Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Tiga hari menjelang malam penyerangan Kasino Royale Vane. Udara di lantai dua markas utama klan Argantara terasa berbeda dari biasanya. Jika ruang komando bawah tanah didominasi oleh deru mesin peladen dan aroma kopi hitam kental, lantai atas siang ini disulap menjadi studio busana terselubung.
Empat lemari pakaian raksasa bertutup kain beludru hitam berjajar di tengah ruang tamu pribadi. Di sekelilingnya, tiga orang perancang busana kepercayaan klan Argantara berdiri siaga dengan pita ukur dan jarum semiti di tangan, menunggu aba-aba dari pria yang kini duduk santai di sofa kulit di ujung ruangan.
Aria keluar dari balik tirai pembatas.
Langkah kakinya agak kaku saat menyusuri lantai marmer. Ia mengenakan salah satu gaun malam mahakarya rancangan desainer Italia—sebuah gaun backless berbahan satin sutra berwarna emas gelap (champagne gold) yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat presisi. Bagian belakang gaun itu terbuka lebar hingga batas pinggang, memperlihatkan kulit mulus punggungnya, sementara belahan tinggi di paha kirinya memberi ruang gerak penuh untuk langkah taktis jika situasi darurat terjadi.
"Bagaimana dengan gaun ini?" tanya salah satu perancang dengan nada cemas, melirik ke arah Devan.
Devan Argantara menyesap kopi hitamnya perlahan. Mata kelamnya bergeser, memindai penampilan Aria dari ujung rambut hingga sepatu hak tinggi berwarna senada yang dikenakannya. Tatapan Devan begitu tajam dan pekat, menelusuri setiap detail gaun tebal yang melekat pada tubuh wanitanya, hingga memicu desiran hangat yang seketika menyebar di sekujur tubuh Aria.
Aria menyilangkan dadanya—sebuah gestur pertahanan diri dari tatapan memabukkan sang bos mafia. "Jangan menatapku seperti itu, Devan. Gaun ini terlalu mencolok untuk seseorang yang harus bergerak cepat di area lantai judi."
Devan meletakkan cangkir porselennya ke piring kristal dengan dentukan halus. Ia berdiri dari sofa, melangkah perlahan mendekati Aria. Sepatu pantofelnya bersuara mantap di atas marmer.
"Pesta ulang tahun Kasino Royale adalah panggung kemewahan para predator, Aria," kata Devan, suaranya berat dan rendah. Ia berhenti persis satu jengkal di depan Aria, membuat aroma woody yang khas kembali mengurung kesadaran wanita itu. "Di tempat seperti itu, wanita yang mengenakan pakaian sederhana atau mencoba bersembunyi di balik gaun kaku justru akan menarik perhatian tim pengaman musuh."
Devan mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang kekar menyentuh lembut kain satin di pinggang Aria, merapikan sedikit lipatan kain di sana. "Tugasmu malam itu bukan bersembunyi, melainkan menyilaukan mata semua orang. Kamu harus terlihat seperti wanita bangsawan yang terlalu mahal untuk dipertanyakan identitasnya."
Aria menahan napasnya sejenak, merasakan hangat dari jemari Devan yang menyapu tipis kulit pinggangnya. "Dan identitas palsu yang kamu siapkan sudah cukup kuat untuk menembus pemindai latar belakang klan Vane?"
Devan tersenyum tipis—sebuah ukiran senyum percaya diri yang memikat. Pria itu mengibaskan tangannya pelan, memberi gestur agar para perancang busana meninggalkan ruangan. Begitu pintu ganda tertutup rapat, Devan menyambar sebuah map dokumen berlapis kulit hitam dari atas meja kaca dan menyerahkannya kepada Aria.
Aria membuka map tersebut. Di dalamnya tertera paspor diplomatik Eropa, kartu kredit platinum berseri khusus, serta lembaran riwayat hidup berstempel resmi dari beberapa lembaga keuangan internasional.
