"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Sayap di Atas Awan
Suara bising mesin jet pribadi milik Mahendra Group perlahan mereda begitu pesawat penjelajah itu mencapai ketinggian jelajah tiga puluh ribu kaki di atas permukaan laut. Di dalam kabin VIP yang super mewah dan bernuansa kayu mahoni hangat tersebut, hanya ada dua penumpang. Arkan Mahendra duduk di kursi kulit premiumnya yang lebar, sementara Viona berada di seberangnya, menatap hamparan awan putih yang bergulung-gulung di balik jendela kaca tebal.
Perjalanan pagi ini berlangsung begitu cepat dan sunyi. Sejak fajar menyingsing, beberapa pengawal pribadi utusan Arkan sudah menjemput Viona di penthouse, membawanya langsung menuju bandara melalui jalur khusus tanpa harus melewati hiruk-pikuk terminal umum. Viona bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal secara langsung pada ibunya di rumah sakit, meskipun Baskara semalam sudah menjamin bahwa keamanan di ruang VIP sang ibu telah diperketat pasca-kedatangan Nyonya Sofia.
Viona memeluk kedua lututnya di atas kursi, menenggelamkan sebagian wajahnya di balik sweter rajut longgar berwarna abu-abu. Perasaan asing dan cemas kian menggerogoti dadanya. Ini adalah kali pertama dia melangkah keluar dari batas negara, bukan untuk berlibur, melainkan dipindahkan ke dalam sangkar emas baru yang terapung di atas awan.
"Minum jusmu, Viona. Kau belum menyentuh sarapanmu sejak kita lepas landas," suara bariton Arkan memecah keheningan kabin. Pria itu meletakkan tablet kerjanya di atas meja lipat, lalu menatap Viona dengan sepasang mata elang yang tajam namun tidak sedingin biasanya.
Viona melirik segelas jus jeruk segar dan sepiring roti panggang yang tersaji di hadapannya. Nafsu makannya benar-benar menguap. "Saya tidak lapar, Tuan Arkan."
Arkan mendengus pelan, sebuah helaan napas berat yang sarat akan dominasi yang tak suka dibantah. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah dua tindak di atas karpet tebal kabin, lalu mendudukkan diri tepat di samping Viona. Jarak yang mendadak terkikis itu membuat Viona otomatis menegang, aroma parfum maskulin Arkan yang khas langsung menguasai inderanya.
"Apakah kau sedang mogok makan untuk memprotes keputusanku?" Arkan mengulurkan tangannya, jemarinya yang kekar bergerak lembut menyelipkan anak rambut Viona ke belakang telinga, lalu menangkup rahang ramping gadis itu agar menatapnya. "Aku membawamu ke Singapura untuk melindungimu, Viona. Ibuku bukan wanita yang mudah menyerah setelah apa yang terjadi di kantor kemarin."
Viona menatap sepasang manik hitam di hadapannya yang memancarkan kilat posesif yang pekat. "Melindungi saya dari Ibu Anda, atau melindungi hak kepemilikan Anda, Tuan? Anda tahu betul bahwa bagi jalannya bisnis Anda, saya hanyalah sebuah kerugian besar. Ibu Anda benar, saya hanya mainan yang merusak tatanan hidup Anda."
Mendengar kalimat pasrah yang sarat akan kepedihan itu, rahang Arkan mengeras seketika. Ego tiraninya berontak setiap kali Viona merendahkan dirinya sendiri atau mencoba menjauh dari jangkauan takdirnya.
"Aku tidak peduli dengan apa yang Ibu katakan, dan aku tidak peduli dengan kerugian bisnis," desis Arkan rendah, wajah tampannya mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris habis. Napasnya yang hangat menerpa bibir Viona yang sedikit pucat. "Di atas pesawat ini, di Singapura nanti, atau di mana pun di dunia ini... kau hanya perlu tahu satu hal: kau adalah milikku. Kontrak kita mengikat jiwamu padaku, Viona. Jangan pernah menganggap dirimu tidak berharga, karena hanya aku yang berhak menentukan nilaimu."
Sebelum Viona sempat memalingkan wajah, Arkan sudah menundukkan kepalanya, membungkam bibir Viona dengan pagutan yang menuntut sekaligus sarat akan kehangatan yang pekat. Sebuah ciuman di atas awan yang mengklaim kembali seluruh otoritas mutlaknya atas diri gadis itu. Viona meremas ujung sweternya, mencoba menahan gejolak gairah terlarang yang kembali tersulut di dalam dadanya, sebuah perasaan bersalah yang kian hari kian mengikis sisa kewarasannya.
Ketika Arkan akhirnya melepaskan pagutan mereka, dia mengusap bibir Viona yang basah dengan ibu jarinya, menatap wajah memerah gadis itu dengan kepuasan yang samar. "Sekarang, habiskan sarapanmu. Aku tidak ingin asisten pribadiku pingsan saat kita mendarat di Changi nanti."
