Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Cuma Selingkuh, Bukan Pacaran
Menjelang subuh, suhu Laras turun di bawah tiga puluh delapan derajat.
Bram baru berani memejamkan mata setelah napas perempuan itu teratur. Ia tertidur di kursi, satu tangan tetap menggenggam jemari Laras dan satu lagi memegang termometer.
Saat Laras bangun mendekati tengah hari, tenggorokannya kering dan tubuhnya lemas. Hal pertama yang dilihatnya adalah Bram tertunduk di sisi ranjang, rambut menutupi dahi, kausnya kusut, dan bayangan gelap di bawah mata.
Laras menggerakkan tangan.
Bram langsung terbangun. "Pusing? Mual? Bisa lihat aku jelas?"
"Kamu selalu jelek kalau bangun tidur?"
Bahunya jatuh lega. "Masih bisa menghina. Berarti otakmu selamat."
Ia memasukkan termometer ke telinga Laras. Tiga puluh tujuh koma tiga.
"Turun," katanya.
Laras hendak bangun, tetapi kakinya tersangkut selimut. Lututnya menghantam bagian tubuh Bram yang paling tidak tepat.
Lelaki itu membungkuk sambil mendesis.
"Maaf!" Laras menahan bahunya. "Kamu baik-baik saja?"
"Nggak." Bram menatapnya dengan wajah menderita. "Kamu hampir mengakhiri garis keturunan Adiwangsa."
"Aku nggak sengaja."
"Semalaman kamu meraba, menendang, sekarang mau membuatku cacat."
"Aku demam."
"Katanya orang demam nggak sadar. Kamu justru merayu satu malam."
Laras mengambil bantal untuk memukulnya, tetapi Bram tertawa dan menjauh.
Di kamar mandi, ia melihat pakaian semalam sudah dilipat rapi. Pakaian dalam sekali pakai dari minimarket terletak di dekat wastafel. Laras menyentuh bahan kertasnya lalu meringis.
"Aku nggak mau pakai ini."
"Jangan," jawab Bram dari luar. "Belum dicuci juga nggak masalah."
"Diam."
Saat mencuci tangan, Laras melihat dua baris tulisan kecil di jari kanan Bram yang memegang termometer.
PER ASPERA pada telunjuk.
AD ASTRA pada jari tengah.
Ia menangkap tangan itu. "Ini artinya apa?"
Bram menatap jemari mereka. "Tebak."
"Aku bukan kamus Latin."
"Lewat kesulitan menuju bintang."
Laras membaca kedua baris itu lagi. "Kenapa ditato di jari?"
"Biar kelihatan."
"Nama mantan pertama kamu?"
Bram terdiam cukup lama untuk membuat pertanyaan bercanda itu terasa serius.
"Kurang lebih," jawabnya.
Laras melepaskan tangannya. Sesuatu yang tipis dan mengganggu tertinggal di dada.
Di kamar, ponselnya dipenuhi panggilan dari keluarga. Ia tidak menjawab satu pun. Sebaliknya, ia mengirim pesan suara kepada Kirana.
"Aku aman. Aku di rumah Bram. Jangan pulang sebelum pekerjaanmu selesai."
Balasan Kirana datang dalam teriakan berbisik dari belakang panggung.
"Kamu sendiri yang kirim lokasi ke dia?"
"Iya."
"Laras Ayu Wirasena, kamu jatuh cinta?"
"Aku cuma kabur dari dunia palsu buatan orang tuaku."
"Terus kenapa pintu keluarnya harus lewat kamar Bram?"
Laras melirik lelaki yang sedang mengganti seprai di belakangnya. "Mungkin aku cuma ngidam dia. Secara fisik. Lumayan, nggak rugi."
Bram berhenti menarik sudut seprai.
Kirana tertawa keras. "Dia dengar, ya?"
"Aku tutup."
"Tunggu. Rumahmu heboh sejak jam enam pagi. Ibu kamu telepon aku tujuh kali. Radit juga datang dan menyuruh orang mencari di apartemenmu."
"Mereka masih bilang aku sakit?"
"Iya. Versi resmi keluarga, kamu pindah istirahat ke tempat yang lebih tenang. Aku nggak tahu tempat tenangnya di mana."
"Bagus. Jangan bilang aku bersama Bram."
"Jelas. Aku mau kamu selamat, bukan jadi judul utama infotainment. Mbak Ranti juga menahan semua pertanyaan tim. Tapi latihan konser nggak bisa ditunda terus."
"Kirim partitur dan laptop lewat kurir. Jangan tulis alamat lengkap di grup. Hubungi aku saat pengemudi sudah di gerbang."
