Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 – TEKNIK SIHIR AIR TINGKAT 2
Setelah menyelesaikan misi pertamanya dan mendapatkan imbalan yang layak, Haruto langsung menggunakan sebagian dari uangnya untuk mentraktir Daichi—teman sekaligus dianggap sebagai orang tua angkatnya di dunia isekai yang baru bagi dirinya. Sebelum mereka berangkat dari guild, Elena—salah satu staf administrasi yang selalu ramah—memberikan penjelasan tentang peraturan guild yang harus diikuti Haruto sebagai petualang kelas F. “Karena kamu masih berada di tingkat F, kamu belum berhak untuk membentuk tim sendiri. Minimal harus mencapai tingkat D baru bisa mendaftarkan tim resmi di guild,” jelasnya dengan suara yang jelas. “Untuk misi selanjutnya, kamu bisa memintanya kapan saja ke meja administrasi. Misi untuk tingkat E dan F umumnya adalah tugas-tugas kecil seperti mengumpulkan bahan alami, membersihkan area tertentu dari monster kecil, atau mengantar barang ke lokasi dekat kota.” Haruto mengangguk dengan penuh perhatian, mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Elena.
Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, mereka berdua langsung berangkat menuju Lembah Air Murni—tempat tinggal gurunya, Mizuna. Beberapa minggu lalu, Daichi sendiri yang mengantar Haruto kesini untuk memulai pembelajaran sihir air. Saat mereka tiba di depan rumah kayu kecil yang terletak di tepi danau yang jernih, Mizuna sudah berdiri di halaman dengan senyuman yang menyambut. “Kalian kembali tepat waktu,” katanya dengan suara yang tenang namun penuh kehangatan. Daichi langsung mendekat dan memberikan sapaan hangat padanya. Ternyata, mereka dulunya adalah anggota dari tim yang sama sebelum Mizuna memutuskan untuk menarik diri dari dunia petualangan untuk fokus mengajar dan mengembangkan teknik sihir air baru. “Guru Mizuna,” ucap Haruto dengan sopan sambil membungkuk hormat, menggunakan panggilan yang sudah ia gunakan selama ini untuk menunjukkan rasa hormatnya pada wanita penyihir air yang luar biasa itu. Mizuna mengangguk dan kemudian mengundang mereka masuk ke dalam rumah yang nyaman dan penuh dengan aroma ramuan sihir. Setelah mereka duduk dan menikmati teh hangat yang disajikan, Mizuna mulai menjelaskan tujuan kunjungan Haruto kali ini. “Seperti yang kuduga melalui surat yang kubagikan padamu kemarin, hari ini aku akan mengajari kamu teknik sihir air tingkat 2—yaitu membuat bentuk makhluk hidup dari air yang bisa kamu kendalikan sesuai keinginanmu.” Disinilah tingkat kesulitannya dimulai, karena teknik ini tidak hanya membutuhkan pengendalian mana yang baik, tapi juga imajinasi dan kemampuan untuk menghubungkan diri dengan elemen air secara lebih dalam.
Setelah menyelesaikan secangkir tehnya, Daichi berdiri dan memberikan senyuman pada Haruto. “Aku akan pergi sebentar ya, nak. Aku punya beberapa urusan kecil di dekat danau ini, dan kamu pasti lebih fokus belajar kalau tidak ada yang mengganggumu,” katanya sambil menepuk bahu Haruto dengan lembut. Ia kemudian melihat ke arah Mizuna dengan mata yang penuh kenangan. “Kamu bisa dipercaya mengajarinya ya, Mizuna. Seperti dulu kamu mengajariku teknik bertarung yang membuatku bisa bertahan hingga sekarang.”
Mizuna tersenyum dengan hangat. “Tentu saja, Daichi. Aku akan memberikan yang terbaik untuknya, sama seperti dulu aku lakukan untuk seluruh anggota tim kita.” Setelah Daichi keluar dari rumah, Mizuna mengangkat tangan dan membuat gerakan kecil—sesaat kemudian, pintu rumah tertutup dengan sendirinya dengan bantuan sihir angin yang lembut. Ia kemudian berdiri dan mengajak Haruto keluar ke belakang rumah, di mana terdapat sebuah area latihan yang luas dengan permukaan tanah yang rata dan dekat dengan tepian danau.
