Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Terpaksa?
Nayla berdiri terpaku di tengah ruangan yang terang itu, kulitnya merinding karena udara dingin kantor dan ketakutan yang meluap‑luap. Secara naluriah, kedua tangannya bergerak cepat menutupi bagian paling sensitif tubuhnya, menyilang di depan dada lalu merendahkan sedikit untuk melindungi dirinya yang telanjang bulat itu.
Wajah Nayla terbenam ke bawah, rambutnya menjuntai menutupi sebagian pipinya yang basah oleh air mata dan merah padam karena rasa malu yang luar biasa. Dia merasa seperti terbuka sepenuhnya di hadapan mata yang haus itu, namun masih berusaha menyisakan sedikit sisa kehormatan yang bisa dilindungi.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, suaranya terdengar lemah namun berusaha tegas, seolah mencari satu celah kewajaran yang tersisa di tengah kekacauan ini.
"Bapak… Bapak sudah berkeluarga," ucapnya terputus‑putus, berani mengangkat wajahnya sebentar menatap sosok yang berkuasa di sana. "Bapak punya istri… punya kehidupan sendiri. Apakah ini benar‑benar jalan yang harus di ambil?"
Kata‑kata itu seperti menyentuh luka tersembunyi di dalam diri Tristan. Dia tahu betul kenyataan itu. Dia sadar akan nama istrinya, sadar akan ikatan pernikahan yang tercatat rapi, dan sadar betapa rumah itu justru menjadi sumber kesepian panjang yang dia rasakan. Namun saat ini, rasa sepi dan kekosongan itu lebih kuat daripada rasa bersalah. Dia menatap Nayla dengan tatapan yang menjadi semakin keras namun menyembunyikan betapa rapuhnya dia sebagai suami yang terabaikan.
"Aku tahu siapa aku dan apa yang kumiliki," jawab Tristan dengan nada yang tegas dan tak terbantahkan, melangkah satu langkah lebih dekat hingga jarak di antara mereka menjadi sangat sempit. "Tapi kamu tidak boleh ikut campur dengan urusan rumah tanggaku. Istriku, rumahku, hidupku di luar sini, itu ranahku sendiri dan tidak ada hubungannya denganmu. Kamu hanya perlu tahu satu hal, di sini, di tempat ini, dan dalam kewajibanmu kepadaku malam ini!"
Nayla menelan ludah dengan susah payah. Kata‑kata itu menutup semua pintu pembelaan diri yang dia miliki. Tidak ada tempat untuk berlindung di balik norma atau perasaan orang lain, dia berdiri di hadapan kekuasaan mutlak yang menuntut penyerahan diri tanpa syarat. Dengan hati yang remuk namun pikiran yang tetap terpaku pada wajah ibunya yang terbaring lemah, dia perlahan mengangguk. Gerakan itu kecil, namun cukup jelas sebagai tanda penerimaan yang pahit.
Melihat tanda kepatuhan itu, kendali diri Tristan akhirnya runtuh sepenuhnya. Pesona tubuh gadis itu yang terbuka, lekuknya yang murni dan kulitnya yang tampak begitu halus di bawah cahaya lampu, telah menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung lagi. Dia tidak bisa lagi sekadar berdiri dan menonton.
Tanpa peringatan lebih lanjut, dia melangkah maju dengan cepat dan kuat, merengkuh pinggang ramping Nayla hingga tubuh mereka menempel sepenuhnya, tanpa penghalang kain sedikit pun. Sentuhan itu membakar dan melumpuhkan sekaligus. Sebelum gadis itu sempat bernapas, bibir Tristan sudah menekan bibirnya dengan penuh kemarahan terpendam dan gairah yang meledak. Itu bukan ciuman yang sopan atau ragu‑ragu, itu adalah tuntutan yang mendesak, haus, dan berusaha menelan seluruh keberadaan Nayla ke dalam dirinya sendiri.
Nayla terkejut hebat. Kehangatan yang tiba‑tiba menyerang membuatnya tersentak. Dia merasakan tekanan yang kuat dan keakraban yang mengerikan bagi seseorang yang baru pertama kali mengalaminya.
Secara naluriah, Nayla melawan. Bahunya berguncang hebat, kedua tangannya yang tadi menutupi tubuh kini menekan dada bidang itu dengan kekuatan yang dia punya, mendorong, mencoba menjauhkan kekuatan besar itu dari kulitnya yang tak berdaya. Dia memutar wajahnya, berusaha melepaskan bibirnya yang terasa terkunci dalam cengkeraman nafsu yang asing.
