NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembagian Kelompok

Suara gulungan-gulungan kertas beradu di dalam toples. Namun entah mengapa, tiap gesekan kertas turut serta mempengaruhi detak jantung keseluruhan kelas.

Kresak... kresak...

Rachel mengocoknya beberapa kali.

Karena jumlah murid kelas 10 IPS 1 berjumlah 25 orang, maka setiap kelompok akan diisi empat anggota. Kecuali satu kelompok terakhir. Entah akan menjadi keunggulan atau malah kepayahan, kelompok itu terpaksa harus beranggotakan lima orang.

Fakta sederhana itu justru membuat seluruh kelas semakin tegang. Karena lingkup pertemanan yang sudah terbentuk selama hampir setengah semester ganjil ini, membuat sebagian besar dari mereka berharap...

"Semoga jangan jauh-jauh amat."

"Minimal sama orang yang bisa diajak ngobrol."

"Asal jangan sama si itu..."

Padahal...

Tak ada satu pun di antara mereka yang benar-benar bermusuhan.

Hanya saja...

Belum semuanya satu frekuensi.

Toples terus berguncang untuk mengeluarkan satu nama pada anggota kelompok pertama.

Kresak... kresak...

Beberapa siswa bahkan lupa berkedip. Yang serasa seperti menunggu hasil undian pemenang lomba.

Hingga satu gulungan kertas keluar dari lubang kecil di tutup toples.

Pluk!

Angga segera mengambilnya.

Membuka lipatannya.

Lalu membaca dengan suara lantang.

"Kelompok satu..."

"Yoriko Angeline."

Angel yang duduk di barisan tengah, samping jendela pun langsung mengangkat tangan.

"Hadir! Angel yang pintar ini siap bergabung dengan anggota manapun."

Gadis berambut panjang bergelombang itu langsung berdiri dengan meriah.

Entah karena hendak menyambut rekan timnya. Atau mencoba pasrah dengan ketiga anggota yang akan muncul setelahnya.

Lot kedua.

"Yohanna Nainggolan."

"Yes! Sama Angel!" serunya sembari bersorak kecil.

Kemudian bersalaman sebentar dengannya. Sebab bangku tempatnya duduk tak terlalu jauh darinya.

Lot ketiga.

"Putri Anggun Mahardika."

Putri langsung menghela napas lega sembari membelai dadanya.

"Thats fine. Sama elu lagi..."

Dan...

Lot terakhir.

Angga membuka perlahan.

"...Rendy Sagala."

Hening.

Ketiga cewe itu saling berpandangan.

Lalu...

Entah kenapa bahu mereka justru sama-sama turun. Seolah baru saja digantungkan beban yang sama di pundaknya.

"Okay, Ladies! Si tampan Rendy sudah siap untuk membuat kelompok pertama memperoleh nilai paling tinggi dikelas 10 IPS 1 ini," serunya sembari merentangkan kedua tangan dengan kepercayaan dirinya.

Angel perlahan menoleh ke arah bangku pemukiman buangan itu dengan sorot mata tajam.

Sangat tajam.

"Awas ya! Kalau lu jadi beban!"

Setelahnya, tangannya perlahan bergerak melintang di depan leher. Seolah sedang menggorok sesuatu.

Rendy langsung menelan ludah. Nyalinya tiba-tiba ciut melihat ancaman itu

"I-iya..."

"Iya..."

"Gue ngerti..."

Angel mendengus kasar. Lalu kembali menghadap papan tulis setelah meninggalkan ancaman psikologi kearah cowok itu.

Kini, Rendy yang hanya bisa berdiri mematung.

"Serem amat dah? Perasaan gue nggak beban-beban banget."

"Disyukuri aja ya, Ren. Mending sama Angel daripada ngerjain sendirian," sahut Rio sembari mengusap punggung Rendy.

Di depan kelas, Rachel kembali mengocok toples.

Kresak... kresak...

Angga tersenyum ke keseluruhan teman-temannya seolah ingin memberikan kesan dramatis.

"Siap ya..."

Seluruh perhatian kelas kembali tersedot ke depan.

Angga meraih satu gulungan. Lalu membukanya perlahan.

"Kelompok dua..."

Ia berhenti sesaat.

"...Michelangelo Daeng Saputra."

"Yoi siap!"

Belum sempat ia berkomentar lebih lanjut, lot berikutnya langsung jatuh.

"...Rio Arhanza."

Hening.

