NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mobil van hitam pekat itu terparkir diam di sebuah gang gelap tepat di seberang Kobra Tower.

Cahaya lampu jalanan menembus kaca film mobil menyinari wajah tegang ketiga remaja di dalamnya.

Srek.

Bayu menarik ritsleting seragam petugas kebersihan berwarna biru pudar itu hingga ke leher.

"Seragam ini bau kapur barus tua, dari mana kamu mendapatkan rongsokan ini Clara?" keluh Bayu sambil mengendus kerahnya.

"Jangan banyak mengeluh cowok udik, seragam asli itu harganya sepuluh kali lipat dari sewa motel semalam," balas Clara sinis.

Gadis berambut merah itu menyodorkan sebuah kartu identitas palsu yang dilengkapi cip magnetik.

"Pasang kartu ini di dadamu dan jangan sampai ketahuan kalau foto di situ adalah hasil editan," pesan Clara memperingatkan.

Anya duduk di kursi belakang van dengan sebuah laptop tebal yang menyala terang di pangkuannya.

Tok tok tok.

Gadis berkacamata itu mengetukkan telur ayam rebus ke pinggiran meja lipat lalu mengupas cangkangnya.

"Kamu masih sempat makan telur ayam di saat nyawaku akan menjadi taruhan malam ini?" sindir Bayu tidak habis pikir.

Anya mengunyah telur berprotein tinggi itu dengan santai sambil terus mengetik kode di layar laptopnya.

"Otakku butuh nutrisi maksimal untuk meretas sistem keamanan tingkat militer dari jarak jauh Bayu," jawab Anya beralasan logis.

"Lagipula telur ayam LunaraMode ini edisi langka yang sangat enak, Clara tadi membelinya dengan susah payah."

Clara tersenyum bangga mendengar pembelaan dari rekan barunya itu.

"Tentu saja, informan terbaik butuh asupan makanan terbaik untuk menjaga kualitas kulit dan otaknya," puji Clara pada dirinya sendiri.

"Sekarang pasang alat penyadap kecil ini di telingamu agar kami bisa memandu arahmu dari sini."

Bayu menerima benda kecil seukuran biji jagung itu dan memasukkannya ke dalam lubang telinga kanan.

"Tes suara, apakah kalian bisa mendengar suaraku dengan jelas?" bisik Bayu menguji alat tersebut.

Krasak.

"Suaramu terdengar sangat jernih seperti penyiar radio murahan," balas Clara dari pelantang suara mobil.

Bayu menghela napas panjang lalu membuka pintu van dan melangkah keluar ke jalanan malam yang dingin.

"Aku akan masuk lewat pintu bongkar muat barang di area belakang gedung sesuai rencana awal," lapor Bayu sambil berjalan santai.

Tap tap tap.

Bayu menyeberang jalan dan menyusuri pagar tinggi yang mengelilingi gedung pencakar langit tersebut.

Ia berhenti di depan sebuah gerbang besi besar yang dijaga oleh dua orang petugas keamanan berbadan tegap.

"Berhenti di situ, tunjukkan kartu identitas dan jadwal tugas shift malammu," cegah salah satu petugas dengan wajah galak.

Bayu mengeluarkan kartu palsunya dan menunjukkannya dengan tangan yang sedikit bergetar dibuat buat.

Bip.

Petugas itu memindai kartu Bayu menggunakan alat pembaca portabel berwarna hitam.

"Tukang bersih bersih baru ya? Namamu tidak familier di daftar hadir minggu lalu," selidik petugas itu menatap Bayu curiga.

"Benar Pak, saya baru dipindahkan dari cabang luar kota untuk menggantikan petugas yang sakit," jawab Bayu menundukkan pandangannya.

Lampu pada alat pemindai itu berkedip hijau menandakan akses diterima.

"Cepat masuk dan bersihkan area parkir bawah tanah sebelum bos besar datang memeriksa," usir petugas itu membuka gerbang.

Bayu mengangguk hormat dan segera masuk ke dalam area Kobra Tower dengan langkah pura pura gontai.

"Kerja bagus aktor amatir, sekarang cari lift barang khusus karyawan di ujung lorong sebelah kiri," instruksi Anya melalui penyuara telinga.

"Lift itu adalah satu satunya jalur yang tidak memiliki sensor pemindai retina mata."

Bayu berjalan melewati deretan mobil mewah yang terparkir rapi di ruang bawah tanah yang luas itu.

Ting.

Pintu lift barang terbuka perlahan menampilkan ruang baja kosong yang kusam.

