Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendekat Perlahan
"Itu Mas Adrian, kakaknya Nia" terang Kania.
Aku hanya membalas singkat dan agak canggung, "Oh, iya..."
Celine mendekat dan bertanya penasaran, "Dia sekolah di mana, Nia?"
"Dia udah kuliah, tapi ya gitu deh... bolos terus. Bunda aja udah capek sama dia," jawab Kania sambil menggeleng. "Eh, masuk yuk!"
Dari dalam kamar, Dea memanggil, "Masuk sini! Kita mau pakai lagu apa dan temanya gimana?"
Kami masuk lalu berdiskusi. Keputusannya, kami memilih tema perpisahan sahabat dan lagu Semua Tentang Kita dari Peterpan.
"Kita baru aja kumpul, masa lagunya udah tentang perpisahan aja sih?" protes Dini.
"Kalau soal percintaan, kan enggak semua dari kita bisa mendalami. Enggak semuanya pernah pacaran, kan?" sahutku.
"Betul banget!" timpal Irma.
"Yee, itu sih karena lo aja yang kuper, hahaha!" ledek Celine bercanda.
"Kalau soal keluarga gimana, Ser?" tanya Kania.
Aku terpaku sejenak, bingung harus menjawab apa. "Emm... gimana ya..."
"Kan enggak semua orang punya keluarga cemara kayak lo, Nia," celutuk Celine.
Dea menimpali, "Makanya, perpisahan antar sahabat itu pasti semua orang pernah ngerasain. Terutama pas kelulusan SMP kemarin, gue aja masih belum move on."
Di tengah obrolan, Mama Kania datang membawakan nampan berisi gulai ayam dan sebakul nasi hangat.
"Makanan datang! Dihabiskan ya. Kalau nasinya kurang, di dapur masih ada," ujar Mama Kania ramah.
"Yeay! Makasih ya, Tante!" seru Celine penuh semangat.
"Jangan lupa bekas makanannya dibereskan ya. Tante capek, mau istirahat dulu, hehe," pesan beliau.
"Siap, Tante!" jawab kami serempak.
Kami menyantap makanan bersama dengan lahap. Setelah selesai, kami tidak lupa membereskan sisa makanan, mencuci piring, dan mengepel lantai kamar Kania. Setelah itu, kami kembali berdiskusi menentukan puisi yang akan dibacakan. Tak terasa hari semakin sore, dan kami bergegas bersiap untuk pulang.
Saat turun dari lantai atas, aku melihat ayah Kania dan Adrian sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV. Adrian tampaknya tidak terlalu fokus pada siaran TV; jarinya sibuk menari di layar ponsel.
Ayah Kania menyapa kami ramah, "Sudah selesai kerja kelompoknya?"
"Sudah, Om. Kami semua pamit pulang ya. Terima kasih jamuannya, masakan Tante enak banget," jawabku sopan.
Ayah Kania langsung setengah berteriak menuju arah kamar, "Bunda! Kata temannya Nia masakanmu enak. Masak apa kau? Adakah sisa untukku?"
Dari dalam kamar, Mama Kania menjawab santai, "Sudah habis! Salah sendiri tak pulang tepat waktu!"
"Aduh, tak ada untuk kita rupanya. Nasib, nasib... Masak mie instan kita malam ini, Adrian?" tanya ayahnya pada Adrian di sampingnya.
Adrian hanya terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Hangat sekali keluarga Kania ini, batinku.
Bunda Kania keluar kamar dan menghampiri kami. "Sudah mau pulang kalian? Besok ke sini lagi?" tanyanya tersenyum.
"Kayaknya iya, Tante, soalnya tugasnya dikumpulin minggu depan," jawab Dea.
"Ya sudah, besok Tante masakan lagi buat kalian ya."
"Jangan, Tante... Nanti merepotkan," sahutku ragu.
"Lho, kau bilang tadi masakan Tante enak? Kenapa menolak? Kau berbohong?" goda Mama Kania bercanda.
