"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Bayangan Dendam di Balik Kaca Mobil
Sensasi hangat sisa kecupan di dalam ruang ganti butik tadi masih meninggalkan jejak rona merah di kedua pipi Nadira. Langkah kakinya yang agak jenjang menyusuri lantai marmer pintu keluar butik, dibimbing rapat oleh Askara.
Pria itu benar-benar menjelma menjadi sosok yang sangat posesif dan protektif. Sebelah lengan kekarnya merangkul erat pinggang Nadira, tak membiarkan ada jarak setipis kertas pun di antara tubuh mereka. Sesekali, jemari Askara mengusap lembut jemari Nadira yang melingkar di tangannya, seolah memamerkan pada dunia bahwa wanita bergaun santai bernuansa sage green di sampingnya ini adalah milik Askara sepenuhnya.
"Aska... lepasin dikit napa sih," bisik Nadira setengah malu-malu saat beberapa staf dan pengunjung di area parkir butik melirik ke arah mereka. "Malu tuh dilihatin orang-orang! Lo nempel mulu kayak prangko!"
Askara justru semakin mempererat rangkulannya, memiringkan kepala dan mendaratkan kecupan kilat di pelipis Nadira. "Kenapa harus malu? Gue meluk istri sah gue sendiri. Lagian jalan lo kan masih agak tertatih gara-gara semalam. Gue cuma mau mastiin istri gue gak jatuh."
"ASKARA!" omel Nadira bersungut-sungut dengan wajah yang semakin terbakar. "Jangan diperjelas di luar rumah juga dong!"
Askara terkekeh renyah, tawa khasnya yang bernada berat dan hangat terdengar begitu membahagiakan. Pria itu membukakan pintu penumpang SUV hitamnya dengan sangat telaten, memastikan kepala Nadira tak terantuk atap mobil sebelum ia sendiri berputar menuju kursi pengemudi.
Namun, di balik suasana penuh kemesraan dan gelak tawa pengantin baru itu, ada sepasang mata dari kejauhan yang menatap mereka dengan tatapan sarat akan kebencian yang mendalam.
...****************...
Beberapa puluh meter dari pelataran butik, sebuah mobil sedan ber kaca gelap terparkir diam di bawah naungan pohon rindang. Di balik kemudi, Sagara duduk mematung. Cengkeraman jemarinya pada roda kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya yang memerah menatap lekat pada sosok Nadira yang baru saja tersenyum manis menyambut ciuman pelipis dari Askara.
"Kenapa harus dia, Nadira?!" geram Sagara dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah. "Kenapa lo harus senyum sesenang itu di depan pria keparat itu?!"
Rahang Sagara mengeras. Memori pahit beberapa waktu lalu mendadak berputar hebat di kepalanya. Ingatan saat ia didepak dan dipecat secara tidak hormat dari Ruella Creative—perusahaan yang didirikan oleh Nadira. Ingatan saat Nadira menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh kekecewaan usai kedok persekongkolannya terbongkar.
Padahal... padahal Sagara beneran mencintai wanita itu. Rasa cinta yang tulus, meski dibalut dengan rasa obsesi yang teramat gelap.
Pikiran Sagara melayang jauh merentang waktu, menariknya kembali pada kilas balik beberapa tahun lalu.
Saat itu, Sagara masih menjadi seorang anak SMA yang lemah dan sering menjadi sasaran perundungan di sekolahnya. Sore itu, di sebuah gang sempit tak jauh dari sekolah, tubuhnya yang kurus tak berdaya dihujani pukulan dan tendangan oleh teman-teman sekelasnya. Seragam putih abu-abunya kotor oleh tanah dan darah yang mengalir dari bibirnya.
'Dasar anak gak guna! Lemah lo!'
Sagara meringkuk, memejamkan mata dan hanya bisa pasrah menunggu rasa sakit itu menghentikan kesadarannya. Namun, tiba-tiba suara langkah sepatu bertumit rendah memecah kesadisan sore itu.
'HEI! BERHENTI GAK LO PADA?! GUE PANGGILIN POLISI SEKARANG YA!'
Suara melengking dan tegas seorang gadis muda bergema. Sagara memberanikan diri membuka matanya yang bengkak. Di ujung gang, berdiri seorang gadis cantik berambut gelombang dengan kemeja rapi—Nadira, yang saat itu baru saja lulus kuliah dan sedang sibuk merintis perusahaan agensi kreatifnya sendiri, Ruella Creative.
