Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Riuh rendah suara langkah kaki ratusan mahasiswa yang berhamburan keluar dari aula lambat laun mereda, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
Udara dingin dari pendingin ruangan masih berembus pelan, menyapu barisan kursi kosong yang kini tampak seperti teater tak berpenghuni.
Di sudut paling belakang ruangan yang remang-remang, nyaris tersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, seorang wanita masih mematung.
Lara Giger tidak beranjak satu inci pun dari tempat duduknya.
Kedua tangannya yang dingin saling bertautan erat di atas pangkuan, meremas ujung sweter rajut berkerah tinggi berwarna krem yang ia kenakan.
Sweter itu sengaja dipilih dengan kerah seketat mungkin, namun bahkan kain rajutan tebal itu tidak mampu sepenuhnya menyembunyikan tanda merah keunguan yang menjalar di sisi lehernya—bekas Kissmark juga bekas cengkeraman kasar Billy dari malam sebelumnya.
Mata Lara yang sayu dan bengkak menatap kosong ke arah podium kosong di depan sana.
Sudut bibirnya yang pecah terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman sinis yang sarat akan keputusasaan.
Siapa yang peduli pada masalah orang lain? batin Lara lirih, menertawakan semua rentetan kalimat indah tentang hak-hak wanita yang baru saja dideklarasikan dengan begitu lantang di atas panggung.
Hak kebebasan? Perlindungan hukum? Semua itu hanya ilusi manis yang ditulis di atas kertas tebal untuk memuaskan ego para akademisi, pikirnya getir.
Di dunia nyata, di dalam kamar tidurnya yang kedap suara di Downtown LA, hukum tidak pernah datang mengetuk pintu saat bogeman mentah suaminya mendarat di tubuhnya.
Ya, Lara Giger ternyata mengikuti kelas tersebut.
Dia bukan sekadar penonton asing; dia adalah seorang mahasiswi lama yang tercatat di universitas bergengsi ini.
Di kalangan mahasiswa USC, status Lara bukanlah sebuah rahasia. Semua orang tahu bahwa gadis pendiam di sudut kelas ini telah menikah.
Mereka mengenalnya sebagai istri dari salah satu konglomerat papan atas Los Angeles, Billy Davidson.
Bagi orang-orang luar, Lara adalah wanita beruntung yang berhasil memikat hati seorang miliarder muda.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa keberadaannya di kelas hukum ini setiap minggu adalah bagian dari skenario posesif suaminya.
Sekali dalam seminggu, tanpa alpa selama beberapa bulan terakhir, Billy akan menyuruhnya—bahkan memaksanya—untuk menghadiri seminar dan kelas hukum ini.
Billy ingin mempertahankan citra di depan publik bahwa istrinya adalah seorang wanita terpelajar yang sedang menyelesaikan gelarnya. Billy ingin dunia melihat bahwa dia adalah suami suportif yang membiarkan istrinya mengejar pendidikan.
Tetapi, ada satu hal krusial yang tidak pernah diketahui oleh Billy Davidson.
Pria posesif itu sama sekali tidak tahu bahwa dosen muda yang berdiri di depan sana—pria yang menyuarakan keadilan bagi para korban domestik—adalah sosok dari masa lalu yang paling Billy khawatirkan.
Sosok hantu masa lalu yang selalu membuat Billy didera cemburu buta setiap kali namanya terlintas dalam pikiran kasarnya.
Darion Vale Knight.
Setiap kali pertemuan kelas berlangsung, Darion selalu mengakhiri kuliahnya dengan pembahasan mendalam mengenai hak-hak wanita, perlindungan korban kekerasan, dan pentingnya melepaskan diri dari belenggu hubungan yang beracun.
Seolah-olah, setiap kata yang keluar dari bibir pria itu ditujukan khusus untuk satu orang yang duduk di sudut paling gelap ruangan: Lara.
Di depan aula, Darion Vale Knight perlahan-lahan merapikan berkas-berkasnya di atas meja podium.
Tangannya yang memegang map kulit hitam tampak sedikit gemetar, sebuah detail kecil yang tidak akan disadari oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Selama empat bulan terakhir, sejak semester baru dimulai dan nama Lara Giger tertera di daftar mahasiswanya, Darion telah mengerahkan seluruh sisa kekuatan mentalnya untuk tetap bersikap profesional.
Empat bulan penuh siksaan batin. Setiap kali ia melangkah masuk ke dalam ruang kelas atau aula seminar, matanya secara tidak sadar akan langsung mencari sosok gadis itu di sudut ruangan.
Dan setiap kali ia menemukannya, hatinya seakan diiris sembilu.
Darion melihat segalanya. Ia melihat bagaimana Lara selalu mengenakan pakaian tertutup, syal tebal, atau sweter berkerah tinggi bahkan di saat musim panas Los Angeles sedang terik-teriknya.
Ia melihat bagaimana gadis itu berjalan dengan sedikit pincang pada minggu-minggu tertentu, atau bagaimana ia meringis saat harus membungkuk untuk mengambil penanya yang terjatuh.