Sontak aku jadi gugup. "Enggak, Tante! Sera cuma takut bikin Tante repot. Kasihan Om sama Mas Adrian, makanannya kami habisin..."
Mama Kania tertawa renyah. "Jangan didengar mereka itu, cuma bercanda! Hahaha."
Kami semua tertawa.
"Ya sudah, kami pamit ya Om, Tante, Mas," pamit Dea mewakili kami.
Sesampainya di rumah, suasana hening menyambutku seperti biasa. Ayah sibuk bekerja diluar kota, ibu selalu berada di toko. Kadang aku merasa kesepian, tapi tak ada yang bisa perbuat.
Aku merebahkan badan di kasur. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku bergegas mandi, lalu membuka laptop untuk mencari referensi puisi tugas Seni Budaya. Karena lama mencari dan tak menemukan yang pas, aku menyerah. Biarlah Dea yang mengurus bagian puisi, toh peranku sudah cukup banyak: memetik gitar sekaligus membaca puisi. Jadi, lebih baik aku mencari kunci gitar lagu Semua Tentang Kita dan mulai berlatih.
Kuambil Robert lalu kupeluk gitar itu. Jariku mulai membentuk kunci G, namun mendadak bayangan Ray melintas di pikiran. Memoriku melayang pada masa-masa bersamanya dulu. Aku rindu bagaimana dia selalu mengantarkanku ke halte sepulang sekolah sebelum kami berpisah naik angkot yang berbeda. Aku rindu tatapannya di luar kelas saat aku sedang belajar. Aku rindu melihatnya bermain basket, lalu menghampiriku di pinggir lapangan hanya untuk meminta minum.
Dia pria yang sangat baik. Aku masih tidak mengerti kenapa waktu itu dia bisa semarah itu tanpa mau memahami keadaanku. Tanpa terasa, air mataku menetes. Aku butuh seseorang yang menemaniku melewati perasaan ini. Aku merindukan Ray. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia bahagia bersama Indah? Apakah dia terlalu sering berlatih basket minggu ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus membayangiku.
Lamunanku terbuyarkan oleh bunyi notifikasi WhatsApp dari Dea.
“Sera, gue udah dapet puisinya nih. Lo ada gitar kan? Besok bawa ya, biar kita langsung praktik di rumah Nia.”
Aku mengetik balasan singkat:
“Oke deh!”
Kusimpan Robert ke tempatnya, lalu kuputuskan untuk tidur lebih awal.
Keesokan harinya di sekolah, aku datang lebih awal dari biasanya. Tak lama, Dea dan Irma tiba dan langsung menghampiri bangkuku. Dea merogoh tasnya lalu menyodorkan secarik kertas berisi bait-bait puisi.
"Nih, coba deh lo baca. Keren enggak? Gue dapet dari internet. Bu Rani kan bilang enggak harus bikin puisi sendiri, asal cantumkan nama penulisnya," kata Dea.
Aku membaca teks di kertas itu. "Terus ini kenapa enggak ada nama penulisnya, De?"
"Nah, masalahnya di website-nya emang enggak ditulis. Kita tulis Karya Hamba Allah aja kali ya?" usul Dea santai.
Celine yang baru datang tiba-tiba menyela, "Yee, dikata lagi sedekah kali pakai nama Hamba Allah!"
"Iya, coba kalau yang nulis orang Kristen gimana? Karya Anak Bapak dong?" timpal Irma tertawa.
"Udah, mending tulis No Name aja," sahutku menengahi.
"Coba deh lo baca dulu, Ser," pinta Dea.
Aku memandangi kertas itu lalu membacakannya perlahan.
"Sahabat... waktu telah mengantarkan kita pada satu titik pemahaman bahwa di dunia ini tak ada yang abadi... kini saatnya kita harus berjalan sendiri, melangkah mengikuti takdir yang telah tergariskan dalam ruang dan waktu yang berbeda. Ketika kebersamaan menjadi langka, ketika canda tawa begitu berharga... sahabat, semoga waktu tidak membuat kita lupa bahwa kita pernah ada, pernah punya cerita."
