BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris Celaka Lagi
Matahari sore menyengat kulit saat Rayyan berjalan keluar dari gerbang sekolah. Suasana hatinya masih buruk, sisa dari ketegangan yang menumpuk di kelas sepanjang hari. Untuk meredam kebisingan di sekitarnya dan yang paling penting, meredam bisik-bisik anak-anak yang masih menatapnya dengan pandangan penuh takhayul Rayyan menyumbat kedua telinganya dengan earphone. Musik bergenre indie-rock berdentum keras, mengisolasi dirinya dari dunia luar sepenuhnya.
Ia berjalan menyusuri trotoar, berniat menyeberang jalan raya di depan sekolah menuju halte bus. Pikirannya melayang jauh, memikirkan rumor yang kian liar dan tatapan aneh dari orang-orang di sekelilingnya. Karena terlalu larut dalam lamunan dan suara musik yang memekakkan telinga, fokus Rayyan terpecah. Ia melangkah turun dari pembatas trotoar tanpa benar-benar memeriksa situasi lalu lintas di sekitarnya.
Dari arah kanan, sebuah sepeda motor sport melaju dengan cukup kencang, menerobos lampu kuning yang hampir berganti merah. Pengendaranya tampak terburu-buru dan tidak ada niat untuk menurunkan kecepatan. Rayyan sama sekali tidak menyadarinya. Maut seolah kembali mengintip di balik kelalaiannya sore itu.
Dalam hitungan detik, sebelum roda motor itu sempat menyentuh tubuhnya, sebuah cengkeraman tangan yang teramat sangat kuat mendadak mendarat di lengan kanan Rayyan. Sentakan itu begitu brutal dan tiba-tiba, menarik seluruh bobot tubuhnya ke belakang dengan kekuatan penuh.
Brak!
Rayyan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke belakang dan langsung menabrak dada bidang seseorang yang berdiri kokoh tepat di belakangnya. Punggung Rayyan menghantam dada orang itu dengan cukup keras hingga ia bisa merasakan embusan napas berat yang memburu di puncak kepalanya.
Wusss!
Motor tadi melintas dengan kecepatan tinggi, tepat beberapa sentimeter di depan ujung sepatu Rayyan. Embusan angin kencang yang dihasilkan oleh laju motor itu sampai menerbangkan beberapa helai rambut Rayyan, menyisakan bau hangus ban dan debu jalanan yang pekat di udara.
Rayyan mematung di tempat. Jantungnya berdegup begitu kencang, berpacu liar seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia masih syok. Efek trauma dari kecelakaan maut sepuluh hari lalu mendadak bangkit kembali, membuat seluruh persendiannya lemas seketika. Jika tangan misterius ini tidak menariknya tadi, ia pasti sudah kembali terkapar bersimbah darah di atas aspal dingin ini.
Sambil perlahan mengatur napasnya yang putus-putus, Rayyan mendongak untuk melihat siapa sosok yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
Begitu mendongak, sepasang mata Rayyan melebar sempurna.
Revan.
Cowok jangkung itu sedang menatapnya ke bawah. Di balik topeng datarnya, ada kilatan kepanikan yang teramat sangat besar yang coba ia sembunyikan. Rahang Revan mengeras, dan napasnya memburu cepat, seolah ia baru saja berlari maraton demi mengejar waktu yang nyaris habis.
Sadar bahwa Rayyan sudah aman dan sedang menatapnya, Revan langsung melepas pegangannya dengan kasar dari lengan Rayyan. Ia mundur satu langkah, memberikan jarak di antara mereka.
"Kalau nyebrang liat kanan kiri," semprot Revan. Suaranya terdengar parau dan dingin, menyembunyikan getaran ketakutan yang sempat melanda hatinya saat melihat Rayyan nyaris dihantam motor tadi.
Rayyan yang masih berusaha menguasai rasa syoknya mendadak merasa tersinggung. Rasa gengsi dan sisa ketakutannya bercampur menjadi satu, memicu defensif alami di dalam dirinya. Ia melepas salah satu earphone dari telinganya dengan gerakan kasar. Rayyan masih kesal dengan aksi penguntitan Revan yang tiada henti belakangan ini.
"Gue bisa sendiri," sahut Rayyan ketus, menatap Revan dengan pandangan menantang.
Revan mendengus sinis, matanya menyipit tidak percaya dengan keras kepalanya cowok di depannya. "Tadi hampir ketabrak," tekan Revan, memperjelas realitas yang baru saja terjadi.
"Itu juga gara-gara lu bikin kaget!" balas Rayyan, mencari alasan untuk menutupi kelalaiannya sendiri. "Gue lagi jalan, tiba-tiba lu narik-narik kasar kayak gitu. Siapa yang gak syok?!"
Revan menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat lelah dan frustrasi. Ia memalingkan wajahnya sekilas, merasa kehabisan cara menghadapi kedegilan Rayyan.
"Keras kepala," gumam Revan pendek.
Rayyan mendengus kasar, memutar bola matanya malas. "Bukan urusan lu. Mau gue ketabrak atau gak, lu gak usah ikut campur."
Tanpa menunggu balasan dari Revan yang kembali membisu dengan wajah datarnya, Rayyan langsung berbalik arah. Ia melangkah cepat menyeberang jalanan yang kini sudah sepi, menuju ke arah halte bus tanpa menoleh ke belakang lagi.
Revan tetap berdiri diam di pinggir trotoar, menatap punggung Rayyan yang perlahan menjauh hingga naik ke dalam bus kota yang datang menjemputnya.
Meski begitu, sejak kejadian dramatis sore itu, sesuatu di dalam pikiran Rayyan mulai bergeser. Sepanjang perjalanan di dalam bus yang bergerak lambat, Rayyan menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Logikanya mulai meraba satu kesimpulan yang selama ini selalu ia sangkal.
Revan tidak sedang mencari perkara baru untuk merundungnya. Sejak ia kembali sekolah, kehadiran Revan yang konstan di perpustakaan, di kantin, di belakang mobil Pak Yanto, hingga aksi penyelamatan nekat barusan... semuanya memiliki satu arti yang sama. Meski begitu, sejak kejadian itu Rayyan mulai sadar bahwa Revan benar-benar memperhatikannya. Dinding permusuhan mereka memang belum runtuh, namun maknanya kini telah berubah sepenuhnya di dalam dada Rayyan.