Sebagai seorang ahli hukum yang terlatih mendeteksi tanda-tanda kekerasan, Darion tahu persis apa yang sedang terjadi pada Lara di balik pintu tertutup mansion Davidson.
Namun, ia dipaksa untuk tetap profesional. Di depan para mahasiswa lain, ia harus memperlakukan Lara seperti mahasiswi biasa. Ia tidak boleh menunjukkan kepedulian yang berlebihan, tidak boleh mendekat, dan tidak boleh menyentuhnya.
Batasan profesional itu terasa seperti rantai besi yang mencekik leher Darion sendiri.
Sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas, ingatan Darion tanpa sadar melayang kembali ke masa Tiga tahun yang lalu.
Masa di mana dunianya dan dunia Lara masih dipenuhi oleh warna-warna cerah, sebelum kegelapan merenggut segalanya.
...oOo...
Gadis itu. Gadis yang sama yang kini duduk membisu, dahulu adalah seorang gadis ceria yang memiliki tawa paling merdu yang pernah Darion dengar.
Darion mengingat malam terakhir mereka di dermaga Santa Monica, tepat sebelum Darion harus bertolak ke New York untuk melanjutkan kuliah hukum tingkat lanjutnya di Columbia University.
Malam itu, di bawah temaram lampu bianglala dan embusan angin laut yang dingin, Lara menatapnya dengan mata berbinar penuh harap.
"Aku akan tetap menunggumu kembali, Darion. Berjanjilah kau akan menjadi pengacara hebat saat pulang nanti," bisik Lara malam itu, jemari lentiknya bertautan dengan jemari Darion.
Mereka memang tidak pernah meresmikan hubungan mereka dengan status "berpacaran".
Tidak ada kata-kata penembakan yang klise.
Namun, di antara mereka berdua, ada sebuah komitmen tidak tertulis yang jauh lebih kuat dari sekadar status.
Sebuah janji suci bahwa mereka akan selalu bersama, bahwa masa depan mereka telah saling bertautan sejak lama. Darion pergi ke New York dengan keyakinan penuh bahwa ia memiliki pelabuhan untuk pulang.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat kejam.
18 Bulan kemudian, begitu Darion menyelesaikan studinya dengan predikat terbaik dan kembali ke Los Angeles, berita yang menyambutnya bagaikan hantaman gada godam di dadanya.
Lara Giger—gadis yang berjanji menunggunya—tiba-tiba muncul di seluruh halaman depan majalah sosialita Los Angeles bersama pria lain.
Darion masih mengingat dengan jelas rasa hancur di dadanya saat ia berdiri di barisan belakang gereja katedral megah di pusat kota LA, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Lara berjalan menyusuri altar dengan gaun pengantin putih yang sangat mewah.
Di ujung altar, Billy Davidson berdiri dengan senyum kemenangan, menyematkan cincin di jari manis Lara dalam sebuah sumpah pernikahan yang disiarkan oleh media-media lokal.
Darion merasa dikhianati, bingung, dan marah.
Namun, kemarahan itu langsung menguap berganti dengan rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam ketika ia akhirnya berhasil menemui Lara secara tidak sengaja di sebuah perpustakaan kota, beberapa bulan setelah pernikahan itu.
Saat itu, Lara sudah bukan lagi Lara yang ia kenal. Senyum ceria di bibirnya telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh tatapan mata yang kosong dan redup, persis seperti tatapan matanya saat ini.
Dalam pertemuan singkat yang dipenuhi air mata tertahan itu, Lara hanya menatapnya dengan tatapan memohon agar Darion menjauh.
Kalimat terakhir yang Lara ucapkan sebelum pergi meninggalkannya masih terngiang-ngiang di kepala Darion hingga detik ini:
"Jangan mendekatiku lagi, Darion. Aku yang sial ini tidak pantas untukmu. Biarkan aku dengan nasibku, dan pergilah ke tempat di mana kau tidak akan tertular oleh kesialan ku."
Lara selalu menganggap dirinya membawa kesialan, sebuah doktrin beracun yang ditanamkan oleh keluarganya sendiri sejak kecil hingga meresap ke dalam sumsum tulangnya.
Dan untuk melindungi Darion dari apa yang ia sebut sebagai "nasib sial", Lara memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri ke dalam pelukan iblis bernama Billy Davidson.
...°°°°°°...
Kembali ke masa kini, di dalam aula yang sunyi, Darion menutup ritsleting tas laptopnya dengan sentakan pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang bergemuruh.
Dari sudut matanya, ia melihat Lara perlahan-lahan berdiri dari kursinya.
Gerakan gadis itu tampak kaku, seolah setiap sendi di tubuhnya menolak untuk digerakkan.
Lara mulai melangkah menyusuri tangga aula, berniat untuk keluar melalui pintu belakang agar tidak perlu berpapasan dengannya.
Darion mematung di samping podium. Logika hukumnya berteriak agar ia membiarkan gadis itu pergi, menjaga jarak profesional yang telah ia bangun dengan susah payah selama empat bulan ini.
