NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30, BAYANGAN DI PERBATASAN.

Angin berhembus dingin melewati celah-celah batu di Perbatasan Utara. Di sini, tanah kering dan berwarna abu-abu tampak tak pernah disentuh hujan. Kabut tipis melayang rendah, seolah dunia sendiri menahan napas.

Zhoo berdiri di atas bukit batu, memandang ke arah utara — ke tanah tak bertuan yang memisahkan Kerajaan Voros dan Kerajaan Kaelthira. Di sampingnya, Arvin melipat kedua lengan di dada, wajahnya tertutup bayangan keraguan.

"Kau yakin kita harus melintas di sini?" tanya Arvin pelan, suaranya tertelan angin. "Para penjaga perbatasan Kaelthira tidak kenal ampun. Mereka membunuh siapa saja yang melintas tanpa izin tertulis dari Raja Kael."

Zhoo tersenyum tipis, namun matanya tetap tajam menatap kabut. "Kita tidak punya pilihan lain. Jalan utama dijaga ketat. Jalan timur sudah dikepung pasukan Vereon. Jika kita ingin sampai ke ibu kota Kaelthira sebelum bulan purnama, ini satu-satunya jalan."

"Dan jika kita tertangkap?" Arvin menatapnya. "Kau tahu reputasi Kael. Dia tidak membiarkan orang asing hidup lama di istananya."

"Kita tidak akan tertangkap," jawab Zhoo tenang. "Karena kita bukan musuh. Kita pembawa pesan."

"Pesan kosong," gumam Arvin.

"Pesan yang mereka butuhkan, meski mereka belum tahu itu." Zhoo melangkah turun bukit. "Ayo. Semakin lama kita berdiri di sini, semakin besar kemungkinan kita terlihat."

Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kabut. Tanah di bawah kaki mereka semakin keras, berdebu, dan berbau besi — bau darah yang kering, bau perang yang tak pernah benar-benar berakhir.

Tak jauh di belakang mereka, Elara berjalan diam-diam. Langkahnya ringan, hampir tak meninggalkan jejak. Ia mendengarkan setiap kata yang terucap, mencatat setiap nada bicara. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya, ia menyadari satu hal: Zhoo bukan sekadar pemuda yang berambisi. Ia adalah seseorang yang melihat lebih jauh dari kebanyakan raja. Dan itulah yang membuatnya berbahaya — dan menarik.

"Kau terus mengawasinya," bisik Rhaen yang tiba-tiba muncul di samping Elara, langkahnya senyap seperti bayangan.

Elara tidak menoleh. "Dia berencana menyatukan tujuh kerajaan. Itu bukan hal kecil, Rhaen. Bukan hal yang bisa dipercaya begitu saja."

"Dan kau pikir dia bisa melakukannya?"

"Entah," jawab Elara jujur. "Tapi dia tidak berjalan sendirian. Arvin bersamanya. Dan itu sudah setengah kemenangan baginya."

Rhaen tertawa kecil, namun tanpa kegembiraan. "Arvin itu pedang yang tajam, tapi dia tidak memegang kendali. Zhoo yang memegang gagangnya. Dan suatu hari, pedang itu bisa berbalik melawan pemegangnya."

"Kita akan lihat," ujar Elara pelan. "Kita akan lihat siapa yang akhirnya berdiri di puncak."

 

Setelah berjalan berjam-jam dalam kabut, mereka tiba di sebuah lembah sempit yang dijaga oleh dua puluh prajurit Kaelthira. Zhoo mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi saat mereka muncul dari kabut.

"Berhenti!" seru seorang komandan, mengacungkan pedang. "Siapa kalian? Dan dengan berani sekali melintas di wilayah kami tanpa izin!"

"Aku Zhoo," jawabnya lantang dan tenang. "Dan ini kawanku, Arvin. Kami datang bukan untuk berperang, tapi untuk berbicara dengan Raja Kael."

"Raja tidak punya waktu untuk orang asing," geram komandan itu.

"Katakan padanya aku membawa berita tentang Raja Vereon," ujar Zhoo. "Dan tentang apa yang akan terjadi jika ketujuh kerajaan tetap terpisah."

Komandan itu terdiam. Nama Vereon adalah nama yang cukup untuk membuat siapa saja berhenti sejenak. Ia menatap Zhoo lama, mencoba membaca kebohongan di wajahnya. Namun Zhoo berdiri tegak, matanya jernih dan tenang.

"Kunci mereka," perintah komandan akhirnya. "Bawa mereka ke benteng perbatasan. Biarkan Raja yang memutuskan nasib mereka."

Saat tangan besi mengikat pergelangan tangannya, Arvin menahan amarahnya. "Kau benar-benar membawa kita ke dalam kandang singa," bisiknya tajam.

"Singa tidak akan memakan tamu yang membawa nasihat," balas Zhoo pelan. "Dan Kael bukan singa. Dia penguasa yang cerdas. Dia tahu kapan harus mendengarkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!