"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Kembalinya Hak Yang Dirampas
"Ini... ada apa ini?" Tanya Ratih kaget saat tiba-tiba cucu sahabatnya itu mengaku punya hubungan dengan Humaira yang sebenarnya adalah cucunya tapi mereka mengakui kalau hanya pekerja biasa.
"Apa kurang jelas? Humaira Zahara adalah kekasih saya!" jawab Alva penuh penekanan.
Rahang Zidan mengeras penuh emosi. Matanya memerah, bahkan urat-urat di dahinya menonjol berusaha menahan diri agar tidak meledak melihat pengacara 31 tahun itu mengaku istrinya sebagai kekasih, dan terang-terangan seperti sedang menantangnya.
Melodi jelas sangat tidak terima. Ia sudah menyusun rencana sempurna untuk mempermalukan Humaira malam ini. Tapi yang terjadi justru benar-benar di luar dugaannya!
"Pak Alva..." ujar Melodi berusaha menyadarkan pria itu. "Mungkin Pak Alva salah orang? Coba lihat dengan benar, siapa yang ada di hadapan Pak Alva itu!"
Alva melirik Melodi.
"Kenapa? Apa yang salah?" sahut Alva dingin.
"Tentu saja salah! Dia itu cuma anak dari wanita simpanan! Sangat jauh bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan Anda yang terpandang!" cecar Melodi tanpa tahu malu, berusaha keras merusak citra Humaira di mata Alva.
Alva tersenyum tipis. Ia berpaling dan menatap Humaira dengan lembut. Perlahan, tangannya terangkat ke wajah Humaira, jemarinya yang hangat menyapu halus beberapa helai rambut wanita itu yang terjatuh ke pipinya, merapikannya.
Perlakuan pria itu membuat Humaira menegang. Ia menatap mata tajam pria itu seolah meminta untuk menghentikan kepura-puraan ini.
Namun, Alva tak peduli. Dia sengaja membuat Zidan kebakaran dengan emosinya sendiri. Karena Alva tahu, kalau Zidan itu sudah mencintai Humaira. Hanya saja Zidan masih belum sepenuhnya menyadari perasaannya sendiri.
Zidan yang menyaksikan pemandangan itu mengepalkan tangannya. Berani sekali dia menyentuh istriku! Batin Zidan.
"Ma," panggil Alva pendek.
"Hmm?" sahut Rara menanggapi putranya.
"Mama dengar kan apa yang dibilang wanita itu?" Alva menggantung ucapannya sejenak.
Pandangan matanya tetap pada Humaira. "Dia bilang, calon istriku ini... anak haram. Wanita miskin yang terlahir dari rahim wanita simpanan. Juga tidak selevel denganku." Alva menoleh pelan ke arah ibunya. "Menurut Mama bagaimana?"
Rara menatap maut ke arah Melodi. "Kamu tidak berhak menentukan siapa pun yang menjadi menantu saya!"
"Kalau pun dia dari kalangan bawah, setidaknya, dia jauh lebih terhormat daripada orang yang mengaku berpendidikan dan terhormat, tapi kata-katanya hanya pantas diutarakan pada hewan di kebun binatang!"
Skakmat!
Kata-kata pedas Rara menghantam telak tepat di wajah Melodi dan Ratih, sehingga mereka menahan malu yang luar biasa.
Alva menoleh ke arah Zidan dan menatap pria itu tanpa berkedip.
"Pak Direktur, tolong mulut istrinya disekolahkan. Percuma belajar tinggi-tinggi kalau tidak tahu cara beradab," tegur Alva dengan nada datar menghancurkan.
Zidan semakin emosi melihat tatapan Alva yang penuh makna.
"Dan saya beri peringatan, mulai hari ini jangan ada lagi yang berani bilang Humaira ini anak haram... karena kalian sama sekali tidak punya bukti untuk itu," lanjut Alva menyapu pandangan ke arah Melodi, Ratih, dan juga Lina.
