Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 19
Persiapan rumah peristirahatan milik Lucien di wilayah utara mendekati sempurna. Semua pelayan dan kesatria juga sudah berada di sana.
Sebuah peringatan dari Norman dan Erson kepada mereka adalah jangan ada yang memanggul Lucien dengan sebutan 'yang mulia' atau 'baginda'. Meski bingung dan tidak mengerti, namun perintah adalah di atas pemikiran pribadi. Mereka hanya perlu melakukan perintah tersbeut.
"Apa kamu mau berjalan-jalan? Kebetulan hari ini tidak ada hujan salju," ajak Lucien.
"B-baiklah," jawab Cattelya.
Sedangkan Leoric, bocah tu bersorak senang.
Sebenarnya Cattelya masih sangat bingung dengan pria ini. Pria yang sangat baik, pengertian, hangat dan juga lembut tersebut tak disebutkan sama sekali dalam novel. Semua mungkin telah berubah setelah dia kabur.
Sudah sebulan berada di tempat ini, Cattleya merasa sangat aman juga nyaman. Pun dengan Leoric, putra kecilnya juga terlihat tidak kesulitan dalam menyesuaikan hawa dingin yang cukup menusuk di wilayah ini.
Lucien membawa Cattleya dan Leoric menuju ke satu-satunya desa diwilayah utara. White Village, sesuai dengan namanya putih, semua tempat memang diselimuti oleh salju berwarna putih.
Meski kelihatan sangat dingin, namun warga desa melakukan aktivitas seperti biasa, layaknya warga desa di Green Village. Hanya saja pakaian mereka tebal-tebal.
"Apa kau menyukainya, Catty?"
"Ah ya, di sini bagus dan dingin."
Lucien tersenyum lebar, dia puas melihat Cattleya yang menikmati tinggal di wilayah ini. Dia tak melihat Cattleya kesulitan beradaptasi.
Mereka berjalan-jalan dan memberi beberapa barang. Lucien juga membelikan boneka rusa yang tebal dan lembut bagi Leoric.
"Ayah, ini luar biasa. Sangat bagus, terimakasih." ucap Leoric penuh dengan semangat
"Sama-sama sayang, bilang saja kalau kamu ingin sesuatu. Jangan ragu untuk mengatakannya. Ayah akan memberikan mu apapun yang dinginkan."
Cattleya langsung memegang erat lengan Lucien. Matanya juga menatap tajam.
"Jangan bicara demikian, Tuan. Anda bukan ayahnya yang sebenarnya. Jadi jangan membuat janji palsu pada anak yang tidak tahu apa-apa," ucap Cattleya dengan penuh penekanan.
Dia tak mau membuat putranya terus merasa kenyamanan seorang ayah palsu. Dia tidak tahu sampai kapan kenyamanan ini akan berlanjut. Dia juga tidak tahu kapan semuanya ini akan berakhir.
Menurut Cattleya, bangsawan semuanya sama. Mereka akan baik saat mengingnkan sesuatu, dan akan mencampakkan jika sudah mendapatkannya atau bosan.
Cattleya tak ingin Leoric terbuai. Dia tak mau anaknya larut dengan kenyamanan yang tak tahu kapan akhirnya. Cattleya takut, Leoric akan jadi pribadi yang kasar jika keinginannya nanti tidak diikuti.
"Kamu jangan takut, aku sungguh akan melakukan semuanya demi Leo," ucap Lucien.
"Tidak, tidak boleh Tuan. Saya harap Anda cukup sampai di sini saja memanjakan Leo. satu dua tiga hadiah sudah cukup bagi Leo. Saya tidak ingin Leo tumbuh jadi anak manja. Saya ingin dia tumbuh jadi seorang pria kuat dan juga mandiri. Jadi tolong berhenti melakukan hal demikian bagi Leo."
Lucien mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia paham betul maksud dari Cattleya dan dia setuju.
Meksipun hasratnya sangat besar ingin memanjakan Leo, tapi fakta bahwa Leo akan jadi putra mahkota suatu saat nanti, tidak bisa dielakkan. Dan Leo memang harus tumbuh dengan kekuatan dan kemandirian.
