Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
BAB 18: Pesta Rempah Beracun
[Sudut Pandang: LILA]
Lila tidak pernah menyangka bahwa keahliannya meracik bumbu dapur akan berguna untuk melumpuhkan satu peleton bajak laut.
Malam itu, gudang ikan Baron Zale berubah menjadi arena pesta liar. Para bajak laut bersorak, menenggak ale murah, dan bernyanyi lagu-lagu kotor tentang putri duyung. Namun, di sudut ruangan, para pengawal elit Zale yang menjaga pintu gudang harta karun tidak ikut minum. Mereka berdiri tegak, memegang tombak, mata mereka waspada.
Itu masalah besar. Sura dan Kian tidak bisa mengeluarkan peti emas dari gudang jika penjaganya masih sadar.
"Lila," bisik Sura saat melewati meja Lila. "Buat mereka tidur. Kau punya waktu 15 menit sebelum Zale meminta dokumennya."
Lila menelan ludah. Tangannya yang memegang nampan gelas gemetar. Dia hanyalah anak pedagang rempah yang masuk akademi karena ingin meneruskan toko ayahnya, bukan untuk menjadi mata-mata.
Tapi kemudian dia melihat Kian yang sedang menahan tawa Zale di meja utama, dan Ren yang sedang menyiapkan pena di sudut gelap. Mereka semua bertaruh nyawa. Lila tidak boleh jadi pengecut sendiri.
Lila berjalan menuju dapur darurat. Dia melihat panci besar berisi grog (campuran rum dan air) yang akan disajikan untuk para pengawal.
Lila merogoh saku rahasia di sabuknya. Dia mengeluarkan dua bungkusan bubuk.
Pala Hitam: Dalam dosis kecil, menyedapkan rasa. Dalam dosis besar, menyebabkan kantuk berat.
Bunga Kecubung Kering: Halusinogen ringan yang membuat orang kehilangan fokus.
"Maafkan aku, Ayah," bisik Lila. "Aku menyalahgunakan resep sup keluarga."
Dia menumpahkan kedua bubuk itu ke dalam panci, mengaduknya cepat. Baunya harum dan pedas, menutupi aroma alkohol yang tajam.
Lila membawa nampan berisi gelas-gelas "spesial" itu ke arah para pengawal elit.
"Permisi, Tuan-tuan Perkasa," kata Lila dengan suara dimanis-maniskan, meniru gaya Sura. "Baron Zale memerintahkan saya memberikan Special Reserve ini untuk kalian. Katanya, penjaga terbaik berhak dapat minuman terbaik."
Salah satu pengawal, pria bermata satu, mengendus gelas itu. "Baunya aneh. Seperti... kue jahe?"
Jantung Lila berhenti. "I-itu rempah langka dari Timur! Mahal sekali! Kalau tidak mau, saya kasih ke buaya saja..."
Pengawal itu tertawa. "Sini! Jangan ngambek, Nona Manis."
Mereka mengambil gelas-gelas itu dan menenggaknya sekaligus.
Lila mundur ke bayangan, menghitung detik.
Satu menit... Mereka mulai tertawa lebih keras.
Tiga menit... Mata mereka mulai sayu. Salah satu pengawal mulai berbicara dengan tiang kayu, mengira itu ibunya.
Lima menit... BRUK. Satu per satu, para pengawal elit itu merosot ke lantai, mendengkur keras.
Lila memberi sinyal tangan pada Sura. Jalan menuju harta karun terbuka.
[Sudut Pandang: REN]
Di dalam Ruang Harta (sebuah brankas besi bekas kapal karam), udara terasa sesak.
Hanya ada empat orang di sana: Baron Zale, Kian, Sura, dan Ren.
Zale membuka peti besi di hadapan mereka. Kilauan emas membanjiri ruangan. Itu adalah uang pajak yang dikumpulkan Zale selama lima tahun—yang seharusnya disetor ke kerajaan.
"Tiga puluh ribu koin emas," kata Zale bangga. "Cukup untuk membeli separuh Ostand."
"Dan cukup untuk membuat kepala Anda dipenggal sepuluh kali," sambung Kian tenang. "Tapi dengan surat ini... kepala Anda aman, dan 70% emas ini tetap milik Anda."
Kian memberi kode pada Ren.
Ren maju selangkah. Lututnya lemas, tapi tangannya yang memegang tabung dokumen tetap stabil. Dia meletakkan gulungan "Surat Pembebasan Pajak Kerajaan" di atas meja.
Surat itu adalah karya seni terbaik Ren. Dia menggunakan teknik aging (penuaan) pada kertasnya menggunakan uap teh agar terlihat sudah diterbitkan bulan lalu. Dia meniru tanda tangan Menteri Keuangan dengan presisi mikroskopis.
