Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh cinta pada calon kakak ipar
Dalam segala obrolan penuh penjelasan yang memang sudah jelas itu, tokoh utama pembahasannya adalah Tiwi. Dua wanita di sana belum ada yang tahu siapa Ali bagi Rangga, dan tidak ada yang tahu benang takdir apa yang sedang mengikat mereka semua.
Tiwi yang mendengar penuturan sang kakak tidak menjawab lagi. Wajahnya yang semula menunduk perlahan terangkat menghadap ke depan, dan pandangan matanya langsung bertemu dengan mata Ali yang juga menatap ke arahnya. Tiwi merasakan jantungnya berdetak dengan menggila hanya karena tatapan Ali.
"Kenapa kak Ali memandangku dengan begitu intens? Apa jangan jangan kak Ali menyukaiku?" batin Tiwi bertanya- tanya. Wajar pertanyaan seperti itu terbersit dalam pikiran Tiwi, karena secara fisik dia jauh lebih cantik dari kakaknya, Fatma. Tubuhnya juga lebih ideal serta tinggi dari kebanyakan wanita. Dia laksana model yang terlihat cantik sekaligus menarik. Rasanya aneh jika tidak ada pria normal yang tertarik padanya.
Dia kembali menunduk sambil menyelipkan seuntai rambut ke belakang telinganya, sikap yang biasanya diperlihatkan oleh orang yang ingin terlihat polos. Tiwi salah tingkah karena di pandang begitu oleh Ali. Sungguh, sosok Ali adalah sosok pria idealnya. Pria tampan yang mapan, pengertian, menghormati, humoris, romantis dan tentu saja kaya. Tiwi jadi mengerti kenapa kakaknya, Fatma begitu tergila-gila pada Ali. Bahkan tidak jarang Tiwi memergoki kakaknya yang sedang memperhatikan ponselnya hanya untuk menunggu telpon dari Ali.
Sekarang, setelah dia melihat sendiri sosok Ali yang mengagumkan. Tiwi mengerti kenapa kakaknya bisa seperti itu. Ali bahkan seribu kali lebih baik daripada Rangga, menurut penilaian Tiwi.
Tangan Tiwi perlahan terangkat, menyentuh dada kirinya yang berdetak begitu cepat, bahkan melebihi kapasitas saat dia ketakutan. Tiwi belum pernah merasakan ini sebelumnya, bahkan pada Rangga. Dia telah jatuh cinta pada calon kakak iparnya.
Fatma yang duduk di samping Ali juga menangkap pandangan Ali pada adiknya yang terlihat berbeda,
"Kenapa Mas Ali memandang Tiwi begitu dalam?" tanya Fatma heran. Sebagai seorang wanita dia tidak ingin berprasangka, jadi langsung saja ditanyakannya pada sang calon suami apa maksud tatapan itu.
"Adikmu cantik. Aku berpikir, pasti banyak pria yang tergila- gila padanya." jawab Ali tanpa mengalihkan pandangannya. Dia masih menatap Tiwi seperti sebelumnya, seakan terpesona padanya. Tiwi yang menjadi objek pandangan Ali semakin di buat salah tingkah hingga semburat merah menghiasi wajahnya yang malu- malu.
Tapi, tahukah dua wanita di sana apa alasan Ali memandang Tiwi seperti itu. Alasannya adalah, Ali tidak percaya dibalik wajah cantik wanita muda itu ada kebohongan yang di tutupi. Tidak percaya, Tiwi berbohong pada Fatma tentang Rangga yang sudah menikah, atau lebih tepatnya menutupi fakta sebesar itu dari kakaknya.
"Hati- hati, nanti Mas Ali jatuh cinta sama adikku," sindir Fatma merasa kesal dengan jawaban Ali yang memuji adiknya cantik. Itu memang fakta, tapi tetap saja Fatma tidak terima karena dialah calon istri dari pria itu, bukan adiknya, Tiwi.
"Mungkin saja" jawab Ali enteng yang membuat dua wanita di sana memandangnya spontan,
"Jika aku belum bertemu denganmu." sambungnya yang memalingkan wajahnya kearah Fatma dan tersenyum lembut.
"Ih mengesalkan! Ku pikir Mas Ali serius" kata Fatma kesal. Dia hampir saja menangis jika Ali memang akan suka sama adiknya tapi ternyata pria itu malah mengerjainya. Ali hanya tersenyum sebagai tanggapan akan kekesalan calon istrinya itu.
Sedangkan Tiwi merasa lain lagi. Dia sudah tidak karuan dengan hatinya saat mendengar tuturan Ali. Tiwi berpikir apa yang Ali ucapkan sebelumnya itulah kenyataannya, pria itu tidak sedang bercanda. Ali menyukainya dan alasan kalimat lanjutannya itu hanya agar kakaknya tidak sedih.
Kepercayaan diri yang datang entah dari mana itu membuat Tiwi membuat kesimpulan berani kalau Ali, calon kakak iparnya telah jatuh hati padanya.
Tidak sampai satu jam, akhirnya acara makan malam itu selesai. Ali pamit pulang setelahnya, karena ini sudah lewat waktu yang di janjikannya pada Nisa untuk pulang.
"Kak Ali, tunggu!" seru Tiwi setengah berteriak sembari menghampiri Ali yang akan segera memasuki mobilnya. Fatma hanya menatap heran kearah sang adik yang kini berada di depan Ali.
"Ada apa?" tanya Ali yang juga ikut heran kenapa wanita muda itu tiba- tiba menghentikannya.
"Ini kak..." Tiwi menyerahkan sebuah tiket pertunjukan teater kepada Ali yang dipandangi oleh pria itu setengah bingung.
"Kak Ali datang ya, acaranya minggu ini." lanjut Tiwi antusias. Ali memandang kearah Fatma seakan sedang menanyakan apakah dia harus menerimanya atau tidak. Fatma yang melihat itu hanya mengangguk mengiyakan. Dia tahu lebih dari siapa pun bagaimana adiknya Tiwi berjuang di teater itu untuk bisa mendapatkan peran utama, dan akhirnya keinginannya itu terwujud di teater bulan ini. Fatma berpikir, Tiwi pasti begitu bahagia hingga mau memberikan tiket gratis pada Ali yang akan segera menjadi kakak iparnya.
"Insha Allah, aku akan datang dengan kakakmu, Fatma" ujar Ali yang kembali tersenyum kearah Fatma sembari menerima uluran tiket di tangan Tiwi.
Wajah Tiwi yang semula begitu riang penuh antusiasme, langsung berubah murung dan jutek. Yang dia inginkan itu Ali datang sendiri, bukan dengan kakaknya, Fatma. Tapi dia tidak bisa berbuat apa- apa.
"Ya sudah, yang penting kak Ali datang ya." Tiwi kembali mengingatkan seakan tidak ingin Ali lupa. Ali hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelahnya dia kembali pamit pulang sembari memasuki mobilnya untuk kembali ke rumahnya dimana adik terkasihnya yang buta sedang menunggunya sendirian.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean