Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. Rak Gantung dan Matahari yang Datang Terlalu Cepat
..."Ketika tanah menolak kami, kami menanam di udara, karena orang lapar tidak boleh menunggu tanah baik hati."...
Hari pertama dari satu tahun yang dijanjikan dimulai di Desa Majia dengan matahari yang terbit terlalu terang dan terlalu cepat, bukan matahari musim hujan yang malu-malu muncul di balik awan, melainkan matahari musim kemarau yang langsung menampar atap bambu dan membuat lumpur yang belum sepenuhnya kering retak-retak seperti kulit tua, sehingga ketika Jing yue keluar dari balai pada pagi hari, yang dia rasakan pertama kali bukanlah dingin, melainkan panas yang naik dari tanah dan membuat ubin bambu di bawah kakinya berbunyi berderak.
Selama tiga puluh tujuh hari terakhir, hidup di Sungai Min adalah hidup melawan air, hidup dengan perahu, dengan tanggul, dengan karung pasir, dan dengan tidur setengah mata karena takut banjir, tapi hari ini air sudah surut sepenuhnya, sungai kembali ke jalurnya yang sempit, dan masalah baru muncul di ujung lain, yaitu tanah yang terlalu kering untuk ditanami, sumur yang mulai keruh, dan perut orang yang masih kosong karena lumbung belum terisi sejak banjir terakhir.
Jing yue berdiri di tepi balai panggung dan melihat ke bawah ke arah dataran yang sekarang berubah menjadi retakan-retakan besar, melihat ke arah sawah yang kemarin masih tergenang dan kini menjadi tanah keras yang bahkan cangkul pun sulit masuk, lalu dia berbalik dan menatap wajah-wajah warga yang berkumpul di bawah dengan mata yang lelah tapi menunggu, karena mereka sudah belajar bahwa setiap kali Jing yue diam terlalu lama, berarti dia sedang memikirkan cara.
Paman Chen maju dan berkata bahwa mereka punya dua masalah, masalah pertama adalah tidak ada tempat menanam karena tanah di bawah masih kotor dan penuh bakteri dari banjir, dan masalah kedua adalah kalau menunggu tanah pulih maka mereka akan kelaparan sebelum panen berikutnya, karena beras dari istana hanya cukup untuk dua bulan.
Tetua Kedua menambahkan bahwa anak-anak mulai sakit lagi, bukan karena demam lumpur, tapi karena kurang makan sayur, karena semua kebun hanyut dan bibit yang tersisa hanya sedikit dan tidak tahu harus ditanam di mana.
Jing yue tidak menjawab langsung, dia turun dari balai, berjalan ke gudang kecil di bawah, dan mengeluarkan buku besar yang dia tinggalkan di sana, buku yang halamannya penuh gambar dan tulisan tentang cara membuat perahu, lalu dia membalik ke halaman kosong di belakang dan mulai menggambar dengan arang sesuatu yang belum pernah ada di Majia.
Gambar itu adalah rak, bukan rak biasa, melainkan rak gantung bertingkat yang diikat ke tiang rumah panggung, dengan kotak-kotak dari bambu yang diisi tanah, disiram dari atas, dan airnya menetes ke bawah untuk menyiram rak berikutnya, sehingga satu tiang bisa menanam tiga lapis sayur tanpa perlu menyentuh tanah sama sekali.
"Kita tidak menanam di tanah," kata Jing yue sambil menunjukkan gambar itu, "kita menanam di atas, di tempat yang tidak bisa dijangkau banjir, di tempat yang bisa kita siram dengan air sungai yang kita angkut dengan ember, dan kalau matahari terlalu kuat kita bisa menutupinya dengan daun."
Awalnya orang-orang tertawa kecil, karena kedengarannya seperti mainan anak, bagaimana mungkin sayur bisa hidup di atas bambu, bagaimana mungkin tanah digantung, tapi Jing yue tidak marah, dia hanya mengambil bambu, tali, dan tanah dari bawah rumah, lalu dalam waktu satu jam dia membuat satu rak contoh di depan rumah Nenek Sun.
Dia mengisi kotak paling atas dengan tanah dan bibit sawi yang masih tersisa, menyiramnya dengan air, dan berkata bahwa dalam tujuh hari kita akan lihat hasilnya, dan kalau mati maka dia yang akan lapar duluan.
Hari itu, seluruh desa dibagi menjadi kelompok, kelompok pertama dipimpin oleh Lei Feng untuk mencari bambu muda di hutan dan memotongnya, kelompok kedua dipimpin oleh Bai Ling untuk mengumpulkan tanah dari bukit yang belum terkena banjir dan mencampurnya dengan abu dapur agar subur, dan kelompok ketiga dipimpin oleh Jing yue untuk mengajari cara membuat kotak dan cara mengikatnya agar tidak jatuh ketika angin kencang.
Anak-anak paling semangat, karena mereka diberi tugas mengangkut air dengan gayung kecil dari sungai ke atas, naik turun tangga rumah panggung sepanjang hari, dan setiap kali mereka menumpahkan air mereka tertawa dan berkata bahwa mereka sedang memberi minum adik sayur.
Hari kedua dan ketiga berjalan lambat, karena tangan melepuh, karena matahari membakar tengkuk, dan karena banyak rak yang roboh di malam hari karena ikatannya lemah, tapi Jing yue tidak menyuruh bongkar, dia hanya menyuruh perbaiki dan mengikat dua kali, karena dia tahu bahwa kegagalan pertama adalah guru terbaik.
Di hari keempat, masalah baru datang, yaitu sumur mulai kering dan air sungai keruh karena lumpur yang terbawa dari hulu, sehingga menyiram menjadi lebih sulit dan air yang dipakai harus disaring dulu dengan kain.
Jing yue lalu memerintahkan agar setiap rumah membuat penampung air hujan dari atap, menggunakan bambu yang dibelah dan dialirkan ke tempayan, sehingga ketika nanti hujan datang, tidak ada setetes pun yang terbuang.
Di hari kelima, rak pertama mulai menunjukkan tunas hijau kecil, dan ketika anak Nenek Sun berteriak "tumbuh, tumbuh" dari atas tangga, seluruh desa berlari naik untuk melihat, dan untuk pertama kalinya sejak banjir, ada tawa yang jujur di atas rumah panggung.
Kabar itu menyebar ke desa lain, Qinghe, Lijia, Shuanghe, Hekou, dan dalam waktu tiga hari utusan dari empat desa datang dengan membawa bambu dan meminta diajari, sehingga lapangan di bawah balai berubah menjadi kelas besar di mana Jing yue berdiri di atas meja dan berteriak menunjukkan cara mengikat simpul.
Di hari ketujuh, panen pertama bukan panen besar, hanya beberapa ikat sawi dan bayam, tapi itu cukup untuk membuat sup untuk semua anak di balai, dan ketika mangkuk pertama disajikan, tidak ada yang berbicara, semua orang hanya makan pelan-pelan seakan takut kalau sayur itu akan hilang kalau dimakan terlalu cepat.
Paman Chen menangis sambil makan dan berkata bahwa ini adalah sayur pertama yang tidak dibeli dengan uang dan tidak diminta dari istana, ini adalah sayur dari tangan mereka sendiri.
Jing yue duduk di sudut, makan dengan lahap, dan dia menulis di bukunya bahwa hari ini dia belajar bahwa ketika tanah mengkhianati, maka kita harus menanam di udara, dan ketika air pergi, maka kita harus belajar menampung langit.
Di hari kesepuluh, matahari semakin kuat, dan beberapa rak mulai layu karena panas, sehingga Jing yue memerintahkan agar setiap rak diberi atap dari daun pisang dan disiram dua kali sehari, pagi dan sore, dan anak-anak membuat jadwal agar tidak ada yang lupa.