"Ya baiklah, aku minta maaf Cattleya. Aku tidak berpikir sejauh itu," ucap Lucien.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sangat berterimakasih dengan nat baik Anda. Dan sekal lagi, saya berterimakasih atas semua yang sudah Anda berikan kepada Saya dan Leo."
Lucien tersenyum mendengar kata-kata Cattleya, namun tangannya mengepal erat.
"Kapan aku bisa memberitahunya bahwa aku ini adalah Kaisar sekaligus ayah Leo yang sebenarnya?"
Lucien memejamkan matanya sejenak. Dia meyakinkan dirinya untuk tidak teburu-buru dalam mengungkapkan kebernaran tersebut.
Fakta bahwa Cattleya lari malam itu merupakan sebuah tanda bahwa dia tak ingin berususan dengan Lucien. Lucien sendiri sadar akan hal itu. Dan fakta bahwa dia kabur untuk menyembunyikan kehamilannya juga merupakan bukti bahwa Cattleya tidak mengincar kursi permaisuri. Maka dari tu Lucien memutuskan untuk pelan-pelan saja mendekati Cattleya. Dia tak ingin wanita itu lari.
Keengganan Cattleya berhubungan dengan kedudukan permaisuri bertolak belakang dengan Adele, putri dari Duke Rams Mortain.
Nona bangsawan yang datang ke istana sebagai calon pendamping kaisar tahu bahwa tak sekalipun Adele bisa bertemu dengan kaisar. Akan tetapi di setiap jamuan minum teh yang diadakan salon nyonya bangsawan, Adelle menyebar rumor bahwa dirinya sangat dekat dengan kaisar. Adelle juga mengatakan bahwa dia sering menghabiskan waktu berdua meski hanya sekedar membaca buku.
"Apa itu benar?" tanya salah satu putri count yang juga hadir di sana.
"Tentu saja benar. Apa kamu meragukan aku, seorang Putri Duke?"
Jawaban Adelle nampak sangat angkuh. Dia benar-benar merasa dirinya tak tersentuh.
Adelle melayangkan sebuah tatapan tajam ke arah nona bangsawan yang waktu itu ada di istana juga.
"kalau kau buka mulut, maka keluargamu akan habis," ucap Adelle saat ia hendak mengambil wine dan melewati nona itu.
Nona tersebut langsung menganggukkan kepala, tubuhnya bergetar hebat dan tangannya berkeringat. Rasa takut itu menjalar ke seluruh tubuhnya tanpa bisa ditahan.
Adelle menyeringai. kedudukan dia di sini adalah paling tinggi diantara nona bangsawan yang lain, yakni putri dari satu-satunya duke di kekaisaran Kallistar. Maka dari itu sikapnya yang angkuh dan sombong tak pernah bisa dikalahkan karena semua status berada di bawahnya, kecuali permaisuri. Namun saat ini kursi permaisuri kosong, jadi Adelle benar-benar di atas angin,
Dengan statusnya sebagai putri satu-satunya Duke, dia pun menyebarkan rumor ke sana kemari tentang dirinya yang merupakan kandidat paling kuat sebagai calon permaisuri.
"Bagus Adelle, bagus sekali. Terus seabrkan rumor itu agar semua orang segera mendesak Baginda untuk menikah."
Baru sampai di kediaman, Adelle langsung medapat pelukan dari ayahnya. Kata-kata pujian itu juga terlontar dengans angat manis.
"Apa cara ku ini cukup bagus?" tanya Adelle. Dia membawa Duke Ramos untuk duduk.
"Tentu saja, ini sangat luar biasa. Mumpung Lucien juga tidak pernah muncul, jadi sebarkan lebih jauh. Bahkan kalau bisa berikan isyarat bahwa kamu dan Lucien tak hanya sekedar dekat."
"Baik Ayah."
Salah satu sudut bibir Adelle tertarik. Da punya banyak sekali ide dalam kepalannya dan tinggal merealisasikannya.
TBC