“Sebelum kita mulai, ada beberapa hal yang perlu kamu pahami tentang teknik sihir air tingkat 2 ini,” ucap Mizuna sambil berdiri menghadap danau yang tenang. “Sihir tingkat 1 yang kamu pelajari selama ini—seperti Water Ball atau pembuatan medan air yang licin—hanya menggunakan air sebagai alat untuk menyerang atau membingungkan lawan. Tapi teknik yang akan kujelaskan sekarang adalah tentang bagaimana kamu memberikan nyawa pada air tersebut, membuatnya menjadi makhluk yang bisa bergerak dan bertindak sesuai dengan kehendakmu.”
Haruto mengangguk dengan penuh perhatian, matanya tidak pernah menyimpang dari wajah gurunya. Pochi yang berada di pundaknya juga tampak fokus, tubuhnya bergetar pelan seolah merasakan energi mana yang mulai mengumpul di sekitar mereka.
“Untuk membuat makhluk dari air, kamu perlu melakukan tiga hal sekaligus,” lanjut Mizuna dengan suara yang lebih serius. “Pertama, kamu harus mengumpulkan cukup banyak air dan membentuknya sesuai dengan bentuk makhluk yang kamu inginkan. Kedua, kamu harus menyuntikkan sebagian mana kamu ke dalam bentuk tersebut agar ia bisa bergerak dan merespons perintahmu. Dan yang paling sulit adalah yang ketiga—kamu harus bisa menghubungkan kesadarmu dengan elemen air tersebut, sehingga kamu bisa merasakan apa yang dirasakan oleh makhluk air yang kamu ciptakan.”
Mizuna kemudian menunjukkan contohnya. Ia mengangkat satu tangan ke atas, dan dalam sekejap, sebuah kolom air besar muncul dari permukaan danau. Air itu mulai bergerak dan membentuk diri menjadi sosok seekor kuda putih yang indah, dengan bulu yang tampak nyata meskipun terbuat dari air. Kuda air itu kemudian melompat ke udara dan mendarat dengan lembut di tanah, bahkan bisa mengeluarkan suara seperti kuda sungguhan.
“Lihatlah dengan baik, Haruto,” kata Mizuna sambil menggerakkan tangannya dengan lembut. Kuda air itu mulai berlari mengelilingi area latihan dengan kecepatan yang mengesankan, kemudian berhenti tepat di depan Haruto dengan tenang. “Setiap gerakan yang kamu lihat berasal dari keselarasan antara mana yang aku berikan, bentuk yang aku ciptakan, dan hubungan kesadaran yang aku bangun dengan elemen air ini.”
Haruto melihat dengan mata terbuka lebar, penuh dengan kagum dan semangat. “Itu luar biasa sekali, Guru Mizuna. Bagaimana caranya bisa membuatnya seperti itu?”
Mizuna tersenyum dan membuat kuda air itu kembali larut menjadi air yang mengalir kembali ke danau. “Kita akan mulai dengan bentuk yang lebih sederhana dulu—misalnya ikan atau burung kecil. Karena bentuk yang lebih kecil akan lebih mudah untuk kamu kendalikan dan tidak membutuhkan banyak mana.”
Mereka kemudian duduk bersila di tepian danau. Mizuna mengajari Haruto cara bernapas yang benar untuk mengumpulkan mana dalam tubuhnya, cara fokus pada bentuk yang ingin dibuat, dan bagaimana membangun hubungan dengan elemen air yang ada di sekitarnya. “Air adalah elemen yang fleksibel dan penuh dengan kehidupan,” jelas Mizuna sambil mengajak Haruto menyentuh permukaan danau dengan jari telunjuknya. “Rasakan bagaimana air itu merespon sentuhanmu—bagaimana ia bergerak dan menyesuaikan diri dengan bentuk apa pun yang diberikan kepadanya. Itulah kuncinya, Haruto—kamu tidak boleh memaksakan kehendakmu pada air, melainkan bekerja sama dengan ia untuk menciptakan sesuatu yang baru.”
Setelah beberapa menit berlatih bernapas dan fokus, Haruto mulai mencoba membuat bentuk pertama dari air. Ia mengangkat tangannya dengan hati-hati, dan sebagian air dari danau mulai mengumpul di atas telapak tangannya. Ia mencoba membentuknya menjadi seekor ikan kecil, namun hasilnya jauh dari yang diharapkan—air itu hanya membentuk gumpalan yang tidak jelas bentuknya dan segera larut kembali ke danau.
“Jangan menyerah begitu cepat,” ucap Mizuna dengan nada yang mendukung. “Kamu baru pertama kali mencoba. Ingat, kamu harus fokus pada bentuk ikan tersebut di benakmu dengan jelas—bagaimana bentuk tubuhnya, siripnya, ekornya, bahkan bagaimana ia berenang di dalam air.”