Beberapa pasang mata langsung saling berpandangan.

Lalu...

"Hooo..."

Suara itu terdengar hampir serempak. Diikuti tos dada khas seorang atlit basket yang baru saja mencetak angka.

Tetapi respon sebaliknya justru timbul di barisan para siswi. Bahkan beberapa bahu langsung menegang.

"Duhh.."

"Satu murid belakang aja udah bikin repot..."

"Ini malah dua."

Sedangkan—

"Nggak nyangka gue sekelompok sama My Bestie..."

"Yoi! Paling demen gue sama elu!"

Pada akhirnya, mereka berdua kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku dengan bahu yang turun. Seolah seluruh masalah akan cepat selesai jika mereka berdua disatukan.

Rachel yang ada di depan kelas hanya bisa geleng-geleng kepala. Kocokan toplesnya sampai berhenti sejenak untukmu memperhatikan tingkah mereka berdua.

Angga yang berdiri di samping Rachel pun menghela napas kecil sebelum mengambil lot berikutnya.

"Kita lanjut ya..."

Gulungan ketiga dibuka.

"...Harmony Melody Sanjaya."

"TIDAAAK!!"

Pekikan Melody menggema memenuhi ruang kelas. Kedua tangannya refleks memegang kepala. Matanya membulat dramatis. Seolah baru saja mendengar vonis kehidupan.

Beberapa siswa langsung terkikik.

Angel sampai menutup mulutnya.

Putri memalingkan wajah sambil menahan tawa.

Andito sendiri tak kuasa menyeringai.

"Waduh..."

Ia melirik Michel dan Rio.

"Jodoh mah emang nggak bakal ke mana."

"Bacot lu!" balas Melody spontan. Sampai terdengar suara benturan antara lengannya dengan sandaran kursi.

Rio justru tertawa makin keras.

"Tenang, Mel! Tugas ini mah gue bisa selesaiin dalam sehari," sahutnya mencoba menenangkan.

"Itu yang gue takutin!"

Michel yang ada dibangku sebelah Rio hanya mengangkat kedua bahunya.

"Lah kita loh nggak keberatan setim sama elu. Kok lu nya malah repot sendiri?"

"Tau nggak? Yang sebenarnya repot itu gue, Anjir!" sanggah Melody dengan tatapan tajam.

Namun tatapan tajam itu berasal dari seorang gadis, yang diatas mejanya terdapat bolu pandan yang masih dimakan setengah.

Angga menggeleng geli. Lalu membiarkan keributan itu sembari membuka gulungan terakhir.

Ia membacanya sekilas.

Namun bukannya melafalkan dengan lantang seperti sebelumnya, ia malah menunjukkan nama itu ke seseorang yang berdiri disampingnya.

"...Rachel Mahesa Pramudita."

Gerakan tangan Rachel spontan terhenti. Matanya membulat tak percaya.

Ia bergumam lirih untuk memastikan sekali lagi bahwa itu benar-benar namanya.

"Hufft..."

Ia mengembuskan napas panjang sembari memejamkan mata. Satu tangannya sampai membelai dadanya pelan.

"Sabar..."

"Sabar ya, Rachel," gumamnya lirih kepada dirinya sendiri.

Angel yang duduk di bangku depan—bangku yang digunakan Rachel untuk mengocok toples arisan—ikut berbelasungkawa.

"Kasihan sekretaris kelas."

"Iya."

"Perlu ngurusin manusia-manusia itu."

Seketika seisi kelas kembali pecah oleh tawa.

Angga pun buru-buru segera menguasai keadaan agar tak berlarut-larut.

"Masih ada tiga lagi ya, Guys..." gumamnya sambil tersenyum kecut.

Dan entah mengapa...

Ia mulai merasa pekerjaan mengatur satu kelas ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi ketua kelas itu sendiri.

.....

Setelah nama anggota kelompok dua telah dituliskan pada papan putih, Rachel kembali mengocok toples plastik itu.

Kresak... Kresak...

Suasana kelas kembali hening.

Kini, beberapa siswa mulai berharap namanya segera keluar agar tidak terus-menerus deg-degan.

Sebuah gulungan akhirnya keluar.

Angga membuka lipatannya.

"Kelompok tiga..."

"Andito Sofansyah Putra."

Andito yang sebelumnya masih bercanda dengan Michel sontak menoleh ke depan kelas. Dan disambut oleh siulan bangga dari Michel.

Sontak Michel langsung bersiul.

