Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dimas
Alya menatap pesan dari Sarah itu lama, jantungnya berdebar dengan firasat yang tidak enak. Ia membalas cepat: *Ada apa? Bisa cerita sekarang?*
Balasan Sarah datang beberapa menit kemudian: *Telepon aja, ini nggak enak kalau lewat chat.*
Alya segera meneleponnya begitu sampai di apartemennya, masih mengenakan pakaian kerja, terlalu gelisah untuk berganti baju lebih dulu.
"Sarah, ada apa?" tanya Alya begitu panggilan tersambung.
"Oke, jadi," Sarah memulai, suaranya terdengar hati-hati, "temanku di HR cerita kalau Dimas itu sebenarnya keluar dari perusahaan lamanya bukan karena resign biasa. Dia dikeluarkan karena masalah dengan rekan kerja perempuan lain di sana—katanya dia terus-terusan deketin perempuan itu meski udah ditolak berkali-kali, sampai akhirnya perusahaan lama dia terima laporan resmi soal itu."
Alya merasa perutnya mual mendengar itu. "Kamu yakin ini bukan gosip doang?"
"Temanku dapet ini dari referensi background check yang HR kita lakuin waktu proses rekrutmen Dimas," jawab Sarah. "Tapi anehnya, laporan itu nggak sampai ke atasan yang nentuin keputusan rekrutmen akhir—kayak ada yang sengaja nutupin informasi ini."
"Siapa yang mungkin nutupin?" tanya Alya, pikirannya berputar mencoba mencari benang merah.
"Aku nggak tau pasti," jawab Sarah. "Tapi aku pikir kamu harus tau ini secepatnya, terutama kalau kalian sering kerja berdua sampai malam kayak yang aku denger belakangan ini."
Alya menutup matanya, mengingat kembali kejadian malam itu—Dimas yang menyatakan perasaannya, caranya menatap Alya dengan intensitas yang mulai terasa tidak nyaman. "Makasih udah cerita, Sarah. Aku bakal cari tau lebih lanjut."
---
Keesokan paginya, Alya memutuskan untuk berbicara langsung dengan bagian HR, mencoba mencari kebenaran di balik cerita yang disampaikan Sarah tanpa membuat kehebohan yang tidak perlu. Ia menemui Bu Retno, kepala HR yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan itu, dengan alasan formal ingin menanyakan proses rekrutmen tim barunya.
"Bu Retno, saya ingin tanya soal proses rekrutmen Dimas Aditya," kata Alya hati-hati. "Apa ada catatan khusus dari perusahaan sebelumnya soal dia?"
Bu Retno tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, matanya sekilas menunjukkan kegugupan sebelum kembali ke ekspresi profesional. "Kenapa kamu tanya soal itu, Alya?"
"Saya cuma ingin memastikan tim saya dalam kondisi yang baik," jawab Alya, mencoba terdengar netral.
Bu Retno terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya menghela napas. "Sebenarnya, ada laporan dari perusahaan sebelumnya soal masalah perilaku Dimas terhadap rekan kerja perempuan. Tapi saya diminta untuk tidak menyertakan itu dalam laporan akhir rekrutmen."
Alya merasa jantungnya berdegup kencang. "Diminta oleh siapa?"
Bu Retno tampak ragu, matanya melirik ke pintu seolah khawatir seseorang bisa mendengar. "Pak Surya," katanya akhirnya, pelan. "Katanya kompetensi Dimas terlalu bagus untuk dilewatkan hanya karena satu insiden yang belum tentu terbukti sepenuhnya benar."
Alya terdiam, mencoba mencerna informasi itu. Pak Surya, direktur senior yang baru saja mempromosikannya, ternyata sengaja menyembunyikan informasi penting demi merekrut seseorang yang berpotensi berbahaya bagi timnya sendiri.
"Terima kasih, Bu Retno," kata Alya akhirnya. "Saya harap informasi ini tetap di antara kita untuk sementara, sampai saya tau harus bagaimana menanganinya."
---
Sore itu, Alya menceritakan semuanya kepada Raka, yang mendengarkan dengan wajah yang semakin tegang seiring cerita berkembang.
"Jadi Pak Surya tau soal ini dari awal dan tetap merekrutnya?" tanya Raka, suaranya penuh kemarahan yang ditahan. "Itu artinya dia menempatkan kamu dan tim kamu dalam risiko tanpa memberi tau apa pun."
"Aku juga marah," jawab Alya, "tapi aku nggak tau harus ngapain sekarang. Kalau aku laporin ini secara resmi, bisa jadi masalah besar—baik buat Dimas, buat Pak Surya, bahkan mungkin buat posisi aku sendiri, mengingat aku baru aja dipromosikan sama Pak Surya."
Raka menggenggam tangan Alya, mencoba menenangkannya. "Kamu nggak salah apa-apa di sini, Alya. Yang salah itu Dimas dan Pak Surya yang nutupin informasi penting ini. Kamu harus laporin, demi keamanan kamu sendiri dan tim kamu."
"Aku takut," aku Alya jujur. "Takut kalau ini bakal bikin posisi aku goyah, padahal aku baru aja dapet kepercayaan besar ini."
"Aku akan dukung kamu, apa pun keputusan yang kamu ambil," jawab Raka. "Tapi aku juga nggak bisa diam kalau kamu dalam bahaya, Alya. Keselamatan kamu jauh lebih penting dari jabatan apa pun."
---
Malam itu, saat Alya masih mempertimbangkan langkah apa yang harus diambil, ponselnya bergetar dengan pesan dari Dimas: *Alya, bisa ketemu besok? Aku pengen jelasin sesuatu soal masa lalu aku, sebelum kamu denger versi yang salah dari orang lain.*
Alya menatap pesan itu lama, tidak yakin apakah harus merespons atau mengabaikannya sepenuhnya. Tapi rasa penasaran—dan kebutuhan untuk memahami situasi ini sepenuhnya sebelum mengambil keputusan besar—membuatnya akhirnya mengetik balasan singkat:
*Oke. Tapi di kantor, jam kerja. Bukan berdua aja.*
Balasan Dimas datang cepat, terasa seperti kelegaan yang tertulis di antara kata-katanya: *Oke. Makasih udah mau dengerin.*
Namun, keesokan paginya, sebelum pertemuan itu sempat terjadi, sebuah keributan besar sudah menunggu di kantor—rupanya, laporan HR yang seharusnya rahasia soal masa lalu Dimas entah bagaimana caranya sudah bocor ke seluruh divisi, memicu gosip yang menyebar cepat di antara karyawan, dan membuat Pak Surya memanggil Alya ke ruangannya dengan wajah yang jelas menyimpan amarah.
"Alya," kata Pak Surya begitu Alya memasuki ruangannya, "saya perlu penjelasan. Apakah kamu yang membocorkan laporan HR soal Dimas ke seluruh kantor?"