Viona hanya bisa menundukkan kepala, menerima suapan demi suapan roti yang Arkan berikan dengan kepasrahan yang dingin. Di dalam hatinya, dia menyadari bahwa pelariannya ke Singapura ini tidak akan mengubah apa pun; dia tetaplah seekor burung hiasan yang terkunci rapat di dalam sangkar emas yang kian hari kian melilitnya tanpa ampun.
Tepat pukul sebelas siang waktu Singapura, jet pribadi Mahendra Group mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Changi melalui terminal jet pribadi khusus. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sudah menunggu di pinggir landasan pacu, siap membawa sang CEO dan asisten pribadinya menuju pusat kota.
Suasana kota Singapura yang bersih, rapi, dan dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit berarsitektur modern menyambut pandangan Viona sepanjang perjalanan. Namun, keindahan tata kota itu tidak mampu meredakan badai kecemasan di dalam benaknya.
Mobil berhenti di depan sebuah hotel bintang lima super eksklusif yang terletak di kawasan Marina Bay. Alih-alih menuju lobi utama, manajer hotel sendiri yang menyambut kedatangan Arkan dan menuntun mereka langsung menuju lift privat yang menuju ke lantai paling atas—area Penthouse Suite.
Begitu pintu suite terbuka, Viona disuguhi pemandangan kemewahan yang luar biasa. Ruangan yang sangat luas dengan dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan langsung ke arah Marina Bay Sands dan hamparan laut biru yang dipenuhi kapal-kapal dagang. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang king size bernuansa putih bersih yang tampak sangat kontras dengan lantai kayu jati yang gelap.
"Hanya... satu kamar, Tuan?" tanya Viona ragu, berbalik menatap Arkan yang sedang melepaskan jas kerjanya dan menyerahkannya pada pelayan hotel yang segera undur diri.
Arkan melonggarkan dasinya dengan gerakan malas namun penuh pesona maskulin yang intens. "Tentu saja hanya satu kamar, Viona. Apakah kau berpikir aku akan membiarkanmu tidur di ruangan terpisah di negara asing ini?"
"Tapi saya di sini sebagai asisten pribadi Anda, Tuan Arkan! Bagaimana jika ada kolega bisnis Anda yang melihat atau datang berkunjung ke sini?" protes Viona, suaranya sedikit meninggi karena rasa takut akan penilaian dunia luar yang kian menghantuinya.
Arkan melangkah mendekati Viona, menjulang tinggi di depan tubuh ramping gadis itu, memancarkan aura dominasi yang sangat mengintimidasi kesadaran nuraninya. "Tidak akan ada seorang pun yang berani masuk ke dalam suite ini tanpa izinku, Viona. Dan di Singapura ini, jadwalku hanya diisi oleh pertemuan internal dengan anak perusahaan kita. Kau tidak perlu mencemaskan hal-hal yang tidak penting."
Pria itu mengulurkan tangan, mencengkeram pinggang ramping Viona dengan lembut namun tegas, menarik tubuh mereka agar kembali melekat tanpa celah. "Tugasmu di sini sangat sederhana: bantu aku memeriksa laporan di siang hari, dan layani aku di malam hari. Mengerti?"
Viona merasakan dadanya bergemuruh hebat. Tatapan mata elang Arkan seolah-olah menguliti seluruh pertahanan batinnya, menyisakan rasa pasrah yang amat mendalam. Dia tahu, berdebat dengan tiran posesif ini hanya akan berakhir dengan dirinya yang kembali didominasi di atas ranjang mewah tersebut.
"Baik, Tuan," jawab Viona lirih, menundukkan pandangannya dari tatapan intens sang CEO.
Sore harinya, Arkan harus menghadiri pertemuan mendadak di kantor anak perusahaan yang terletak di kawasan Raffles Place. Dia meninggalkan Viona di dalam suite dengan pengawasan ketat dari dua pengawal pribadi yang berjaga di depan pintu luar.
Viona memanfaatkan waktu luang itu untuk membersihkan diri dan merapikan pakaiannya ke dalam lemari besar. Selesai mandi, dia berjalan mendekati dinding kaca raksasa, menatap matahari terbenam yang mulai memancarkan semburat warna jingga dan keunguan di langit Singapura. Keindahan yang magis, namun terasa begitu sunyi bagi jiwa Viona yang kian hampa.
Saat dia sedang termenung, ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas mendadak bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal, namun memiliki kode area Indonesia.
Dengan ragu-ragu, Viona mengangkat panggilan tersebut. "Halo?"
"Viona... ini aku, Rendy," suara di seberang telepon terdengar sangat panik dan terengah-engah, membuat jantung Viona seketika berdegup liar karena rasa terkejut yang luar biasa.
