Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Dipeluk Kegelapan
Kegelapan pekat menyelimuti laboratorium komputer dalam sekejap mata. Gemuruh letusan senjata api dari pelataran bawah seolah menghantam tepat di rongga dada Cassandra.
Napasnya berhenti berembus. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas dan gemetar hebat.
"Narendra!" jerit Cassandra pelan di dalam hati, memeluk dadanya sendiri yang mendadak terasa begitu hampa.
Ia menatap layar ponselnya yang kini menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam ruangan. Rekaman kamera pengawas area gerbang mendadak terputus karena terputusnya arus listrik utama. Hanya ada keheningan mencekam yang menyiksa dari arah pelataran. Tidak ada lagi teriakan Baskoro, tidak ada pula suara pergerakan tim SWAT.
Cassandra tahu ia harus mematuhi instruksi Narendra untuk melarikan diri lewat pintu evakuasi belakang. Namun, kakinya menolak untuk melangkah menjauhi arah bahaya.
"Gue enggak bisa tinggalkan lu sendirian di bawah, Ren," bisik Cassandra penuh tekad.
Ia menyalakan senter ponselnya, lalu berlari keluar dari laboratorium komputer. Langkah kakinya memecah kegelapan koridor lantai tiga yang sunyi dan berkabut.
Rintik hujan yang jatuh dari atap yang bocor membasahi seragamnya, saat ia menuruni tangga darurat. Setiap pemicu langkahnya diiringi oleh detak jantung yang berdebar kencang.
Ketika Cassandra sampai di lorong lantai dasar dekat pintu keluar belakang, suasana sangat sepi. Bau hangus dan aroma bensin tercium menyengat dari arah pelataran depan. Ia mengintip dari balik pilar beton gedung utama.
Lampu-lampu darurat dari mobil polisi dan ambulans memantulkan cahaya merah-biru yang berkedip cepat di antara rintik hujan.
Tim SWAT berlaru-larian mengamankan area pelataran dengan senjata lengkap.
Di dekat bus sekolah, sosok Baskoro tampak sudah dilumpuhkan dan ditindih oleh tiga petugas kepolisian ke tanah. Pistol di tangannya telah terlempar jauh ke atas semen yang basah.
Nafas Cassandra memburu saat matanya menyapu seluruh area pelataran.
Beberapa meter dari posisi Baskoro, sosok seorang cowok tergeletak tak bergerak di atas tanah pekarangan yang becek. Pakaian jaket tebalnya ternoda oleh cairan pekat yang membaur bersama air hujan.
"Narendra!" jerit Cassandra pecah, tak lagi peduli pada bahaya di sekitarnya.
Ia berlari menembus hujan gerimis, menerobos garis polisi yang dipasang mengelilingi pelataran. Beberapa petugas sempat berteriak memanggilnya, namun Cassandra terus memacu langkahnya.
Ia luruh berlutut di atas tanah becek persis di samping tubuh Narendra. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh bahu cowok itu.
"Ren... bangun, Ren!" tangis Cassandra pecah di tengah siraman hujan. "Jangan bercanda kayak gini! Lu janji bakal kembali hidup-hidup!"
Cairan merah pekat mengalir dari bagian bahu kiri Narendra, membasahi jaket tebalnya. Peluru Baskoro rupanya sempat menyerempet tubuhnya saat kegelapan mendadak menyelimuti pelataran.
Narendra bergerak pelan, mengerang menahan rasa sakit yang luar biasa di bahunya. Kelopak matanya terbuka perlahan. Ia menatap wajah Cassandra yang tertutup air mata dan guyuran hujan.
Sebuah senyuman tipis nan lemah terukir di bibirnya yang pucat. "Lu... enggak lari lewat pintu belakang, Cas?" bisik Narendra dengan suara parau dan napas tersendat.
"Lu pikir gue bakal lari setelah lu lakuin hal gila ini?!" seru Cassandra seraya meremas jemari Narendra yang terasa dingin. "Lu hampir mati, gila!"
"Tapi lu selamat," balas Narendra pelan, jemarinya membalas genggaman tangan Cassandra dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Dan bokap gue... akhirnya berhenti."
Dua orang petugas medis berlari menghampiri mereka membawa tandu darurat. Mereka dengan cepat memeriksa kondisi bahu Narendra. Lalu memasangkan penyangga kepala.
"Adik mundur sebentar! Kita harus bawa dia ke ambulans sekarang juga!" tegas salah satu petugas medis.
Cassandra terpaksa melepaskan genggaman tangannya, saat tubuh Narendra diangkat ke atas tandu. Ia berjalan cepat mengiringi tandu tersebut hingga masuk ke dalam bagian belakang mobil ambulans.