"Saya tidak akan segan-segan membawa siapa pun yang menghinanya ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik."
Glek!
Melodi menelan salivanya.
"Humaira lahir tepat setahun 2 bulan setelah kedua orang tuanya resmi menikah. Apakah kalian berpikir ibunya mengandung selama 1 tahun 5 bulan? Atau lebih? Di mana logikanya?"
Skakmat!
Alva membungkam semua mulut kotor mereka yang tadi terus memojokkan Humaira.
Alva kemudian menatap kembali ke dalam manik mata Zidan, memberikan pukulan terakhir yang meremukkan harga diri pria itu.
"Sebagai suami, kau adalah suami yang gagal, Direktur Zidan. Gagal dari semuanya," ujar Alva tanpa segan mengkritik Zidan di depan umum.
DEG!
Dada Zidan seperti diremas mendengar setiap tuturan kata dari Alva.
Maharani juga tampak kecewa. Ia menghela napas lalu melihat sahabatnya, Ratih.
Jika tadi suara Maharani terdengar lembut dan berusaha meredam emosi putrinya, kali ini suaranya bahkan berubah tegas.
"Ratih," panggil Maharani. "Kita sudah bersahabat selama puluhan tahun. Aku selalu menghormatimu karena kita memang berteman dekat sejak remaja. Tapi tolong, putrimu itu diajari cara menjaga mulutnya!"
"Aku tidak peduli Humaira itu dari kalangan bawah atau seperti yang kalian katakan. Kalau cucuku menyukainya, maka aku dan seluruh ahli keluarga Dirgantara akan tetap menyukai Humaira! Tidak ada yang boleh mengatakan tidak. Harus iya!" lanjut Maharani.
"Untuk terakhir kalinya aku tegaskan, jangan pernah menghina calon menantu cucuku lagi! Aku tidak akan segan-segan memutuskan persahabatan kita jika hal seperti ini terjadi lagi nanti!"
Ratih sampai tertegun tak percaya mendengar ucapan Maharani.
Sunyi...
Tak ada lagi yang bersuara di aula mewah itu.
"Rara, ayo kita pulang," ucap Maharani dengan nada kecewa atas sikap Ratih dan putrinya.
Rara melirik ke arah Melodi, mengukir senyum sinis sebelum akhirnya melangkah anggun menyusul ibunya, meninggalkan pesta yang bahkan belum sempat dimulai secara resmi.
Ratih terdiam seribu bahasa. Tak menyangka bahwa acara yang sudah dia rancang dari jauh-jauh hari harus berujung kacau dan berantakan seperti itu. Jangankan membela diri, untuk menahan Maharani pergi pun ia sudah tidak punya keberanian lagi.
Yanti yang melihat semuanya, mengusap air mata haru yang menetes pelan di pipinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada keluarga berkuasa yang benar-benar berdiri pasang badan membela putrinya—bahkan sampai membuat para penindas itu tak berkutik sama sekali.
Terima kasih Keluarga Dirgantara... Kalian begitu baik pada putriku, batin Yanti penuh rasa syukur.
"Ayo, Sayang..." ucap Alva menyembunyikan senyum puasnya saat menangkap kilat cemburu yang membakar mata Zidan.
Tanpa menunggu lama, Alva langsung membawa Humaira keluar dari rumah tersebut.
Melihat istrinya dibawa pergi, Zidan refleks bergerak hendak menyusul. Namun, Melodi dengan cepat menghadang jalannya dan menahan lengan pria itu.
"Mas mau ke mana?! Mas juga mau mempermalukan aku di depan semua orang?!" cetus Melodi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Zidan yang melihat Melodi mulai meneteskan air mata, akhirnya dia tak berdaya. Memilih mengurungkan niatnya untuk mengejar Humaira.
