Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"Siapa wanita yang tadi?" tanya Drake dengan suara rendah, penuh rasa ingin tahu. "Benar dia ibumu? Perlakuannya terlalu kasar padamu."
Nathalie mengangkat wajahnya pelan. Matanya yang sembab menatap Drake dengan campuran lelah dan putus asa. "Mereka berdua orang tua kandungku," jawabnya pelan. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis. "Saat ini saya harus pergi, Dok. Saya harus mencari uang untuk operasi ayah saya."
Drake mengerutkan kening. Ia melangkah mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh lengan Nathalie, tapi gadis itu mundur selangkah. "Kemana uang tadi pagi yang aku kasih?" tanyanya, nada suaranya sedikit tajam. "Harusnya uang itu masih ada. Seratus lima puluh juta bukan jumlah kecil."
Nathalie menunduk lagi, jari-jarinya saling bertautan kuat. "Sudah saya berikan ke ibu saya semua," jawabnya jujur. "Sekarang saya sudah tidak memegang uang sepeser pun."
Drake terdiam sejenak. Tatapannya mengamati wajah Nathalie yang pucat. Ada sesuatu yang berubah di ekspresinya, antara rasa tidak percaya dan sedikit rasa bersalah yang jarang muncul. Ia tahu betapa mahal harga yang dibayar Nathalie untuk uang itu, tapi ternyata semuanya sudah habis diserahkan kepada ibunya tanpa sisanya sedikit pun.
"Tolong, biarkan saya pergi" pinta Nathalie dengan tatapan memohon, suaranya hampir pecah.
Ruangan itu terasa semakin pengap. Drake tidak langsung menjawab. Ia bersandar di meja kerjanya, menyilangkan tangan di dada sambil terus menatap wanita di depannya. Nathalie terlihat sangat rapuh saat ini. Pipinya yang memerah, mata yang bengkak, dan bahu yang turun membuatnya terlihat jauh berbeda dari wanita yang semalam menyerahkan diri demi uang.
"Kamu tahu kan, dua ratus juta bukan jumlah yang mudah didapat dalam tiga hari," kata Drake pelan. "Apalagi dengan kondisi ayahmu yang semakin kritis."
Nathalie menggigit bibir bawahnya. Air mata kembali menggenang. "Saya tahu, Dok. Tapi saya harus mencoba. Saya tidak bisa diam saja di sini."
Drake menghela napas panjang. Ia melangkah mendekat lagi, kali ini tangannya berhasil menyentuh lengan Nathalie dengan lembut. "Kamu baru saja dihina dan ditampar di depan banyak orang. Sekarang kamu mau keluar malam-malam mencari uang? Kamu pikir itu mudah?"
Nathalie tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, tubuhnya gemetar menahan tangis. Rasa lelah yang luar biasa membuatnya ingin ambruk di tempat. Semua beban ini terasa terlalu berat untuk dipikul seorang diri.
"Aku bisa bantu kamu," ucap Drake tiba-tiba, suaranya rendah dan menggoda. "Tapi tentu saja bukan tanpa imbalan."
Nathalie mendongak cepat. Matanya melebar, campuran antara harapan dan ketakutan. Ia tahu betul apa yang dimaksud Drake. Pria ini tidak pernah memberi sesuatu secara gratis. Semalam saja sudah cukup membuktikannya. Tangan Drake yang masih memegang lengannya terasa hangat, tapi sentuhan itu justru membuat Nathalie merasa dingin di dada.
"Maaf, kali ini saya tidak bisa. Saya akan mencari uang itu dengan cara lain," tolak Nathalie tegas. Dia tidak ingin terus bergantung pada Drake. Dia juga sudah lelah menjual tubuhnya pada pria itu.
Drake tidak langsung melepaskan tangannya. Ia menatap Nathalie dalam-dalam, seolah sedang membaca pikiran wanita itu.
Nathalie berdiri di sana, terjebak antara keinginan untuk kabur mencari uang dan kenyataan bahwa Drake mungkin adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya dalam waktu singkat. Air matanya jatuh pelan di pipi yang masih perih. Ia merasa seperti boneka yang tali-temalinya sedang ditarik dari segala arah.
Drake akhirnya melepaskan pegangannya, tapi tatapannya masih terkunci pada Nathalie. "Jangan lakukan hal bodoh di luar sana," katanya pelan. "Kamu tahu di mana mencariku kalau sudah tidak tahan."
"Aku akan mengobati lukamu terlebih dahulu," ucap Drake kemudian. Nada suaranya melunak sedikit. Ia berbalik, membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan kotak P3K berwarna putih.
Dengan gerakan yang terlatih sebagai dokter, Drake mendekat lagi. Ia menyeka air mata di pipi Nathalie dengan lembut menggunakan tisu, lalu mengoleskan salep anti memar ke bekas tamparan Dyah yang masih merah.
Nathalie diam saja, membiarkan Drake merawatnya. Sentuhan pria itu lembut, kontras dengan sikapnya yang biasanya dingin dan penuh nafsu. Sesekali jari Drake menyentuh kulit pipinya, membuat Nathalie merasa aneh, campuran antara nyaman dan was-was.
Setelah selesai, Drake menutup kotak P3K dan meletakkannya kembali ke laci. Nathalie mundur selangkah, merapikan bajunya yang kusut.
"Terima kasih," gumamnya pelan sebelum berbalik menuju pintu.
