❌ BOM LIKE‼️
Suara musik menghentak memenuhi klub malam. Malam itu, Cintya baru saja dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Ia berlari menghindari pria-pria yang ingin menyentuhnya.
"Gue gak mau! Lepasin gue!"
"Berhenti! Gak ada jalan keluar untukmu!"
Bruk!
Tanpa sengaja, Cintya menabrak Victor Joseph, mafia berdarah dingin yang hendak masuk ruang VIP.
"Maaf ... maaf..." ucap Cintya ngos-ngosan.
Victor yang hendak marah, mendadak terdiam. Selama lima tahun, sentuhan wanita selalu membuatnya mual dan sesak napas akibat racun. Namun, sentuhan Cintya ... tidak bereaksi.
"Tuan Victor, gadis itu baru dijual ke sini."
"Serahkan dia."
"Harganya mahal."
"Saya beli. Sepuluh miliar."
"Apa?!" Cintya syok berat.
Tak ada yang menyangka, Cintya adalah satu-satunya penawar bagi Victor.
Namun, sanggupkah Cintya bertahan di tengah keluarga mafia yang dipenuhi kekejaman dan perebutan takhta pewaris?
Cintya merasa seperti baru saja keluar dari kandang buaya & masuk ke kandang macan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Cutꪻᶠᵃᵗᶦ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
030 – TVPM
...🍷 Happy Reading 🍷...
...-------🦋-------...
Victor menatap dalam mata Cintya yang bernetra biru laut. "Tidak akan sayang. Harusnya Hubby yang bilang begitu. Mia bisa saja berpaling dari Hubby karena Nino." Nada suaranya berubah menjadi geraman.
Cintya meringis. "Anuu itu."
Mata Victor melihat ke arah lain. "Jadi benar? Mia menyukainya?" lirihnya serak. 'Sial ada apa denganku.'
Cintya menggeleng ribut. "Gak Hubby! Suer Mia cuma bercanda kemarin! Karena kesel sama Hubby," lirihnya di akhir. Sumpah ia tidak bermaksud.
Cintya membuat wajah Victor agar menatapnya. Walau ia sempat tak percaya suami mafianya bisa pundung. "Udah jangan nangis, itu bohong kok, beneran!"
Victor menjepit pipi Cintya hingga membuat bibir sang empu seperti ikan. Ia mengecup bibir itu singkat, sebelum bertanya. "Yakin?"
Cintya sempat mengerjap, lalu mengangguk gemas dengan pertanyaan yang berulang. "Iyah Sayang, yakin." Menurunkan tangan Victor dari pipinya yang sedari tadi memanas tapi berusaha seperti biasa.
"Apa?" bisik Victor.
"Hah apa?" Otak Cintya mendadak ngeleg.
"Katakan ucapan Mia yang terakhir."
Mulut Cintya membulat. "Oh Iyah Sayang, yakin. Itu?"
Victor mengangguk. "Ulang."
"Iyah Sayang, yakin."
"Aaa!" pekik Cintya saat mendapat serangan mendadak.
Victor memeluk Cintya erat, lebih tepatnya gemas. "Hubby jadi tidak ingin meninggalkan Mia jika begini." Mencium pucuk kepala Cintya berkali-kali.
Jantung Cintya berdegup kencang. Perutnya terasa seperti ada kupu-kupu berterbangan menggelitik, pipinya terasa panas. Ia menggigit bibir bawahnya. Semua rasa ini ... belum pernah ia rasakan.
Cintya memejamkan matanya. 'Jatuh cinta semanis ini ternyata, astaga. Ya Tuhan, aku mohon agar selalu seperti ini, aku tidak ingin kehilangannya. Dia satu-satunya yang membuatku nyaman selain Mamaku dulu, sekali saja, jangan ambil dia dariku." Ia membalas pelukan Victor tak kalah erat.
Victor menarik wajahnya untuk melihat Cintya. "Kenapa, hm?" Karena melihat wajah Cintya yang sendu.
Cintya menatap Victor penuh cinta, ia tidak ingin menutupi perasaannya lagi. Tangannya mengepal kuat. "I love you Hubby..." bisiknya serak.
Victor membeku seakan tidak percaya.
Cintya melihat itu matanya semakin memanas. Ia menarik napas dalam. "I love you Victor Gabriel Joseph. Aku mencintaimu, sebagai pasangan. Kamu satu-satunya yang membuat hidupku yang penuh sengsara ada warnanya. Makasih atas semuanya..."
