Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - PANGLIMA YANG MENDADAK TANPA TOPENG
Pagi itu, kabar itu meledak seperti petir di langit yang cerah. Di seluruh penjuru Provinsi Seruni hingga Provinsi Kedaton, cermin-cermin gema di balai-balai desa, warung-warung, dan rumah-rumah para bangsawan menampilkan wajah yang sama — wajah Panglima Kabut, tanpa kabut dan tanpa topeng.
"Kabar paling mengejutkan pagi ini!" seru sang penyiar dengan mata berbinar-binar. "Panglima Pertama Kekaisaran Cakrawala, yang selama bertahun-tahun selalu tampil berbalut kabut dan bertopeng naga, tiba-tiba muncul di hadapan publik tanpa keduanya!"
Dari balai-balai hingga lorong-lorong, orang-orang berhenti melangkah. Tak peduli tua maupun muda, lelaki maupun perempuan, manusia biasa maupun manusia naga — semuanya memandangi cermin gema dengan mata yang sulit percaya.
Di bawah berita itu, barisan komentar para pendengar bergulir tanpa henti. "Aku minta maaf sebelumnya. Selama ini aku mengira wajah Panglima tak mungkin bisa dipandang... ternyata beliau segantang ini!"
"Aku ingin menjadi pendamping beliau! Jangan ada yang menghalangiku!"
"Tenang, Kak! Panglima sudah mengumumkan secara resmi bahwa beliau telah menikah. Mohon jaga tata krama!"
"Hu... jadi aku hanya bisa mengantre untuk sekadar melihat beliau dari kejauhan?"
"Tapi sebenarnya siapa istri Panglima? Jangan-jangan seorang gadis dari keluarga bangsawan kuno yang selama ini tersembunyi?"
Berita itu menjadi buah bibir paling hangat sepanjang hari. Di setiap balai, di setiap meja makan, di setiap kapal terbang yang melintas, orang hanya membicarakan satu hal: wajah Panglima Pertama yang akhirnya terbuka untuk semua orang. Toko-toko yang biasa ramai seketika menjadi lengang, sebab semua orang memilih berkumpul di depan cermin gema.
Kirana, yang menonton berita itu dari kamarnya di vila keluarga Wijaya, menggaruk ujung hidungnya dengan canggung. Dari sikap Rangga yang tenang di cermin gema, tampak jelas bahwa suaminya sama sekali tidak berniat menyembunyikan kehadirannya lebih lama lagi.
"Kalau begini, sebentar lagi mereka pasti akan menggali identitasku sampai ke akar-akarnya," batin Kirana cemas. Banyak orang hadir di puncak menara pada hari pernikahan itu; tidak butuh waktu lama sebelum seseorang menoleh, mengingat, lalu bertanya kepadanya.
"Yang lain bisa menyusul. Yang penting sekarang, aku harus memikirkan alasan yang masuk akal untuk menjelaskan semua ini kepada keluargaku," pikirnya lagi.
Kirana lalu pergi mandi, membersihkan pegal dan letih dari semalam tampil di depan Batu Gema, berganti pakaian yang rapi, lalu turun ke meja makan untuk menemani keluarganya.
Mengenai kidung untuk Tuan Rembulan, pagi tadi Kirana telah merekamnya ke dalam sebuah cakram gema, membungkusnya dengan kain sutra, dan menitipkannya kepada kurir kapal terbang bersama alamat yang dikirimkan Tuan Rembulan.
Kebetulan saja, Tuan Rembulan itu ternyata tinggal di Provinsi Kedaton juga. Namun hal itu sama sekali tidak mengherankan — orang yang berani menggelontorkan Keping Surya sebanyak itu nyaris selalu berasal dari provinsi-provinsi paling kaya, dan Provinsi Kedaton adalah yang termakmur di seluruh Kekaisaran.
Di meja makan, karena Ki Ageng ikut hadir, Sekar berperilaku sangat sopan. Kirana dapat menangkap betul maksud di baliknya — kakeknya memiliki mata yang tajam, dan Sekar tahu segala tipu dayanya mudah terbaca di hadapan lelaki tua itu. Ia pun hafal, di depan Ki Ageng, kata-kata manis tidak pernah berdaya.
"Tidak seperti Ayah dan Ibu yang gampang terpancing," batin Kirana. "Yang satu cepat panas, langsung meledak begitu disentuh provokasi. Yang satu lagi lembut hatinya, mudah sekali percaya pada kata-kata manis."