Malam itu, setelah keluar dari ruangan Drake, Nathalie tidak langsung pulang. Dengan hati yang berat dan pikiran kacau, ia memutuskan pergi ke klub malam tempat dia bekerja. Tempat itu ramai, musik menggelegar, dan lampu warna-warni berkedip-kedip. Ia mengenakan pakaian sederhana yang masih ia pakai sejak siang, lalu mulai menawarkan minuman kepada para pengunjung pria yang terlihat berkecukupan.
"Minumannya, Mas? Ada yang spesial malam ini," ucapnya berusaha tersenyum, meski hatinya hancur. Ia berjalan di antara meja-meja, membawa nampan dengan gelas-gelas berisi alkohol. Beberapa pria memberinya tips kecil, ada yang menggoda, ada pula yang hanya melirik sekilas. Setiap tips yang masuk ke kantongnya terasa sangat berharga, meski jumlahnya jauh dari dua ratus juta yang dibutuhkan.
Nathalie terus bergerak, kakinya pegal, senyumnya dipaksakan. Di sudut klub yang pengap dan penuh asap rokok, ia merasa semakin tenggelam. Tapi demi ayahnya, demi operasi yang hanya punya waktu tiga hari, ia tidak punya pilihan lain. Air mata sempat menggenang lagi, tapi ia cepat menyekanya sebelum ada yang melihat.
Saat sedang beristirahat sebentar di pinggir bar, seorang wanita berpakaian seksi dengan riasan tebal menghampirinya.
"Kamu terlihat semangat malam ini," ucap Miska sambil tersenyum sinis, menyandarkan pinggulnya ke meja bar.
Nathalie mengusap keringat di dahinya. Wajahnya lelah, tapi matanya masih penuh tekad. "Aku butuh uang untuk operasi ayahku. Dia baru saja jatuh di kamar mandi," jawabnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh dentuman musik.
Miska mengangguk, ekspresinya berubah sedikit serius. "Berapa uang yang kamu butuhkan?"
"Dua ratus juta," jawab Nathalie. "Aku punya waktu tiga hari untuk mencarinya."
Miska mengangkat alisnya, terkejut sekaligus paham. Ia mengangguk pelan sambil menyesap minumannya. "Kalau hanya mengandalkan dari uang tips, sampai bulan depan pun tidak akan terkumpul dua ratus juta. Lebih baik kamu ikuti caraku saja," kata Miska dengan nada yakin.
Nathalie langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia sudah tahu persis solusi apa yang akan ditawarkan Miska. "Aku sudah tidak mau menjual tubuhku lagi," jawab Nathalie terang-terangan, suaranya tegas meski ada getaran di dalamnya.
Miska tertawa kecil, seolah mendengar lelucon yang lucu. "Memangnya kenapa? Kau sudah pernah melakukannya kemarin, tidak masalah kalau kamu menjual tubuhmu lagi."
Nathalie terdiam. Kata-kata Miska seperti tamparan halus yang menyakitkan. Ia menunduk, memandang nampan kosong di tangannya. "Kali ini berbeda, Miska. Aku merasa... kotor. Setiap kali melakukannya, aku merasa kehilangan sedikit demi sedikit diriku sendiri. Aku tidak mau terus seperti ini."
Miska mendekat, tangannya menyentuh bahu Nathalie dengan lembut tapi persuasif. "Dengar, Sayang. Dunia ini keras. Ayahmu butuh operasi sekarang, bukan besok. Dua ratus juta dalam tiga hari? Dengan cara halal seperti ini," ia menunjuk nampan Nathalie, "kamu tidak akan pernah cukup. Pria-pria kaya di sini siap membayar mahal untuk satu malam dengan gadis cantik sepertimu. Satu atau dua orang saja sudah bisa mendekati targetmu."
Nathalie menggigit bibirnya kuat. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia cepat menyekanya dengan punggung tangan. Musik di sekitar mereka semakin kencang, tapi di kepalanya terasa hening.
"Aku takut hamil, Miska" ucapnya akhirnya.
Miska menghela napas, tapi senyumnya tetap ada. "Kamu harus kuat. Ini hanya sementara. Dapatkan uangnya, selamatkan ayahmu, lalu kamu bisa berhenti. Aku janji akan bantu carikan klien yang bersih dan bayarannya tinggi. Nanti akau akan memberikan obat KB untukmu"
Nathalie tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai klub yang lengket oleh minuman tumpah. Hatinya berkecamuk hebat. Bagian dari dirinya ingin menolak mentah-mentah, tapi bagian lain tahu bahwa Miska benar, tips dari melayani minuman tidak akan pernah cukup. Waktu hanya tiga hari. Ayahnya tidak bisa menunggu.
Di kejauhan, beberapa pria di VIP room melirik ke arah mereka dengan tatapan penuh minat. Nathalie merasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan yang gelap. Satu langkah lagi, dan ia mungkin tidak bisa kembali ke jalan yang terang.
Miska menunggu jawaban sambil memainkan gelas di tangannya. "Pikirkan baik-baik, Nat. Malam ini masih panjang. Kalau kamu mau, aku bisa langsung perkenalkan dengan seseorang. Kali ini jauh lebih kaya dari yang kemarin"
Nathalie menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya gemetar. Ia belum siap memberikan jawaban, tapi tekanan waktu terus mengimpitnya.