Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Di sebuah pemakaman umum, suasana begitu sunyi. Hanya terdengar hembusan angin di sore hari.
Elea duduk berlesehan menatap nisan seseorang. Ia tak banyak bicara, hanya menatap pusara itu.
Angin sore menerpa wajahnya. Burung-burung berkicau sambil beterbangan di langit.
"Maafkan aku..." lirihnya pelan.
Elea memejamkan matanya, bayangan Lyn yang marah padanya masih teringat jelas. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi putrinya yang begitu asing baginya.
Elea membuka mata, menatap nisan suaminya.
"Aku gagal mendidik putri kita... Hari ini, aku melihatnya dengan sisi berbeda. Dia... seperti bukan Lyn, putri kita..."
"Apa yang aku lakukan salah?"
"Aku hanya ingin melindunginya..."
"Aku tidak ingin Lyn mendapat masalah..." Elea menjeda ucapannya, air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya.
Elea mengusap wajahnya dengan kasar, namun air mata yang lain terus mengalir menggantikannya.
"Aku takut, Mas... takut kehilangan dia, sama seperti aku kehilangan kamu."
Angin sore berhembus lebih kencang, menerbangkan helai rambut Elea yang mulai kusut. Ia menatap nisan itu lama, seolah menunggu jawaban yang tak akan pernah datang.
Elea menghela napas panjang, lalu meletakkan setangkai bunga di atas nisan.
"Doakan aku. Semoga aku bisa menjadi Ibu yang baik untuk Lyn."
Ia perlahan bangkit, menyeka sisa air mata di pipinya, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan pemakaman.
-▪︎-
Di dalam taksi, Elea terus menatap ponselnya, ingin menghubungi putrinya. Namun, kalimat terakhir Lyn membuat dia mengurungkan niat.
..."Malam ini, aku mau nginap di rumah temanku. Jangan cari aku!"...
Beberapa saat kemudian, taksi berhenti tepat di depan rumah Elea.
"Sudah sampai, Bu," ucap sopir taksi ramah.
Elea tersentak dari lamunannya. "Oh, iya. Terima kasih." Ia membayar ongkos taksi, lalu turun perlahan.
Elea berdiri sejenak di depan pintu, baru beberapa jam Lyn tidak berada di rumah, suasana sudah terasa asing tanpa kehadirannya. Ia menghela napas pelan, lalu meraih kunci dari dalam tasnya.
Pintu terbuka, kegelapan langsung menyambutnya.
Elea melangkah masuk, ia menatap sekeliling ruangan, lalu tatapannya berhenti di kalender yang terpajang di dinding.
"Besok ulang tahun, Lyn."
Semangat yang sempat pudar, kini kembali menyala.
"Aku harus memberikan kejutan pada putriku, semoga dengan cara ini, dia tahu aku sangat sayang padanya," harap Elea.
—•—
Di sebuah taman di pusat kota, seorang remaja duduk sendiri dengan wajah datar, seolah tak terpengaruh oleh keramaian sekitarnya. Orang-orang berlalu-lalang sibuk dengan urusan masing-masing, tak ada yang menoleh ke arahnya.
Bayangan sang ibu yang berlutut ke keluarga Clarisa membuat Lyn mengepalkan tangannya.
"Brengsek!"
"Mentang-mentang anak orang kaya, bisa seenaknya sama gue dan Ibu!"
Lyn berdecih kesal. Kepala sekolah tak peduli padanya, padahal ia tahu betul bahwa Clarisa dan gengnya sering melakukan bullying, namun tetap saja, sekolah menutup mata.
"Gue sumpahin lo, rambut lo nggak tumbuh-tumbuh. Kepala sekolah sialan!" geram Lyn.
Lyn menatap ke arah orang-orang yang lalu-lalang, namun pikirannya masih terjebak di ruang kepala sekolah—wajah ibunya yang berlutut memohon maaf kepada keluarga Clarisa menggema di telinganya.
Dring!
Ponsel Lyn bergetar. Lyn merogoh ponsel yang ada di sakunya. Namanya Alaric tertera di layar.
"Alaric..." gumamnya pelan.
Lyn terdiam, tumben Alaric mengirimnya pesan.
Lyn membuka pesan tersebut.
{Lyn, aku tunggu kamu di tempat tadi. Ada yang ingin aku bicarakan. Aku tunggu kamu sampai kamu datang}
Lyn terdiam sejenak, masih menatap pesan Alaric.
"Ada apa, ya?" batinnya bertanya-tanya.
Setelah beberapa saat, ia menghela napas pelan, lalu bangkit dari duduknya. Mungkin dengan bertemu Alaric, ia bisa meredakan amarah yang tak kunjung hilang.
Lyn berjalan menyusuri trotoar menuju sekolah, tepat ke taman tempat ia bertemu Alaric sebelumnya.
Tak lama kemudian, Lyn sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Ia menatap sekolah yang tampak begitu sunyi di malam hari.
Dring!
Ponselnya kembali bergetar.
Lyn menatap layar, Alaric kembali mengirim pesan.
{Masuklah.}
Lyn membuka pagar, lalu menuju taman tempat ia bertemu Alaric.
Lyn terus berjalan sambil menoleh sekitar.
"Alaric nggak jadi datang."
Ucap seseorang yang tak asing, membuat langkah Lyn terhenti.
"Dia ada urusan mendadak."
Lyn mengepalkan tangannya erat-erat. Ternyata ini jebakan lagi, sama seperti sebelumnya.
"Hei, cewek gembel. Jangan harap Alaric ingin ketemu sama lo."
Lyn membalikan badan perlahan, ia menatap Geng Aster dengan tajam.
Clarisa menatapnya dengan senyum mengejek.
"Kecewa, ya? Yang datang gue, bukan Alaric?"
"Oh jadi ini cewek yang bikin wajah kamu luka begini, baby?" ucap seseorang mendekati Clarisa, diikuti beberapa rekannya di belakang.
"Iya Ar, dia orangnya. Gara-gara dia, aku harus menjalani perawatan khusus," kesal Clarisa.
Arya merangkul Clarisa, lalu menatap sinis Lyn. "Tenang baby, tempat ini sudah aku amankan. Kamu bisa lakukan apa pun padanya."
Clarisa tersenyum puas, begitu pun dengan Selena dan Bianca.
"Malam ini, lo harus buktikan pada cewek gembel ini Cla," ucap Selena dengan antusias.
"Kasih dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan," tambah Bianca.
Deg!