Air mata Cintya akhirnya luruh. Bibir bergetar, tapi ia belum selesai. Masih banyak kata yang ingin ia keluarkan.
Victor mengelus pipi Cintya lembut. "No Sayang, jangan menangis."
Cintya tersenyum memegang tangan Victor, matanya mengkhianatinya.
"Makasih karena sudah baik padaku, bahkan ayahku saja tidak sebaik ini hiks. Maaf, karena udah buat Hubby repot dengan keras kepalaku sekaligus rasa kepoku yang berlebihan, aku minta maaf." Suaranya seperti akan hilang saking emosionalnya.
Victor menyandarkan dahinya di dahi Cintya, tangannya menghapus air mata Cintya yang berjatuhan. "Hubby tidak menyalahkanmu Sayang. Lupakan hal itu, bukan sepenuhnya salahmu, mengerti?"
Badan Cintya bergetar semakin menjadi-jadi. "Kenapa Hubby baik banget sama aku? Ini bukan akting atau pura-purakan?" Ia takut ini semua hanya drama atau bisa saja mimpi sekaligus imajinasinya?
Victor mengecup lembut bibir Cintya sedikit lama lalu berpindah ke dahi, ke dua pipi, ke dua mata, dan terakhir hidung. "Tidak Sayang. Ini nyata, terimakasih juga karena telah hadir di hidup Hubby. Ketahuilah bahwa Hubby sangat mencintaimu, jadi Mia tidak mencintai sendiri."
Badan Cintya semakin bergetar menahan agar tidak menangis kejer. Dadanya sesak. "Tapi..." Cintya memejamkan matanya sebentar.
Cintya menggenggam tangan Victor. "Aku mohon dengan sangat, jangan pernah kecewain aku, aku gak akan sanggup kehilanganmu, aku udah bener-bener cinta hiks, please..." bisiknya hampir tidak ada suaranya, matanya memerah, ia mencium tangan Victor. Sumpah sekelebat ayahnya yang berubah setelah mamanya meninggal terlintas, ia tidak ingin kehilangan seseorang yang ia kenal sekaligus berubah sifat.
Victor tidak menjawab melainkan membungkam bibir Cintya dengan bibirnya.
Cintya memejamkan matanya menerima itu. Air mata terus membasahi pipinya. 'Ku mohon Tuhan, jangan ambil raganya, jiwanya, sikapnya, dan semuanya yang aku kenal sebagai dia, tolong jangan ambil...'
Victor mengelus punggung Cintya yang bergetar, sungguh ia tidak tega dan tak sanggup melihat Cintya menangis. Mengelus kepala Cintya di sela-sela ciumannya istri kecilnya tenang.
Victor melepaskan tautannya saat Cintya menepuk pundaknya.
Napas mereka tersengal.
Victor memeluk Cintya hingga hampir semua tubuh kecil Cintya tenggelam di dekapannya. "Sudah ya, tidak usah menangis lagi. Jaga diri baik-baik, mungkin saja Hubby tidak pulang."
Cintya mendongak menatap Victor dengan pipinya yang basah sisa menangis tadi. "Hubby deketan lagi dong."
Victor yang sedang menghapus air mata di pipi Cintya menurut, mendekatkan wajahnya.
Cintya tersenyum. Lalu mencium bibir Victor. "Muachh!"
Telinga Victor sontak memerah. Ia menunjuk ke pipinya.
Cintya tertawa. "Muachh!"
"Lagi." Victor menahan tubuh Cintya yang sudah lebih tinggi darinya.
Cintya mencium seluruh wajah Victor. " Muachh, muach! I love you~"
Victor terkekeh, sungguh istrinya sangat menggemaskan. "Boleh Hubby gigit tidak?"
Cintya mengangguk.
Victor langsung mengigit pipi Cintya. "Mia terlalu mengemaskan. Mia hanya milik Hubby. Jangan dekat-dekat dengan wanita lain, mengerti?"
Cintya mengangguk sambil terkekeh. "Hubby juga."
Victor mengacak-acak rambut Cintya. "Denger apa yang Hubby katakan tadi? Jaga diri baik-baik."
Cintya menggangguk cepat. "Iya! Kapan pulangnya?"
"Paling lama dua tiga hati, nanti Hubby usahakan cepat pulang."
...🦋Bersambung...🦋...
nggak tau dirii