Zale mengambil gulungan itu. Matanya menyipit curiga. Dia bukan bajak laut bodoh. Dia pernah menjadi Laksamana. Dia tahu seperti apa dokumen resmi terlihat.
Zale meraba kertasnya. "Linen Utara. Bagus."
Dia mendekatkan segel lilin ke hidungnya. "Bau lavender dan lilin lebah. Khas Istana."
Ren menahan napas.
Tiba-tiba, Zale mengambil belati dan menggores sedikit tinta emas di tanda tangan Menteri.
"Tinta emas asli tidak akan luntur jika digores," gumam Zale.
Ren membeku. Dia tahu itu. Itulah sebabnya dia memaksa Sura mencuri cincin emas Kian kemarin malam, meleburnya, dan menjadikannya tinta. Tinta di kertas itu mengandung emas 24 karat asli.
Goresan Zale tidak merusak tintanya. Emas itu berkilau di bawah cahaya obor.
"Asli," simpul Zale. Dia menyeringai lebar. "Kalian benar-benar bajingan korup yang hebat."
Zale menepuk bahu Ren keras sekali sampai Ren hampir terjungkal.
"Baik! Kesepakatan diterima!" seru Zale. "Aku bayar 'biaya administrasi' kalian sebesar 30% dari total pajak. Sisanya milikku!"
Zale menendang satu peti kecil berisi 10.000 koin emas ke arah Sura.
"Ini jatah kalian. Bawa pergi dan katakan pada Hanzor bahwa aku sudah 'membayar lunas' pajaknya dengan surat sakti ini."
Sura dan Kian bertukar pandang cepat.
10.000 koin emas. Itu adalah jumlah tepat yang ditargetkan Raja untuk pajak tahun ini (Raja tidak tahu Zale punya 30.000, Raja hanya menargetkan 10.000).
Secara teknis, mereka berhasil. Zale merasa dia menyuap. Raja merasa dia dibayar pajak. Semua senang.
"Senang berbisnis dengan Anda, Baron," kata Kian, menjabat tangan Zale.
"Bantu kami angkat peti ini," perintah Sura pada Ren.
Mereka bertiga mengangkat peti berat itu keluar dari brankas. Lila sudah menunggu di pintu dengan gerobak dorong.
"Cepat," desis Lila. "Obat tidurnya tidak akan bertahan selamanya. Si Mata Satu mulai mengigau soal memotong kaki orang."
Mereka menaikkan peti itu ke gerobak, menutupinya dengan terpal bau ikan.
"Kita keluar lewat pintu belakang," bisik Kian. "Menuju perahu kecil yang sudah disiapkan Zale untuk 'penyelundup'."
Mereka mendorong gerobak itu secepat mungkin, jantung berpacu. Mereka baru saja melakukan penipuan terbesar di hadapan salah satu orang paling berbahaya di lautan.
Namun, saat mereka baru saja mencapai dermaga belakang...
BOOM! BOOM! BOOM!
Tanah berguncang hebat. Debu berjatuhan dari atap gudang.
Suara sirine meraung di seluruh kota.
"Apa itu?!" teriak Lila panik.
Ren melihat ke arah tembok kota dengan teleskopnya. Wajahnya memucat.
"Bendera Merah," kata Ren. "Hanzor... dia menyerang."
"Apa?!" Sura terkejut. "Kita masih punya waktu dua hari! Kesepakatannya satu minggu!"
"Lysander," geram Kian. "Dia pasti tahu kita berhasil masuk. Dia tidak mau kita keluar membawa uang itu. Dia memerintahkan Hanzor menyerbu sekarang untuk membunuh kita di tengah kekacauan!"
Di kejauhan, gerbang kota hancur berantakan dihantam meriam. Pasukan Iron Wall membanjiri kota seperti semut hitam, membakar rumah-rumah dan membantai siapa saja yang bergerak.
Dari arah gudang, terdengar teriakan murka Baron Zale.
"PENGKHIANAT! MEREKA BEKERJA SAMA DENGAN HANZOR! TANGKAP MEREKA!"
Sura menatap Kian.
Di depan: Pasukan Hanzor yang menyerbu.
Di belakang: Baron Zale yang mengamuk karena merasa dikhianati.
Di tengah: Mereka berempat dengan satu peti emas yang sangat berat.
"Rencana B?" tanya Lila gemetar.
"Tidak ada Rencana B," kata Sura, mencabut pisau lipatnya. Dia menatap perahu kecil di ujung dermaga yang berjarak 50 meter.
"LARI!" teriak Sura. "LARI KE PERAHU!"
Mereka berlari sekuat tenaga mendorong gerobak emas itu, dikejar oleh amarah dua pasukan yang siap merobek mereka menjadi dua.
Turnamen Debat sudah berakhir. Sekarang adalah Perang bertahan hidup.