ZONA DEWASA‼️Harap bijak dalam memilih bacaan!!
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Gue udah tahu semuanya, Luna," ucap Adrian dengan nada menekan yang dingin.
Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Luna mengendur, tetapi matanya mengunci pergerakan Luna.
"Kenapa seorang putri dari pemilik Damaris Group harus sembunyi dan pura-pura tinggal di kontrakan gang sempit? Lo sengaja kabur dari rumah, kan?"
Luna menelan ludah dengan susah payah. Menyadari tak ada gunanya lagi mengelak soal identitas aslinya, ia akhirnya mengangguk pelan seraya menjawab canggung,
"Iya... gue kabur. Gue bertengkar hebat sama bokap, makanya gue pergi."
Adrian menyilangkan dada, mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Alasan itu terdengar masuk akal, tetapi instingnya membisikkan bahwa masih ada potongan teka-teki yang hilang.
"Lalu... sekarang lo tinggal di mana?" tanya Adrian tajam.
"Enggak mungkin kan lo masih di tempat kumuh itu?"
Luna membeku seketika. Lidahnya mendadak kelu. Tidak mungkin saat ini dia jujur kalau sedang disandera dan tinggal bersama Moreno!! batinnya panik.
"Gue... gue udah balik ke rumah bokap kok," sahut Luna berusaha terdengar meyakinkan, meski sorot matanya sedikit goyah.
Adrian mengangguk-angguk kecil seraya menyunggingkan senyum tipis. Ia tahu betul Luna baru saja mengatakan kebohongan baru. Namun, alih-alih mendesaknya lebih jauh, Adrian memilih mengubah taktiknya.
"Oke," balas Adrian santai. "Kalau gitu, nanti sore lo bisa kan luangin waktu. Gue mau ajak lo ke suatu tempat."
Dahi Luna berkerut halus. "Ke mana?"
"Temenin gue cari hadiah. Nyokap gue sebentar lagi ulang tahun, dan gue butuh bantuan lo," ujar Adrian beralasan.
Luna berpikir sejenak. Menolak Adrian saat ini hanya akan memicu kecurigaan yang lebih besar. Akhirnya, Luna mengangguk pasrah.
"Ya udah... gue temenin."
Mendengar persetujuan itu, raut tegang di wajah Adrian seketika mencair. Pria itu tersenyum hangat, lalu mengulurkan tangannya mengacak pelan rambut Luna.
"Bagus. Nanti sehabis jam kuliah selesai, gue tunggu lo di parkiran," ucap Adrian.
Seketika itu juga, bayangan Moreno yang siap menerkam langsung melintas di benak Luna. Parkiran kampus adalah zona bahaya— kemungkinan pria posesif itu memantaunya.
"Eh, jangan di parkiran!" potong Luna cepat, raut paniknya tak bisa ditutupi.
"Maksud gue... di parkiran ramai banget, nanti malah menarik perhatian lagi. Kita ketemuan di halte dekat luar kampus aja, gimana?"
Adrian memicingkan mata sejenak menatap keresahan Luna, namun akhirnya ia tersenyum tipis dan mengangguk setuju.
"Boleh. Sampai ketemu di halte nanti sore, Luna."
Bel tanda berakhirnya jam kuliah terakhir akhirnya berdering nyaring. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan berpisah jalan dengan Dita, Luna bergegas melangkah cepat menuju arah gerbang luar.
Ia sengaja mengambil rute memutar yang berlainan dan jauh dari area parkiran utama—semata-mata agar bebas dari pantauan Moreno.
Bahkan, sebelum bule sinting itu sempat menghubunginya atau melacak posisinya, Luna sudah lebih dulu menekan tombol power dan mematikan ponselnya.
Bagi Luna saat ini, yang terpenting adalah menutupi kebohongannya dan meredam rasa curiga Adrian. Soal bagaimana menghadapi Moreno nanti itu urusan belakangan. Begitu pikirnya!.
Sekitar sepuluh menit menunggu di halte, sebuah mobil melaju perlahan dan menepi tepat di hadapannya. Kaca jendela terbuka, menampilkan sosok Adrian yang menyapanya ramah.
Luna menyapu pandangan celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan aman sebelum akhirnya bergegas masuk ke dalam mobil.
Begitu pintu tertutup, Adrian melirik Luna dengan raut heran seraya menjalankan mobilnya.
"Kenapa lo celingukan gitu, Lun? Kelihatan gelisah banget dari tadi."
"Ah... enggak apa-apa," sahut Luna cepat, mencari alasan asal.
"Gue cuma enggak mau kepergok sama penggemar rahasia lo aja. Males banget kalau harus berurusan sama cewek-cewek rese kayak mereka."
