. Tangannya yang sedikit keriput terulur, mengambil lembaran foto tersebut dengan ragu.

"Di foto kedua, dua jam setelahnya, Naya datang membawa kue. Sendirian. Putri Bapak berniat memberikan kejutan sepulang kerja dari luar kota, namun yang ia temukan adalah pengkhianatan," lanjut Kafka, matanya menyorotkan rasa muak yang tak tertahankan setiap kali ia harus mengingat malam itu. "Dan foto ketiga... adalah Naya yang keluar dari sana sepuluh menit kemudian, hancur, dan tidak tahu harus berlindung ke mana di tengah badai hujan."

Suasana ruang tamu itu mendadak hening. Sangat hening hingga Naya bisa mendengar suara napas ayahnya yang perlahan mulai memburu. Tangan Pak Haris gemetar saat ia menggeser foto pertama dan melihat foto kedua. Di sana, wajah Reno dan wanita selingkuhannya tertangkap kamera dengan sangat jelas. Tidak ada celah sedikit pun untuk penyangkalan.

"Keluarga mereka tidak hanya menyembunyikan kebusukan putra mereka, Pak, tapi mereka juga secara aktif berusaha mencuci tangan dengan memfitnah Naya di hadapan Bapak," suara Kafka kembali mengalun, kali ini lebih rendah dan tajam. "Apakah pria yang membawa wanita lain ke tempat tidurnya pantas disebut sebagai menantu yang baik? Apakah keluarga yang memfitnah kehormatan putri Anda pantas Anda bela?"

Wajah Pak Haris yang semula merah karena marah pada Naya, kini berubah memucat, lalu memerah kembali dengan jenis amarah yang jauh lebih mematikan. Pria paruh baya itu membanting foto-foto tersebut ke atas meja dengan keras, membuat cangkir teh melati di dekatnya berdenting nyaring.

"Bajingan!" umpat Pak Haris, suaranya bergetar menahan murka yang meluap. Air mata kekecewaan menggenang di pelupuk mata pria tua yang terkenal keras itu. Ia menoleh, menatap Naya dengan sorot mata yang dipenuhi penyesalan mendalam. "Naya... Nduk. Ya Allah, kenapa kamu tidak langsung telepon Bapak malam itu juga? Kenapa kamu biarkan Bapak dikibuli sama keluarga pengkhianat itu?"

Mendengar nada suara ayahnya yang akhirnya melunak dan memanggilnya dengan panggilan kesayangan 'Nduk', pertahanan Naya hancur. Ia melepaskan tangan Kafka, beranjak dari sofa, dan berhambur memeluk ayahnya. Tangis Naya pecah di pelukan pria yang selama ini selalu ia segani. Pak Haris membalas pelukan putrinya tak kalah erat, mengusap punggung Naya sambil berkali-kali menggumamkan kata maaf. Bu Tari yang duduk di sebelah mereka ikut menyeka air matanya dengan ujung kerudung.

Di seberang meja, Kafka duduk bersandar dengan tenang. Rahangnya yang sejak tadi mengeras perlahan mengendur. Melihat Naya menangis dalam pelukan keluarganya, bukan tangisan penderitaan melainkan tangisan kelegaan, membuat beban berat di dada Kafka ikut terangkat.

Setelah beberapa menit yang dipenuhi isak tangis emosional, Naya perlahan menarik diri. Ia kembali duduk di sebelah Kafka, menyeka sisa air matanya.

Pak Haris berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya, meskipun matanya masih memerah. Ia kini menatap Kafka dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi sinisme, melainkan rasa ingin tahu dan rasa hormat yang baru saja tumbuh.

"Nak Kafka," panggil Pak Haris, suaranya sedikit serak. "Bapak berutang maaf padamu. Bapak terlalu cepat termakan omongan keluarga Reno tanpa mencari tahu kebenarannya. Tapi... kalau boleh Bapak tahu, siapa kamu sebenarnya? Tante Rina bilang Naya tinggal di rumahmu. Bukankah Naya bilang dia menginap di rumah Nessa sahabatnya?"

Kafka memperbaiki posisi duduknya. Pria itu menyilangkan satu kakinya, menampilkan postur yang luar biasa elegan dan percaya diri.

"Saya adalah adik kandung Nessa, Pak. Saya baru saja kembali dari London seminggu yang lalu untuk meneruskan kendali perusahaan keluarga kami di Indonesia," Kafka menjawab dengan tenang. "Naya memang menginap di rumah keluarga kami. Dan saya hadir di sini untuk meluruskan semuanya."

Pak Haris terdiam sejenak. Matanya yang tajam mengamati wajah Kafka, lalu beralih menatap Naya yang masih menunduk malu. Sebagai seorang ayah yang berpengalaman, Pak Haris bisa menangkap gelagat yang berbeda dari pria muda ini. Cara Kafka melindungi Naya, cara pria itu berbicara membelanya, itu bukan sekadar perlakuan seorang adik sahabat.

"Nak Kafka," Pak Haris menyipitkan matanya. "Bapak sangat berterima kasih kamu sudah melindungi Naya. Tapi sebagai laki-laki, Bapak tahu tatapan matamu. Kamu terbang jauh-jauh dari Jakarta ke Solo bukan cuma sekadar mau jadi pahlawan kesiangan, kan?"

Kafka tersenyum tipis. Senyum yang jujur dan berani. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus tepat di mata Pak Haris. Auranya berubah menjadi sangat serius, memancarkan ketulusan yang telanjang.

"Bapak benar," Kafka memulai, nada suaranya turun menjadi bariton rendah yang dipenuhi kehormatan. "Saya datang ke sini bukan hanya untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Saya datang sebagai seorang pria yang ingin meminta izin secara jantan kepada Anda."