"Perkenalkan identitas barumu," ujar Devan pelan, menundukkan kepalanya sedikit di dekat earphone taktis yang terpasang di leher gaun Aria. "Gisele Vance. Seorang investor independen berdarah campuran Prancis-Asia yang menguasai ekosistem mata uang kripto dan kasino melayang di Monaco. Kamu masuk ke Kasino Royale sebagai tamu undangan khusus dari kolega bisnis luar negeriku."
Aria memperhatikan paspor bertuliskan nama Gisele Vance dengan foto dirinya yang tampak begitu elegan dan berjarak. Jemari peretasnya menyapu kode enkripsi pada pita magnetik paspor tersebut.
"Sistem basis data kependudukan Prancis dan Interpol sudah disinkronkan dengan data ini?" tanya Aria memastikan.
"Erick sudah memasukkan identitas Gisele Vance ke dalam server utama Interpol dua minggu lalu," tegas Devan. "Bahkan jika Hector Vane menyuruh tim intriknya memeriksa riwayat transaksimu sampai sepuluh tahun ke belakang, yang akan mereka temukan hanyalah jejak kekayaan yang bersih dan deretan portofolio investasi fiktif yang sangat meyakinkan."
Aria menutup map dokumen itu, lalu melirik Devan lewat pantulan cermin gergasi di samping mereka. "Dan kamu? Kamu masuk sebagai siapa?"
Devan merapikan manset kemeja hitamnya, berdiri di belakang Aria hingga bayangan tubuhnya yang jangkung menutupi punggung terbuka wanita itu dari terpaan angin pendingin ruangan.
"Aku masuk sebagai diriku sendiri. Devan Argantara," sahut pria itu dingin. "Kehadiranku di lantai judi VIP akan menjadi magnet kekacauan utama. Hector Vane akan mencurahkan delapan puluh persen fokus tim keamanannya untuk mengawasiku, memburu langkahku, dan mencoba mencari tahu apa tujuanku mendatangi wilayahnya."
Devan mencondongkan tubuhnya, menyandarkan dagunya sangat dekat di atas bahu Aria yang terbuka. Melalui pantulan cermin, mata kelam Devan mengunci manik mata gelap Aria dengan intensitas yang menggetarkan dada.
"Dan saat perhatian seluruh isi kasino tertuju pada permainanku di meja poker VIP..." bisik Devan, suara rendahnya menyapu kulit leher Aria, "...kamu akan menyelinap ke lantai dua bawah tanah, mematikan sistem pertahanan Brankas Pendulum, dan mengambil Black Ledger bersama tim Marco."
Aria memutar tubuhnya perlahan di dalam kurungan Devan. Dengan gaun satin emas yang membalut anggun tubuhnya dan sepatu hak tinggi yang menyejajarkan tinggi mereka, Aria menatap lurus ke dalam iris mata Devan tanpa gentar.
"Skenario yang sangat indah, Devan," kata Aria pelan, jemari tangannya merapikan kerah kemeja Devan secara refleks—sebuah gerakan alami yang mengejutkan mereka berdua. "Tapi ingat... begitu Black Ledger ada di tanganmu dan klan Vane runtuh, peran Gisele Vance berakhir. Dan kesepakatan kebebasanku harus direalisasikan detik itu juga."
Devan menatap jemari Aria yang berada di kerah kemejanya. Pria itu mengulurkan tangannya, menggenggam pergelangan tangan halus Aria, lalu mengangkatnya perlahan ke bibirnya. Devan mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di atas punggung tangan Aria—sebuah gestur penghormatan sekaligus janji terselubung yang membakar kulit wanita itu.
"Aku tidak pernah ingkar janji pada mitramu, Little Bird," pungkasi Devan rendah, menatap Aria dari balik bulu matanya yang lebat. "Tapi sampai malam itu selesai... kamu adalah pasanganku. Dan aku tidak akan membiarkan seorang pun di Kasino Royale menyentuhmu."
Aria menarik tangannya perlahan dari genggaman Devan, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang mendadak tak beraturan. Di balik pendar anggun gaun satin emas dan identitas palsunya sebagai Gisele Vance, Aria menyadari bahwa penyamaran ini bukan sekadar permainan strategi melawan klan Vane—melainkan awal dari ujian paling mematikan bagi pertahanan hatinya sendiri di sisi Devan Argantara.