Adrian tertawa rendah mendengar dengusan Luna.
"Kalau ada yang berani ganggu lo, laporin aja ke gue."
"Halah, pemuja lo itu berlebihan banget tahu enggak," balas Luna dengan senyum kecut.
"Enggak mungkin juga kan lo bakal suka gue?"
Ckiit.
Tanpa peringatan, Adrian mendadak menginjak rem dan condong mendekatkan tubuhnya ke arah Luna.
Luna terbelalak, tubuhnya membeku seketika. Jarak mereka terpangkas begitu cepat hingga embusan napas Adrian terasa mengusap wajahnya, bahkan ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
Dengan suara rendah yang dalam, Adrian berbisik tepat di depan wajah Luna,
"Gimana kalau... gue emang suka sama lo, Luna?"
Luna tersentak. Lidahnya mendadak kelu, dia tidak salah dengar kan??.
"A... apa?!" gagapnya terbata-bata.
Adrian tak menjawab. Pria itu hanya menyunggingkan senyum tipis yang misterius, sukses membuat jantung Luna bergedup kencang seperti mau melompat keluar dari dadanya.
Di tengah kecanggungan dan napas Luna yang tertahan, Adrian menyilangkan tangannya, menarik tali seatbelt di samping Luna, lalu memasangkannya dengan bunyi klik yang renyah.
"Lo lupa pakai seatbelt," ucap Adrian santai, kembali menarik tubuhnya ke posisi semula di balik kemudi.
Luna menghembuskan napas tertahan yang amat panjang, mengutuk kebodohannya sendiri dalam hati. "Bangke... gue pikir dia mau nyium gue tadi!
"O-oh... iya, makasih," sahut Luna gugup, berusaha menutupi wajahnya yang mendadak panas.
Adrian terkekeh pelan melihat kepanikan Luna, lalu kembali menginjak pedal gas.
"Kita ke mall daerah pusat dulu ya, cari hadiahnya di sana."
"Iya, terserah lo aja," jawab Luna, menyandarkan punggungnya seraya berdoa dalam hati agar sore ini berjalan lancar tanpa ada drama.
Sementara itu di parkiran kampus, Moreno kembali menekan nama Luna di layar ponselnya dengan raut wajah yang kian menggelap. Sejak tadi, belasan pesan yang ia kirimkan tak kunjung dibalas, bahkan statusnya tidak berubah menjadi terkirim.
Namun, untuk kesekian kalinya, bukannya nada sambung yang terdengar, melainkan suara datar wanita dari operator yang mengabarkan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif.
Brak!
Moreno melempar ponselnya ke jok samping lalu memukul setir mobilnya keras-keras seraya mengumpat kasar.
"Bangsat! Ke mana perginya tuh cewek?!"
Aura di dalam mobil itu mendadak mendingin. Rahang tegas Moreno mengeras, matanya menyipit tajam menatap lurus ke arah gerbang luar. Sudah lebih dari satu jam ia menunggu dan memantau area parkiran serta koridor, tetapi batang hidung Luna sama sekali tak kelihatan.
Pikiran-pikiran liar langsung berseliweran di kepalanya. Kenapa ponselnya mendadak mati?
"Jangan-jangan cewek gila itu beneran mau melarikan diri dari gue?!
Keposesifan yang membakar dada membuat Moreno mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Awas aja kalau sampai gue nemuin lo, Luna..." bisik Moreno rendah dengan nafas memburu.
"Lo pikir lo bisa lari gitu aja dari gue? Coba aja kalau berani."
Tanpa membuang waktu lagi, Moreno menyalakan mesin mobilnya. Suara raungan mesin terdengar nyaring sebelum akhirnya kendaraan mewah itu melaju kencang meninggalkan area kampus.
Waktu berlalu tanpa terasa hingga malam mulai merayap. Setelah menyusuri beberapa toko perhiasan ternama di dalam mal, Adrian dan Luna akhirnya sepakat memilih sebuah kalung emas putih bermata blue sapphire yang elegan sebagai hadiah ulang tahun untuk Helena, ibu Adrian.
Setelah mengantongi kotak hadiah tersebut, Adrian menoleh ke arah Luna.
"Yuk, gue antar lo pulang. Sekalian biar gue tahu rumah lo yang sekarang," ujarnya santai—sekaligus ingin membuktikan sendiri apakah Luna benar-benar sudah kembali ke kediaman keluarga Damaris.
Luna yang tahu harus meyakinkan Adrian agar kebohongannya tak terbongkar, akhirnya mengangguk mengiyakan.
"Boleh, makasih ya kak."