Namun, nurani dan rasa cintanya yang tidak pernah padam selama dua tahun ini berteriak jauh lebih keras. Ia tidak bisa lagi terus-menerus berpura-pura buta melihat wanita yang dicintainya perlahan-lahan mati di depan matanya sendiri.
"Lara," panggil Darion, suaranya memecah keheningan aula yang dingin.
Langkah kaki Lara mendadak terhenti di tengah tangga.
Tubuhnya menegang seketika begitu mendengar suara bariton yang sangat ia kenal itu memanggil namanya. Ia tidak berani berbalik, takut jika ia menatap mata Darion, pertahanan diri yang ia bangun dengan air mata dan kesakitan selama dua tahun ini akan runtuh dalam sekejap.
"Kelas sudah selesai, Sir Darion," jawab Lara tanpa berbalik, suaranya terdengar begitu dingin dan datar, mencoba menciptakan jarak yang tak tertembus di antara mereka.
Darion tidak memedulikan dinginnya jawaban itu. Ia melangkah turun dari panggung, berjalan perlahan mendekati tangga tempat Lara berdiri. Setiap langkah kakinya terdengar begitu berat di atas lantai kayu aula.
"Sampai kapan kau akan terus mengenakan pakaian berkerah tinggi di tengah cuaca hangat Los Angeles, Lara?" tanya Darion, nadanya tidak lagi mencerminkan seorang dosen yang sedang mengajar, melainkan seorang pria yang hatinya sedang terkoyak melihat penderitaan wanita yang dicintainya.
"Sampai kapan kau akan membiarkan bajingan itu memperlakukanmu seperti ini?"
Lara memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya mencengkeram pegangan tangga besi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Pertanyaan Darion menghujam langsung ke titik paling rapuh di dalam dirinya.
"Ini bukan urusanmu, Sir," bisik Lara, suaranya mulai bergetar menahan tangis yang mendesak keluar. "Pulanglah ke kehidupanmu yang sempurna. Jangan mencampuri urusan rumah tangga orang lain."
"Urusan rumah tangga?" Darion tertawa getir, melangkah satu pijakan lebih dekat hingga ia kini berdiri tepat di belakang Lara, hanya menyisakan jarak beberapa senti di antara mereka.
Ia bisa mencium aroma familier dari rambut Lara yang bercampur dengan aroma obat salep yang samar.
"Apakah disiksa hingga babak belur adalah apa yang kau sebut sebagai urusan rumah tangga, Lara? Apakah menyerahkan hak hidupmu pada seorang psikopat adalah bagian dari sumpah pernikahanmu?!"
Lara berbalik dengan cepat, matanya yang berkaca-kaca menatap tajam ke arah Darion.
"Lalu aku harus bagaimana, Darion?!" tumpah sudah emosi yang selama ini ia pendam rapat. Suaranya melengking di dalam aula yang sepi, dipenuhi dengan rasa frustrasi yang luar biasa.
"Kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu bagaimana rasanya dicap sebagai anak sial oleh seluruh keluargamu! Jika aku bercerai, mereka akan menudingku sebagai pembawa aib! Aku lebih baik mati perlahan di rumah itu daripada harus kembali mendengar caci maki mereka!"
Air mata akhirnya lolos membasahi pipi Lara, melewati sudut bibirnya yang terluka.
Darion menatap wajah yang sangat dirindukannya itu dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat.
Tangannya terangkat perlahan, ingin sekali mengusap air mata di pipi Lara, namun ia menahannya di udara, menyadari batasan yang masih mengikat mereka.
"Kau bukan pembawa sial, Lara. Demi Tuhan, kau adalah hal terindah yang pernah ada di dalam hidupku," bisik Darion dengan suara yang serak karena emosi yang tertahan.
"Mengapa kau tidak pernah membiarkanku membantumu? Aku adalah seorang pengacara. Aku bisa membawamu keluar dari neraka ini. Aku bisa melindungimu dari Billy, dari keluargamu, dari semua orang yang menyakitimu."
Lara menatap Darion dengan tatapan nanar, menggelengkan kepalanya perlahan seiring dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Tidak bisa, Darion... Kau tidak akan pernah bisa melindungiku dari diriku sendiri," bisik Lara dengan nada yang begitu pasrah dan hancur.
"Aku sudah terikat di dalam sangkar ini, dan kuncinya telah kubuang ke dasar laut. Tolong... biarkan aku pergi."
Lara berbalik dan berlari sekencang yang ia bisa menaiki tangga, mendorong pintu keluar aula dan menghilang di balik lorong kampus yang mulai ramai, meninggalkan Darion yang berdiri terpaku di dalam kesunyian aula.
Pria itu mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap pintu yang tertutup dengan tekad membara yang perlahan-lahan bangkit di dalam matanya.
Di bawah langit Los Angeles yang cerah hari ini, Darion bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan sangkar itu mengurung Lara selamanya—bahkan jika ia harus menghancurkan seluruh dunia Billy Davidson untuk membebaskannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🫶🏻
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