Ketika Kirana masih sibuk memikirkan cara mengabarkan perihal Rangga, Bawono, ayahnya, justru membuka suara lebih dulu. Ia memandang Kirana dan Sekar bergantian, lalu berpaling kepada Ki Ageng.
"Ayah, mereka sebentar lagi masuk sekolah dan pindah ke Provinsi Kedaton. Soal pengelolaan cabang rumah makan di sana, sebaiknya segera kita putuskan sekarang, ya?"
Kirana menyuap sup di hadapannya dengan wajah yang datar. Dari ujung matanya, ia melihat Sekar berusaha keras menahan senyum yang nyaris saja terangkat.
Ki Ageng menjawab dengan tenang, "Keduanya belum punya pengalaman. Langsung dipercaya memegang cabang, rasanya agak terburu-buru."
"Ayah, Sekar sudah berpengalaman," sergah Bawono. "Dua tahun terakhir ia sering magang di rumah makan dan banyak belajar dari ayah. Lagipula kondisi Rara kurang baik, ayah tidak tega melihatnya kecapekan."
Ki Ageng tidak menunjukkan raut yang khusus. Namun di sisi lain, Ratih meletakkan sumpitnya dengan keras, dan bunyi "klik" itu terdengar jelas di telinga Kirana.
Kirana cepat menggesekkan ujung kakinya ke kaki ibunya. Amarah yang hendak meledak dari Ratih tertahan seketika, seolah padam oleh sentuhan kecil yang tak seorang pun melihatnya.
Ratih menatap putrinya dengan curiga. Kirana membalasnya dengan kedipan mata yang penuh arti — "jangan dulu, Bu."
Setelah menenangkan ibunya, Kirana tersenyum dan meraih gayung untuk menambah sup ke mangkuk Bawono, seperti seorang anak perempuan yang baik dan penuh perhatian.
"Ayah selalu mengkhawatirkan kondisi badanku, sampai-sampai ingin menyerahkan semua pekerjaan yang melelahkan kepada Sekar," ujarnya halus. "Kalau terus begitu, Sekar akan mengira Ayah pilih kasih, Ayah."
"Aku..." Bawono menoleh ke arah Sekar, seolah baru sadar bahwa keputusannya selama ini terlalu memihak pada satu pihak.
Di balik senyumnya yang tenang, Kirana menyimpan keyakinan. Cabang di Provinsi Kedaton adalah pintu masuk bagi namanya di ibu kota — dan jika soal menarik pengunjung, nama "Kinanti" dengan puluhan juta pendengarnya adalah senjata terkuat yang tidak dimiliki siapa pun.
"Sekar mau merebut hak pengelolaan cabang itu? Tidak semudah yang ia kira," batin Kirana dingin.
Sekar yang merasa tatapan Kirana, segera menunduk pura-pura malu-malu. "Terserah keputusan Kakek dan Ayah saja. Sekar hanya ingin membantu keluarga," katanya dengan suara lembut.
Ki Ageng mengangguk pelan. "Kedua gadis ini sama-sama baik. Soal pengalaman, kita lihat saja bagaimana mereka belajar kelak di Provinsi Kedaton."
Bawono tampak lega mendengar jawaban itu. Namun Ratih masih menyimpan bara di dadanya; ia bertekad membicarakan hal ini berdua dengan putrinya nanti malam.
Makan malam berlanjut dalam suasana yang rumit. Kirana mencatat dalam hati setiap raut wajah yang lewat, sementara pikirannya melayang pada kabar yang pagi tadi mengguncang seluruh Kekaisaran. Namun ia tidak menunjukkan kegelisahan itu kepada siapa pun; ia tetap tersenyum, menyuap dengan tenang, dan mendengarkan setiap perkataan.
Sepulang dari meja makan, Kirana baru dapat menghela napas lega ketika pintu kamarnya tertutup rapat. Ia duduk di tepi ranjang, menyusun satu per satu kalimat yang mungkin akan ditanyakan keluarganya kelak.
Satu per satu masalah menumpuk di pundaknya — kabar tentang Rangga yang sudah tersebar luas, soal cabang rumah makan di Provinsi Kedaton, dan rahasia yang sebentar lagi pasti terbongkar.
"Sudahlah, jalan selangkah demi selangkah," gumamnya sambil memejamkan mata. "Yang penting malam ini aku masih punya waktu untuk menyiapkan diri."