Bayu segera masuk dan menekan tombol angka tiga puluh sesuai arahan yang diterimanya tadi.

"Kenapa kita tidak langsung naik ke lantai empat puluh lima tempat bos besar itu berada?" tanya Bayu setengah berbisik.

"Karena lift barang ini mentok hanya sampai lantai tiga puluh saja cowok udik," sahut Clara dengan nada meremehkan.

"Mulai dari lantai tiga puluh ke atas, kau harus menggunakan tangga darurat yang dipenuhi jebakan mematikan."

Bayu menyandarkan punggungnya ke dinding lift dan memperhatikan angka penunjuk lantai yang terus naik.

[Energi Waktu: 25/25]

Layar sistemnya melayang tenang menampilkan status energinya yang terisi penuh dan siap digunakan.

"Setidaknya aku punya dua puluh lima detik untuk membereskan masalah di atas nanti," batin Bayu merasa sedikit percaya diri.

Ting.

Pintu lift terbuka saat angka penunjuk berhenti tepat di lantai tiga puluh.

Kondisi lorong di lantai ini sangat berbeda dengan lantai bawah tanah yang kumuh tadi.

Lantai marmer putih mengkilat dan lampu hias kristal menghiasi setiap sudut ruangan yang sepi ini.

"Berhenti di situ Bayu, jangan melangkah keluar dari lift dulu," teriak Anya tiba tiba di telinganya.

Bayu langsung menahan langkah kakinya yang baru saja akan melewati ambang pintu lift.

"Ada masalah apa Nona Kacamata? Aku tidak melihat ada penjaga sama sekali di lorong ini," balas Bayu berbisik bingung.

"Lorong itu memang terlihat kosong, tapi kamera termal di layarku menunjukkan adanya enam belas lapis sensor laser yang melintang," jelas Anya serius.

"Sensor itu terhubung langsung ke bom gas saraf yang tertanam di ventilasi udara atap."

Bayu menelan ludah dan merasakan keringat dingin mulai menetes dari dahinya.

"Kalau begitu matikan sensornya dari sana sekarang juga," tuntut Bayu merasa panik.

"Aku tidak bisa Bayu, sistem mereka menggunakan jaringan tertutup yang tidak terhubung ke internet luar," jawab Anya menyesal.

"Satu satunya cara untuk melewatinya adalah dengan kemampuan manipulasi waktumu itu."

Clara ikut menimpali dari saluran komunikasi yang sama.

"Gunakan waktu yang membeku untuk berjalan melewati celah celah laser itu tanpa memicu alarmnya cowok udik."

Bayu menatap lorong kosong di depannya dan mencoba membayangkan letak belasan garis laser tak terlihat tersebut.

"Kalian gila, bagaimana aku bisa menghindari sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat oleh mata telanjang?" keluh Bayu.

"Aku akan memandumu Bayu, aku punya peta letak pastinya di layar laptopku," bujuk Anya menenangkan.

"Aku akan menyebutkan arah gerakannya secara berurutan, kau ingat baik baik posisinya lalu jalankan kekuatanmu."

Bayu mengusap wajahnya dengan kasar dan memfokuskan pikirannya sepenuhnya.

"Baiklah sebutkan urutannya sekarang juga sebelum pintu lift ini tertutup kembali," putus Bayu bersiap siap.

"Langkah pertama merunduk, langkah kedua miring ke kiri, langkah ketiga lompat kecil," ucap Anya membacakan polanya dengan cepat.

"Langkah keempat merangkak sejauh dua meter, lalu langkah terakhir berguling ke kanan."

Bayu menghafal pola gerakan aneh itu di dalam kepalanya dan memasang kuda kuda.

"Batu Waktu, hentikan waktu sekarang."

Wusss.

Dunia kembali kehilangan warnanya dan suara dengungan mesin lift terhenti total menjadi keheningan absolut.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Sisa Energi: 24/25]

Bayu melangkah keluar dari lift dan langsung merundukkan badannya serendah mungkin.

Ia membayangkan sebuah garis merah menyala membentang tepat di atas punggungnya.

[Sisa Energi: 22/25]

Selanjutnya ia memiringkan tubuhnya ke kiri dan berjalan menyamping dengan sangat hati hati.

Keringat terus bercucuran mengingat sedikit saja kesalahan akan membuat lantai ini dipenuhi gas beracun.

[Sisa Energi: 19/25]

Bayu melakukan lompatan kecil ke depan seperti seekor katak yang canggung.