Narendra dipasangi masker oksigen dan balutan perban ketat di bahunya. Walaupun tubuhnya lemah, tatapan matanya tak pernah lepas dari Cassandra yang duduk di sampingnya.
Sirine ambulans memekik nyaring saat kendaraan itu melaju kencang membelah kegelapan malam menuju Rumah Sakit Cipto.
Pukul 21.00 WIB.
Suasana bangsal perawatan lantai empat rumah sakit terasa begitu tenang. Bau antiseptik menyengat di udara, bercampur dengan suara detak monoton dari monitor jantung di samping tempat tidur.
Narendra berbaring dengan infus terpasang di lengan kanannya dan bahu kiri yang sudah dibalut perban medis tebal. Operasi kecil pembersihan luka tembaknya berjalan sukses tanpa komplikasi berarti.
Cassandra duduk di kursi samping tempat tidur, memegangi segelas teh hangat yang sudah mulai mendingin. Matanya yang sembap menatap profil wajah Narendra yang kini terlihat jauh lebih rileks.
"Kenapa lu tatap gue kayak gitu?" tanya Narendra pelan, memecah keheningan di antara mereka.
Cassandra menarik napas panjang, meletakkan gelas tehnya di atas meja kecil.
"Gue masih marah sama lu," kata Cassandra dengan suara datar namun jujur. "Lu manfaatin gue dari awal, lu jadiin gue umpan, dan lu hampir bikin diri lu sendiri terbunuh."
Narendra menatap langit-langit kamar rumah sakit sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Cassandra.
"Gue layak dapat kemarahan lu, Cas," aku Narendra tulus. "Gue susun skenario itu karena gue terlalu benci sama kejahatan bokap gue. Tapi gue enggak pernah berniat menyakiti lu."
"Tapi lu tetap menyakiti gue, Ren," potong Cassandra pelan. "Lu bikin gue percaya kalau cuma gue yang mainin peran di sini."
"Tapi perasaan gue ke lu bukan peran, Cassandra," tegas Narendra, menatap lurus ke dalam mata cewek itu. "Di antara semua manipulasi dan kebohongan yang gue ciptakan, rasa cinta gue ke lu adalah satu-satunya hal yang paling jujur."
Cassandra terpaku. Ruang bangsal terasa mendadak sangat sunyi. Kata-kata Narendra merangsek masuk ke dalam relung hatinya, meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan yang ia bangun selama tiga bulan terakhir.
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Narendra yang terbebas dari infus.
"Kita berdua sama-sama rusak, Ren," bisik Cassandra pelan. "Kita berdua sama-sama pemanipulasi yang saling menjebak."
"Makanya enggak ada orang lain yang bisa paham kita selain kita berdua," balas Narendra seraya menggenggam erat telapak tangan Cassandra.
Senyuman tipis akhirnya terbit di bibir Cassandra. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa hangat yang nyata kembali mengalir di dalam dadanya. Perang dingin, dendam masa lalu, dan bayang-bayang Baskoro akhirnya telah usai.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan selama beberapa jam.
Pukul 02.00 WIB.
Suasana rumah sakit sudah sangat sepi. Narendra tertidur lelap di atas ranjang akibat efek obat penghilang rasa sakit. Cassandra terkantuk-kantuk di kursi samping, menyandarkan kepalanya di tepi ranjang.
Tiba-tiba, layar ponsel Cassandra yang tergeletak di atas meja menyala terang tanpa suara.
Sebuah panggilan video dari nomor tidak dikenal meretas masuk ke dalam ponselnya, memotong sistem pengunci layar secara otomatis.
Cassandra terbangun kaget oleh radiasi cahaya ponselnya. Ia menggosok matanya yang buram. Lalu meraih ponsel tersebut.
Layar ponselnya menampilkan sebuah ruangan gelap berdinding beton tanpa jendela. Di tengah ruangan tersebut, terikat pada sebuah kursi kayu, sosok seorang wanita setengah baya yang sangat dikenal Cassandra.
Itu adalah ibunya.
Mulut ibunya dilakban hitam erat-erat, dan badannya dililit oleh tali tambang tebal. Di belakang kursi ibunya, berdiri seorang pria berjaket kulit hitam yang wajahnya tertutup topeng taktis.
Pria bertopeng itu memegang sebuah alat picu detonator digital di tangan kanannya, lalu menunjukkannya langsung ke arah kamera ponsel.
Sebuah pesan teks merah berkedip di bagian bawah layar panggilan video.
Pesan: "Lu pikir Baskoro bekerja sendirian, Cassandra? Baskoro cuma pendana. Gue adalah pemilik asli dari seluruh jaringan peretasan keluarga kalian. Bawa Narendra dan seluruh flashdisk enkripsi itu ke dermaga tua dalam waktu tiga jam... atau ibu lu meledak bersama gedung ini."