NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
​Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Guncangan di Dunia Bela Diri

​Jet pribadi Gulfstream melesat membelah lautan awan, membawa Lin Chen kembali menuju pesisir timur. Di luar jendela, langit mulai merona jingga.

​Lin Chen duduk bersandar di kursi kulit yang mewah, menikmati segelas wine. Di atas meja di hadapannya, tergeletak sebuah cincin giok penyimpan dimensi—barang langka yang ia temukan di brankas Guru Sekte Gunung Hitam, yang kini telah ia pindahkan ke dalam inventaris sistemnya bersama ratusan batang emas dan ramuan spiritual.

​"Sistem," panggil Lin Chen dalam hati. "Waktunya menggunakan poin. Beli buku keterampilan kelas Dewa yang kulihat kemarin."

​[Ding!]

​[Membeli Keterampilan Serangan (Kelas Langit): 'Seni Pedang Roh Pembelah Langit' (Heaven-Severing Spirit Sword Art).]

[Mengurangi 20.000 Poin. Saldo saat ini: 5.000 Poin.]

[Mentransfer pemahaman tingkat Master ke dalam memori Host... Selesai!]

​Seketika, lautan spiritual di benak Lin Chen bergejolak hebat. Ia tidak mendapatkan pedang fisik, melainkan kemampuan untuk memadatkan Qi-nya menjadi bilah pedang spiritual yang tajamnya mampu memotong ruang dan logam padat dari jarak jauh. Dengan fisik Tulang Giok Naga, pasokan Qi dari Giok Penelan Surga, dan kini Seni Pedang Roh bertenaga jarak jauh, Lin Chen praktis tidak memiliki titik buta dalam pertarungan.

​Lin Chen tersenyum tipis. "Sempurna."

​Sementara itu, di Ibukota Jingcheng, ribuan kilometer dari tempat Lin Chen berada.

​Di lantai teratas gedung pencakar langit Grup Lin, seorang pemuda tampan dengan setelan jas putih duduk menyilangkan kaki di kursi direktur utama. Dia adalah Lin Tian, adik tiri Lin Chen yang kini menikmati segala kemewahan yang seharusnya menjadi milik kakaknya.

​Di pangkuannya, duduk seorang wanita cantik nan menggoda. Ye Mei.

​"Sayang, kudengar saham kita di sektor farmasi naik lagi 5% hari ini," bisik Ye Mei manja sambil menyuapkan buah anggur ke mulut Lin Tian.

​Lin Tian tertawa arogan. "Tentu saja. Tanpa si cacat Lin Chen yang sok pintar itu, Keluarga Lin jauh lebih mudah dikendalikan. Kakek dan Ayah sudah sepenuhnya menyerahkan kendali perusahaan kepadaku."

​Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk. Seorang pria berpakaian abu-abu—pengawal rahasia Keluarga Lin—masuk dengan wajah tegang.

​"Tuan Muda, ada laporan darurat dari dunia bela diri bawah tanah," lapor pria itu sambil menunduk. "Tadi malam, Markas Utama Sekte Gunung Hitam di Kunlun rata dengan tanah. Guru Sekte mereka dan seluruh Penatua tewas dibantai."

​Tangan Lin Tian yang sedang membelai pinggang Ye Mei tiba-tiba berhenti. Matanya melebar. "Sekte Gunung Hitam? Bukankah mereka memiliki ahli Tahap Akhir Tingkat Bumi? Siapa yang melakukannya? Apakah militer turun tangan?"

​"T-Tidak, Tuan Muda. Menurut saksi mata dari murid sekte luar yang melarikan diri, pelakunya hanya satu orang. Seorang pemuda berusia awal dua puluhan." Pengawal itu menelan ludah. "Berdasarkan desas-desus, pemuda itu berasal dari Kota Donghai, Provinsi Jiangnan... dan marganya adalah Lin."

​Brak!

​Lin Tian secara refleks menggebrak meja hingga Ye Mei terlonjak kaget.

