Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - Membuka Hati
Randy mengantarkan Sheyra pulang. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Sheyra. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Belum terlalu larut, namun mereka sudah memutuskan untuk pulang. Hal itu dikarenakan Sheyra berjanji kepada Bundanya untuk pulang sebelum jam 9 malam.
Randy sendiri pun tidak masalah dengan permintaan Sheyra. Baginya permintaan Bunda Sheyra bukan tanpa alasan. Orang tua kerap kali khawatir terhadap pergaulan anaknya apalagi jika anaknya adalah seorang perempuan. Oleh karena itu Randy dapat memahaminya.
Sheyra tersenyum ke arah Randy, “Makasih banyak ya buat hari ini. Makasih udah ditraktir dan dianterin pulang juga. Padahal aku pengen bayar sendiri tadi.”
Randy membalas senyuman Sheyra, “Gak perlu diganti kok uangnya. Aku ikhlas. Malahan aku yang harusnya berterima kasih karena kamu mau luangin waktu buat ketemu aku.”
“Makasih yaaa.” Kata Sheyra lalu ia membuka pintu mobil. Sheyra melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Setelah sudah di luar, Sheyra kembali melihat ke arah Randy. “Mau mampir ke rumahku dulu?” tanyanya basa-basi.
Randy segera menolak secara halus, “Lain kali aja yaa. Lagian gak enak udah jam segini bertamu ke rumah orang.”
Sheyra mengangguk paham. “Kalau gitu, aku masuk dulu ya. Sekali lagi makasih. Bye.” Sheyra melambaikan tangannya lalu menutup pintu mobil.
Randy membuka jendela mobilnya, ia berteriak kepada Sheyra yang sudah berbalik meninggalkannya. “Next time ketemu lagi ya.” pintanya.
“Iya.” Sheyra mengangguk. Setelah berpamitan, Sheyra masuk ke dalam rumahnya. Saat membuka pintu, Bundanya sudah menyambut Sheyra di ruang tamu dengan tatapan penuh selidik.
“Keluar sama siapa kamu Shey? Pacar?” tanya Bundanya penasaran.
Sheyra segera mengelak, “Ah, engga cuman temen.”
Sudut bibir Bundanya terangkat. Wajahnya yang sebelumnya terlihat penasaran sekarang berganti menjadi usil. Ia tersenyum menggoda anak semata wayangnya. “Yang bener? Kenalin ke Bunda dong.”
Sheyra menggeleng cepat, “Ih apa sih Bunda. Emang cuman temen kok.”
“Orangnya ganteng gak? Baik gak sama kamu? Asik gak?” Bunda Sheyra menghujani Sheyra dengan banyak pertanyaan. Suaranya terdengar antusias ingin tahu.
Sheyra menghindari semua pertanyaan yang diajukan oleh Bundanya. Ia segera berlari masuk ke dalam menuju kamarnya untuk menjauh dari Bundanya.
Melihat anaknya yang menghindar, Bunda Sheyra tertawa. Ia sangat senang menggoda anaknya seperti ini. Sangat seru. Apalagi melihat ekspresi Sheyra yang kesal dan berusaha mengelak.
Setelah berhasil lari dari Bundanya, Sheyra membanting tubuhnya ke kasur. Kasur yang empuk membuat tubuhnya merasa nyaman. Sheyra langsung mengecek handphone. Di sana sudah ada pesan dari Randy yang isinya Randy senang bisa bertemu dengan Sheyra. Randy mengharapkan bisa ada pertemuan selanjutnya.
Sheyra membalas pesan tersebut dengan menyanggupinya. Beberapa detik kemudian handphonenya berbunyi yang menandakan bahwa ada panggilan telepon yang masuk. Penelepon itu adalah Keisha.
Sheyra menghela nafas. Ia sudah bisa menebak topik apa yang akan Keisha bicarakan kali ini.
“Gimana kencannya tadi? Seru? Lancar? Randy orangnya ganteng kan kayak gue bilang? Baik juga kan?” Tanya Keisha antusias.
Sheyra memutar bola matanya malas. Pertanyaan yang sama seperti yang diajukan Bundanya tadi. Obrolan yang sudah ia duga sejak awal. “Iya, orangnya ganteng, baik, dan asik juga.”
“Tuh kan!” seru Keisha riang. Dari respon yang Keisha berikan, Sheyra dapat mengetahui bahwa Keisha akan mendukung 1000% dirinya agar bisa bersama Randy.
Dalam hati Sheyra masih bingung. Ia tiba-tiba merasa bersalah. Apakah tindakannya kali ini benar? Apakah tidak apa-apa berkenalan dengan cowok lain di saat hatinya belum benar-benar bisa melupakan Alvaro? Apakah Randy adalah pelarian saja baginya?