Di luar, Alva membawa Humaira menuju mobilnya. Setibanya di samping pintu, Humaira yang masih merasa bingung perlahan menarik tangannya.
"Tidak usah bersandiwara lagi, Pak Alva," ucap Humaira, masih terngiang sandiwara mesra di dalam aula tadi.
Tak menimpali perkataan itu, Alva langsung membukakan pintu mobil dan memberi isyarat padanya. "Masuklah."
Humaira mengerutkan keningnya. "Kita mau ke mana? Saya tidak bisa ikut Anda, Pak," tolak Humaira.
"Masuklah," ulang Alva tegas, seolah tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.
"Tidak, Pak. Saya tidak bisa—"
"Saya tidak mungkin memperkosa seorang wanita hamil. Jadi masuklah," potong Alva menatapnya.
Wajah Humaira bersemu merah mendengar perkataan ceplos-ceplos Alva yang begitu blak-blakan. Ia tidak menyangka, di balik sikap dingin dan wibawanya, pria itu ternyata memiliki sifat ceplos-ceplos yang sama seperti ibunya, Rara!
Mau tidak mau, dengan wajah merona, Humaira terpaksa menuruti perintah Alva dan masuk ke dalam mobil.
Alva ikut masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, lalu menginjak gas meninggalkan pekarangan rumah Ratih yang penuh drama.
Setelah berkendara cukup jauh, Alva meminggirkan mobilnya dan berhenti di tepi jalan yang agak lengang.
Humaira langsung was-was. Raut ketakutan terpancar jelas dari wajahnya karena dia tidak terlalu mengenal sosok pria di sampingnya itu, takut dia melakukan yang tidak-tidak.
Namun, saat teringat kembali bahwa Alva adalah seorang pengacara terpandang—putra dari Rara Dirgantara—perasaan cemas itu perlahan mereda. Mana mungkin seorang pengacara terhormat bertindak macam-macam? Pikir Humaira berusaha tenang.
"K-kita mau apa disini, Pak?" Tanya Humaira.
Alva meraih sebuah dokumen dari kursi penumpang belakang, lalu menyodorkan pada wanita disampingnya.
Humaira melirik berkas tersebut, lalu mengalihkan pandangannya pada Alva, bingung.
"Ini... apa, Pak?"
"Bukalah," jawab Alva singkat.
Humaira meraih berkas itu. Ia pun mulai membukanya.
"Sertifikat rumah Ibu?" Humaira langsung melihat curiga ke arah Alva saat sertifikat itu ada ditangannya.
Perlahan Humaira menarik salah satu sudut bibirnya. "Saya sudah menduga, kebaikan Pak Alva tadi pasti mahal harganya," ucap Humaira terdengar getir tapi dengan mulut tersenyum.
"Kau terlalu berburuk sangka," sahut Alva tenang, menatap Humaira tanpa berkedip dengan sepasang mata tajamnya yang sulit dibaca.
Humaira menggeleng pelan. "Anda tahu, Pak? Dari dulu sampai sekarang, orang-orang yang mendekati saya itu cuman untuk mengambil keuntungan. Dan Anda adalah orang yang kesekian kalinya."
Tanpa menunggu jawaban dari pria di sampingnya, Humaira menyimpan kembali sertifikat itu dimobil Alva.
"Saya turun di sini saja, Pak," tambah Humaira, berniat membuka pintu mobil untuk segera keluar dari sana.
"20 miliar rupiah," tutur Alva tiba-tiba.
Humaira bingung, menoleh kembali ke Alva. "Apa?"
"Tarif saya sebagai kepala firma hukum untuk menangani satu kasus korporasi besar paling sedikit 20 miliar rupiah," ujar Alva dengan nada datar menatap Humaira intens.
"Waktu saya sangat mahal, Humaira. Menurutmu, kenapa saya harus membuang-buang waktu berharga saya hanya untuk memanfaatkan seorang wanita hamil?"
DEG!!
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