"Merinding gue... Ngeri banget suara lo, Sera!" puji Celine.
"Sekarang giliran lo, Dea," ucapku menyodorkan kertas itu.
"Lah, ntar aja gue mah pas di rumah Kania!"
"Alasan aja lu," balasku.
Tak lama, Pak Rahmat masuk ke dalam kelas. Kami bergegas kembali ke bangku masing-masing.
"Kebiasaan si Kania mah, pasti telat," bisik Celine.
Benar saja, beberapa saat kemudian Kania berlari di depan pintu dengan napas terengah-engah. "Pagi, Pak... Maaf saya terlambat," ucapnya meringis.
"Ya sudah, cepat duduk," sahut Pak Rahmat.
Dea mencolek Kania dari belakang. "Kebiasaan banget lo telat mulu, heran."
"Biasalah... sopir pribadi gue susah banget dibanguninnya," gerutu Kania pelan sambil mengusap keringat. Aku tahu, yang dimaksud sopir pribadi tentu saja Adrian.
Sepulang sekolah, kami berenam pergi bersama menuju rumah Kania. Mama Kania menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami langsung naik ke lantai atas.
Di dalam kamar, Kania mengamati gitarku yang bersandar di dinding. "Ser, ini di gitar kamu kenapa ada ukiran huruf R?" tanyanya penasaran.
"Iya, gitar ini namanya Robert," jawabku pelan.
"Gitar aja lo namain, Ser! Ada-ada aja," celetuk Dea.
Aku hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu bahwa huruf R itu dibuat oleh Ray dulu. Ray bilang, agar setiap kali aku memainkan Robert, aku akan selalu mengingatnya. Dan kenyataannya emang begitu sampai sekarang.
"Nia mau denger Sera main gitar dong! Lagunya kayak gimana?" pinta Kania.
Aku memeluk Robert lalu memetik senarnya perlahan, membawakan nada lagu Semua Tentang Kita. Semuanya mendengarkan dengan tenang. Begitu petikan terakhir selesai, mereka kompak bertepuk tangan.
"Keren, Sera!" puji Dini.
"Coba sekarang lo mainin sambil baca puisinya," usul Celine.
"Ogah! Masa borongan semuanya di gue!" protesku disambut tawa yang lain.
"Yaudah, lo mainin gitarnya, terus kita nyanyi. Nanti kita cari selipan yang pas buat masukin puisinya," timpal Dea.
Aku kembali memetik Robert, dan teman-temanku mulai bernyanyi menyatukan suara.
Di tengah-tengah latihan, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Adrian melongokkan kepalanya ke dalam.
"Dek, pinjem charger dong. Charger Mas kendor nih," katanya santai.
"Ish! Mas bukannya ketok pintu dulu, enggak sopan!" omel Kania.
"Iya, maaf-maaf. Yaudah mana, buruan," sahut Adrian.
Kania mengambil charger di mejanya lalu menyodorkannya. "Kalau udah selesai balikin ke sini lagi ya! Barang yang dipinjam wajib dikembalikan!"
"Iya, bawel," balas Adrian.
Sebelum berbalik pergi, pandangan Adrian teralih padaku. Aku tersenyum tipis, dan dia membalas senyuman itu. Kami sempat berpandangan sejenak sebelum Kania memotong momen itu.
"Udah sana pergi!" usir Kania.
"Iya, iya, rewel," kekeh Adrian lalu menutup pintu kamar.
Celine langsung merapat ke arah Kania. "Kakak lo cakep juga, Nia. Udah punya pacar belum?"
"Udah! Dan pacarnya banyak. Enggak ngerti deh, sok kecakepan emang dia mah," jawab Kania mendengus.
"Ya tapi emang cakep, sih," akuis Dini jujur.
Dea lalu bertanya, "Tapi kok lo manggilnya '
Mas sih, Nia? Gue denger orang tua lo bahasanya beda deh, bukan orang sini kan?"