"Wih! Akhirnya keluar juga."

Rio ikut menepuk meja.

"Semoga dapet tim yang jelas ya?"

"Mulut lu," gerutu Andito sambil terkekeh.

Lot kedua dibuka.

"Amanda Yuki Kashiwagi."

Perempuan bermata sipit itu langsung mengangkat tangannya.

"Okay. Aman sih sama si Dito," serunya sembari menopang dagunya dengan punggung tangan.

Mata melirik sekilas. Tetapi jelas tergambar sorot wajah lega karena Andito tak sebeban tiga pemukim bangku belakang sebelumnya.

Atau mungkin... sudah sedikit sembuh karena sebangku dengan Yuna.

Lot berikutnya kembali terbuka.

"Kadek Arya Mahendra."

Seorang siswa berkulit kuning langsat yang duduk di dekat jendela belakang mengangkat tangan santai.

"Siap, Pak Ketua!"

Setelahnya, ia menurunkan tangannya dan kembali melanjutkan aktivitasnya sebelumnya. Menyelesaikan sebuah karya pada kertas gambar. Yang menampilkan sebuah Doodle art berbentuk Barong chibi.

Beberapa temannya langsung menoleh.

"Anjir, Kadek."

"Pasti gampang sih buat analisis lukisannya nanti?"

Kini tinggal satu nama lagi.

Rachel mengocok toples beberapa kali.

Kemudian...

Pluk!

Angga membuka gulungan terakhir.

"Jevan Laga Mahaputra."

Di sudut kanan kelas, seorang siswa bertubuh tinggi dengan kulit sedikit lebih gelap mengangkat tangan pelan. Meski tak setinggi postur tubuh Andito.

"Siap, Bos."

Suara baritonnya bergema memenuhi ruang bagian belakang kelas. Bahkan saat awal-awal MPLS, beberapa anak murid baru sempat mengira Jevan adalah guru yang menyamar sebagai siswa dengan postur dan suara beratnya.

"Lumayan..."

"Masih bisa diajak kerja kelompok."

Andito kembali merapikan posisi duduknya setelah pembagian timnya telah rampung disebutkan. Namun matanya tanpa sadar kembali melirik ke depan bangku sebelahnya.

Yuna masih duduk tenang.

Tanpa sadar...

Andito kembali mengembuskan napas panjang.

"Yaudah..."

"Bukan rezeki setim kali."

Ia menggeleng kecil. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan kelas.

Menunggu dengan siapa sosok yang ia harapkan menjadi rekan setim. Akan berkumpul dengan tanpa dirinya.

Suara gulungan kertas kembali memenuhi ruang kelas.

Kresak... kresak...

Rachel mengocok toples beberapa kali sebelum kembali menyodorkannya. Angga dengan sigap meraih gulungan yang muncul.

Namun kali ini...

Ia tidak langsung membacanya.

Sebaliknya, ia mengangkat kertas itu sedikit tinggi agar seluruh kelas ikut melihat tulisan yang sedikit miring itu.

"Ini diriku ya, Guys! Join ke kelompok empat!"

"Fathoni Anggara."

Beberapa siswa mengangguk maklum. Meski ada sedikit perasaan kecewa akan kepribadian Angga yang cukup idaman dan bisa diandalkan.

"Ya... berarti ketuanya udah ketahuan."

Lot kedua segera dibuka.

"Ega Samtona."

Siswa dengan postur tubuh paling pendek dari golongan siswa laki-laki itu langsung berdiri sembari mengangkat tangannya. Bahkan jika bersandingan dengan Andito, dirinya mungkin hanya sebatas bahu.

"Siap, Bos."

Lot berikutnya.

"Tinus Umarella."

Hening.

Tak ada jawaban.

Karena memang teman mereka ini, sesekali harus kontrol kesehatan atas perjuangannya melawan gangguan pencernaan kronis semenjak SMP.

Tatapan Angga berubah sendu. Dan entah bagaimana, perasaan itu seolah merembet hingga ke seluruh penghuni kelas 10 IPS 1.

Pada akhirnya, Angga memandang ke arah Ega sembari tersenyum hangat.

"Gimana, Ga? Berani kan? Kalo cuma bertiga?"

Ega melambaikan tangan sekali.

"Aman dah! Berdua sama elu juga gue bisa."

"Ajak aku juga, please!" serobot Melody dengan begitu cepat. Sampai pelafalan katanya berbelit-belit.