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Adrian aktif membuka percakapan. Pria itu membagikan cerita-cerita lucu seputar kejadian absurd di kampus, mencairkan suasana kaku yang sempat melingkupi mereka. Luna bahkan beberapa kali tertawa mendengar lelucon Adrian.
Namun, di sela tawa mereka, Adrian mendadak melempar pertanyaan yang membuat lidah Luna membeku.
"Ngomong-ngomong... akhir-akhir ini Moreno masih suka cari masalah sama lo?" tanya Adrian melirik reaksi Luna dari kaca spion tengah.
Luna terdiam seketika. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk menumpahkan seluruh beban atas siksaan psikologis yang ia alami akibat ulah Moreno. Namun, entah mengapa lidahnya terasa kelu untuk sekedar bercerita.
Luna memaksakan senyum tipis seraya menggeleng.
"Enggak kok. Dia... udah enggak pernah mengusik gue lagi."
Dahi Adrian berkerut halus. Sebagai saudara tiri yang paham betul tabiat Moreno, ia tahu pasti Moreno bukanlah tipe pria yang mudah melepaskan mangsanya begitu saja.
"Baguslah kalau dia udah enggak ganggu lo," sahut Adrian dengan nada peringatan.
"Moreno itu orangnya pendendam dan terobsesi kalau udah mau sesuatu. Makanya gue sempat khawatir sama lo."
"Mungkin dia emang udah bosan dan enggak tertarik lagi sama gue, makanya dilepasin gitu aja," balas Luna, menutupi kebohongannya dengan rapi.
Adrian manggut-manggut pelan, mencoba mencerna alasan itu.
"Mungkin juga, ya..."
Tak terasa, mobil Adrian melaju pelan dan berhenti tepat di depan gerbang tinggi kediaman megah keluarga Damaris. Sebelum Adrian sempat mematikan mesin, Luna cepat-cepat bersuara.
"Turunin gue di depan gerbang aja, Kak. Makasih banyak ya udah mau mengantar," ucap Luna bergegas melepas seatbelt.
Adrian tersenyum mengerti. "Oke. Sori ya belum bisa mampir dulu, udah malam juga."
"Enggak apa-apa, lain kali aja!" jawab Luna lega setengah mati. Jika Adrian sampai ikut masuk ke dalam rumah, sandiwaranya pasti akan ketahuan seketika.
Luna turun dari mobil, melambaikan tangan dengan senyum manis mengiringi mobil Adrian yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan jalan. Begitu bayangan mobil itu tak lagi terlihat, Luna membuang nafas dengan kasar.
"Haahh...bisa gila aku lama-lama." umpat Luna merutuki keadaannya.
Baru saja Luna melangkah melintasi gerbang dan memasuki halaman rumahnya, Pak Budi—satpam senior yang sudah bekerja bertahun-tahun di sana—langsung menyapanya dengan raut terkejut sekaligus lega.
"Ealaah, Non Luna! Akhirnya pulang juga. Sudah lama ndak kelihatan, Non..." sapa Pak Budi ramah.
Luna memaksakan senyum tipis, menyembunyikan rasa bersalahnya.
"Iya, Pak Budi. Apa kabar?"
"Baik, Non," sahut Pak Budi. Namun, dahinya tiba-tiba berkerut teringat sesuatu.
"Oh iya, Non. Tadi sore, ada cowok ganteng kayak bule datang ke sini nyariin Non. Namanya... Nak Moreno kalau ndak salah."
Mendengar nama itu disebut, tubuh Luna seketika membeku. Matanya membelalak sempurna, detak jantungnya terhenti berulang kali.
"M-Moreno, Pak?!" ujar Luna dengan suara bergetar. "Beneran Moreno yang datang nyariin saya?!"
"Iya, Non, beneran. Wajahnya serem banget tadi, agak marah-marah pas saya bilang Non lagi ndak ada di rumah," terang Pak Budi jujur.
Luna menggigit bibir bawahnya, kepanikan mendadak menyergap seluruh rongga dadanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Luna berbalik arah menuju gerbang.
"Pak Budi, saya... saya harus pergi lagi sekarang. Tolong jangan bilang ke Ayah kalau saya sempat mampir ke sini ya, Pak!"
Pak Budi tertegun bingung melihat tingkah terburu-buru putri majikannya itu. Namun, melihat raut wajah Luna yang berubah keruh, ia hanya bisa mengangguk. "I-iya, Non... hati-hati."
Luna berlari kecil ke tepi jalan utama, melambaikan tangan menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Dengan perasaan campur aduk—antara takut, cemas, dan berdebar —Luna masuk ke dalam taksi dan menyebutkan alamat penthouse milik Moreno.