Haruto mengangguk dan mencoba lagi. Kali ini, ia menutup mata sejenak dan membayangkan dengan jelas bentuk seekor ikan koi yang pernah ia lihat di dalam kolam kecil di dekat rumah Daichi. Ia merasakan bagaimana mana mengalir di dalam tubuhnya, kemudian secara perlahan mentransferkannya ke dalam gumpalan air yang mulai terbentuk di tangannya. Air itu mulai berubah bentuk—tangan Haruto bergerak dengan lembut membentuk sirip dan ekor, dan sedikit demi sedikit, bentuk ikan mulai muncul dengan lebih jelas. Namun saat ia hampir berhasil menyelesaikannya, konsentrasinya terganggu oleh suara burung yang terbang dekat kepalanya. Akibatnya, bentuk ikan itu langsung pecah dan larut kembali ke danau.
Haruto menghela napas dengan kecewa. “Maafkan aku, Guru Mizuna. Aku tidak bisa fokus dengan baik.”
Mizuna hanya tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Tidak apa-apa, Haruto. Bahkan aku sendiri membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa membuat bentuk yang stabil. Yang penting adalah kamu tidak menyerah dan terus berlatih.”
Pada percobaan ketiganya, Haruto akhirnya berhasil membuat bentuk ikan kecil yang cukup stabil. Ikan air itu bahkan bisa berenang di udara dengan lembut sebelum akhirnya larut kembali ke danau setelah beberapa detik. Wajah Haruto langsung bersinar dengan kegembiraan. “Aku bisa melakukannya, Guru Mizuna! Aku benar-benar bisa melakukannya!”
“Bagus sekali!” pujian Mizuna dengan senyum puas. “Sekarang kita akan mencoba bentuk yang sedikit lebih kompleks—seekor burung kecil yang bisa terbang.”
Saat mereka mulai berlatih lagi, Daichi kembali dengan membawa beberapa buah dan makanan ringan yang dibelinya dari pedagang yang menjual barang di dekat lembah. Ia berdiri di kejauhan dengan senyum bangga, melihat Haruto yang sedang giat berlatih dan Mizuna yang dengan sabar membimbingnya. Ingatan tentang masa lalu ketika mereka masih bersama dalam tim mulai muncul di benaknya—bagaimana Mizuna selalu menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi seluruh anggota tim mereka.
Setelah beberapa jam berlatih, matahari mulai menyembur ke arah barat, memberikan warna jingga yang indah pada permukaan danau yang tenang. Haruto sudah bisa membuat beberapa bentuk sederhana dengan cukup stabil—ikan kecil, burung yang bisa terbang sebentar, bahkan seekor kelinci kecil yang bisa melompat-lompat di tanah sebelum larut menjadi air kembali. Meskipun bentuknya masih jauh dari sempurna dan tidak bisa bertahan lama, itu adalah kemajuan yang luar biasa untuk pemula seperti dirinya.
“Kamu telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa hari ini, Haruto,” ucap Mizuna sambil menyeka keringat yang menetes di dahinya. “Tapi ingat, teknik ini membutuhkan latihan yang terus-menerus agar kamu bisa menguasainya dengan baik. Jangan terburu-buru untuk membuat bentuk yang terlalu kompleks sebelum kamu benar-benar menguasai bentuk-bentuk dasar.”
Haruto mengangguk dengan penuh rasa hormat. “Terima kasih banyak, Guru Mizuna. Aku akan terus berlatih dengan giat sampai aku bisa menguasainya dengan benar.”
Mizuna kemudian menarik napas panjang dan melihat ke arah langit yang sudah mulai gelap dengan bulan yang muncul perlahan. “Ada satu hal lagi yang ingin kuberi tahu padamu, Haruto. Sejak kamu datang ke dunia ini dan mulai belajar sihir air dariku, aku merasakan adanya potensi luar biasa di dalam dirimu—sebuah kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemampuanmu mengendalikan air, tapi juga dari hubunganmu dengan elemen tersebut. Karena itu, aku telah mengirimkan pesan kepada sang Master Sihir Air—orang yang mengajarkanku segalanya tentang sihir air. Dan dengan bantuan sihir mimpi yang aku kuasai, besok malam aku akan mengantarmu untuk bertemu dengannya dalam mimpimu.”
