NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Topeng yang Retak

"Ini bukan cuma bukti. Ini pisau."

Kalimat Kribo terus berputar di kepala Raka saat Wisnu Marpaung duduk di ruang interogasi keesokan paginya.

Ruang itu hanya kamar kantor kecamatan yang disulap seadanya: meja besi, dua kursi, kipas tua, kamera kecil Dimas di sudut, dan map bukti di depan Kompol Yudha. Tapi suasananya berbeda dari pos desa. Tidak ada tetangga, tidak ada drama, tidak ada ruang bagi Wisnu untuk mencuri simpati orang banyak.

Hanya pertanyaan.

Dan kebohongan.

Yudha membuka map. "Saudara Wisnu Marpaung, kami akan menanyakan ulang kronologi malam hilangnya Dewi. Jawab dengan jelas."

Wisnu duduk tegak. Wajahnya lelah, tapi ia masih mencoba terlihat tenang.

"Saya sudah bilang, Pak. Saya sayang Dewi seperti anak sendiri. Malam itu saya ke warung kopi. Banyak orang lihat saya."

Raka berdiri di belakang kaca jendela kecil bersama Kribo dan Dimas. Ia melihat panel merah di atas kepala Wisnu.

【WISNU MARPAUNG】

【INDEKS DOSA: 97/100】

Tidak turun. Tidak retak.

Yudha memutar rekaman pertama.

"Diam! Anak sialan! Nangis terus!"

Suara Wisnu memenuhi ruangan.

Wisnu menghela napas, seperti orang sabar yang difitnah. "Itu bukan saya. Zaman sekarang suara bisa dipalsukan."

Yudha memutar rekaman kedua.

"Anak ini cuma beban. Kalau bukan karena uang Bagus, sudah dari dulu aku..."

Marlina di rekaman menyela: "Jangan ngomong sembarangan. Dinding punya telinga."

Wisnu menatap meja. "Diambil di luar konteks. Semua orang pernah emosi. Bukan berarti membunuh."

Yudha tidak menaikkan suara. "Baik. Kita dengar yang ketiga."

Rekaman diputar.

"Sudah beres. Anak itu tidak akan menangis lagi."

Hening.

Tiga puluh detik penuh Wisnu tidak bicara.

Untuk pertama kalinya, topengnya tidak langsung menemukan bentuk baru.

Lalu ia mengangkat kepala. "Saya bicara soal menidurkan anak. Dewi sering menangis. Maksud saya dia sudah tidur."

Kribo memaki pelan di balik kaca. Dimas menatapnya, tapi kali ini tidak menegur.

Yudha menutup map. "Setelah kalimat itu, Anda berkata kepada ibu Anda untuk membersihkan kamar mandi bawah. Kenapa kamar mandi perlu dibersihkan kalau Dewi hanya tidur?"

Wisnu menjawab terlalu cepat. "Ada tikus mati. Ibu jijik."

"Marlina mengatakan hal yang sama?"

"Karena itu benar."

Interogasi Marlina tidak lebih baik.

Perempuan itu menangis sejak duduk, mengelap mata dengan ujung kerudung. Ia bersikeras Wisnu di warung kopi, bersikeras kamar mandi dibersihkan karena tikus, bersikeras tidak tahu apa pun tentang boneka.

Yudha meletakkan foto kamar mandi bawah di meja. "Tikus mati tidak meninggalkan serat kain merah muda di bawah ember. Tikus mati juga tidak membuat seseorang membuang boneka korban ke tong sampah."

Marlina menggenggam ujung kerudungnya sampai buku jarinya memutih. "Saya panik. Rumah ramai. Saya bersih-bersih. Itu saja."

"Bersih-bersih setelah cucu tiri Anda hilang? Atau setelah anak Anda menyuruh lewat telepon?"

Tangis Marlina tersendat.

Tapi saat Yudha bertanya, "Kenapa Boneka Teddy Bear Dewi ditemukan di tong sampah setelah sempat dicatat sebagai barang bukti?" Marlina berhenti menangis.

Hanya satu detik.

Cukup bagi Raka.

Cukup bagi Yudha.

"Saya tidak tahu," kata Marlina akhirnya.

Dimas menerima telepon di luar ruangan. Wajahnya berubah serius. Ia masuk dan menyerahkan ponsel kepada Yudha.

"Komandan. Dari dr. Nadia."

Yudha menyalakan speaker.

Suara perempuan terdengar jernih, profesional, tanpa memberi ruang bagi siapa pun untuk bersembunyi di balik emosi.

"Kompol, hasil awal otopsi Dewi sudah keluar. Penyebab kematian primer: asfiksia akibat benda asing di saluran napas. Material konsisten dengan agar-agar atau jelly. Tapi ada temuan sekunder."