Gadis itu tanpa takut mengacungkan ponselnya, berteriak begitu lantang hingga para pembully ketakutan dan lari berhamburan. Nadira melangkah mendekat, berlutut di samping Sagara yang bersimbah darah, lalu mengulurkan sapu tangan merah muda dan sebotol air mineral.
'Kamu gak apa-apa, Adek manis? Nih, minum dulu. Jangan mau diinjak-injak sama orang lain, ya. Kamu harus kuat.'
Senyuman tulus dan tatapan mata hangat Nadira sore itu terpatri abadi di dalam memori Sagara. Detik itu juga, Nadira menjadi penolong, penyelamat, sekaligus satu-satunya cahaya di hidup Sagara yang kelam.
Namun, takdir memainkan lelucon kejam. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Sagara baru mengetahui fakta bahwa wanita yang sangat ia kagumi itu ternyata adalah Nadira—wanita yang paling dibenci oleh Rebecca, kakak kandungnya sendiri. Rebecca membenci Nadira karena dendam persaingan bisnis dan gengsi.
Saat Rebecca menyusun rencana licik untuk menghancurkan bisnis dan reputasi Nadira, Sagara berpura-pura setuju untuk ikut serta dalam rencana busuk kakaknya. Bukan karena ia membenci Nadira, melainkan karena itu satu-satunya cara agar Sagara bisa memata-matai Nadira dari dekat, mendaftar magang di Ruella Creative, dan berkesempatan berada di sisi wanita impiannya.
Bertahun-tahun Sagara memperhatikan Nadira dari jauh. Mengawasi setiap pergerakan wanita itu, menghafal kebiasaan kecilnya, hingga rasa kagum itu berubah menjadi obsesi gila yang mengakar.
Dan dari seluruh hal yang ada di dunia ini, ada satu hal yang paling dibenci oleh Sagara melebihi apa pun: Askara Pradipta.
Sagara sangat membenci Askara. Pria itu selalu ada di dekat Nadira. Askara adalah benteng kokoh yang selalu menghalangi Sagara untuk menjangkau Nadira. Tatapan protektif Askara, senyuman Askara yang selalu dibalas hangat oleh Nadira, membuat dada Sagara terbakar cemburu yang teramat hebat.
Brak!
Sagara memukul kemudinya keras-keras, menariknya kembali ke kenyataan masa kini. Napasnya menderu cepat saat melihat SUV hitam Askara perlahan mulai bergerak meninggalkan pelataran butik.
"Lo pikir lo udah menang, Askara?" bisik Sagara dengan tatapan penuh dendam yang makin pekat. "Lo pikir lo bisa memiliki Nadira selamanya cuma gara-gara kertas pernikahan itu?"
Sagara menyalakan mesin sedan mewahnya. Suara derum mesin terdengar pelan di tengah kesunyian dalam kabin. Tangannya menggenggam erat roda kemudi, lalu menginjak pedal gas perlahan untuk mengekor mobil Askara dari jarak aman.
"Nadira itu punya gue..." gumam Sagara dingin pada kaca spionnya sendiri, menyunggingkan senyuman miring yang mengerikan. "Gue yang pertama kali diselamatkan sama dia. Gue yang paling paham betapa berharganya dia. Dan gue gak akan pernah biarin lo hidup tenang sama dia, Askara."
...****************...
Di dalam SUV hitam yang berada beberapa puluh meter di depan, Askara menyipitkan matanya sejenak saat melirik kaca spion tengah. Insting protektifnya yang tajam mendadak menangkap keberadaan sebuah sedan hitam berkaca gelap yang tampak mengikuti laju mobilnya sejak keluar dari area butik.
"Kenapa, Ka?" tanya Nadira lembut saat menyadari perubahan raut wajah suaminya.
Askara segera mengalihkan pandangannya kembali ke depan, menyunggingkan senyuman manis dan menggenggam jemari Nadira semakin erat.
"Gak apa-apa, Sayang," sahut Askara tenang, walau di dalam hatinya rasa waspada mulai menyala terang. "Cuma mau mastiin jalanan aman buat istri cantik gue."
semangat terus thor...
/Heart/