Haruto merasa terkejut mendengarnya. “Master Sihir Air? Aku benar-benar akan bisa bertemu dengannya?”
“Ya,” jawab Mizuna dengan senyum yang penuh makna. “Dia akan menilai apakah kamu layak untuk belajar teknik-teknik sihir air tingkat lanjut yang tidak diajarkan kepada siapa pun kecuali murid-murid terpilihnya. Tapi jangan khawatir—berdasarkan apa yang kudengar dari cerita tentang misi pertamamu dan kemajuan yang kamu capai hari ini, aku yakin kamu akan bisa melewati penilaiannya.”
Daichi kemudian mendekat dan memberikan buah kepada mereka berdua. “Mari kita beristirahat dulu ya. Kamu pasti sudah sangat lelah setelah berlatih seharian penuh. Dan besok kamu pasti membutuhkan energi yang cukup untuk menghadapi apa yang akan terjadi malam nanti.”
Mereka kemudian duduk bersama di tepian danau, menikmati makanan dan suasana lembah yang damai. Pochi sedang bermain dengan air di tepian danau, kadang-kadang mencoba membuat bentuk kecil dari air dengan cara yang dia lihat dari Haruto. Haruto melihat ke arah gurunya dan teman baiknya, merasa sangat bersyukur bisa berada di dunia ini dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa seperti mereka.
“Apakah Master Sihir Air itu orang yang ketat, Guru Mizuna?” tanya Haruto dengan rasa penasaran.
Mizuna tertawa kecil mendengarnya. “Dia memang orang yang sangat serius dalam hal sihir air, tapi dia juga memiliki hati yang hangat dan selalu siap membantu mereka yang benar-benar ingin belajar. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri dan menunjukkan bahwa kamu memiliki tekad yang kuat untuk menguasai sihir air.”
Saat malam semakin larut dan bulan mulai bersinar terang di langit malam, mereka membicarakan berbagai hal—mulai dari pengalaman Mizuna dan Daichi ketika mereka masih bersama dalam tim, hingga rencana Haruto untuk misi selanjutnya sebagai petualang kelas F. Haruto juga bercerita tentang pertemuannya dengan kelompok Akira dan bagaimana mereka telah memberikan inspirasi baginya untuk menjadi petualang yang lebih baik.
“Kelompok Akira memang salah satu tim terbaik yang ada di guild sekarang,” ucap Daichi dengan suara yang penuh rasa hormat. “Mereka memiliki kerja sama yang sangat baik dan selalu siap membantu petualang muda yang kesusahan. Jika kamu bisa berteman dengan mereka, itu akan sangat membantu dalam perjalananmu ke depan.”
Setelah merasa cukup beristirahat, mereka memutuskan untuk pulang. Mizuna memberikan beberapa nasihat terakhir kepada Haruto tentang bagaimana harus bersiap untuk pertemuan dengan sang Master Sihir Air di dalam mimpinya. “Cukup berbaring dan rileks sebelum tidur nanti,” katanya. “Aku akan menggunakan sihir mimpi untuk menghubungkan pikiranmu dengan miliknya. Jangan khawatir tentang apapun—aku akan selalu ada untuk membantumu jika ada sesuatu yang tidak beres.”
Haruto mengangguk dan kemudian mengucapkan terima kasih kepada gurunya sebelum pergi bersama Daichi kembali ke tempat tinggal mereka di dekat kota. Saat mereka berjalan di sepanjang jalan yang gelap dengan hanya diterangi oleh cahaya bulan dan lampu sihir yang jarang ditemukan di sepanjang jalan, Haruto merasa hati nya penuh dengan campuran rasa gugup dan bersemangat. Pertemuan dengan sang Master Sihir Air adalah kesempatan besar yang tidak datang kepada setiap penyihir air, dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memberikan yang terbaik untuk menunjukkan bahwa ia layak untuk belajar dari orang yang paling hebat dalam bidangnya.
Di sisi lain, Mizuna berdiri di depan rumahnya sambil melihat ke arah langit malam dengan mata yang penuh harapan. Ia tahu bahwa perjalanan Haruto sebagai penyihir air baru saja dimulai, dan pertemuan dengan sang Master Sihir Air akan menjadi titik balik yang penting dalam hidupnya. “Semoga kamu bisa melewati ujian ini dengan baik, Haruto,” bisiknya pelan ke angkasa malam. “Karena dunia ini akan sangat membutuhkan seorang penyihir air yang kuat dan benar-benar memahami makna sebenarnya dari kekuatan yang dimilikinya.”