Di hari kelima belas, datang utusan dari kabupaten dengan wajah kaget ketika melihat rumah-rumah panggung yang di sisi-sisinya menggantung kotak hijau, dan dia berkata bahwa dia akan melaporkan ini ke ibu kota karena ini bisa menjadi cara baru untuk desa rawan banjir di seluruh negeri.
Jing yue hanya mengangguk dan berkata bahwa kalau mereka mau, dia akan menuliskan semua caranya di kertas dan mengirimkannya, asalkan sebagai gantinya kabupaten mengirim bibit dan alat.
Di hari kedua puluh, rak-rak sudah penuh di hampir semua rumah, ada cabai, ada kacang panjang, ada tomat kecil, dan meskipun belum cukup untuk dijual, setidaknya tidak ada lagi anak yang makan hanya nasi dan garam.
Lei Feng yang awalnya menganggap ide ini bodoh kini menjadi orang paling rajin membuat rak, dan dia berkata bahwa dia tidak pernah menyangka bahwa bertani bisa dilakukan sambil berdiri, tanpa membungkuk di lumpur.
Di malam hari kedua puluh lima, hujan pertama setelah kemarau datang, tidak deras, hanya gerimis, dan semua orang berlari keluar untuk membuka tempayan dan mengarahkan bambu penampung, dan air yang jatuh dari atap ditampung sampai penuh, dan itu adalah malam pertama dalam sebulan mereka tidur tanpa takut kehabisan air.
Jing yue duduk di bawah atap, mendengarkan suara air di tempayan, dan dia menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa manusia tidak bisa melawan musim, tapi manusia bisa menipu musim dengan cara yang kecil, dengan rak, dengan tempayan, dengan tangan.
Di hari ketiga puluh, seluruh lima desa sudah memiliki rak, dan di balai diadakan pertemuan besar di mana setiap kepala keluarga melaporkan berapa kotak yang mereka punya dan berapa yang sudah panen, dan hasilnya ditulis di papan besar agar semua orang tahu.
Di akhir bulan, ketika Jing yue menghitung, ada lebih dari seribu kotak sayur yang menggantung di atas Sungai Min, dan itu berarti tidak ada lagi orang yang tidur dengan perut kosong.
Malam terakhir di hari ke 38, Jing yue naik ke atas atap balai sendirian, menatap ke bawah ke arah rumah-rumah yang di dindingnya menggantung hijau, menatap ke arah sungai yang tenang, dan menatap ke arah langit yang penuh bintang.
Dia menulis di bukunya bahwa satu bulan pertama dari satu tahun sudah selesai, bahwa mereka selamat dari air, selamat dari penyakit, dan sekarang sedang belajar selamat dari lapar.
Dia juga menulis bahwa dia lelah, sangat lelah, tapi dia juga bahagia, karena untuk pertama kalinya dia melihat orang-orang tidak bertanya "kapan bantuan datang", tapi bertanya "besok kita tanam apa".
Sebelum tidur, dia berjalan ke rumah Nenek Sun, melihat rak di depan rumah itu yang paling subur, dan nenek itu memberinya seikat bayam dan berkata bahwa ini untuk sup besok.
Jing yue menerima dengan dua tangan, menunduk, dan berjalan pulang dengan langkah pelan, karena dia tahu bahwa besok dia harus mengajari cara membuat pupuk dari abu, besok dia harus memeriksa apakah ada hama, dan besok dia harus terus bekerja.
Dan ketika dia memejamkan mata, dia bermimpi tentang ladang hijau yang menggantung di udara, tentang anak-anak yang memetik sayur sambil bernyanyi, dan tentang hari ketika Sungai Min tidak lagi dikenal sebagai tempat banjir, tapi sebagai tempat orang menanam di langit.