Raka menahan napas.

"Memar di area hidung dan mulut. Polanya konsisten dengan tekanan dari benda lunak yang menutup jalan napas. Dengan kata lain, bayi ini tersedak lebih dulu, lalu seseorang menutup hidung dan mulutnya sampai meninggal."

Ruangan di balik kaca terasa dingin.

Jono memberi jelly. Dewi batuk. Dewi mungkin masih bisa diselamatkan.

Lalu seseorang datang.

Seseorang mengambil benda lunak.

Boneka Teddy Bear.

Raka melihat semua potongan itu menyatu dengan cara yang membuat dadanya sakit.

Wisnu tidak hanya membiarkan Dewi mati. Ia memastikan Dewi mati.

Yudha mematikan speaker perlahan. Untuk pertama kalinya, amarah tampak di wajahnya.

"Saudara Wisnu," katanya, "otopsi mengatakan Dewi tidak langsung meninggal karena jelly. Ada tindakan lanjutan."

Wisnu pucat, tapi masih bertahan. "Saya tidak tahu. Saya tidak ada di rumah."

"Kami akan memeriksa alibi warung kopi Anda."

"Silakan."

Secara hukum, masih ada celah. Rekaman bisa diperdebatkan. Marlina menopang alibi. Pemeriksaan lab butuh waktu. Orang warung bisa lupa, bisa bohong, bisa dibeli. Raka melihat Yudha tahu itu, dan justru karena tahu, rahang Kompol itu mengeras.

Menjelang sore, Wisnu belum ditahan resmi.

Ia keluar dari ruang interogasi dengan langkah pelan, lalu berhenti di dekat Raka.

"Kamu dengar sendiri, kan?" bisiknya. "Mereka belum bisa menahan saya. Kamu cuma anak panti yang kebetulan menemukan sampah. Jangan pikir kamu bisa melawan orang dewasa."

Raka menatapnya tanpa berkedip.

"Orang dewasa?" katanya pelan. "Dewi delapan bulan. Kamu butuh semua kebusukan ini hanya untuk menang melawan bayi delapan bulan."

Wajah Wisnu memerah. Sesaat, topengnya hampir pecah.

Tapi Yudha memanggil dari belakang, dan Wisnu pergi dengan senyum tipis.

Malamnya, di kamar kecil dekat pos, Raka membuka Buku Penghakiman.

Ia menulis kronologi: jelly dari Wisnu melalui Jono; Dewi tersedak; tindakan lanjutan menutup hidung dan mulut dengan benda lunak; boneka sebagai objek yang paling mungkin; rekaman Wisnu; kamar mandi bawah; Marlina membersihkan bukti.

Tinta hitam menyerap setiap kata.

【BUKTI: 78%】

Raka menambahkan hasil otopsi dr. Nadia, pola memar, dan kalimat Wisnu di rekaman ketiga.

【BUKTI: 88%】

【Status: MENDEKATI AMBANG DAKWAAN】

"Kurang apa lagi?" Kribo bertanya, suaranya serak.

Suara Hakim muncul di kepala Raka, dingin dan tenang.

【Jalur hukum manusia membutuhkan bukti yang dapat diterima prosedur. Sistem Penghakiman membutuhkan kebenaran yang lengkap.】

【Ambang Pengadilan Rakyat: 90% bukti terverifikasi.】

【Saat ini: 88%.】

Panel lain terbuka, lebih gelap dari sebelumnya.

【Pengadilan Rakyat: Jalur publik.】

【Efek: Menampilkan dakwaan dan bukti kepada masyarakat melalui media digital yang tersedia.】

【Syarat: Bukti tervalidasi melewati ambang minimum. Kesalahan dakwaan akan membatalkan hak penghakiman pada kasus aktif.】

Raka menatap halaman itu.

Dua persen.

Hanya dua persen antara Wisnu yang tersenyum bebas dan Wisnu yang diseret ke hadapan kebenaran.

"Jono," kata Raka.

Kribo mengangkat kepala.

"Jono melihat bagian yang belum kita punya. Dia bukan cuma lihat jelly. Dia lihat apa yang dilakukan Wisnu setelah Dewi batuk."

"Lina tidak akan mudah percaya."

"Aku tahu."

Raka menutup Buku Penghakiman.

Di luar, Desa Batu Giok gelap dan basah setelah gerimis. Di sSatu tempat, Wisnu masih bebas bernapas.

Tapi untuk pertama kalinya, Raka tahu cara membuat topeng itu hancur di depan semua orang.

Ia hanya butuh Jono mengatakan satu kalimat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!