"Lepaskan… tolong… tidak…" rintihnya di sela‑sela serangan itu.
Tristan merasakan perlawanan itu, kecil namun nyata, percikan semangat yang ingin bertahan. Dia menghentikan gerakannya seketika, menarik sedikit wajahnya namun tetap memeluk erat pinggang gadis itu agar tidak ada pelarian. Matanya menatap tajam ke dalam mata yang berkaca‑kaca itu, napasnya berat dan memburu.
"Begini caranya kalau kamu mau main menolak," ucapnya dengan suara serak yang bergetar. "Ingat perjanjian kita, Nayla. Uang itu, nyawa ibumu… semuanya tergantung seberapa besar kamu rela menerima. Jika kamu masih berkeras melawan dan menjaga jarak dariku, aku bisa menghentikan ini sekarang juga dan pintu kantorku tertutup kembali untukmu selamanya."
Ancaman itu menancap tajam ke jantung Nayla. Kata‑kata terakhir yang menjadi jembatan harapan bagi ibunya terancam putus di detik itu juga. Ketakutan akan kehilangan kesempatan satu‑satunya itu lebih kuat daripada rasa jijik dan takutnya sendiri.
Bahu Nayla yang tadi tegang karena menekan dada Tristan kini meluruh. Tangannya yang mengepal perlahan menjadi lemah, terkulai di samping tubuhnya. Tatapannya yang menyala karena pemberontakan perlahan menjadi redup, pasrah, dan penuh keputusasaan. Dia menyadari bahwa tembok pertahanannya sudah runtuh sampai ke fondasi.
Dengan kepala yang menunduk perlahan, Nayla menarik napas panjang yang terasa menyakitkan, lalu mengangkat wajahnya kembali, menawarkan diri dengan diam dan kesiapan yang terpaksa.
Melihat itu, Tristan kembali mendekatkan bibirnya. Kali ini meski tetap dominan, sentuhannya berubah tak terduga. Kekasarannya mereda menjadi kelembutan yang mengejutkan. Dia mencium sudut bibirnya dengan hati‑hati, turun ke rahang yang halus, lalu kembali menuju pusat bibirnya dengan gerakan yang lambat, mengelus, dan penuh perhatian seolah sedang menikmati setiap inci rasa yang didapatnya. Jemarinya yang besar dan hangat tidak lagi mencengkeram dengan kasar, melainkan meluncur lembut di punggungnya, menelusuri lengkungan tulang belakang yang membuat bulu kuduk Nayla kembali berdiri, tapi kali ini bukan hanya karena dingin atau ketakutan.
Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam diri Nayla saat itu juga. Saat dia berhenti berjuang dan membiarkan sentuhan itu menguasainya, rasa jijik yang dia duga akan mendominasi ternyata perlahan tergeser oleh sensasi lain yang membingungkan. Tekanan yang hangat, ritme yang teratur, dan kehalusan belaian tangan seorang lelaki yang begitu lama haus ternyata mampu menembus pertahanan dinding batinnya. Di tengah kegelapan hati yang dia rasakan, tiba‑tiba dia merasakan kilasan kenyamanan yang terlarang. Tubuhnya yang muda dan belum pernah tersentuh dengan cara ini mulai merespons tanpa persetujuan akalnya, menjadi lebih rileks, bahkan sedikit melengkung menyatu dengan lekuk tubuh Tristan.
Bibir Nayla yang kering dan tegang perlahan terbuka menyambut aliran ciuman itu. Dia tidak lagi mendorong, malah tanpa sadar sedikit mendekatkan diri karena kehangatan itu terasa begitu nyata di tengah dinginnya dunia luar. Dia terkejut pada dirinya sendiri, bahwa dirinya bisa sedikit menikmati sentuhan yang awalnya dianggapnya sebagai kehancuran total.
Pikiran menjadi kabur, batas antara paksaan dan ketertarikan mulai kabur tercampur menjadi satu di dalam ruangan itu yang semakin terasa sempit dan panas. Tristan merasakan perubahan halus itu, bagaimana gadis itu mulai berhenti gemetar karena ketakutan dan mulai bernapas teratur karena rasa terbuai. Senyum samar muncul di sudut bibir Tristan yang masih menempel dekat kulit Nayla.