"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Di Meja Makan
Denting halus jam dinding kantor menunjukkan tepat pukul dua belas siang. Suara denting keyboard yang tadinya memenuhi ruangan divisi analisis data perlahan menyurut, berganti dengan riuh rendah suara para karyawan yang mulai merapikan meja kerja mereka.
Aura merenggangkan jemarinya yang sedikit pegal setelah berjam-jam berkutat dengan ribuan baris data di layar monitor. Hari pertamanya terasa sangat produktif dan ia berhasil menyelesaikan tugas awal yang diberikan oleh kepala divisi dengan sangat baik.
"Aura! Yuk makan siang bareng!" panggil Rena yang sudah berdiri di samping kubikel Aura membawa dompet dan ponselnya.
Aura mendongak lalu tersenyum hangat. "Yuk, Rena. Kebetulan perutku juga sudah lapar."
Saat Aura dan Rena berjalan menuju pintu keluar divisi, mereka kembali melewati kubikel Maya. Senior berwajah judes itu tampak melirik sinis ke arah Aura sambil mendengus pelan, lalu berbalik mengajak kelompok temannya makan siang di restoran luar gedung yang mewah. Aura sama sekali tak memusingkannya; ia melangkah santai bersama Rena menuju lift umum.
Kantin utama A&P Group terletak di lantai tiga. Ruangan itu sangat luas, bersih, dan berpendingin udara, dengan jendela-jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Berbagai stan makanan—mulai dari masakan nusantara hingga menu barat—tersedia rapi di sana.
"Di sini makanannya enak-enak dan harganya sangat bersahabat buat karyawan, Ra," bisik Rena saat mereka mengantre makanan.
Setelah mengambil nampan berisi makanan pilihan mereka, Aura dan Rena mencari tempat duduk kosong di dekat jendela. Mereka menikmati makan siang sambil berbincang hangat mengenai berbagai hal, mulai dari ritme kerja di A&P Group hingga tips-tips menghadapi sistem analisis data perusahaan.
"Pokoknya kamu tenang aja, Aura. Kalau Mbak Maya mulai cari-cari masalah lagi, cuekin aja. Dia emang suka iri kalau ada karyawan baru yang berpotensi lebih bersinar dari dia," ujar Rena sembari mengunyah makanannya.
Aura tertawa tipis dan mengangguk. "Terima kasih ya, Rena. Kehadiranmu bikin hari pertamaku di sini terasa jauh lebih mudah."
Di tengah suasana kantin yang ramai dan menyenangkan itu, Aura kembali merasakan ketenangan yang murni. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa memiliki tempat yang tepat untuk memulai segalanya kembali dari nol.
Suasana kantin lantai tiga semakin riuh oleh obrolan ringan ratusan karyawan A&P Group. Di sudut dekat jendela, Aura dan Rena menikmati hidangan di nampan masing-masing dengan santai. Perbincangan hangat yang mengalir di antara mereka membuat canggung di hari pertama kerja sirnah sepenuhnya.
Aura menyantap nasi dan lauk pauknya dengan lahap, menikmati cita rasa masakan kantin yang ternyata amat lezat. Sesekali ia merespons cerita-cerita lucu dari Rena tentang keunikan para staf di berbagai divisi lain. Tawa kecil yang menyelinap dari bibir Aura menjadi bukti betapa hatinya kini terasa jauh lebih tenang dan bebas dari ketakutan masa lalu.
"Nanti selesai makan, aku tunjukin area pantry utama di lantai empat ya, Ra," ujar Rena seraya menyendok makanannya. "Biar kamu tahu tempat stok kopi dan teh kalau butuh amunisi pas lembur."
Mendengar kata 'kopi', refleks Aura teringat akan sanksi khusus dari sang CEO yang harus ia jalankan mulai besok pagi tepat pukul delapan. Ia tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Boleh banget, Rena. Kebetulan aku memang perlu tahu letak pantry," jawab Aura halus.
Rena mengacungkan jempolnya seraya menyesap minuman dinginnya. Di mata Rena, Aura bukan sekadar rekan baru yang berparas cantik, melainkan sosok yang sangat santun, cerdas, dan menyenangkan diajak bicara. Tak ada kesan pamer atau tinggi hati, meski Aura berhasil melewati sesi 'pemanggilan' sang CEO tanpa masalah berarti.
Setelah menyelesaikan suapan terakhir, mereka berdua merapikan nampan masing-masing. Waktu istirahat siang masih menyisa sekitar dua puluh menit, waktu yang cukup bagi Aura untuk mengenali sudut-sudut kantor barunya sebelum kembali bertempur dengan tumpukan data di sore hari.