​"Marga Lin?! Dari Donghai?!" Napas Lin Tian memburu, namun sedetik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata. "Hahahaha! Kau mau bilang si cacat Lin Chen yang meridiannya kucabut itu tiba-tiba menjadi Dewa Perang dan membantai Sekte Gunung Hitam?!"

​Pengawal itu buru-buru menggeleng. "Tentu saja tidak mungkin, Tuan Muda! Lin Chen sudah menjadi orang cacat total. Tidak ada satupun obat di dunia ini yang bisa menyambung kembali meridian yang hancur. Kami menduga pemuda bermarga Lin ini adalah jenius tersembunyi dari keluarga kuno lain yang kebetulan bersembunyi di Donghai."

​Lin Tian mendengus meremehkan, menyandarkan tubuhnya kembali. "Tentu saja itu bukan dia. Pemuda jenius ini pasti menggunakan nama palsu. Tapi, Donghai adalah tempat pembuangan anjing cacat itu. Aku tidak ingin ada variabel yang mengganggu."

​Lin Tian menatap pengawalnya dengan dingin. "Kirim orang ke Provinsi Jiangnan. Selidiki siapa sebenarnya pemuda jenius bermarga Lin ini. Dan saat kalian di sana... sekalian periksa keadaan kakak tiriku yang menyedihkan itu. Jika dia masih hidup dan menjadi parasit di Keluarga Su, buat dia mati dalam 'kecelakaan' lalu lintas. Aku bosan mendengar namanya."

​"Baik, Tuan Muda!"

​Kota Donghai, Pukul 15.00 sore.

​Jet Lin Chen mendarat dengan mulus. Begitu ia keluar dari bandara, Ah Fei sudah menunggunya dengan mobil van hitam.

​"Tuan Muda! Selamat datang kembali," sapa Ah Fei dengan penuh semangat. Jika dulu ia hanya tunduk karena paksaan sistem, kini ia memuja Lin Chen layaknya dewa. Berita tentang hancurnya Sekte Gunung Hitam telah menyebar layaknya api di dunia bawah tanah, dan Ah Fei tahu persis siapa pelakunya.

​Tuan mudanya baru saja pergi jalan-jalan santai, dan sebuah sekte raksasa musnah!

​"Langsung ke markas pelabuhan," perintah Lin Chen.

​Setibanya di gudang pelabuhan yang kini telah direnovasi menjadi pusat pelatihan elit Paviliun Naga, Lin Chen disambut oleh Paman Bai dan delapan belas anggota lainnya.

​Lin Chen mengayunkan tangannya, dan puluhan kotak kayu berisi pil herbal tingkat tinggi, manual seni bela diri, dan senjata kuno (hasil jarahan dari Gunung Hitam) menumpuk di lantai beton.

​Mata Paman Bai terbelalak. "I-Ini... pil spiritual?! Sebanyak ini?!"

​"Gunakan semuanya," ucap Lin Chen datar. "Aku tidak memelihara orang lemah. Dalam waktu setengah bulan, aku ingin delapan belas pengawal ini menembus Kelas Bumi Awal. Paman Bai, dengan pil-pil ini, fisik dan meridianmu akan segera mencapai Kelas Bumi Puncak."

​Seluruh anggota Paviliun Naga berlutut dengan mata berkaca-kaca. Di dunia bela diri, pil spiritual adalah benda yang diperebutkan dengan darah, namun Lin Chen memberikannya kepada mereka seperti membagikan permen!

​"Kami bersumpah setia kepada Tuan Muda Lin hingga napas terakhir!" raung mereka serempak.

​Lin Chen mengangguk puas lalu meninggalkan markas. Pondasi kekuatannya telah diletakkan. Sekarang, waktunya menemui istrinya.

​Gedung Grup Su.

​Ketika Lin Chen membuka pintu ruang CEO, ia disambut oleh aroma kopi dan parfum mawar yang akrab. Su Ruoxue sedang duduk di balik meja, membaca dokumen dengan kening berkerut.

