Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Setelah mengantarkan kedua orang tuanya Farhan kembali ke ruang rawat Alina.
Saat dia masuk Alina memejamkan mata, dia pikir jika Alina tertidur. Ternyata Alina hanya memejamkan matanya.
"Orang tua bapak udah pulang?." Tanya Alina.
"Sudah, Saya kira kamu tidur, kamu butuh sesuatu?" tanya Farhan, Alina menggelengkan kepalanya.
Farhan duduk di sebelah Alina.
"Bapak mau dipanggil apa?." Alina memikirkan perkataan mertuanya.
"Maksudnya?." Farhan memicingkan alisnya.
"Tadi sama mam lara di suruh ubah panggilan." Alina menjelaskan dengan suara pelan.
"Kenapa kamu pikirkan perkataan mama." Farhan merasa gemas dengan tingkah Alina yang terlalu menurut.
"Senyamannya kamu aja." tambah Farhan.
"Kakak?." Alina memberikan opsi.
"Saya bukan kakak kamu." jawab Farhan.
"Abang?."
"Terlalu galak."
"Mas?."
"Boleh." saut Farhan dengan cepat.
"eh?."
"Kenapa? Kamu tidak nyaman?." tanya Farhan.
Alina menggeleng,"Mas Farhan." mendengar panggilan mas yang keluar dari mulut Alina membuat Farhan salah tingkah.
Farhan berdehem,"kita juga harus mengubah gaya bahasa kita agar tidak terlalu formal saat berdua." Alina mengangguk sebagai tanda setuju.
Setelah berbincang ringan, Alina merasa mengantuk, Farhan menyuruhnya untuk istirahat sementara dirinya mengambil laptop yang ada di mobilnya.
...----------------...
Di lain tempat ke dua teman Alina mencoba menghubungi tetapi tidak ada jawaban.
"Gimana fan, di jawab ga?." tanya Sisil.
"Malah nomornya engga aktif." saut Fani dengan nada frustasi.
"Tumben banget Alina kaya gini, ga pernah dia ga angkat telpon." Sisil khawatir terjadi sesuatu kepada sahabatnya.
"Gimana kalau kita telpon orang tua nya?." Fani memberikan usulan.
"Iya iya coba telpon bunda." Saking dekatnya mereka bertiga sampai mereka mengenal orang tua masing-masing.
Fani langsung menekan nomor bunda Alina.
"Diangkat?." tanya Sisil dengan suara kecil.
Fani menggeleng,tapi kemudian terdengar suara bunda Alina dari seberang sana.
"Hallo Bun, maaf banget kalau ganggu, Alina ada di rumah?." Fani bertanya kepada bunda, dia kira orang tua Alina ada di sana.
"Ada apa dengan Alina?." bukannya menjawab bunda malah kembali bertanya.
"Hari ini Alina tidak masuk kuliah,terus nomor hpnya tidak aktif Bun." jelas Fani.
"Coba bunda hubungi Alina dulu ya, kebetulan bunda sedang tidak di rumah." setelah itu sambungan telepon terputus.
"Gimana? Alina Kenapa." tanya Sisil.
Fani menggeleng sebagai tanda dia tidak mendapatkan jawaban.
...----------------...
Setelah menerima telepon dari sahabat Alina bunda langsung menghubungi nomor Alina, dan benar saja jika nomornya tidak aktif.
Akhirnya bunda menghubungi nomor mama Farhan.
Mama Farhan yang sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya teralihkan saat ponselnya berdering.
"Hallo Jeng." sapa mama Farhan.
"Mbak apakah terjadi suatu dengan Alina." tanpa basa-basi bunda langsung bertanya.
Mendengar ucapan bunda Alina mama Farhan mencoba untuk tenang karena dia sudah berjanji tidak memberi tahu kalau Alina sakit.
"Oh Alina, di tadi habis aku ajak belanja, kayaknya dia ketiduran deh,coba aku lihat habis ini." mama Farhan mencari alasan yang masuk akal agar tidak di curigai.
Bunda menghela nafas dengan lega," Alhamdulillah mbak, aku takut terjadi sesuatu kepada Alina, makasih ya mbak udah jaga Alina." bunda mengucapkan rasa terima kasih dengan tulus.
"Jeng Alina sekarang juga anak aku, jadi sebagai orang tua sudah sepantasnya untuk memberikan kasih sayang dan perhatian." ucapan mama Farhan membuat bunda merasa terharu karena ada yang menyayangi Alina selain dia dan suaminya.
"Terima kasih banyak mbak." lagi-lagi bunda berterima kasih kepada mama Farhan.
