Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Berseragam
Aku pertama kali melihat wajah Komisaris Yusuf Baskoro bukan di kantor polisi, bukan juga di berita. Aku melihatnya lewat foto di koran bekas pembungkus gorengan Ibu—foto lama, di mana ia berdiri gagah dengan seragam lengkap, menyerahkan penghargaan "Kapolsek Teladan" entah tahun berapa. Wajahnya tenang, hampir ramah, jenis wajah yang membuat orang percaya begitu saja kalau ia bilang sedang berusaha melindungi mereka.
Wajah itu jauh berbeda dari cerita-cerita yang mulai beredar tentang dirinya di gang-gang Karang Wetan setelah kejadian pencurian uang Broto.
---
Semua bermula dari razia.
Seminggu setelah kabar kehilangan uang Broto menyebar, tiba-tiba ada razia besar-besaran di sepanjang pasar dan gang-gang sekitar—bukan razia biasa yang cuma memeriksa KTP atau pedagang liar, tapi razia yang terasa diarahkan. Rumah-rumah tertentu digeledah. Orang-orang yang selama ini dikenal dekat dengan kami—Pak Darto, bahkan Bu Inah yang baru saja mulai membangun ulang warungnya—dipanggil untuk "dimintai keterangan".
Aku tidak ditangkap. Tidak ada satu pun dari kami yang tertangkap malam itu, karena Pak Darto sempat memberi peringatan lebih dulu lewat jaringannya. Tapi pesannya jelas: seseorang di atas sana sudah mulai memperhatikan kami, dan orang itu punya cukup kekuatan untuk menggerakkan satu regu polisi hanya demi mencari "sekelompok anak kampung".
Malam itu, Yanto yang biasanya paling tenang, terlihat gelisah untuk pertama kalinya.
"Ini bukan Broto lagi, Rangga," katanya. "Broto nggak bisa gerakin razia sebesar ini. Ini orang lain."
---
Kabar yang sampai ke kami lewat Pak Darto—yang punya kenalan sopir pribadi salah satu pejabat kecamatan—akhirnya memberi kami nama itu secara jelas.
Komisaris Yusuf Baskoro, kepala polisi wilayah kami, ternyata menerima "persenan" rutin dari jaringan yang menaungi Broto dan beberapa preman lain di wilayah Karang Wetan. Uang setoran yang selama ini kami kira cuma masuk kantong Broto, ternyata mengalir lebih jauh—sebagian ke atasannya, dan kabarnya, sebagian lagi ke pejabat yang lebih tinggi lagi, meski Pak Darto tidak berani menyebut nama itu secara langsung.
"Makanya kasus kamu dulu bisa dihentikan begitu aja," kata Pak Darto pelan, menatapku dengan iba yang membuatku tidak nyaman. "Bukan cuma soal kurang bukti, Rangga. Ini soal siapa yang bayar siapa."
Mendengar itu, sesuatu di dadaku terasa seperti terbakar ulang—luka lama yang kukira sudah mulai menutup, robek lagi, kali ini lebih dalam.
---
Tiga hari kemudian, aku dipanggil.
Bukan lewat surat resmi, bukan lewat prosedur apa pun. Seorang anggota berseragam datang ke rumah kami sore itu, bicara sopan ke Bapak, bilang ada "sedikit hal" yang perlu diklarifikasi terkait "keributan belakangan ini di pasar", dan memintaku ikut ke kantor untuk "ngobrol santai" dengan Pak Komisaris.
Bapak ingin ikut, tapi petugas itu bilang tidak perlu, ini "cuma obrolan biasa". Aku tahu, dan Bapak juga tahu, itu bukan sekadar obrolan biasa. Tapi menolak akan terlihat lebih mencurigakan daripada datang.
Ruangan tempat aku menunggu sederhana—meja, dua kursi, AC yang berisik. Komisaris Baskoro masuk lebih santai dari yang kubayangkan, membawa dua gelas teh, meletakkan satu di depanku seolah kami sedang bertemu sebagai kenalan lama, bukan sebagai penyidik dan tersangka tak resmi.
"Rangga, ya?" katanya, duduk di depanku. "Bapak dengar, akhir-akhir ini kamu jadi cukup terkenal di sekitar sini."
Aku tidak menjawab.
Ia tersenyum, senyum yang sama seperti di foto koran itu—tenang, hampir ramah. "Saya nggak mau berbasa-basi. Saya tahu soal kejadian di rumah kontrakan itu. Saya juga tahu, kamu mungkin ngerasa lagi bela orang-orang kecil, ngerasa jadi pahlawan. Tapi biar saya kasih tahu satu hal, supaya kamu nggak salah paham soal siapa yang sebenarnya pegang kendali di kota ini."
Ia mencondongkan badan sedikit, suaranya turun jadi lebih pelan, tapi tidak kalah tajam.
"Kota ini berjalan karena ada keseimbangan. Orang kayak Broto, orang kayak saya, bahkan orang-orang di atas saya—kami semua jaga keseimbangan itu supaya semuanya tetap tenang. Anak-anak kampung yang mulai maen jagoan, itu yang bisa bikin keseimbangan itu goyang. Dan kalau keseimbangan goyang, yang paling dulu kena getahnya bukan saya, bukan Broto. Yang kena orang-orang kayak bapak kamu, ibu kamu, tetangga kamu."
Aku menatapnya lama, mencoba mencari sesuatu di wajahnya yang bisa kubenci dengan jelas—tapi yang kutemukan justru lebih menakutkan: ia bicara dengan tenang, bahkan terkesan tulus, seolah benar-benar percaya bahwa apa yang ia lakukan adalah demi menjaga ketertiban.
"Kalau memang keseimbangan itu yang jaga kota ini," kataku akhirnya, suaraku lebih tenang dari yang kurasakan, "kenapa yang selalu berat sebelah orang-orang kayak kami?"
Untuk sesaat, senyumnya hilang. Hanya sesaat. Lalu kembali lagi, lebih dingin dari sebelumnya.
"Kamu masih muda, Rangga. Masih bisa milih jalan yang lebih aman." Ia berdiri, merapikan seragamnya. "Tapi kalau kamu terus jalan di jalan yang sekarang, saya nggak akan bisa jamin apa-apa lagi soal kamu—atau keluarga kamu."
---
Aku pulang malam itu dengan tubuh utuh, tidak ada luka yang bisa dilihat orang lain. Tapi ada sesuatu yang berubah setelah pertemuan itu—bukan rasa takut yang membuatku ingin mundur, melainkan kepastian bahwa jalan yang sudah kupilih tidak punya jalan kembali lagi.
Bapak pernah bilang, pilih kapan diam, kapan lari. Malam itu aku sadar, aku sudah lama melewati kedua pilihan itu.
Yang tersisa sekarang cuma satu: bertahan, atau tumbuh cukup besar sampai ancaman seperti Komisaris Baskoro tidak bisa lagi berbisik pelan-pelan di ruangan sempit dan berharap aku menciut karenanya.
---
*(Bersambung ke Bab 7)*