"Kak Rendy?! Bagaimana Kakak bisa mendapatkan nomor ini?" tanya Viona setengah berbisik, matanya melirik panik ke arah pintu, takut jika ada pengawal Arkan yang mendengar percakapan rahasia ini.
"Itu tidak penting, Vio! Dengarkan aku baik-baik," potong Rendy dengan nada suara yang sangat mendesak. "Aku tahu kau dibawa pergi ke Singapura oleh Tuan Arkan. Aku tahu tentang kontrak gila yang mengikatmu dengannya! Seseorang dari lingkaran keluarga Mahendra menghubungiku semalam, Vio. Mereka bersedia membantuku untuk mengeluarkanmu dari cengkeraman pria tiran itu!"
Mendengar kata 'lingkungan keluarga Mahendra', pikiran Viona langsung tertuju pada satu nama: Nyonya Sofia. Ibu kandung Arkan ternyata tidak benar-benar menyerah; wanita aristokrat itu kini menggunakan Rendy sebagai bidak baru untuk menghancurkan kontrak rahasia mereka.
"Kak Rendy, jangan lakukan apa-apa! Ini sangat berbahaya!" seru Viona panik, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya saat membayangkan bagaimana menggelegarnya amarah Arkan jika mengetahui hal ini. "Tuan Arkan bisa menghancurkan hidup Kakak dalam kedipan mata! Kumohon, jauhi masalah ini!"
"Aku tidak takut, Vio! Aku mencintaimu, dan aku tidak akan membiarkanmu terus menjadi wanita simpanan pria bajingan itu!" tegas Rendy di seberang telepon, sebuah pengakuan jujur yang justru terasa seperti lonceng kematian di telinga Viona. "Besok malam, jam sembilan, temui aku di dekat patung Merlion Park. Orang-orang Nyonya Sofia sudah menyiapkan paspor baru dan tiket penerbangan ke Eropa untukmu dan ibumu. Kita bisa lari bersama, Vio..."
Belum sempat Viona memberikan jawaban atau penolakan lebih lanjut, sebuah tangan kekar bersarung tangan kulit hitam mendadak merebut ponsel dari genggaman tangannya dengan sentakan yang sangat kasar.
Viona memutar tubuhnya dengan wajah pucat pasi, dan dalam seketika, seluruh aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir.
Arkan Mahendra sudah berdiri di belakangnya. Pria itu tampaknya baru saja kembali dari pertemuannya, wajah tampannya kini tertutup oleh topeng kegelapan yang luar biasa pekat. Sepasang mata elangnya berkilat oleh kilat cemburu dan amarah yang ekstrem, memancarkan aura predator yang siap mencabik-cabik apa saja yang berani mengusik miliknya.
Arkan menempelkan ponsel Viona ke telinganya sendiri, mendengarkan suara Rendy yang masih berteriak memanggil nama Viona di seberang sana selama beberapa detik, sebelum akhirnya sang CEO menghancurkan ponsel pintar itu dalam cengkeraman tangannya hingga layarnya retak seribu dan mati total.
Arkan melemparkan bangkai ponsel itu ke lantai dengan bunyi hantaman yang keras, lalu melangkah maju mendekati Viona yang kini sudah gemetar hebat karena rasa takut yang luar biasa ngeri.
"Jadi... ini alasan kenapa kau begitu mendambakan kebebasan, Viona?" suara bariton Arkan terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokannya. Dia mengunci tubuh Viona di antara kedua tangannya yang menumpu pada dinding kaca, menjebak gadis itu sepenuhnya dalam sangkar intim yang kian mematikan. "Kau merencanakan pelarian dengan pria itu di belakangku? Di dalam suite milikku?!"
"Tidak, Tuan! Saya bersumpah saya tidak tahu apa-apa!" tangis Viona pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. "Kak Rendy yang menghubungi saya terlebih dahulu! Saya baru saja ingin menolaknya!"
"Tutup mulutmu!" bentak Arkan rendah, sebuah erangan frustrasi dan posesifitas ekstrem yang kian meledak di dalam dadanya. Pria itu mencengkeram rahang Viona dengan kasar, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang dipenuhi kabut kegelapan gairah yang membara. "Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Viona. Kau adalah milikku, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh membawamu pergi dariku. Jika pria itu berani menginjakkan kakinya di Singapura besok malam... aku bersumpah akan memastikan dia tidak akan pernah bisa kembali ke Indonesia dalam keadaan bernyawa."
Viona memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi nasibnya yang kini kian terjebak di dalam neraka gairah penuh intrik dan kekuasaan absolut sang tiran posesif yang siap menghancurkan apa saja demi mempertahankan jalannya kontrak rahasia mereka di atas tanah asing ini.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.