"Jangan terima kasih terus jeng, aku jadi sungkan." mereka tertawa bersama, meskipun tidak saling bertatap muka tetapi perasaan mereka terasa.
Setelah panggilan telepon dimatikan mama Farhan langsung menyandarkan tubuhnya ke meja sambil memegangi dadanya.
"Tadi ucapan aku udah bener ga sih?." dia bertanya kepada dirinya sendiri.
Dari belakang papa Farhan memegang pundak istrinya.
"Astaga papa ngagetin aja." Rasa kaget tidak bisa disembunyikan oleh mama Farhan.
"Kamu kenapa ma?." melihat perilaku istrinya yang aneh membuat papa Farhan tidak tahan untuk bertanya.
"Gapapa, ayo makan." seolah tidak terjadi apa-apa mama Farhan langsung menyajikan makanan, hal itu membuat suaminya merasa heran.
...----------------...
Hari sudah malam, Farhan masih setia menunggu Alina sembari mengerjakan pekerjaan-pekerjaan.
Kemudian panggilan masuk dari Renata membuat Farhan menghentikan pekerjaannya.
Farhan langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo sayang." senyum tipis terukir di wajah tampan Farhan.
"Kamu lagi dimana?tadi aku keruangan kamu tidak ada, terus katanya kamu ninggalin mata kuliah." berderet pertanyaan datang melanda Farhan.
Farhan melirik Alina yang masih tertidur.
"Aku ada urusan penting." Menurut Farhan dia tidak berbohong karena tadi Alina sakit.
"Urusan apa?." tidak biasanya Renata bertanya sedetail ini.
"Saudara aku ada yang sakit." mulai dari sinilah kebohongan Farhan di mulai.
"Oh begitu,aku khawatir soalnya kamu enggak ngabarin aku seharian." ucap Renata dengan nada manja.
"Maaf ya sayang kalau aku bikin kamu khawatir." Farhan menyesal karena sempat melupakan keberadaan Renata sekejap.
"Habis ini kamu pulang ga?." tanya Renata.
"Malam ini aku belum bisa pulang, maaf ya."
"Iya engga apa-apa,kamu jangan lupa makan terus istirahat yang cukup ya." ucap Renata.
"Siap sayangku,kamu juga." Bersama Renata Farhan menjadi pribadi yang berbeda dan itu dapat di lihat oleh Alina yang sudah bangun dari tadi.
Melihat perhatian dan perilaku Farhan kepada Renata menarik Alina untuk mundur kembali. Tadinya dia berpikir jika Farhan adalah suaminya sampai dia di sadarkan lagi jika Alina tidak lain adalah istri sementara.
Tapi kenapa dia merasa kecewa? Bukannya semua yang terjadi sesuai dengan permintaannya.
Setelah menutup telepon dari Renata Farhan melihat kearah Alina yang juga sedang menatapnya. Farhan langsung bangkit dari duduknya.
"Kamu udah bangun?." Farhan merasa tidak enak jika Alina mendengar percakapan nya dengan Renata.
"Baru saja." jawab Alina seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu mau sesuatu?." tanya Farhan
Alina menggeleng, tetapi suara perutnya tidak bisa ia sembunyikan.
Farhan langsung tertawa kecil sedangkan Alina merasa malu bisa-bisanya rasa laparnya tidak bisa di sembunyikan dalam situasi seperti ini.
"Saya cari makan dulu, kamu mau titip sesuatu?." Farhan memastikan apa keinginan Alina.
"Tidak pak."
Kemudian Farhan pergi untuk mencari makan,tapi sebelum itu suara Alina menghentikan langkahnya.
"Boleh saya minta tolong kalau tidak merepotkan untuk diambilkan hp saya."
Farhan mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya.
Setelah kepergian Farhan Alina menjadi overthinking.
"Seharusnya aku tidak terlalu berharap, yang dia lakukan ke aku adalah bentuk tanggung jawab yang dititipkan ayah, bahkan dia tidak menganggap aku sebagai istrinya, ayolah Alina kamu harus sadar diri ada wanita yang dia cintai dan tidak bisa kamu kalahkan. Alina kamu harus ingat jika dia adalah laki-laki yang sama yang kamu lihat di gedung perpustakaan."
Kembali Alina mengingat pertama kali Alina bertemu Farhan, kemudian saat dimana dia melihat Farhan dan Renata melakukan hubungan yang menurut Alina menjijikan.
Tetapi perasaan itu kalah dengan perilaku baik Farhan kepadanya,tidak perduli Farhan menganggap dia sebagai apa,tapi Alina akan mencoba menjaga perasaannya sendiri.