NovelToon NovelToon
The CEO'S Speed Limit

The CEO'S Speed Limit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Sementara kedua sahabatnya sedang heboh memujinya, Raelyn justru sedang mengalami siksaan batin di dalam mobil sport hitam milik Alvarez yang melaju membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil.

Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat senyap dan mencekam. Raelyn memilih untuk diam seribu bahasa. Dia melipat kedua tangannya di dada, memasang wajah seketat mungkin, dan membuang pandangannya lurus ke luar jendela samping, menolak untuk menatap wajah suaminya.

Dia merasa sangat kesal karena Alvarez memperlakukannya seperti anak kecil yang harus dijemput paksa dari taman bermain.

Alvarez sendiri fokus mengemudikan setir mobilnya dengan satu tangan. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, tidak berniat membuka percakapan atau meminta maaf atas tindakan penjemputan paksanya tadi.

Pria itu hanya sesekali melirik ke arah Raelyn melalui cermin tengah, memastikan istrinya tidak melakukan tindakan nekat seperti melompat keluar dari mobil yang sedang berjalan.

Perjalanan sejauh tiga puluh menit itu terasa seperti berjalan selama tiga abad bagi Raelyn. Keheningan di antara mereka berdua dipenuhi oleh riak emosi yang saling berbenturan satu pihak menahan kesal karena kebebasannya diganggu, sementara pihak lain menahan diri agar tidak meledak karena sifat bebal sang istri.

Begitu mobil sport hitam itu memasuki area parkir bawah tanah rumah mewah mereka, Raelyn tidak menunggu supir atau Alvarez membukakan pintu.

Begitu mobil berhenti sempurna, dia langsung membuka pintu mobil dengan sentakan kasar, melompat keluar, dan berjalan lebar-lebar menuju lift privat dengan menghentakkan kakinya kesal.

Sesampainya di dalam rumah, Raelyn langsung melangkah cepat melewati koridor tengah. Karena kedua orang tua Alvarez dipastikan sudah pulang ke kediaman utama mereka sejak tadi siang, Raelyn merasa tidak ada lagi alasan bagi dirinya untuk terus tinggal di dalam kamar utama milik Alvarez. Dia mengarahkan langkah kakinya lurus menuju kamar tidur miliknya sendiri yang terletak di lorong sebelah kiri.

Namun, baru saja tangan kanan Raelyn hendak menyentuh gagang pintu kamarnya, sebuah suara bariton yang berat dan dingin mendadak menghentikan pergerakannya dari arah belakang.

"Raelyn," panggil Alvarez.

Pria itu berdiri di tengah lorong dengan melipat tangan di dada, menatap punggung istrinya dengan lekat.

Raelyn menghentikan gerakannya, lalu berbalik dengan cepat dengan wajah yang ditekuk sedalam lautan.

"Apa lagi?!" jawab Raelyn ketus, menatap suaminya dengan pandangan bermusuhan.

Alvarez mengernyitkan dahi, menunjuk ke arah pintu kamar Raelyn dengan dagunya. "Kenapa kamu ke situ?"

Raelyn mendengus sinis, merasa pertanyaan Alvarez sangat bodoh.

"Lah? Ya karena ini kamar gue! Kamar gue kan di sebelah sini, kamar lo di sebelah kanan! Inget?" jawab Raelyn ketus, menekankan pembagian area kekuasaan mereka yang lama.

"Tidur sama aku," ucap Alvarez pendek, kalimatnya terdengar seperti sebuah perintah mutlak yang sangat kasual namun tidak menerima bantahan.

Mata Raelyn langsung membelalak sempurna mendengar ajakan atau lebih tepatnya perintah dari suaminya itu. Ingatannya langsung berputar otomatis ke kejadian ciuman panas di depan pintu tawang tadi sore dan insiden ketahuan mertua siang kemarin. Rasa malu dan debaran bising di dadanya kembali meroket ke tingkat tertinggi.

"Gak mau!" tolak Raelyn mentah-mentah dengan wajah yang mulai menghangat merona merah.

"Orang tua lo kan udah pulang! Jadi sandiwaranya udah selesai! Sesuai kesepakatan awal kita... kita tidur pisah ranjang lagi! Paham lo?!"

Setelah meneriakkan kalimat penolakan penuh gengsi itu, Raelyn langsung membuka pintu kamarnya dengan cepat, masuk ke dalam, dan BRAK! membanting pintu kayu itu dengan sangat keras tepat di depan wajah Alvarez, lalu mengunci selotnya dari dalam dengan sentakan kasar.

Alvarez berdiri terpaku di koridor yang sepi. Dia menatap pintu kamar Raelyn yang tertutup rapat, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat pelan.

Pria itu menyugar rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jari-jarinya, menahan senyum geli sekaligus gemas yang perlahan terukir di bibirnya.

Sifat keras kepala istri kecilnya benar-benar tidak ada duanya. Tanpa mengeluarkan kata-kata balasan, Alvarez akhirnya berbalik dan melangkah perlahan menuju kamar utamanya sendiri di lorong sebelah kanan.

Sementara itu, di dalam kamarnya sendiri, Raelyn langsung bersandar di balik pintu kayu yang tertutup. Jantungnya berdegup dengan kecepatan yang sangat tidak karuan, berdetak begitu kencang hingga menimbulkan suara bising di telinganya sendiri.

"Iiiihhh! Malu-maluin banget sih tuh cowok! Ngapain coba pakai acara nyamperin ke kafe segala?! Terus sekarang... pake acara nyuruh gue tidur di kamarnya lagi! Dasar kakek mesum!" gerutu Raelyn frustrasi pada diri sendiri, meremas rambutnya acak-acakan demi meredakan rasa salah tingkah yang luar biasa yang menyiksa seluruh sistem saraf cerdasnya.

Dengan sisa-sisa tenaga dan emosi yang menumpuk hari ini, Raelyn akhirnya melangkah canggung menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Dia membersihkan dirinya, mandi menggunakan air hangat dengan sangat hati-hati agar tidak menyenggol perban di kakinya, lalu berganti pakaian menggunakan kaos kebesaran berwarna putih dan celana pendek kain yang nyaman untuk tidur.

Setelah selesai membersihkan diri, Raelyn menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur single size-nya yang empuk. Dia menatap langit-langit kamar yang sepi.

Namun anehnya, kali ini kamar tidurnya yang selama tiga bulan ini terasa sangat aman dan nyaman, mendadak terasa begitu luas, sepi, dingin, dan... terasa ada sesuatu yang kurang.

Indera penciumannya merindukan aroma parfum maskulin khas Alvarez yang semalaman suntuk menenangkannya di kamar utama sebelah kanan. Raelyn membalikkan tubuhnya memeluk gulingnya erat-erat, meratapi nasib hatinya yang kini sudah benar-benar terjebak dalam pesona sang monster bisnis sedingin es tersebut.

1
Muchammad Shobris
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!