Naya menoleh dengan cepat ke arah Kafka, jantungnya kembali berpacu liar. Apa yang akan pria ini katakan?

"Saya tahu luka Naya masih basah. Saya tahu ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara tentang ikatan formal," ucap Kafka perlahan, setiap kata diucapkannya dengan penuh penegasan. "Tapi saya ingin Bapak tahu, bahwa tujuan saya berada di sisi Naya bukan untuk bermain-main. Saya ingin meminta izin untuk melindungi Naya, menjaga Naya, dan memenangkan hatinya. Dan saat Naya sudah siap nanti, saya akan kembali ke rumah ini bukan sendirian, tapi membawa keluarga besar saya untuk meminangnya secara resmi."

Keheningan yang magis menyelimuti ruang tamu itu. Naya berhenti bernapas. Wajahnya seketika memerah padam hingga ke telinga. Pernyataan Kafka terlalu berani, terlalu gamblang, dan diucapkan tepat di depan ayahnya!

Pak Haris terdiam cukup lama, mencari celah kebohongan di mata Kafka, namun yang ia temukan hanyalah dinding baja keyakinan. Pak Haris kemudian menoleh ke arah Naya, melihat rona merah di pipi putrinya dan bagaimana tangan Naya tanpa sadar meremas ujung blusnya karena gugup.

Sebuah senyum tipis akhirnya terbit di wajah keriput Pak Haris.

"Ternyata kamu memang tidak main-main dengan ucapanmu," kekeh Pak Haris pelan, menggelengkan kepalanya. Pria tua itu akhirnya mengulurkan tangan kanannya ke seberang meja.

Kafka segera menyambut uluran tangan itu dengan jabat tangan yang kokoh dan penuh hormat.

"Bapak memberikanmu izin untuk menjaga Naya," ucap Pak Haris tegas. "Tapi ingat, kalau sampai kamu menyakiti putriku seperti yang dilakukan bajingan itu, Bapak sendiri yang akan menemuimu ke Jakarta."

Kafka tersenyum. "Anda punya kata-kata saya, Pak."

Siang itu, ketegangan yang mencekik berubah menjadi kehangatan keluarga. Menjelang sore, saat langit Solo mulai berubah menjadi jingga, Naya melangkah ke teras belakang membawa nampan berisi pisang goreng hangat. Ayahnya baru saja masuk ke dalam untuk beristirahat, meninggalkan Kafka sendirian yang sedang duduk bersandar di kursi rotan, menatap hamparan taman kecil.

"Nih, makan dulu. Buatan ibuku enak banget lho," ucap Naya, meletakkan nampan itu di atas meja dan duduk di kursi sebelah Kafka.

Kafka menoleh. Pria itu melepaskan kacamata hitam yang tadi ia pakai untuk menghalau silau sore dan meletakkannya di atas meja. Matanya menyapu wajah Naya yang kini terlihat jauh lebih bersinar dan lega.

"Senang melihatmu tersenyum lepas seperti itu, Kak," bisik Kafka, mengulurkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut Naya ke belakang telinga. Sentuhan hangat itu membuat perut Naya kembali bergejolak.

"Ini semua berkat kamu, Kaf," Naya menatap pria itu dengan sorot mata penuh rasa terima kasih yang teramat dalam. "Kamu bener-bener... pria yang gila. Aku nggak nyangka kamu berani ngomong kayak gitu ke Bapak. Bapakku itu singa tidur, dan kamu malah masuk ke kandangnya buat nantang dia."

Kafka terkekeh pelan. Pria itu mencondongkan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka. "Singa tua yang menyayangi anak betinanya akan selalu luluh jika melihat pria yang tepat datang dengan kesungguhan."

Wajah Naya memanas mendengar ucapan yang sangat percaya diri itu. Ia menelan ludah, tidak sanggup menatap mata Kafka lebih lama.

"Tapi omong-omong..." Naya mengalihkan pembicaraan, mencoba menutupi kegugupannya. "Kita beneran nginap di sini malam ini? Besok pagi kamu nggak ada kerjaan di kantor?"

"Jadwalku bisa diatur," jawab Kafka santai. Ia meraih tangan Naya dan mengusap buku-buku jarinya. "Ayahmu memintaku menginap agar kita bisa makan malam bersama. Tentu saja kita tidur di kamar yang terpisah. Aku tidak ingin memancing amarah calon mertuaku di hari pertama."

Naya memukul pelan bahu lebar Kafka, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. "Jangan mulai deh, Kaf. Siapa juga yang mau tidur sekamar sama kamu."

Kafka tersenyum miring. Pria itu meletakkan cangkir tehnya, lalu tiba-tiba meraih pergelangan tangan Naya, menarik wanita itu hingga tubuh mereka merapat. Kursi rotan yang diduduki Naya berderit pelan.

Kafka mencondongkan wajahnya, aroma mint dan cedarwood mengurung Naya tanpa ampun. "Belum mau, Kak. Bukan tidak mau," bisik Kafka tepat di telinga Naya, suaranya bergetar rendah. "Dan karena aku sudah memegang restu ayahmu... aku tidak perlu lagi menahan diri untuk membuatmu menginginkannya."

Jantung Naya seolah berhenti berdetak. Namun sebelum ia bisa membalas godaan mematikan itu, suara Bu Tari dari ambang pintu menginterupsi.

"Naya, Nak Kafka, ayo masuk. Makan malamnya sudah siap."

Kafka melepaskan Naya dengan senyum puas yang terlukis di bibirnya, meninggalkan Naya yang kini harus berdiri dengan lutut lemas dan wajah semerah tomat, menyadari bahwa perjalanan kembali ke Jakarta besok akan menjadi ujian terberat bagi kewarasannya.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!