"Woi! Udah dibilang jangan melanggar takdir, Mel!" sergah Rio tak rela.

Namun Melody hanya membuang muka.

"Nggak bisa ya, Mel. Ini loh diundi, bukan lewat aklamasi," tutur Angga menenangkan.

Dan entah bagaimana, Melody pun hanya mengangguk menurut. Meski sambil memonyongkan bibirnya. Dan kedua lengan bersedekap di depan dada.

Setelah semua kekacauan mereda, Rachel kembali mengocok toples. Kini tinggal satu nama lagi yang akan mengisi kelompok empat.

Kresak... kresak...

Namun...

Tak ada satu pun gulungan yang keluar.

"Loh?"

Rachel mengocoknya sedikit lebih kuat. Kedua tangannya sampai berguncang kasar. Rambut pendeknya bergoyang hingga membuat kacamatanya sedikit melorot.

"Kok susah ya?"

Isi toples berguncang. Gulungan-gulungan kertas saling bertabrakan. Namun tetap saja enggan keluar.

"Coba lagi."

Angga mendekat mencoba membantu.

Rachel terus menggoyangkannya hingga matanya menyipit. Sampai sedikit memiringkan toples itu pun, lot-lot yang ada di dalam seolah enggan untuk keluar.

"Dibuka aja deh—"

Pluk!

"Akhirnya..."

Rachel bersorak kecil melihat satu gulungan itu pun jatuh keluar.

"Nah! Tuh bisa!"

Angga buru-buru mengambilnya. Lalu membuka lipatannya.

Kemudian...

"Hm?"

Kertas itu ia buka. Kemudian diputar sebab tulisannya yang terbalik.

"Ehm..."

Beberapa siswa mulai tidak sabar.

"Siapa sih?"

"Cepetan, Ga!"

Angga akhirnya tersenyum kecil.

"Anggota terakhir dari kelompokku..."

"...Ratu Ahimsa Yunanda."

Yuna mengangkat wajahnya. Kemudian mengangguk pelan.

"Baik."

Jawabannya sesingkat biasanya. Namun justru itu membuat beberapa siswa mulai berbisik.

"Wihh..."

"Kelompok rajin semua, Euy."

"Tapi sayang, cuma bertiga."

"Tapi aman sih keknya? Bisa ngimbangin kelompok dua minimal."

"WOY!"

Di bangku keramat yang ada di barisan paling belakang, Rendy entah mengapa tiba-tiba bersandar ke kursinya. Kepalanya mendongak menatap AC yang masih berdengung di langit-langit kelas. Dengan kedua lengan yang dilipat dibelakang kepalanya dalam posisi santai.

Lalu bergumam akan hal yang sebenarnya mustahil untuk dicapai.

"Kapan ya sekali-sekali gue masuk kelompok beginian..."

Gelak tawa kecil kembali terdengar.

Di sisi lain...

Andito terdiam.

Tanpa sadar, matanya melirik ke sosok yang ada disampingnya. Yang kini sudah resmi masuk kelompok lain.

Yuna tampak biasa saja.

Bahkan sesekali sudah mulai melihat nama-nama anggota kelompoknya, seolah sedang mengingat siapa saja yang nanti akan bekerja sama dengannya.

Andito menarik napas pelan. Lalu mengembuskannya perlahan.

"Jadi..."

"Beneran nggak setim ya..."

Perasaan itu sebenarnya tidak masuk akal. Toh sejak awal pembagian kelompok memang dilakukan secara undian.

Tidak ada pilih kasih.

Tidak ada protes.

Semuanya adil.

Namun entah kenapa...

Dadanya tetap terasa sedikit mengganjal.

Sementara di depan kelas, Rachel langsung menuangkan seluruh lot yang ada di dalam toples. Karena memang kelompok lima sudah dipastikan itulah susunan anggotanya.

1
Arni Arlinawati pratiwi
andito kaya nemu temen harta karun, pake nangis bjirrr... /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
mampus andito.. mampus.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
/Doge/
Arni Arlinawati pratiwi
yuna.. andito.. 😭😭 mampus, /Facepalm/
Hs Mochi
dan lebih berkesan pastinya. jd pengen sekolah lagiiiii...😢
Hs Mochi
kebayang seru tapi ribet sih. harus cari orang ngumpet di sekolah🤣
Hs Mochi
eh.. seru ini.. jd teringat masa sekolah dulu. harus gesit dan lincah
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!