"Ayahku asli Medan, Bundaku Sunda," terang Kania.
"Terus kenapa Mas Adrian dipanggil '
Mas?" tanyaku ikut penasaran.
"Soalnya ibunya Mas Adrian itu orang Jogja. Nia sama Mas Adrian beda ibu dan ayah. Mamanya Mas Adrian meninggal pas Mas Adrian umur 8 atau 7 tahun, terus Ayah nikah lagi sama Bundaku. Gitu..."
Kami semua mengangguk paham.
"Keluarga lo rame ya, semua budaya ada! Hahaha," timpal Irma.
Tak lama kemudian, mama Kania masuk membawakan hidangan makan siang, ayam goreng hangat lengkap dengan sambal dadak khas Sunda yang langsung menggugah selera kami semua.
Selesai makan, kami melanjutkan kerja kelompok. Posisi pembacaan puisi pun berhasil kami tentukan. Kerja kelompok hari itu tak berlangsung lama; sekitar pukul empat sore, kami sudah bergegas pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya adalah hari Jumat dan kebetulan tanggal merah, jadi sekolah libur. Aku bangun pagi lalu bergegas mandi. Suasana rumah tetap sepi seperti biasa. Ayah memang jarang pulang, kadang tiga bulan sekali, kadang enam bulan sekali. Dan kalaupun pulang, itu hanya untuk bertengkar dengan Ibu. Sementara Ibu berangkat ke toko sejak jam lima pagi dan baru pulang larut malam.
Selesai mandi, aku menggoreng telur ceplok dan sosis untuk sarapan. Sambil duduk menyantapnya di meja makan, aku memandangi sudut-sudut rumah. Kenapa tempat ini selalu terasa begitu sepi?
Selesai makan, kucuci piring bekas pakaiku lalu kembali mengurung diri di kamar. Kubuka ponselku, dan mendapati sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
“Hai, Sera...”
Siapa ini? gumamku bingung.
“Ini siapa, ya? Maaf,” balasku ragu.
Tak butuh waktu lama, balasan pun masuk.
“Ini Adrian, kakaknya Kania.”
Aku terbelalak kaget. Kok bisa? Ada perlu apa dia menghubungiku? pikirku bertanya-tanya.
Dengan jemari sedikit gemetar, aku mengetik balasan.
“Oh, hai Mas Adrian! Ada perlu apa sama Sera, ya?”
“Kaku amat, Ser. Panggil Adrian aja. Enggak ada apa-apa, cuma pengin kenal aja sama Sera,” balas Adrian cepat.
Wajahku mendadak terasa hangat. Aku tersipu malu menatap layar ponsel.
“Nggak mau, Mas, nggak sopan. Nggak apa-apa kan kalau dipanggil Mas aja?”
“Senyaman kamu aja deh. Btw, hari ini ada acara ke mana?”
“Nggak ada acara, Mas. Di rumah aja,” balasku sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Suka kopi nggak? Ngopi yuk! Mas ada kafe langganan, tempatnya seru. Kalau mau, Mas jemput sekarang. Share lock rumah Sera ya.”
Jantungku mendadak berdegup kencang. Kaget, panik, dan bingung harus membalas apa. Namun, akhirnya jemariku mengetik balasan juga.
“Ayok! Sera siap-siap sebentar ya,” tulisku sambil menyertakan lokasi rumah.
“Oke, Mas jalan sekarang ya.”
“Hati-hati di jalan, Mas.”
Aku langsung melompat dari kasur dan membongkar isi lemari. Kebingungan melanda, aku takut salah kostum. Beberapa kali aku mencoba baju dan mematut diri di depan cermin. Kenapa tiba-tiba aku sejantung ini? Kenapa aku begitu grogi hanya untuk pergi dengannya?
Sampai akhirnya, aku memutuskan memakai kaos polos biasa yang dipadukan dengan celana jins denim. Baru saja selesai menyisir rambut, suara klakson motor terdengar menyapa dari luar rumah.
Waduh, Mas Adrian udah sampai! batinku berseru panik.