Sheyra tersenyum kecut. Ia kembali meyakinkan dirinya untuk tidak memikirkan Alvaro lagi. Alvaro sudah menjadi milik orang lain. Fakta yang harus selalu Sheyra ingat. Sheyra mencoba membenarkan tindakannya. Baginya tidak apa-apa dirinya berkenalan dengan Randy. Bisa saja suatu saat nanti ia akan jatuh cinta kepada Randy. Sheyra akan mencoba membuka hatinya untuk cowok lain.
“Kei, gue tutup dulu ya teleponnya. Mau bersih-bersih dulu nih baru pulang.” Pamit Sheyra sebelum menutup teleponnya.
“Oh ya, okayyy. Besok cerita selengkapnya ya di kampus!”
“Iyaaa.”
***
“Eh gimana gimana yang kemarin Shey?” Keisha bertanya dengan antusias. Tangannya memangku dagu. Menatap Sheyra dengan tatapan penuh selidik berharap akan mendapatkan jawaban yang ia harapkan.
“Lancar aja.” jawab Sheyra malas. Pertanyaan ini lagi. Kemarin Sheyra sudah menceritakan sekilas di telepon dan juga di chat tapi sepertinya Keisha masih meminta jawaban yang lebih rinci.
“Lancar gimana? Cerita lengkap dong.” pinta Keisha dengan memaksa.
Sheyra menghela nafas panjang, ia berpikir sepertinya memang harus bercerita sejelas-jelasnya agar Keisha berhenti menginterogasi lagi.
“Jadi gini, gue kemarin makan bareng dia di cafe. Dia orang asik banget, lucu juga, perhatian, obrolannya nyambung, kelihatan cowok baik. Setelah makan dan ngobrol kita pulang dan dia anterin gue sampe rumah. Gentleman sih.” terang Sheyra.
Keisha tersenyum mendengar cerita Sheyra. Ia benar-benar lebih excited daripada Sheyra yang melakukan kencan buta. Keisha seolah menaruh harapan besar agar hubungan kedua temannya berhasil.
“Terus terus setelah ketemu kalian masih chatan kan?” selidik Keisha.
Sheyra mengangguk, “Masih. Ini tadi dia ada ngechat.”
“Terus kencan kedua kalian kapan lagi? Ada rencana gak?”
“Gak tau. Dia ada sih ngajakin ketemuan lagi. Tapi menurut gue gak perlu terburu-buru sih. Lagipula gue lagi sibuk sama kuliah, tugas dan ngebantu di daycare.”
Keisha mengangguk paham, “Bener juga. Tapi ya, gue harap semoga pdkt ini berjalan lancar. Gue rasa kalian cocok. Selama gue kenal Randy, dia anaknya emang baik banget. Gue berharap dia bisa bikin lo bahagia dan bisa jagain lo Shey.”
Sheyra tidak langsung mengaminkan ucapan Keisha. Ia terdiam sejenak sebelum kemudian ia menjawab, “Kita ikutin alur aja ya.”
“Permisi.”
Suara berat milik seorang cowok memecah obrolan Sheyra dan Keisha. Membuat kedua gadis itu langsung menoleh ke arah sumber suara untuk memastikan siapa yang sedang memanggil mereka.
Keisha dan Sheyra sama-sama terkejut ketika melihat Alvaro yang sudah berdiri di samping mereka. Bibir mereka berdua membentuk huruf O seolah tidak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat di depannya. Alvaro? Mengapa cowok itu menghampiri mereka tiba-tiba? Ini adalah pertama kalinya Alvaro menyapa seseorang di dalam kelas. Padahal biasanya cowok itu tidak pernah peduli dengan siapapun.
Belum sempat Keisha dan Sheyra menanyakan maksud kedatangan Alvaro, cowok itu langsung membuka mulutnya. “Anu Shey, boleh gue ngomong sebentar?” ucapnya terlihat canggung.
Sheyra membelalakkan matanya tidak percaya. Sebenarnya ada perlu apa Alvaro dengannya? Sheyra dengan polos menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk, “Hah? Gue?!” Tanyanya memastikan pendengarannya.
Sedangkan Keisha menoleh melihat ke arah Sheyra dengan tatapan tidak percaya. Dalam kepalanya timbul banyak sekali pertanyaan. Sebenarnya ada apa dengan Sheyra dan Alvaro? Apakah mereka dekat dan saling mengenal? Sejak kapan? Kenapa Sheyra tidak pernah bercerita apapun kepadanya?
^^^Bersambung…^^^