Kirana diam sesaat. "Kamu sudah merencanakan tinggal di sana?"
"Sementara."
"Dan bukan pacaran?"
"Bukan."
"Baiklah. Selingkuhanmu sedang melipat seprai seperti suami teladan."
Laras memutus pesan suara. Bram bersandar pada tiang ranjang.
"Ngidam aku?"
"Kamu menguping."
"Rumahku, telingaku."
"Lupakan."
"Sulit. Itu pengakuan paling romantis yang pernah kuterima."
Laras berjalan menuju pintu. "Aku lapar."
Di dapur, sebuah panci bubur berisi wortel, ayam suwir, dan kacang polong sudah mengepul. Bram menuangkan satu mangkuk kecil untuk Laras, lalu menaruh steak besar di piringnya sendiri.
Di atas kursi dekat island kitchen terdapat dua kantong belanja tersegel. Isinya kaus, celana santai, pakaian dalam katun, dan perlengkapan perawatan kulit tanpa merek mencolok.
"Ini apa?" tanya Laras.
"Baju. Kurir taruh di kotak penerima depan gerbang. Nggak ada yang masuk."
"Kamu tahu ukuranku?"
"Aku pesan dua ukuran. Yang nggak cocok kembalikan."
Laras memeriksa label. "Kamu memilih semuanya putih dan abu-abu."
"Aku bukan stylist. Kalau mau warna lain, pesan sendiri setelah ponselmu berhenti dibombardir keluarga."
Bram juga meletakkan pengisi daya baru di dekat piring Laras. Ponselnya sudah terisi, tetapi diposisikan dengan layar menghadap bawah, memberinya pilihan kapan ingin menghadapi panggilan yang menumpuk.
Ia tidak meminta kata sandi, tidak menjawab panggilan atas namanya, dan tidak menyuruh Laras pulang. Kebebasan kecil itu terasa asing setelah tiga hari setiap keputusan dibuatkan orang lain.
"Kenapa makananku seperti makanan anak TK?"
"Lambungmu habis demam."
"Kenapa kamu boleh makan steak?"
"Karena aku sehat dan hampir kehilangan masa depan gara-gara lututmu."
Laras mencicipi bubur. Rasanya jauh lebih enak daripada tampilannya.
"Kamu bisa masak?"
"Aku hidup sendirian sembilan tahun. Kalau nggak bisa, sudah mati."
Nada Bram datar. Laras ingin bertanya mengapa anak keluarga Adiwangsa hidup sendirian selama itu, tetapi lelaki tersebut sudah memotong steak.
"Berapa lama kamu mau tinggal?" tanya Bram.
"Sampai situasi di rumah reda."
"Seminggu? Sebulan? Sampai akad?"
"Aku tetap akan membatalkan akad."
"Bagus."
"Jangan senang dulu. Keputusanku nggak ada hubungannya denganmu."
Bram mengunyah, lalu mengangkat alis. "Kita tinggal serumah, tidur di ranjang yang sama, dan kamu ngidam aku. Tapi nggak ada hubungannya denganku?"
"Aku tidur di kamar ini karena demam."
"Malam ini?"
"Kamar tamu."
"Pintunya rusak."
"Tadi kamu bilang bisa dikunci."
"Baru rusak."
Laras meletakkan sendok. "Kamu mau apa?"
"Status yang sedikit lebih baik daripada tempat pengungsian."
"Kita nggak pacaran."
"Lalu apa?"
Laras menatapnya lurus. "Kita cuma selingkuh, bukan pacaran."
Garpu Bram berhenti di udara.
"Kejam banget."
"Kalau nggak suka, aku bisa pergi."
"Siapa bilang nggak suka?" Bram melanjutkan makan. "Aku cuma belum pernah jadi selingkuhan. Perlu belajar job description."
"Pertama, jangan mengaturku."
"Sulit."
"Kedua, jangan menuntut."
"Lebih sulit."
"Ketiga, jangan jatuh cinta."
Bram menatapnya cukup lama sampai Laras merasa kalimat itu berbalik mengenai dirinya sendiri.
"Terlambat," katanya pelan.
"Apa?"
"Buburmu dingin. Makan."
Laras tahu ia mengalihkan pembicaraan. Ia juga tahu dirinya seharusnya tidak peduli.
Namun ketika Bram mengulurkan tangan mengambil mangkuknya untuk menambah kuah hangat, tulisan di kedua jarinya kembali terlihat.
PER ASPERA. AD ASTRA.
"Jadi benar itu tentang cinta pertama?" tanya Laras.
Bram menunduk pada tulisan tersebut. "Kurang lebih."
Kata-kata itu tinggal di hati Laras seperti duri kecil yang tidak bisa dicabut.