​Begitu melihat Lin Chen, mata Su Ruoxue langsung berbinar. Wajahnya yang tegang perlahan rileks, dan seulas senyum terlukis di bibir merahnya. Ia meletakkan penanya dan langsung berlari kecil memeluk Lin Chen.

​"Kau kembali," bisik Su Ruoxue, menghirup aroma tubuh Lin Chen seolah mencari ketenangan. Sejak malam penyerangan itu, Su Ruoxue merasa tak bisa jauh dari pria ini.

​Lin Chen membalas pelukan itu, membelai punggungnya dengan lembut. "Tentu saja. Aku sudah berjanji, bukan? Semuanya sudah beres. Tidak akan ada lagi orang dari sekte pegunungan itu yang mengganggu kita."

​Su Ruoxue melepaskan pelukannya, menatap mata Lin Chen dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih... Tapi Lin Chen, kali ini giliran urusan bisnis yang membuatku pusing."

​Lin Chen mengangkat alisnya, berjalan bersama Su Ruoxue kembali ke meja kerjanya. "Apa yang terjadi? Bukankah Embun Surgawi sudah menguasai pasar Donghai?"

​"Justru itu masalahnya," desah Su Ruoxue, menyerahkan sebuah laporan analisis pasar. "Donghai terlalu kecil. Kapasitas produksi kita meledak, namun jaringan distribusi kita tertahan di perbatasan kota. Keluarga-keluarga distributor besar dari Ibukota Provinsi, Kota Jinling, menolak untuk memasukkan barang kita."

​"Menolak? Mengapa mereka menolak uang yang jelas-jelas menguntungkan?" tanya Lin Chen.

​"Karena Konsorsium Medis Jiangnan bermarkas di Jinling," jelas Su Ruoxue. "Mereka memonopoli 80% pasar farmasi dan kosmetik di seluruh provinsi. Ketua Konsorsium, Keluarga Wei, menganggap Embun Surgawi sebagai ancaman. Mereka telah mengeluarkan embargo. Jika kita tidak menembus Jinling, Grup Su tidak akan pernah bisa menjadi perusahaan tingkat provinsi."

​Su Ruoxue menatap Lin Chen penuh harap. "Tiga hari lagi, akan ada Pameran Farmasi dan Lelang Bisnis Jiangnan di Kota Jinling. Semua raksasa industri provinsi akan berkumpul di sana. Aku ingin pergi ke Jinling dan menantang monopoli Keluarga Wei secara langsung. Apakah... apakah kau mau menemaniku?"

​Melihat sorot mata Su Ruoxue yang berapi-api, Lin Chen tersenyum bangga. Istrinya ini memang bukan wanita lemah yang hanya bisa berlindung. Ia memiliki ambisi dan kecerdasan seorang ratu bisnis.

​Tepat saat Lin Chen hendak mengiyakan, sebuah notifikasi merah berkedip di panel pandangan sistemnya.

​[Ding!]

​[Radar Harta Karun Aktif!]

[Mendeteksi lokasi Pecahan 'Giok Penelan Surga' yang kedua.]

[Lokasi: Kota Jinling, Provinsi Jiangnan (Tepat di Pusat Lelang Pameran Farmasi Jiangnan).]

​Mata Lin Chen memancarkan secercah cahaya tajam. Kebetulan yang sangat sempurna.

​"Aku tidak hanya akan menemanimu, Ruoxue," ucap Lin Chen sambil menggenggam tangan istrinya. Senyum tiran yang biasa ia tunjukkan pada musuh-musuhnya kini terukir di wajahnya. "Kita akan berangkat ke Jinling besok. Konsorsium Keluarga Wei ingin memblokir jalan kita? Maka kita akan menghancurkan gerbang utama mereka dan menjadikan Jinling sebagai wilayah kekuasaan kita."

1
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff 😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini 😎 ☕☕☕
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken..😎
Arinto Ario Triharyanto
yoiii😎
Arinto Ario Triharyanto
yoi😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!