Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20: yang belum siap, silahkan di luar
Suasana riuh di kelas XII IPA 1 yang tadi dipenuhi gelak tawa perlahan kembali tenang.
Nadira akhirnya bisa mengunyah bekalnya dengan damai setelah gelombang teman-temannya yang hendak meminjam buku surut. Arga juga sudah kembali melipat kaki di balik bangkunya, membuka buku Matematika sebentar untuk memastikan tidak ada nomor tugas yang terlewat atau tertinggal.
Di sudut kelas yang lain, beberapa murid justru mendadak panik.
"Astaga! Tugas Matematika yang Pak Rudi kasih udah dikumpulin belum sih?!" "Lah! Belum! Lu udah kelar?" "Belum anjir, kurang dua nomor lagi! Pinjem dong!" "Eh, penghapus gue mana?!" "Penggaris siapa nih di kolong meja gue?!"
Kepanikan skala kecil sempat meletup-letup. Namun... ketegangan itu tak bertahan lama.
Tok... tok... tok...
Derap langkah sepatu pantofel kulit terdengar mantap dari arah koridor. Langkahnya pelan, beritme konstan, dan semakin lama semakin mendekati pintu XII IPA 1.
Seketika, aura di dalam kelas berubah total. Bima yang tadi masih asyik bercanda mendadak membeku di tempat.
"Eh... jangan-jangan..." bisik Bima horor.
Rika melirik ke jendela koridor. "Pak Rudi..."
Satu kata itu sukses membuat seisi kelas hening seketika!
Anak-anak yang tadinya masih berdiri buru-buru melompat kembali ke bangku masing-masing. Murid yang sibuk menyalin tugas refleks menutup bukunya rapat-rapat. Tak ada lagi tawa meledak, tak ada lagi yang mondar-mandir. Suasana berganti drastis hanya dalam hitungan detik.
Ceklek...
Pintu kayu terbuka. Seorang guru pria berkemeja putih rapi dengan map kulit hitam di tangannya melangkah masuk. Beliau adalah Pak Rudi—guru Matematika yang tersohor paling disiplin dan berwibawa di SMAN 1 Yogyakarta.
Pak Rudi bukan tipe guru yang suka berteriak marah. Namun sekali menetapkan aturan, tak ada satu pun murid yang berani menawar.
Pak Rudi berdiri di samping meja guru. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh isi ruangan, dari garda terdepan hingga sudut paling belakang. Tak ada siswa yang berani menatap beliau terlalu lama.
"Selamat pagi," sapa Pak Rudi datar.
"Pagi, Pak!" sahut seluruh murid kompak, seirama.
Pak Rudi mengangguk tipis. Tanpa basa-basi atau mencairkan suasana, beliau langsung membuka buku presensi.
"Hari ini... kumpulkan tugas Matematika yang saya berikan minggu lalu."
Beberapa murid yang sudah siap langsung merogoh tas dan mengeluarkan buku tugas masing-masing.
Pak Rudi melanjutkan dengan vokal tenang yang justru terasa makin menegangkan. "Bagi yang belum siap... silakan bawa bukunya dan duduk di luar. Kerjakan di koridor. Kalau sudah selesai, baru boleh masuk kembali."
Tidak ada nada membentak, tetapi justru itulah yang membuat nyali sebagian murid menciut. Di SMAN 1, semua tahu bahwa Pak Rudi adalah musuh utama alasan. Jika tugas belum tuntas, konsekuensinya amat simpel: selesaikan di luar kelas.
"Ketua kelas, kumpulkan," perintah Pak Rudi singkat.
Ketua kelas langsung beranjak tegap. "Siap, Pak."
Satu per satu tumpukan buku mulai terkumpul di meja depan. Arga menyerahkan bukunya tanpa ragu. "Sudah, Pak."
Pak Rudi mengangguk. Nadira juga menyusulkan buku miliknya. "Sudah, Pak."
Keduanya memang telah menuntaskan tugas tersebut sejak semalam ketika belajar bersama di rumah. Pak Rudi menerima buku mereka tanpa komentar, lalu mulai mencocokkan jumlah buku dengan daftar presensi.
Namun... di barisan paling belakang, lima siswa cowok mulai saling melempar pandangan panik.
Bima berbisik dari balik telapak tangannya. "Waduh... gimana nih?"
Fajar menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Gue belum selesai, baru sampai nomor lima..."
"Anjir! Gue malah baru nomor tiga!" bisik teman sebelahnya lemas.
Sementara Danu hanya mampu menepuk jidat. "Aduh... gara-gara kecapekan habis latihan futsal kemarin sore, gue lupa lanjutin!"
Pak Rudi yang sedang menyisir daftar nama tiba-tiba mendongakkan kepala, menatap lurus ke barisan belakang. "Enam siswa di pojok belakang."
Kelima siswa itu refleks menegakkan punggung kaku laksana papan.
"Sudah selesai tugasnya?" tanya Pak Rudi tenang.
Mereka bertukar pandang. Tidak ada yang berani membuka mulut.
Pak Rudi mengangkat alisnya tipis. "Sudah... atau belum?"
Akhirnya, Bima memberanikan diri mengangkat tangan sedikit. "Belum selesai, Pak..."
Pak Rudi mengangguk paham tanpa memperpanjang perdebatan. "Baik. Silakan bawa buku dan alat tulis kalian. Duduk di luar, kerjakan sampai selesai. Nanti kalau sudah tuntas, serahkan ke saya baru boleh masuk."
"Baik, Pak..."
Tak ada yang membantah. Tak ada yang mencoba menyusun alibi. Kelima siswa itu pasrah mengambil buku tulis dan tempat pensil, lalu berjalan lesu mengekor keluar kelas.
Saat melewati meja Arga dan Nadira, Bima sempat menyikut bahu Arga seraya berbisik meratapi nasib. "Sial... semalam malah keasyikan main game..."
Arga menahan tawa geli di balik batuk kecilnya.
"Makanya... kerjaan tuh diselesaiin dulu, baru mabar."
Bima hanya meringis pasrah. "Iya, iya... kapok gue."
Di luar kelas, kelima siswa itu meleseh berjajar di bangku panjang koridor. Suasana santai di koridor sangat kontras dengan ketegangan di dalam.
"Aduh... nomor tujuh rumusnya gimana sih, Dan?" "Lah, jangan tanya gue! Gue aja baru merangkak di nomor empat!" Danu menghela napas panjang. "Coba kalau Nadira yang di luar, pasti sepuluh menit langsung kelar semua."
Mereka terkekeh pelan meratapi nasib. "Iya lah! Jangan dibandingin sama Bu Ketos, ilmunya beda kasta!"
Sementara itu di dalam kelas...
Pak Rudi mulai menyentuhkan kapur ke papan tulis, menuliskan judul materi baru. Nadira dengan cekatan membuka buku catatan bergarisnya yang rapi, sementara Arga menyiapkan kalkulator dan penggaris di atas meja.
Pelajaran Matematika hari itu pun bergulir dalam keheningan yang khidmat. Bahkan gertakan kapur yang bergesekan dengan papan tulis terdengar begitu nyaring. Seluruh siswa fokus menyimak, sebab mereka tahu pasti satu aturan emas di kelas Pak Rudi bercanda bisa ditunda, tetapi kedisiplinan tidak pernah bisa ditawar.