"Ini gerakan konyol paling menegangkan yang pernah aku lakukan," rutuk Bayu di dalam hati.

Ia kemudian menjatuhkan dirinya ke lantai dan merangkak secepat kilat sejauh dua meter ke depan.

[Sisa Energi: 14/25]

Energinya terkuras cukup banyak karena pergerakannya yang memakan durasi lumayan lama di bawah tekanan ruang.

Bayu melakukan langkah terakhirnya dengan berguling cepat ke arah dinding sebelah kanan lorong.

Bruk.

Punggungnya menabrak pintu kayu tebal yang merupakan pintu masuk menuju tangga darurat ke lantai berikutnya.

[Sisa Energi: 11/25]

"Lanjutkan waktu."

Wusss.

Warna warni lorong kembali menyala dan suara dengung pendingin ruangan kembali terdengar normal.

"Aku berhasil melewatinya Anya, aku sudah berada di depan pintu tangga darurat sekarang," lapor Bayu dengan napas terengah engah.

Terdengar hembusan napas lega yang sangat keras dari Anya di ujung alat komunikasi.

"Kerja bagus Bayu, refleks tubuhmu jauh lebih baik dari yang aku perkirakan," puji Anya tulus.

"Kau membuang banyak waktu hanya untuk melewati laser bodoh itu cowok udik," potong Clara merusak suasana.

"Sisa energimu pasti sudah berkurang setengahnya sekarang, apa kau yakin bisa menghadapi penjaga di lantai atas?"

Bayu berdiri dan menepuk debu yang menempel di seragam kebersihannya.

"Jangan remehkan aku Clara, sebelas detik sudah lebih dari cukup untuk mematahkan leher beberapa preman berjas," balas Bayu percaya diri.

Cklek.

Bayu memutar kenop pintu tangga darurat itu dan mendorongnya perlahan tanpa menimbulkan suara.

Penerangan di dalam ruang tangga itu hanya berupa lampu pijar kuning yang berkedip kedip redup.

Tap tap tap.

Bayu menaiki anak tangga beton itu dengan langkah mengendap endap layaknya seekor kucing pemburu.

"Lantai tiga puluh lima sampai empat puluh adalah barak tempat para tentara bayaran elit beristirahat," informasi Clara terdengar kembali.

"Pastikan langkah kakimu tidak membangunkan anjing anjing penjaga itu kalau kau masih mau hidup."

Bayu mengangguk pelan walau tahu Clara tidak bisa melihat anggukannya dari mobil van.

Ia melewati pintu demi pintu bernomor lantai dengan detak jantung yang berpacu semakin cepat.

Ketika ia mencapai bordes lantai tiga puluh sembilan, hidungnya mencium bau asap rokok yang sangat pekat.

Terdengar suara obrolan pelan dari dua orang pria tepat di balik pintu besi lantai empat puluh.

"Malam ini tugas jaga terasa sangat membosankan, bos besar terlalu paranoid sejak buku itu hilang," ucap salah satu pria.

"Diamlah dan jalankan saja perintahnya, atau Sang Penghapus Jejak akan menjadikanmu kelinci percobaan lagi," sahut temannya memperingatkan.

Bayu menempelkan telinganya di daun pintu besi untuk memastikan posisi pasti kedua penjaga tersebut.

"Ada dua orang berjaga tepat di balik pintu ini, sepertinya mereka dilengkapi senjata api otomatis," bisik Bayu memberikan laporan.

"Jangan gunakan kekuatanmu untuk hal sepele Bayu, simpan energimu untuk pertarungan utama nanti," saran Anya mencegah.

"Tarik perhatian mereka agar masuk ke dalam ruang tangga lalu serang dari belakang saat mereka lengah."

Bayu tersenyum tipis menyukai rencana licik yang diusulkan oleh gadis berkacamata tersebut.

Tok tok tok.

Bayu mengetuk pintu besi itu tiga kali dengan ritme yang pelan namun cukup keras untuk didengar penjaga di baliknya.

Suara obrolan kedua pria itu langsung terhenti seketika digantikan oleh bunyi kokangan senjata yang menakutkan.

"Siapa di sana? Buka pintunya pelan pelan dan tunjukkan tanganmu," ancam suara dari balik pintu dengan nada keras.

Bayu segera merunduk dan bersembunyi di sudut tergelap di balik bayangan pintu besi tersebut.

Kriet.

Pintu besi ditarik terbuka dari luar menampilkan laras senapan serbu hitam yang moncongnya siap memuntahkan peluru.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!